18 February 2014

Bulan Memerah


Judul Buku: Bulan Memerah
Pengarang: Abednego Afriadi
Penyunting: Yashinta
Tebal: x + 134 hlm; 12 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: Sheila





Sejatinya, sebuah cerita pendek atau cerpen bisa dihabiskan dalam sekali baca. Tapi sekarang, kita bisa membaca cerpen-cerpen bermain-main dengan plot yang memanfaatkan banyak rangkaian kata sehingga tidak langsung selesai dalam sekali baca. Abednego Afriadi dalam kumpulan cerpennya, Bulan Memerah, jelas mengindikasikan cerpen sebagai cerita yang bisa dihabiskan sekali baca. Kelima belas cerpen yang ada benar-benar cerita yang pendek, setiap cerpen tidak membutuhkan banyak waktu untuk ditamatkan.

Petiklah Gitar Itu, Ayah! yang dinobatkan sebagai pembuka kumpulan cerpen ini berkisah tentang hubungan seorang anak perempuan dan ayahnya. Anak perempuan yang menjadi narator orang pertama cerpen ini bekerja sebagai penyanyi kafe seperti yang dilakoni ibunya. Sementara ayahnya adalah seorang pengamen yang mengalami kebutaan secara misterius. Pekerjaan anak perempuan itu akan selalu mengingatkan sang ayah pada apa yang terjadi dalam hubungannya dengan istrinya. Itulah yang menyebabkan sang ayah mengambil keputusan yang membuat anak perempuannya dililit kesedihan dan kenangan.

Petiklah gitar itu, Ayah, biar aku bisa pulas dalam dekapan mimpi. Biarkanlah rasa letih ini menguap lewat nada-nada yang manis kudengar. Nada-nada yang akan berhembus menembus celah-celah ventilasi dan jendela kamar yang lupa kututup malam ini. Anakmu ini telah kehabisan lirik lagu untuk dinyanyikan. Karena malam-malam yang aku lewati sekarang ini adalah berlembar-lembar lirik lagu dan nada-nada yang itu-itu saja. (hlm. 1).

Petiklah gitar itu, Ayah, walau dawai terbawah telah putus. Aku yakin engkau pasti bisa memainkan kunci-kunci dari jemarimu sehingga tak terdengar sumbang. Kalaupun gitar itu rusak, setidaknya bisa kau lantunkan nada-nada indah nan lembut hingga aku tertidur, lalu kau mengusap-usap rambutku ketika kepala ini singgah di pangkuanmu. (hlm. 2).

Sebuah cerpen yang indah dalam kesedihannya.

Berlatar Natal, cerpen Kidung Liturgi mengisahkan tentang seorang wartawan yang tidak pernah mengikuti Misa Malam Natal sejak menikah. Sebelum terjadi untuk ketiga kalinya, ia mendapat tugas memotret Misa Malam Natal untuk stok foto feature edisi akhir tahun.  Kesempatan mengikuti Misa Malam Natal di gereja Santo Antonius pun tiba. Tapi ternyata, ia belum bisa mengikuti Misa Malam Natal. Apa yang menjadi kendala bagi wartawan yang berperan sebagai narator orang pertama cerpen kali ini? Perasaan sendu tak terelakkan ketika cerpen ini dituntaskan.

Nyanyian itu, lembut, memecah bising deru roda kereta yang menggilas rel tanpa henti. Hujan masih turun. (hlm. 19).

Tenongan yang menjadi judul cerpen adalah tempat menjual jajanan pasar khas Solo yang terbuat dari aluminium dan berbentuk lingkaran. Setiap pagi, sembari menggendong tenongan, penjual kue berjalan kali mengelilingi kampung menjajakan dagangannya. Wiwin, narator orang pertama cerpen, mengisahkan tentang kebiasaan ibunya yang lebih suka membeli jajanan pasar tersebut ketimbang nasi atau bubur.

Kata Wiwin: "Kami merindukan suasana pagi seperti itu. Bersama-sama berjongkok mengelilingi tenongan yang dibuka itu seraya memilih makanan yang hendak kami beli. Dan kami semakin merindukannya semenjak ibu memutuskan untuk pulang ke rumah lama di Solo. Rumah tempat di mana aku menghabiskan masa kecil hingga menikah." (hlm. 22).

Tapi, apakah kerinduan itu akan meneguhkan sang ibu untuk kembali tinggal di rumah lama? Terharu rasanya saat sang ibu berhadapan dengan nihilnya pilihan lain kecuali mengambil keputusan seperti yang diambilnya di bagian akhir cerpen.

Dengan gaya berdendang - seorang suami kepada istrinya- kita akan mengikuti kisah pasutri yang telah menikah 14 tahun. Sang suami melihat istrinya telah berubah, sorot matanya menjadi terlalu tajam, lebih diam dan marah tanpa sebab.

Bulan memerah, Sayang.
Kau ingin tahu, mengapa bulan memerah? Ya, karena kemarau terlalu panjang, sedangkan bunga tak lagi kau siram. Rumah juga kau biarkan penuh dengan sawang, tempat singgasana para serangga. Ya, bulan terlanjur memerah. Merah, Sayang. (hlm. 31)

Mengapa istrinya berubah? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Pengarang baru akan mengungkapkannya di bagian akhir. Cerpen ini seolah-olah menertawakan imajinasi pembaca yang muncul seiring bergulirnya cerita.

Narator orang pertama dalam cerpen Kereta Terakhir pernah hidup bersama dengan kekasihnya. Saat kekasihnya hamil, ia meninggalkan perempuan itu membesarkan anak mereka sendirian. Setelah sekitar enam tahun berpisah, mereka bertemu lagi, tapi perempuan itu telah berubah. Bahkan, berselingkuh dengan kenangan mereka saja, perempuan itu tidak mau. Dan seolah-olah menjadi kutukan bagi sang narator yang telah menyia-nyiakan anaknya dari perempuan itu, dari pernikahanya tidak kunjung hadir seorang anak. Ending cerpen ini terasa menggelikan untuk seorang laki-laki yang putus harapan.

Bukankah aku sudah membunuhmu? Mengapa kau selalu datang setiap malam? Mengajak bercinta, memaki-maki aku. Kemudian pergi lagi. Datang lagi. Pergi lagi. Datang lagi. Pergi!!!! (hlm. 43).

Narator cerpen Jendela Kesunyian yang bertutur sama seperti narator Bulan Memerah dan Kereta Terakhir mengaku:

Kemurungan dan kesedihanmu adalah kemurungan dan kesedihanku. Sudah sepuluh tahun ini, ranjang kamar menjadikanmu tulang rusuk yang menguatkanku ketika rapuh. Maka jangan heran jika aku pun lemah ketika kau lemah. Maka janganlah terkejut jika aku tertawa ketika kau gembira (hlm. 45-46).

Tapi setelah sepuluh tahun menikah, istrinya tetap bertanya: "Apa kamu masih merasa bahwa, aku ini tulang rusukmu?" (hlm. 46) Hal yang sungguh lumrah mengingat sang narator tidak pernah mencium istrinya setelah menikah, kerap meninggalkannya di kamar dan memilih tidur di kursi tamu, dan terutama, tidak bisa bercinta dengannya. Apa sebenarnya yang telah menciptakan jurang pemisah di antara mereka sebagai suami istri? Pengungkapan sang narator hanya menunjukkan kerapuhan dan keanehannya.

Sepuluh tahun silam, narator cerpen Mata Penambang Pasir tinggal di bantaran sungai yang berjarak sekitar 30 meter dengan sebuah pulau di sungai itu. Penduduk pulau itu telah menghilang, dan Sukro -sahabat masa kecilnya- telah mati di sana, dibunuh karena berebutan sarang walet. Hal yang tidak bisa diterima sang narator karena seminggu sebelum ia kembali ke bantaran sungai itu, ia bertemu Sukro di proyek bangunan (hlm. 53).  Rupanya, saat ini, ia ke tempat tinggal masa kecilnya, untuk menawarkan pekerjaan kepada Sukro. Jadi, apakah Sukro telah mati, atau ia sebenarnya masih hidup? Pengarang melakukan inkonsistensi yang boleh dibilang mengganggu dalam cerpen ini. Ia menyebut narator cerpen ini bertemu Sukro di proyek bangunan seminggu sebelum ia kembali ke tempat tinggalnya sepuluh tahun silam (hlm. 53). Tapi selanjutnya pengarang menyatakan narator bertemu Sukro 8 tahun setelah pindah rumah (hlm. 59), lalu katanya, "Sejak saat itu, aku belum bertemu lagi dengan Sukro." (hlm. 61).

Jalu dalam cerpen Garong adalah sosok menakutkan di seluruh penjuru kota. Ia mengisi berita kriminal di koran-koran kota. Wajahnya terpajang di papan pengumuman, halte, tiang listrik, tembok toko, dan pasar. Celakanya, ia mencari Bambang, narator orang pertama cerpen ini, yang pernah dituduhnya sebagai mata-mata polisi. Kontan, Bambang ketakutan dan tidak mau bertemu Jalu. Apakah Jalu bermaksud menghabisi nyawanya? Seiring bergulirnya kisah, kita akan menemukan kekecewaan yang mengharukan dan pengungkapan yang akan menentukan nasib sang garong.

Anda mungkin akan mati ketawa membaca cerpen bertajuk Inisial NR. Norma, artis remaja yang sedang naik daun ditangkap petugas satuan narkoba saat sedang menggelar pesta obat kedaluwarsa (catat, kedaluwarsa!). Ibunya, Siti, kelabakan dan terpaksa menghubungi Bekti, ayah Norma, yang hampir  setengah tahun tidak pulang dan sedang latihan bercerai. Tujuannya, tentu saja, meminta Bekti membebaskan putri mereka. Ternyata, kasus putri mereka yang berinisial NR ini, memberikan happy ending bagi mereka. Mungkin benar seperti kata Norma, "Semua ada hikmahnya." Hahaha.

Wakil ketua RT yang menjadi narator cerpen Sarapan Lumpur Panas melaporkan penangkapan Pak Banu dalam kisahnya. Pak Banu, seorang guru yang sudah tua, ditangkap dengan tuduhan mencabuli muridnya (yang tidak dimunculkan jati dirinya). Penangkapan Pak Banu yang adalah tokoh penting desa itu memunculkan kegemparan lantaran diketahui ia tidak punya musuh, tidak main perempuan ataupun berjudi. Jadi, siapa yang telah menggiring Pak Banu sehingga divonis penjara 15 tahun? Meskipun pengarang tidak menyebutkan secara gamblang, kasus Pak Banu agaknya berhubungan dengan sebuah pabrik di tengah sawah di desa itu dan penyakit misterius yang melanda setahun sebelumnya.

Bendera Berkibar di Tiang Rapuh yang berpotensi membuat Anda tertawa mengisahkan tentang sering turunnya bendera di sebuah SMA, setiap hari Senin atau hari raya nasional, saat bendera itu dikibarkan. Awalnya, disangka, penyebabnya adalah karena talinya telah rapuh. Namun, setelah diganti tali baru, bendera itu tetap saja turun secara tiba-tiba, termasuk saat peringatan kemerdekaan. Sesungguhnya judul cerpen ini merupakan jawabannya.

Nuh -tokoh kitab suci mengenai air bah yang menggenangi dunia- dijadikan judul cerpen tentang air bah yang terjadi selama dua minggu di sebuah kota yang dikelilingi empat bukit. Penyebab air bah adalah air terjun di keempat bukit itu. Orang-orang memutuskan mengungsi ke gedung-gedung kota. Lalu, pada sebuah dini hari, muncul burung-burung gagak seukuran manusia dengan sorot mata merah menyala yang mesti mereka perangi. Kisah menegangkan ini seharusnya dibiarkan berakhir absurd seperti ketiga cerpen terakhir. Penutup yang dipilih pengarang, jujur saja, mementahkan ketegangan yang telah dimunculkan sebelumnya.

Dunia butuh cahaya, itulah yang menjadi sebab kemunculan gadis-gadis bersayap dengan telunjuk memendarkan cahaya. Salah satu gadis itu, menawarkan cahaya kepada narator cerpen Gadis-gadis Cahaya ini. Sang narator tidak menyangka, keputusan menerima cahaya itu menimbulkan petaka bagi dirinya sendiri. Sungguh mengagetkan.

Setelah nisan-nisan dalam kompleks pemakaman sebelah kampung hancur terbongkar, liang kubur terbuka dan kosong, mayat-mayat merajalela, penduduk kampung dalam cerpen Kubur Kosong memberanikan diri pergi ke kota yang telah hancur dan dipenuhi mayat. Mereka bertekad memerangi jutaan mayat, tapi kubur-kubur kosong kian bertambah dan satu demi satu penduduk kampung itu menjelma menjadi bangkai. Mungkin, Anda akan mengernyit jijik oleh penggambaran mayat-mayat yang cukup gamblang.

Gerombolan Pengusir yang menjadi penutup kumpulan cerpen ini mengisahkan penaklukan sebuah kota di wilayah perbukitan -yang tangis penduduknya mengeluarkan kabut- oleh pasukan bertopeng baja. Pasukan itu turun membelah langit hitam dengan menumpang kuda bersayap lalu menyerang para penghuni kota. Bukannya memimpin perlawanan, pemimpin kota malah mengisi waktunya untuk bertapa.

Kami hanya bisa meratapi tangis kesakitan pepohonan ketika gergaji-gergaji mesin mereka memotong-motong tubuh mereka. Kami hanya bisa menangis kala lumpur, dan lahar memuntah. Hingga kabut di kelopak mata kami mulai menguap. (hlm. 126).

Meskipun bisa disebut cerita fantasi, cerpen ini bukan sekadar dongeng belaka. Pasukan bertopeng baja merupakan simbol ketamakan yang menghancurkan hidup orang lain. Dan pengarang mengingatkan, ketamakan selalu akan mendapatkan ganjarannya. 

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen yang semuanya menggunakan perspektif orang pertama (baik tunggal maupun jamak) dalam Bulan Memerah ditulis dengan lugas dan cukup enak dibaca. Tema yang diangkat pun beragam sehingga tidak menjemukan dibaca. Umumnya bisa dikenali dalam masyarakat kita, kecuali yang memang bertema absurd. 

27 January 2014

The Tale of Despereaux



Judul Buku: The Tale of Despereaux
Pengarang: Kate DiCamillo (2003)
Ilustrasi: Timothy Basil Ering
Penerjemah: Diniarty Pandia        
Tebal: 280 halaman; 20 cm
Cetakan: kedua, Maret 2005
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Karena kau, tikus, bisa bercerita pada Gregory. Cerita ibarat cahaya. Cahaya sangat berharga di dunia yang begini gelap. Mulailah dari awal. Berceritalah pada Gregory, Hadirkan cahaya. (hlm. 84).



Fabel adalah kisah tentang kehidupan hewan yang berperilaku seperti manusia. Kisahnya -tentu saja- fiktif, dan biasa digunakan sebagai sarana edukasi bagi  masyarakat. Dalam khazanah fabel, kita mengenal kisah-kisah seperti Kelinci dan Kura-Kura, Kancil Mencuri Mentimun, Kancil dan Buaya. Kisah-kisah tersebut disajikan secara sangat simpel, dengan alur biasa-biasa saja, dan penyelesaian yang jarang menumbuhkan rasa penasaran. Unsur keindahan dalam menggulirkan kisahnya pun tidak menjadi perhatian utama.

Kate DiCamillo –pengarang yang sebelumnya telah menciptakan karakter hewan dalam novel-novel seperti Because of Winn-Dixie (2000)  dan The Tiger Rising (2001)- membuktikan bahwa fabel bisa disajikan dengan indah. Tetap mengandung pesan moral yang mudah diterima, tapi dialirkan dalam plot yang berlekuk dengan para karakter yang menarik hati.

The Tale of Desperaux yang menjadi pemenang Newbery Book tahun 2004 adalah fabel indah yang lahir dari imajinasi Kate DiCamillo. Di dalamnya, kita akan bertemu dengan tiga karakter yang tidak terlupakan: Desperaux Tilling, Chiaroscuro, dan Miggery Sow.

Despereaux Tilling adalah seekor tikus kastil. Bertubuh sangat kecil, tapi bertelinga amat besar untuk ukuran tikus kastil. Sejak dilahirkan, Desperaux yang sakit-sakitan telah menunjukkan perbedaannya dengan tikus kastil lain. Saat dilahirkan, matanya telah terbuka, menatap cahaya matahari yang membuatnya tersenyum. Dalam pertumbuhannya, ia tidak menunjukkan minat pada segala sesuatu yang diminati para tikus. Ia senang cerita-cerita dalam buku-buku di perpustakaan kastil sehingga tidak mau menggerogoti kertasnya. Ia terbuai musik yang dimainkan Raja Phillip untuk Pea, putri semata wayangnya, sebelum tidur. Musik itu membuatnya melanggar peraturan penting dunia tikus. Tidak hanya menampakkan dirinya di hadapan manusia, ia juga duduk di kaki Raja Phillip. Bahkan, ia berbicara pada Pea yang merupakan pelanggaran peraturan keramat terakhir para tikus. Belum lagi, ia jatuh cinta pada Pea lantaran gadis kecil itu tersenyum padanya dan membelai kepalanya. 

Anak-anak, kau mungkin menanyakan hal ini; malah, kau harus menanyakan hal ini: Bukankah konyol kalau tikus sangat kecil, sakit-sakitan, bertelinga besar, jatuh cinta pada putri manusia cantik bernama Pea?

Jawabannya... ya. Tentu saja, itu konyol.

Cinta memang konyol.

Tapi cinta juga indah. Dan kuat. Dan cinta Despereaux pada Putri Pea akan terbukti, seiring berjalannya waktu, mengandung semua hal itu: kuat, indah, dan konyol. (hlm. 33-34).

Kekonyolan Despereaux menyebabkan ia dijatuhi hukuman oleh Dewan Tikus. Lehernya dililit benang merah kematian, kemudian ia dijebloskan di ruang tahanan bawah tanah dan diserahkan pada tikus-tikus got yang mendiami tempat yang bau itu. Ruang tahanan bawah tanah merupakan jantung gelap dunia yang berbahaya, memiliki kelokan, tikungan, jalan buntu, dan pintu palsu. Hanya tikus got yang mengetahui lekuk-liku labirin itu.

Chiaroscuro atau biasa dipanggil Roscuro adalah tikus got dan menghuni ruang tahanan bawah tanah kastil. Dalam kegelapan bawah tanah, Roscuro terobsesi dengan cahaya. Untuk bisa melihat cahaya yang lebih banyak, ia meninggalkan huniannya dan masuk ke dalam kastil.  Keputusannya ini memicu serangkaian kejadian yang berakhir fatal. Seperti yang terjadi pada Despereaux, Putri Pea juga melihat Roscuro, tapi tidak sambil tersenyum. Pea membelalaki Roscuro dengan ekspresi jijik dan marah lantaran telah memicu musibah dan hal ini menghancurkan hati Roscuro. Dendam kesumat pun merebak dalam jiwanya.

Ada hati, anak-anak, yang tidak pernah sembuh setelah hancur. Atau kalaupun sembuh, hati itu menyembuhkan diri dengan cara yang aneh dan tak wajar, seakan diperbaiki tukang yang asal-asalan.  (hlm. 121).

Sampai berusia dua belas tahun, tidak pernah ada yang peduli dengan apa yang diinginkan Miggery Sow. Setelah ibunya meninggal, anak perempuan bertelinga seperti kembang kol itu ditukar ayahnya untuk menjadi pelayan seorang pria dengan  segenggam rokok, selembar taplak meja berwarna merah, dan seekor ayam betina. Pria itu sering menjewer telinga Miggery Sow sehingga menjadi seperti kembang kol. Mig -begitu Miggery dipanggil- memang berotak lamban dan sedikit terlalu malas. Meskipun demikian, ia memiliki sebuah harapan, menjadi seorang putri seperti Pea.

Dan harapan seperti cinta... sesuatu yang konyol, menakjubkan, kuat. (hlm. 140).

Harapan itu tampak akan menjadi kenyataan bagi Mig ketika ia diboyong ke kastil untuk menjadi pelayan dan bertemu Roscuro. Padahal, sejatinya, Roscuro juga tidak peduli dengan harapan Mig, dan anak perempuan bodoh itu hanya akan ia manfaatkan untuk melaksanakan rencana jahatnya, membalas dendam pada Putri Pea. Saat menyampaikan rencana jahatnya pada Mig, Roscuro tidak mengetahui kalau Despereaux mendengar, dan demi cinta pada Putri Pea, Despereaux bertekad untuk menyelamatkan gadis yang dicintainya itu.  

Seperti apa rencana jahat Roscuro? Mampukah ia menuntaskan dendam kesumatnya? Sementara itu, apa yang akan dilakukan Despereaux untuk menyelamatkan Pea? Bisakah tikus kecil sakit-sakitan itu mengalahkan Roscuro? Gambar sampul depan novel ini memberikan sedikit bayangan mengenai perjuangan penuh tekad si tikus kastil.

Secara garis besar, The Tale of Despereaux (Kisah Despereaux) yang disajikan dengan cara mendongeng (jati diri pendongengnya akan disingkap sedikit di bagian Penutup) berkisah tentang cinta, sakit hati, harapan, dan maaf. Keempat elemen ini akan berpadu menjadi pesan indah yang meremukkan sekaligus menghangatkan hati. Roscuro memiliki sakit hati, Miggery Sow memiliki harapan, Putri Pea memiliki maaf, dan Despereaux sang karakter paling utama, selain cinta, juga memiliki maaf -seperti yang diberikannya pada Lester, ayahnya. Dari keempat elemen, maaf memang memegang peranan paling penting dalam kisah ini dan akan menutupi semua sakit hati.

Menurutku, anak-anak, maaf adalah sesuatu yang sangat mirip harapan dan cinta, sesuatu yang kuat dan indah.

Dan juga konyol.  (hlm. 212-213).

Sesudah berbagai kelucuan yang telah dimunculkan sejak awal, dan ketegangan yang mengikuti, kisah ini berakhir menyenangkan, dan bahagia. Tidak ada alternatif lain bagi fabel yang bisa dinikmati oleh pembaca segala usia ini.

Banyak kalimat-kalimat menarik yang bisa kita petik dari novel yang berhiaskan ilustrasi yang hidup dan lucu karya Timothy Basil Ering. Selain yang telah dikutipkan sebelumnya, kita juga akan menemukan kalimat-kalimat di bawah ini.

Anak-anak, kau harus tahu bahwa takdir yang seru (kadang melibatkan tikus got, kadang tidak) menanti hampir setiap makhluk, tikus atau manusia, yang pantang menyerah (hlm. 27).

Tapi anak-anak, tak ada penghiburan dalam kata "selamat tinggal", bahkan walaupun kau mengatakannya dalam bahasa Prancis. "Selamat tinggal" adalah kata-kata yang, dalam bahasa apa pun, penuh penderitaan. Itu kata-kata yang tak menjanjikan apa-apa. (hlm. 69).

Setiap tindakan, anak-anak, tak peduli betapa kecil pun, memiliki konsekuensi.  (hlm. 122).

Yang tidak bisa dilupakan untuk edisi Indonesia ini adalah penerjemahan yang baik dengan pemilihan kata yang pas. Kelucuan yang muncul dari percakapan para karakter tidak menjadi kabur sehingga kisah tetap mengalir lancar dan enak dibaca. 





Januari 2014: Fabel




05 January 2014

Carrie


Judul Buku: Carrie
Pengarang: Stephen King (1974)
Penerjemah: Gita Yuliani K
Tebal: 256 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Oktober 2013
Desain dan ilustrasi sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama






Carrie White adalah seorang gadis yang tidak menarik, bertubuh gemuk dan pendek dengan jerawat bertebaran di tubuhnya. Ia -sudah pasti- tidak populer dan kerap menjadi sasaran olok-olok serta penggencetan anak-anak SMA Ewen -tempat Carrie bersekolah. Saat menstruasi untuk pertama kalinya di ruang mandi sekolah pada umur 17 tahun dan tidak memahami apa yang sedang terjadi, Carrie menjadi histeris. Akibatnya, anak-anak perempuan yang berada di ruang mandi melemparinya dengan tampon dan pembalut.

Sue Snell -salah satu dari anak perempuan yang menghina Carrie di ruang mandi- merasa bersalah atas apa yang dilakukannya pada Carrie. Untuk menebus kesalahannya, Sue meminta Tommy Ross, pacarnya, mengajak Carrie menghadiri malam prom. Melihat keseriusan Tommy, Carrie menyambut ajakannya dan mempersiapkan diri untuk hadir pada Pesta Dansa Musim Semi itu. Bahkan, ia menjahit sendiri gaun yang akan dikenakannya dan mengabaikan ketidaksetujuan Margaret White, ibunya.

Baik Carrie maupun Tommy serta Sue tidak menyadari kalau Chris Hargensen -salah satu siswi yang kerap menggencet Carrie- telah menyiapkan sebuah rencana busuk untuk menghancurkan Carrie. Malam Prom yang berpeluang membuat Carrie tampil sebagai gadis normal melahirkan petaka berskala besar yang tidak saja memorakporandakan sekolah melainkan juga kota tempat tinggal mereka, Chamberlain (Maine). Para penggencet yang bertindak kelewat batas tidak tahu Carrie memiliki kemampuan yang bersifat destruktif, dan mereka sukses memunculkannya dengan mempermainkan sisi psikologis Carrie yang rapuh.

Carrie terlahir dengan kemampuan telekinesis. Ia bisa menggerakkan benda-benda dan menyebabkan perubahan di dalam benda-benda tersebut. Kemampuan telekinesis Carrie muncul karena momen negatif yang dialaminya. Insiden di ruang mandi sekolah yang memalukan menjadi pemicu yang kemudian meledak pada malam prom saat kemarahannya yang ia pendam tidak bisa dikendalikan lagi. Hasrat membalas dendam yang muncul mendadak kian memperkuat kemampuan destruksinya.

Sejatinya, Carrie ingin menjadi seorang gadis normal. Malangnya, ia dilahirkan seorang perempuan yang mengungkung diri dengan fanatisme keagamaan yang keliru. Sejak dilahirkan, Carrie sudah dianggap ibunya sebagai hukuman yang ditimpakan Tuhan padanya. Ketika melahirkan Carrie, Margaret White bahkan tidak tahu kalau mendiang suaminya telah menghamilinya -Margaret menganggap ia sedang menderita kanker di bagian kewanitaannya. Margaret tidak pernah mengajarkan anaknya mengenai menstruasi dan tidak melakukan tindakan apa-apa sehubungan dengan keterlambatan menstruasi putrinya. Malah, ketika Carrie menstruasi untuk pertama kalinya, kemarahan Margaret meledak. Baginya, Carrie telah menjadi Hawa, perempuan lemah, jahat, dan berdosa. Ia memaksa Carrie berdoa di dalam lemari untuk memohon pengampunan Tuhan.

Carrie adalah novel Stephen King yang pertama diterbitkan meskipun merupakan novel keempatnya. Diterbitkan pada tahun 1974, sesungguhnya Carrie mengisahkan kisah yang terjadi di masa depan pada saat itu (tahun 1979). King membagi Carrie ke dalam tiga bagian yang terdiri atas Olahraga Berdarah (Blood Sport), Malam Prom (Prom Night) dan Reruntuhan (Wreckage). Bagian pertama mengantar kejadian pada bagian kedua dan menghasilkan kejadian pada bagian ketiga. Itulah sebabnya, Carrie sebenarnya masih tetap bisa dinikmati seandainya King memilih menggunakan plot lempeng. Hanya saja, kemungkinan besar, dengan plot lempeng, Carrie yang awalnya direncanakan menjadi cerpen tidak akan cukup tebal untuk diterbitkan sebagai novel. Untuk mempertebal Carrie, King menggunakan teknik epistolari yaitu dengan menggabungkan elemen seperti surat, berita koran dan majalah, kutipan buku, jurnal ilmiah, artikel, hasil penyelidikan dan buku catatan sekolah. Alhasil, Carrie bisa hadir sebagai novel dan tetap tidak membosankan dibaca. Teknik epistolari tidak menghalangi plot utama Carrie untuk bergerak cepat dalam suasana yang mencekam dan menegangkan. King sukses menumbuhkan rasa penasaran untuk tetap setia membaca hingga kisahnya ditamatkan. Setelah meletakkan Carrie, ada dua kesan dominan yang terasa: tragis dan mengerikan. 

Carrie telah dua kali diadaptasi menjadi film layar lebar. Yang pertama digarap oleh Brian de Palma (1976) dengan Sissy Spacek sebagai Carrie dan Piper Laurie sebagai Margaret. Yang kedua diarahkan oleh Kimberly Peirce (2013), menampilkan Chloē Moretz sebagai Carrie dan Julianne Moore sebagai Margaret. Film layar lebar kedua ini beredar pada bulan Oktober 2013 dan Gramedia Pustaka Utama memanfaatkan momen ini dengan menerbitkan Carrie pertama kalinya dalam bahasa Indonesia. 



Koin Terakhir


Judul Buku: Koin Terakhir
Pengarang: Yogie Nugraha
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Tebal: viii + 296 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Juli 2013
Penerbit: Bentang




Sebelum kematiannya di Les Deux Magots Café-Paris, Daniel Hehalatu memberikan sebuah koin kepada seorang pemuda yang kebetulan berada di sana. Koin lima puluh markkaa Finlandia itu bukanlah sembarang koin. Daniel telah memodifikasi koin itu dan menyembunyikan microchip berisi dokumen yang dicurinya sewaktu bekerja di Direktorat Pengendalian Persandian Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg). Dokumen itu juga bukan sembarang dokumen karena merupakan dokumen rahasia yang telah dilindungi negara selama puluhan tahun. Jika dokumen itu sampai bocor ke media, berpotensi menciptakan krisis keamanan nasional di Indonesia. Kematian Daniel -yang melarikan diri menggunakan paspor palsu- di Paris disimpulkan karena terkena serangan jantung kendati ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung.

Zen Wibowo, agen Badan Intelejen Negara (BIN) yang dikenal dengan daya ingatnya yang fotografis dan menguasai enam bahasa, ditugaskan untuk menemukan koin itu. Ia tidak menolak tugas meskipun sedang dalam persiapan pernikahan dengan kekasihnya, Arcelia Nasution. Maka, dari Jakarta, Zen pergi ke kota tempat Daniel meninggal untuk menemukan koin itu. Pemuda yang menerima koin adalah seorang mahasiswa Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne asal Swiss.

Zen berhasil menemukan mahasiswa itu, tapi tidak koinnya. Si mahasiswa telah memberikan koin itu kepada seorang pastor Spanyol yang mengikuti sebuah konferensi di Paris dan telah meninggalkan Paris. Satu-satunya petunjuk adalah pastor itu berasal dari Selville, Spanyol.

Dari Paris, menyamar sebagai wartawan, Zen pergi ke Selville untuk menemui Bapa Sergio Hernandez. Sayangnya, Bapa Sergio sedang tidak berada di tempat. Ia pergi ke Vatikan untuk menghadiri audiensi umum langsung dari Paris. Setelah mengerahkan semua upayanya, Zen menemukan kenyataan kalau koin telah berpindah tangan lagi. Zen masih harus meretas perjalanan ke London bahkan ke Arbat Lama, Mokswa, untuk mengejar koin itu. Perjalanannya tidak akan berjalan mulus, karena bahkan di ujung perjalanannya, ia akan mengalami pengkhianatan yang berpotensi menggagalkan misinya. Karena selain BIN, ternyata ada pihak lain yang juga berkeinginan memiliki koin itu.

Meskipun kisah pencarian koin itu betul-betul ditamatkan, Yogie Nugraha -sang pengarang novel Koin Terakhir- masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab di bagian Epilog. Tampaknya, novel ini tidak dimaksudkan untuk menjadi satu-satunya novel petualangan Zen Wibowo. Adanya sekuel tentu saja akan lebih memuaskan pembaca yang telah menikmati Koin Terakhir.

Membaca novel ini merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Yogie menulis dengan baik dan menerapkan prinsip ekonomi kata-kata sehingga menghasilkan kisah yang mengalir lancar tanpa menciptakan kebosanan. Bahkan, kisah mengenai Arcelia Nasution yang tidak terkait tugas Zen tetap enak diikuti. Rasa penasaran berhasil ditumbuhkan sejak bagian Prolog dan semakin berkembang seiring perguliran plot yang menghadirkan ketegangan yang dijaga dengan baik. Memang belum serumit karya pengarang-pengarang novel thriller kaliber dunia, tapi Yogie telah menunjukkan kemampuan yang tidak banyak dimiliki pengarang-pengarang Indonesia lainnya.

Satu hal yang mengundang pertanyaan adalah penyebab kematian Daniel Hehalatu karena penggunaan diazepam yang berlebihan sehingga membuat jantung Daniel berhenti. "Dua atau tiga tetes diazepam bisa membuat teler, tetapi pemakaian lebih dari enam tetes akan menghentikan jantung kurang dari tiga menit,"  kata polisi Prancis (hlm. 90). Jadi, apakah bentuk sediaan diazepam yang dipakai untuk membunuh Daniel?  Tetes untuk diminum (guttae) ? Atau sirup? :)

Menurut pengakuan Yogie (dalam Pengantar Penulis), ia menulis Koin Terakhir karena dipicu sebuah artikel tentang konferensi yang dilakukan pada November 1967 di Jenewa, Swiss. Pertemuan tersebut dilakukan antara perwakilan Indonesis dengan 'raja-raja ekonomi dunia' seperti David Rockefeller dan perwakilan dari korporasi-korporasi transnasional seperti General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, Freeport, Alcoa, dan US Steel. Fakta-fakta yang terungkap dari konferensi tersebut sangat mencengangkan dan membuat Yogie terusik. Ia jadi bertanya-tanya apakah perwakilan Indonesia yang dikirim ke konferensi itu benar-benar memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai ekonomi. Apa yang terjadi di Konferensi Jenewa tahun 1967 yang dirancang untuk mengambil alih kekayaan Indonesia ini diangkat ke dalam film dokumenter bertajuk The New Rulers of the World oleh Alan Lowery dengan jurnalis John Filger sebagai presenter (2001). Menyusul film dokumenternya, Pilger telah menerbitkan kumpulan esai dengan judul yang sama (2002).

Apa kaitannya Konferensi Jenewa November 1967 ini dengan konflik dalam Koin Terakhir, hanya akan Anda ketahui dengan membaca sendiri novel perdana Yogie Nugraha ini.



31 December 2013

In The Bag




Judul Buku: In The Bag
Pengarang: Kate Klise (2012)
Penerjemah: Nurkinanti Laraskusuma
Tebal: 376 halaman; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Oktober 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Mereka menumpang pesawat yang sama, dari Chicago menuju Paris. Andrew Nelson dan putranya, Webb, yang berasal dari St. Louis, tidak singgah di Paris. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke Madrid, Spanyol. Andrew mendapat pekerjaan merancang pameran seni digital di Palacio de Cristal (Crystal Palace), Madrid. Pameran bertajuk Love in the Postdigital Age ini dikuratori Solange Bartel, perempuan asal Paris. Daisy Sprinkle dan putrinya, Coco, singgah di Paris karena mereka memang datang untuk berlibur selama seminggu. Mereka menginap di apartemen Solange yang sedang berada di Madrid. 

Sepanjang perjalanan Chicago-Paris, Andrew menghabiskan waktu untuk mengamati Daisy. Sebelumnya, secara tidak sengaja, Andrew telah menyenggol lengan Daisy dan menumpahkan anggur yang sedang diminum perempuan itu ke blusnya. Saat itu, tentu saja, mereka masih sesama orang asing yang tidak saling kenal. Saking terpikatnya dengan Daisy, Andrew langsung berkeinginan makan malam dengan Daisy. Keinginannya itu dituangkannya dalam selembar kertas yang lalu diselipkannya dalam tas Daisy saat mendarat di Bandara Charles de Gaulle. Ia berharap Daisy akan meresponsnya, dan karenanya ia menuliskan alamat emailnya juga. 


Saat membuka tas di tempat tujuan masing-masing, Webb dan Coco mengetahui kalau tas mereka telah tertukar di Bandara Charles de Gaulle. Webb yang berinisiatif menghubungi Coco begitu menemukan alamat email gadis itu di saku tas. Maka pertukaran tas pun berkembang menjadi pertukaran email rahasia yang mendekatkan mereka dari jauh dan membuahkan keinginan untuk bertemu. Kesempatan bertemu terbuka ketika Solange meminta Daisy membantunya di Madrid. Daisy yang adalah chef terkenal di Chicago akan menyiapkan makanan untuk resepsi pembukaan pameran karena petugas katering yang sebelumnya telah siap berhalangan. Coco yang memang enggan membantu ibunya menghidangkan makanan merasa tidak enak badan sehingga terpaksa Daisy berangkat ke Madrid tanpa putrinya itu. Webb yang lebih suka menghabiskan waktu di depan komputer ketimbang menjelajahi Madrid dan membuat Andrew kurang senang memutuskan pergi ke Paris, naik kereta api selama tiga belas jam. 


Kalau Webb bertemu Coco di Paris, maka perjalanan Daisy ke Madrid mempertemukannya dengan Andrew. Pertemuan mereka terjadi pada saat acara pembukaan pameran. Interaksi dadakan membuat mereka saling terbuka satu sama lain. Diam-diam, seperti yang telah dirasakan sebelumnya oleh Andrew, Daisy pun terpesona pada ayah Webb. Sayangnya, hubungan di antara mereka tidak berjalan sesuai harapan. Daisy kecewa dan menganggap Andrew tidak berbeda dengan laki-laki lain yang pernah dikenalnya. Penyebabnya sebenarnya sepele: Andrew tidak mau memberikan alamat emailnya. Daisy tentu saja tidak tahu jika Andrew memberikan alamat emailnya, maka ia akan mengetahui Andrew adalah laki-laki iseng yang memasukkan pesan ke dalam tasnya. 


Secara bergantian, Andrew, Webb, Daisy, dan Coco akan bertindak sebagai narator orang pertama kisah perjalanan mereka ke Eropa, tertukar tas, dan jatuh cinta. Masing-masing punya gaya sendiri untuk mendedahkan kisah dan observasi mereka terhadap apa yang terjadi, sehingga tanpa mencantumkan nama-nama narator pun, kita sudah mengetahui siapa yang tengah berkisah. Masing-masing berkisah sesuai usia dan gender, Webb dan Coco dengan gaya remaja sedangkan Andrew dan Daisy dengan gaya orang dewasa. Cara berkisah yang khas semakin memperkuat karakterisasi. 


Kebetulan, boleh dibilang, merupakan andalan Kate Klise dalam menulis In The Bag yang adalah novel dewasa pertamanya. Para karakter novel kebetulan bertemu dalam pesawat menuju Paris. Secara kebetulan tas Webb tertukar dengan tas Coco dan Webb menemukan alamat email Coco. Pertemuan Daisy dan Andrew di Madrid pun terjadi secara kebetulan. Bahkan salah satu kebetulan akan menciptakan ketegangan di bagian penutup novel yang menentukan kelanjutan hubungan di antara keempat karakter utama novel ini. Untunglah, Kate Klise berhasil mengemas kebetulan menjadi rangkaian kisah yang menarik dan terasa wajar. Akankah mereka bertemu kembali? Atau kisah perjalanan ke Eropa yang mereka alami hanya akan menjadi salah satu kenangan yang pantas ditinggalkan di belakang? 


In The Bag dipecah ke dalam tujuh bagian yang diberi judul dengan nama-nama hari selama seminggu saat kisah berlangsung. Sebelum membaca kisah yang ada, tidak ada salahnya memperhatikan baik-baik ilustrasi pada halaman judul setiap bagian untuk lebih memahami apa yang dilakukan keempat karakter utama novel dalam perjalanan mereka di Eropa. 


Secara keseluruhan In The Bag adalah sebuah novel yang enak dibaca dan menghibur. Ditulis dengan ringan dan semangat humor yang kerap menggelikan, kita akan bersenang-senang mengikuti perjalanan kerja dan liburan keempat karakter utama novel sekaligus perjalanan dan petualangan menemukan persahabatan dan tentu saja, cinta. 




** Baca dan Posting Bareng BBI Desember 2013 buku dengan tema liburan

 
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan