21 April 2013

Penjual Kenangan



Judul Buku: Penjual Kenangan
Penulis: Widyawati Oktavia
Penyunting: Gita Romadhona & Yulliya Febria
Tebal: x + 214 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Bukune

 




Setiap petang gadis bersenyum kaku dan berpandangan kosong itu membawa keranjang rotan yang sama dan duduk di kursi taman. Ia menunggu kemunculan orang yang akan membeli kenangan terakhir yang dimilikinya. "Aku telah hanyutkan segala mimpi di sungai itu, juga seluruh harapanku. Semua telah hanyut, mungkin sudah hilang di samudera. Yang tertinggal hanya kenangan ini. Kenangan yang hanya berputar-putar di ruang yang sama, tak beranjak ke mana pun. Setelah lelah berputar, kenangan ini akan mencekikku. Aku tidak punya lagi apa yang dapat mengelanakannya: harapan," kata gadis itu kepada laki-laki yang akhirnya mendekatinya. "Aku tidak butuh uang. Harapan. Kau hanya perlu tinggalkan sedikit harapan untukku, lalu kau akan dapatkan kenangan indah ini." (hlm. 134). Sayangnya, laki-laki itu tidak bisa menyilih kenangan  sang gadis dengan harapan yang dimilikinya. Karena ia sendiri tidak memiliki banyak persediaan harapan dan kemungkinan besar akan menjadi penjual kenangan seperti gadis itu untuk mendapatkan harapan. Mengapa laki-laki itu hanya memiliki sedikit sekali harapan? Widyawati Oktavia akan mengungkapkannya dengan sendu dalam cerpen yang judulnya dijadikan tajuk antologi: Penjual Kenangan

Bolehlah kita menobatkan Widyawati Oktavia sebagai Penutur Kesedihan. Karena semua cerita dalam antologi ini secara elementer mengangsurkan kesedihan yang terbentuk dari berbagai sumber.

Cinta bisa menjadi sumber kesedihan sebagaimana yang tersurat dalam cerpen Penjual Kenangan dan cerita pembuka antologi yang berdurasi cukup panjang, Carano. Bagi Amak, carano -alat dalam upacara adat Minang- adalah syarat meminang bagi kedua anak perempuannya yang akan menjadi nak daro -pengantin perempuan. Ia mengisinya dengan sirih yang dilengkapi kapur, gambir, pinang, dan juga tembakau setelah sebelumnya mengalasinya dengan arai berwarna kuning jernih. Setelah itu, Amak menutupi bagian atas carano dengan dulamak -kain bermotif warna merah, kuning, hitam serta kilapan benang emas dan cermin-cermin kecil. Amak selalu berharap ada anggota keluarga marapulai -pengantin laki-laki- yang memiliki kebiasaan makan sirih. 

Tapi Ni, anak perempuan pertamanya, ternyata menikahi laki-laki dari keluarga yang kendati berasal dari Minang, tidak lagi peduli dengan adat istiadat. Mereka merasa modern karena sudah bermukim di Jakarta. Tidak heran carano yang dipersiapkan Amak ditolak, bahkan dengan sengaja dihancurkan. 

Dalam perjalanan kembali ke tempatnya bekerja, anak perempuan kedua mengenang apa yang telah terjadi dalam pernikahan kakak perempuannya, mengingat kekecewaan para kakak laki-laki dan kesedihan Amak. Di bandara, selagi menunggu pesawat yang keberangkatannya tertunda, ia dihubungi laki-laki berbeda suku yang ingin menikahinya. Seketika kebimbangan pun muncul dalam hatinya. Ia memang sangat mencintai laki-laki itu, bahkan setelah laki-laki itu menikahi perempuan lain. Kini tersedia kesempatan untuk bersatu setelah perkawinan laki-laki itu terjebak dalam ketidakbahagiaan. Apakah ia akan merenggut kesempatan itu? Melewati berbagai ruang, dari ruang tunggu hingga ruang takdir yang tidak terelakkan, perempuan itu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya. "Carano yang disiapkan Amak tak bisa hanya diisi dengan cinta," katanya (hlm. 55). 




Kesedihan dalam cerpen Dalam Harap Bintang Pagi  juga disebabkan oleh cinta. Dihadirkan sebagai kisah berbingkai berelemen dongeng, cerpen ini menyodorkan kisah peri bernama Rayina yang jatuh cinta pada seorang petualang. Demi menyertai perjalanan si petualang yang sedang mencari mimpi, Rayina yang tidak bisa terbang meminta sayap kepada junjungannya, Ratu Peri. Permintaannya dikabulkan tapi konsekuensinya ia harus meninggalkan tempat bernaungnya di ujung pelangi dan kelopak bunga yang menjadi tempat peraduannya.  Maka, ketika kelopak bunga membuka pada pukul lima, Rayina pun menyusul sang petualang. Apa yang terjadi di akhir kisah peri yang mencintai petualang itu? "Rayina, aku membawa cerita. Aku telah menemukan pintu kembali ke ujung pelangi. Bintang pagi yang indah, Rayina. Ah, mengapa aku ingin menamai bintang itu dengan namamu?" Sang petualang mencetuskan tanya yang tak terjawab (hlm. 73).

Menjelma Hujan dan Tembang Cahaya melengkapi kesedihan karena cinta. Dalam Menjelma Hujan, terdapat kesedihan yang aneh tapi nyata. Kerap, setelah berpisah dengan orang yang pernah kita cintai, tatkala mendengar ia akan menikah, tak urung hati kita tidak rela dan merasa kehilangan. Hal yang sama dialami oleh Kemala dan Seruni, dua perempuan yang terlilit kesedihan ketika mantan kekasih mereka menikah, padahal mereka sendiri sudah memiliki pengganti. Dalam Tembang Cahaya, sang narator orang pertama kembali ke kota tempat ia menghabiskan masa kanak-kanaknya untuk melaksanakan tugas sebagai dokter PTT. Setelah lima belas tahun berlalu, pertemuannya dengan seorang pembuat layang-layang, mengembalikan kenangannya kepada laki-laki pembuat layang-layang yang pernah dicintainya. 

Kesedihan bisa memercik dari kehidupan keluarga yang melarat. Percakapan Nomor-Nomor menyimpan kesedihan  seorang istri yang diremehkan suaminya. Mas Tarpin, karakter cerpen ini, senang menghambur uang untuk membeli nomor-nomor yang menjanjikan keuntungan instan. Sementara istrinya membanting tulang dengan berkeliling menjajakan bubur sum-sum. Perempuan ini tidak pernah menuntut sesuatu pada Tarpin dan tidak pernah bersungut-sungut meski hanya tinggal di kamar kontrakan. Mimpi seaneh apa pun yang menakutkannya, ternyata tidak berhasil mengubah perilaku Tarpin.

Saat elang berputar-putar di atas kampung bocah laki-laki bernama Suroso mempertanyakan kematian yang mungkin terjadi dalam rumahnya. Siapakah yang akan mati? Suroso, atau kakek dan neneknya, Mbah Kandar dan Mbok Kartiwi? Ternyata, Suroso tidak perlu kuatir. Malaikat maut sama sekali tidak menjenguk ke dalam rumahnya. Penyebabnya karena Mbah Kandar tidak mendapatkan kartu yang bisa ditukar dengan uang di kantor pos. Cerpen Tengara Langit  ini menggemakan kemiskinan dan  ketidakadilan yang kerap menimpa keluarga miskin sehingga mereka sanggup berbuat konyol. Kematian yang terjadi dalam kisah ini sungguh membuat terenyuh. 

Kombinasi kisah keluarga disfungsional dan elemen fantasi memunculkan kesedihan dalam cerpen Kunang-Kunang dan Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela. Ni, anak perempuan dalam cerpen Kunang-Kunang tidak pernah mengenal ayahnya. Bahkan, ketika dipaksa menikah pada usia 15 tahun, tugas ayahnya terpaksa digantikan oleh seorang pamannya. Setelah menetap di Jakarta menyusul pernikahannya, tiba-tiba Ni menerima kabar kematian ayahnya. Ia pulang ke kampungnya, tapi ayahnya telah dimakamkan. Identitas ayahnya sungguh mengejutkan dan hanya bisa diterima kalau kita bersepakat cerpen ini sebagai kisah fantasi. Hal yang sama berlaku untuk cerpen Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela. Di dalam cerpen ini, seorang anak laki-laki dibesarkan oleh ibunya sendirian dan kehilangan figur ayah. Untuk membiayai hidup mereka, sang ibu mengumpulkan uang dengan cara melacurkan diri. Di masa tuanya, setelah anaknya bisa bekerja, sang ibu menciptakan kebiasaan duduk di sebuah kursi, menunggu kepulangan suaminya. Ia berubah seumpama perempuan gila yang mengaku keturunan dewa dan imortal. Awalnya, anak laki-laki itu tidak mempercayai pernyataan ibunya. Tapi ketika maut tidak pernah menjamah ibunya meski sudah berkali-kali diracuni perawat yang dipekerjakannya, mau tak mau ia harus percaya. Ibunya memang tidak akan pernah mati, dan kematian suaminya  setelah meniduri seorang pelacur saat bertugas di luar kota, menghilangkan kesempatannya untuk meninggalkan dunia.

Kesedihan terkadang muncul sebagai konsekuensi dari dosa kedagingan manusia. Nelangsa, anak perempuan yang namanya dijadikan judul cerpen, sering menjadi bulan-bulanan banyak orang karena dilahirkan tidak normal. Ketikaknormalannya kian parah karena ia terjebak rangkaian halusinasi. Dalam kondisi seperti ini, ia bertekad membunuh ayahnya, yang dalam pikirannya, telah menghabisi nyawa ibunya. Nela tidak hanya menjadi cacat, tapi juga gila. Karena ia menjadi narator orang pertama cerpen ini, kita harus jeli memisahkan kebenaran dari halusinasinya. Neneknya-lah yang akan mengungkapkan sebab musabah kerusakan kondisi fisik dan psikis Nelangsa.  

Hal yang sungguh lumrah kalau ada seorang ibu bersedih seperti karakter ibu dalam cerpen elegis Bawa Musim Kembali, Nak. Di masa tuanya, ia terjebak kenyataan getir. Ketiga anaknya meninggalkan rumah, tidak pernah kembali, dan menelantarkannya. Yang tertua, laki-laki, pergi mengadu nasib. Yang tengah, laki-laki juga, ingin melanjutkan sekolah. Yang bungsu, perempuan, bertekad mencari cinta. Anak perempuan itu sempat kembali hanya untuk pergi lagi dan tidak pernah pulang untuk mengulang salah satu episode cinta ibunya. 

Bocah-bocah itu, satu per satu mereka hadir di rahimku. Menjadi janin, menyerap sari makanan dari tubuhku. Sembilan bulan, lamanya, lalu aku mempertaruhkan napasku untuk mereka. Demi kehadiran mereka. Demi tangis pertama mereka. 

Lalu, saat musim berganti, satu per satu, mereka melangkah. Membawa tawa, celoteh, jerit tangis dalam koper-koper mereka. Aku pun sibuk membantu menutup koper itu. "Jangan ada yang tertinggal, Bu," kata mereka. Ah, mengapa koper itu begitu luas memuat semua tawa, celoteh, jerit tangis mereka? (hlm. 199). 

Merasakan kesepian dan kesedihan di masa tua, tidak mengherankan kalau ibu yang sebatang kara itu mengharapkan datangnya musim yang akan membawa anak-anaknya kembali.

Namun, musim-musim lewat begitu saja di depanku. Aku sempat mengejar. Tapi, lari mereka begitu cepat. Tubuhku begitu renta, ternyata. Musim menemukanku terjerembab dengan ngilu di setiap saraf tubuhku. Dengan begitu baiknya, musim membaringkanku di dipan tua ini. Saat aku tertidur, musim pergi diam-diam. Saat berganti lagi, aku akan membawa anak-anakmu. Aku berharap pesan itu tertinggal. (hlm. 207).

Sesudah membaca semua cerita yang dielaborasi secara puitis, bisa disimpulkan kalau sang Penutur Kesedihan, dalam antologi ini, sejatinya sedang merayakan  kesedihan. Kesedihan memang sesuatu yang faktual, dan karena tidak bisa dinafikan begitu saja, merayakannya dalam rangkaian kalimat indah, akan membuatnya bermakna bagi kehidupan. 

Sebelum meluncurkan Penjual Kenangan, Widyawati Oktavia yang juga seorang editor, telah menerbitkan Kucing Melulu dan Cinta (Me)Lulu  (2009) dan Silang Hati (Gagas Duet bersama Sanie B. Kuncoro, 2012). Penjual Kenangan jelas merupakan sebuah progres yang signifikan karena mengindikasikan keinginan melibatkan diri ke dalam perkembangan sastra Indonesia.  






12 April 2013

Are You Afraid of the Dark?


Judul Buku: Are You Afraid of the Dark?
Penulis: Sidney Sheldon (2004)
Penerjemah: Gita Yuliani Koesbaroto
Tebal: 436 hlm; 18 cm
Cetakan: 1, Januari 2005
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





"Biarkan lampu-lampu menyala."
Dengan mencemooh Diane bertanya, "Kau takut gelap?"
"Ya. Aku -aku takut gelap."
(hlm. 254-255)




 



Sonja Verbrugge dibunuh menyusul menghilangnya suaminya, Franz Verbrugge -yang  bisa dipastikan mengalami nasib yang sama. Ia ditemukan tergeletak telanjang di dasar bak mandi apartemennya di Berlin, Jerman. 

Di tengah-tengah hujan lebat yang mengguyur Paris, Prancis, Mark Harris, warga negara Amerika, dibunuh dan terlempar dari teras observasi di Menara Eiffel.

Gary Reynolds, sedang menerbangkan Cessna Citation II untuk mengunjungi adik perempuannya, ketika pesawatnya diterjang badai secara tiba-tiba. Pesawat itu menghantam sisi gunung di luar Denver, Colorado. Menyusul kematian Gary, Lois, adik perempuannya, menjadi korban dalam peristiwa kebakaran rumahnya.

Setelah mengalami penyiksaan yang teramat sadis, Richard Stevens dibunuh, dan ditemukan di bawah jembatan Manhattan di East River. Di dalam saku jaketnya, ditemukan surat yang ditulis dalam bahasa Italia. Pembunuhnya sengaja mengatur supaya kematian Richard tampak sebagai perbuatan mafia Italia. Kebetulan, pada saat yang sama, Diane, istri Richard, menjadi saksi dalam sidang pembunuhan yang dilakukan Anthony Altieri, capo di antara para capo.

Franz Verbrugge, Mark Harris, Gary Reynolds, dan Richard Stevens adalah nama-nama ilmuwan yang bekerja di Kingsley International Group (KIG), wadah pemikir terbesar di dunia. KIG yang berkantor pusar di New York menampung sejumlah orang pintar untuk menemukan solusi bagi masalah seperti keamanan nasional, komunikasi, mikrobiologi, dan lingkungan hidup.

Keempat ilmuwan itu dibunuh karena mereka berencana pergi ke Washington untuk menemui seseorang. Setelah kematian mereka, orang yang terdekat dengan mereka menjadi target pembunuhan. Sonja Verbrugge dan Lois Reynolds adalah buktinya. Dengan demikian yang tersisa adalah orang terdekat Mark Harris dan Richard Stevens. 

Kelly Harris -terlahir di Philadelphia sebagai Kelly Hackworth- adalah supermodel Afro-Amerika yang berdomisili di Paris. Karena trauma yang dialaminya di masa kecilnya, Kelly tumbuh sebagai perempuan yang takut kegelapan. Penerimaannya terhadap Mark Harris dalam kehidupannya, membuat ketakutan terhadap kegelapan tersingkir. Namun, setelah kematian Mark, ketakutan itu menyeruak kembali.

Diane Stevens -terlahir di New York sebagai Diane West- memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada Kelly. Ia dibesarkan dalam keluarga berada yang membuat hidupnya aman sentosa. Saat mengadakan pameran tunggal lukisan-lukisannya, ia bertemu Richard Stevens, pria yang kemudian menjadi suaminya.


Percobaan pembunuhan Kelly dan Diane terjadi setelah kedua perempuan itu meninggalkan Kantor Pusat KIG untuk bertemu dengan Tanner Kingsley. Kelly dan Diane, yang masih belum melepaskan duka karena ditinggal suami mereka, terpaksa harus berusaha menyelamatkan diri mereka. Menjadi target pembunuhan, menerbitkan keinginan kedua perempuan itu menyelidiki sebab-musabab situasi yang membuat hidup mereka kacau balau. Tidak ada kecakapan bertarung ataupun senjata yang bisa membantu usaha mereka. Mereka hanya mempunyai otak cerdas, yang sejalan dengan waktu, kian terasah membaca pertanda. Maka tidak ada jalan lain selain bahu-membahu bermain kucing-kucingan dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Berulang kali berkelit dari maut membuat Diane percaya kalau Richard menyertai perjalanannya. Hal yang sulit diterima Kelly yang takut kegelapan.

Tidak mudah bagi kedua perempuan itu mengurai simpul misteri yang membelit pikiran mereka. Kecanggihan teknologi membuat mereka terpapar dan dengan mudah bisa dibuntuti oleh si pembunuh. Sebuah informasi mereka dapatkan dari Lois yang tengah sekarat di Denver, bahwa penyebab kematian Gary adalah apa yang disebut Prima.

Menyusul kematian keempat ilmuwan KIG,  Interpol menemukan bukti-bukti keterkaitan KIG. Bahkan untuk dua kematian sebelumnya. Akira Ison, ilmuwan Jepang ditemukan tewas karena gantung diri di kamar hotelnya di Tokyo. Madeleine. ilmuwan Swiss, ditemukan tewas di apartemennya di Zurich, karena menghirup gas yang dinyalakan. Padahal, mereka berdua sedang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan terjadinya tindakan bunuh diri. Merespons kabar Interpol, Tanner Kingsley mengakui bahwa kematian kedua ilmuwan itu memang terkait dengan KIG. Karena sebelumnya, menurut Tannner, keduanya telah setuju bergabung dengan KIG.

Tanner Kingsley, pemilik KIG, sedang giat memperjuangkan pengalokasian dana penelitian masalah lingkungan hidup di hadapan Komite Khusus Senat untuk Lingkungan Hidup. Andalannya adalah isu pemanasan global yang telah memicu sejumlah bencana di berbagai belahan dunia. Angin ribut dan hujan es menghantam Iran. Kekeringan di Jerman yang menyebabkan kematian dan kegagalan panen. Gangguan kabut di  kota-kota besar Jerman yang memandekkan berbagai aktivitas. Tornado yang aneh menimpa Australia. Tapi bukan hal yang gampang bagi Tanner menundukkan komite yang dipimpin Senator Pauline van Luven itu.

Mampukah Kelly dan Diane menemukan penyebab dan dalang kematian suami-suami mereka? Apa sesungguhnya yang disebut Prima? Sidney Sheldon, sang novelis ulung, akan memberikan jawaban yang memuaskan dan mencengangkan setelah kita bersetia mengikuti petualangan Kelly dan Diane.

Are You Afraid of the Dark?
adalah novel terakhir yang dianggit Sidney Sheldon, sebelum kematiannya pada 30 Januari 2007. Seperti yang telah menjadi ciri khasnya, ia menggunakan perempuan sebagai karakter protagonis utamanya. Perempuan dalam novelnya biasanya merupakan perempuan tangguh, dan berasal dari berbagai latar belakang. Sebelumnya ada pengacara, duta besar, wartawan televisi, konglomerat, biarawati, pencuri, dokter, dan ratu media massa. Dalam novel ini, Kelly Harris adalah supermodel, sedangkan Diane Stevens seorang pelukis berbakat. Kedua profesi ini memperkuat kesan kalau mereka adalah pihak yang tidak berdaya. Tapi, Sheldon menunjukkan kalau profesi mereka tidak membuat mereka bodoh, malahan mempertajam intuisi mereka. Karena dengan otak cerdas, Kelly dan Diane, berhasil mengubah posisi. Dari yang diburu menjadi pemburu. Kedua perempuan gemulai ini menjelma menjadi perempuan tangguh yang sanggup merongrong ketenangan sang karatakter antagonis.

Sebagaimana dalam novel-novel terdahulu, Sheldon mengindikasikan kemumpuniannya sebagai pengarang yang mampu membetot perhatian pembaca dari awal hingga akhir. Dibuka dengan Prolog yang mengguncang, kita akan dibawanya menyusuri plot yang bergerak cepat dan tangkas, menuju bagian pamungkas yang memuaskan. Meski menyajikan adegan-adegan kilas balik yang cukup banyak, kita tidak akan terganggu. Karena, setiap menarasikan apa yang terjadi, Sheldon tidak pernah bertele-tele. Kalimat-kalimatnya padat, ekonomis, dan tanpa bunga-bunga, bahkan untuk menceritakan sesuatu yang romantis. Itulah sebabnya, dalam waktu singkat, kita bisa menamatkan novel ini.

Sheldon tidak berlama-lama untuk menampilkan wajah sang dalang kepada kita. Begitu kita mengetahuinya, dengan segera kita masuk ke dalam ambisinya yang berlandaskan sifak tamak yang aje gile. Sang karakter antagonis tidak segan menyingkirkan orang-orang yang menghambat realisasi ambisinya. Bahkan sekalipun jika orang itu darah dagingnya sendiri. Bertahun-tahun tidak membangun keluarga dan menampilkan citra manusia patah hati yang sukar bangkit dari masa lalunya, ia menyimpan kejutan yang akan menghantam tidak saja kedua karakter protagonis tapi juga kita sebagai pembaca. Sebuah twist ending yang akan membuat kita mencelus.

Tapi jangan kuatir, Sidney Sheldon tidak pernah memenangkan karakter antagonis semacam sang dalang ini. Bagaimanapun, akhir mengenaskan telah tersedia baginya. Senjata makan tuan.

Are You Afraid of the Dark? tidak sekadar menjadi sajian thriller berbungkus misteri dan sains. Tapi juga perjuangan dua perempuan mengatasi ketakutan-ketakutan yang mengunjungi hidup mereka. Seiring perguliran plot, mereka akan mampu mengalahkan semua ketakutan itu dan keluar sebagai pemenang. Khususnya Kelly, akan mampu tidur dengan lampu dipadamkan.

Diane berkata, "Rasanya sudah saatnya tidur."
Kelly menguap. "Aku mengantuk, Diane. Padamkan saja lampunya." (hlm. 433).

Sheldon meninggalkan sebuah pesan bagi pembaca. Bahwa sebuah teknologi semestinya diciptakan dengan tujuan untuk kemaslahatan manusia. Bukan untuk menghancurkan. Bukan untuk kepentingan segelintir orang. Sebuah pesan yang sangat mulia. 




 Sidney Sheldon (1917-2007)

11 April 2013

Surat Dahlan



Judul Buku: Surat Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penyunting: Suhindrati Shinta & Rina Wulandari
Tebal: 396 hlm; 14 x 21 cm
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Noura Books

 




Belakangan ini, kita bisa menemukan banyak buku mengenai Dahlan Iskan beredar di dunia perbukuan Indonesia. Surat Dahlan yang ikut menambah keramaian buku Dahlan Iskan adalah buku kedua dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Sebelumnya, Noura Books, selaku penerbit telah meluncurkan Sepatu Dahlan (2012) yang dikukuhkan sebagai Novel Mega Bestseller dan sedang dalam proses adaptasi ke dalam film layar lebar.

Khrisna Pabichara melanjutkan novelisasi kehidupan Dahlan Iskan dengan menjadikan Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri serta beberapa orang yang pernah berinteraksi dengan mereka sebagai sumber inspirasi. Kalau novel sebelumnya dimulai saat Dahlan melakukan operasi transplantasi hati, maka kali ini dimulai setelah operasi tersebut selesai. Dahlan yang sedang mencemaskan hati yang dicangkokkan ke dalam tubuhnya, berkunjung ke masa lalu, menjenguk kenangan yang bermula di Samarinda.

Buku pertama, Sepatu Dahlan, diakhiri dengan keputusan Dahlan untuk meninggalkan kampung halamannya, Kebon Dalem -Magetan, dan  pergi ke Samarinda, menyusul Atun, kakaknya yang lebih dulu menetap di tepi Sungai Mahakam. Tidak hanya mencari pekerjaan, Dahlan juga melanjutkan kuliahnya di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur itu

Tapi kuliahnya tidak berjalan dengan baik. Dahlan tidak bisa beradaptasi dengan cara mengajar dosen-dosennya yang otoriter. Untuk mengatasi kejenuhannya, ia bergabung dengan organisasi mahasiswa dan pelajar, Pelajar Islam indonesia (PII). Menghabiskan waktu dengan sesama anggota PII membuat ia merasa lebih bersemangat dan lebih hidup. Di sanalah ia mengenal Syarifuddin, anak pengusaha kayu; Latif Siregar, persilangan Batak-Jawa Timur; Nafsiah, putri Danramil, gadis tomboi dan mahir silat. Mereka akan menjadi teman-teman setia manakala para pelajar dan mahasiswa melakukan aksi demo, setelah meletusnya Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari).

Dahlan diangkat sebagai pemimpin aksi yang berujung pertikaian dengan tentara itu. Akibatnya, Dahlan yang dianggap pemberontak menjadi buronan yang diburu-buru tentara. Tatkala melarikan diri dari sergapan tentara, Dahlan mendapatkan pertolongan Saripa, perempuan tua dari Masamba. Nenek Saripa-lah yang memperkenalkan Dahlan kepada Sayid Alwy, pemimpin harian Mimbar Masyarakat. Perkenalan inilah yang membuka karier Dahlan Iskan dalam dunia persuratkabaran. Dahlan yang tadinya bernama Muhammad Dahlan, memakai nama bapaknya, sehingga dikenal sebagai Dahlan Iskan.

Kisah selanjutnya adalah perjalanan karier Dahlan Iskan di Bumi Etam sampai ia menetap di Surabaya dan diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas Pelaksana untuk membenahi Jawa Post. Sebelumnya, ia menjadi Kepala Biro Tempo Surabaya.

Selain kisah perjalanan kariernya -yang belum lengkap karena masih ada buku ketiga, dalam buku ini kita akan mengikuti kisah cinta Dahlan dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Perempuan itu tidak lain Nafsiah, putri Danramil dan pelajar SPG Samarinda.

Di buku pertama, pada masa remajanya, Dahlan sempat berhubungan dekat dengan Aisha, putri mandor perkebunan tebu yang ditakutinya. Di buku kedua ini, Krishna membuat kisahnya sedikit rumit. Sahabat Dahlan, Maryati, menyusul Dahlan ke Samarinda. Tanpa tedeng aling-aling, Maryati menyatakan cintanya, bahkan meminta ketegasan Dahlan, sebelum akhirnya memilih menikahi Paijo. Setelah kedua perempuan Jawa itu, Dahlan kemudian menyerahkan hatinya kepada Nafsiah, perempuan kelahiran Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Tapi, kisah cintanya tidak berjalan semudah membalik telapak tangan. Dahlan sempat merasa kecewa ketika mengunjungi Nafsiah di Tanjung Isuy, tempat gadis itu melaksanakan tugas sekolah selama tiga bulan. Karena, tidak ada kata cinta terucap kendati ia telah meretas perjalanan panjang untuk menjumpai gadis idamannya. Untunglah, Nafsiah memang mencintainya juga.

Sebagai novel kisah nyata, -memadukan fakta dan fiksi- apalagi ada kalimat (Trilogi) Novel Inspirasi Dahlan Iskan di sampul depan novel, semestinya, Surat Dahlan memberikan inspirasi. Sayangnya, dibandingkan novel pertama, Sepatu Dahlan, kehidupan Dahlan di sini justru kurang inspiratif. Tidak ada gugahan serupa kisah Dahlan kecil dan remaja yang menjalani hidup untuk mengatasi kemiskinan dan mewujudkan cita-cita masa itu -memiliki sepeda dan terutama, sepatu. Kisah cinta dan perjuangannya menjadi bagian dari armada Tempo tidak memberikan keharuan setaraf kisah masa kecilnya.

Jujur, saya merasa agak keteteran menamatkan novel ini. Karena setiap melembari halaman novel, saya berharap akan menemukan momen menggugah yang membuat saya terharu. Tapi ternyata, hingga novel berakhir, momen yang saya harapkan tidak pernah muncul.

Untunglah Khrisna masih menulis dengan luwes. Meski cenderung puitis dengan seleksi diksi yang terasa sedikit kenes, rangkaian kalimat-kalimatnya membuat novel ini masih enak dibaca. Inilah yang akhirnya membuat saya bisa menamatkan Surat Dahlan.

Ada beberapa surat bisa kita baca dalam novel ini. Surat Aisha, Maryati, Bapak Iskan, dan tentu saja, surat yang ditulis Dahlan sendiri. Mungkin, surat-surat inilah yang membuat novel ini diberi judul Surat Dahlan. Walaupun harus diakui, kehadiran surat dalam novel ini tidak seampuh pengaruhnya dengan kehadiran sepatu dalam novel pendahulunya terhadap keseluruhan jalinan kisah yang ada. 
 
Masih ada satu novel lagi yang akan melengkapi Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan ini. Di dalam buku Sepatu Dahlan, Noura Books menginformasikan bahwa buku ketiga akan berjudul Kursi Dahlan. Akan tetapi, di dalam Surat Dahlan ini, berubah menjadi Senyum Dahlan. Memang, senyum Dahlan dan bukan kursi Dahlan yang kerap kita lihat di sampul-sampul buku mengenai dirinya yang banyak beredar. 





Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri

 
10 April 2013

Seven Days



Judul Buku: Seven Days
Penulis: Rhein Fathia
Penyunting: HP Melati
Tebal: 296 hlm; 18 cm
Cetakan: 1, Februari 2013
Penerbit: Qanita

 




Cinta memang tidak ada matinya dalam karya fiksi. Penerbit Qanita menegaskan pernyataan ini dengan mengadakan Lomba Penulisan Novel Romance 2012. Seven Days karya Rhein Fathia terpilih sebagai pemenang pertama dan telah diterbitkan dalam bentuk buku pada Februari 2013.

Dalam novel ini, penulis yang juga telah melahirkan novel Jadian 6 Bulan (2005), Jalan Menuju Cinta-Mu (2008), dan CoupL(ov)e (2013) mengangkat kisah cinta yang sudah kerap dimunculkan oleh banyak penulis. Sepasang insan menjalin persahabatan sejak masa kecil, kemudian tanpa mereka sadari, jatuh cinta satu sama lain. Apakah cinta mereka akan terwujud dalam sebuah happy ending,  itulah yang menjadi jualan utama.

Adalah Alnilam Rahma Soeminta dan Shen Luthfi Ardiwinata yang telah bersahabat sejak kanak-kanak. Saat kisah dalam novel ini bergulir, mereka telah berusia dua puluh lima tahun. Meskipun sempat terpisah saat ayah Shen mengambil gelar doktor di Jepang, persahabatan mereka tidak pernah retak. Nilam dan Shen sering menghabiskan waktu bersama, meski Nilam akhirnya punya pacar, sementara Shen masih belum menetapkan pilihan. Peluang menghabiskan waktu bersama selalu ada lantaran Reza Dewantara, pacar Nilam, bekerja di Yogyakarta.

"Nilam, menurutku ada dua jenis cinta dalam memilih pasangan hidup," kata Shen. "Ada cinta yang tumbuh karena witing trisno jalaran soko kulino. Mungkin itu yang kamu rasakan dengan Reza. Lalu, ada juga cinta yang memang muncul tanpa ada alasan. Cinta itu hadir, ditujukan pada sesorang, karena hati memang memilihnya."

"Kamu sendiri pilih cinta yang mana, Shen?"

"Aku punya jenis cinta yang kedua."  (hlm. 103-104)

Secara tiba-tiba, Shen mengajak Nilam menghabiskan liburan selama satu minggu di Bali. Bukan sekadar karena Nilam belum pernah ke Bali, tapi, “Aku berharap, di sana kita juga bisa mengambil keputusan tepat mengenai perasaan masing-masing,” kata Shen (hlm. 13).

Seminggu sebelumnya, Reza, pacar Nilam selama tiga tahun, telah menyampaikan niatnya untuk melamar Nilam menjadi istrinya. Bukannya merasa gembira, Nilam justru bimbang. Sebab, konsekuensi dari menerima lamaran Reza sudah sangat jelas. Kalau mereka menikah, ia harus menjaga kehormatan suami dan dirinya sendiri, sehingga tidak bisa berakrab-akrab dengan Shen lagi, sekalipun ia seorang sahabat. Itulah sebabnya, Nilam tidak langsung memberi respons terhadap niat Reza. Bagaimanapun, sebelum bersedia menerima lamaran Reza, ia perlu memastikan perasaannya. Maka, ia pun setuju dengan ajakan Shen pergi ke Bali.

Di Bali, mereka mengunjungi berbagai tempat dan menyerap keindahan yang tidak mereka temukan di Jakarta. Diam-diam, mereka menikmati kebersamaan yang terjalin, yang kian melesap dalam hati, hingga mereka tiba di Pantai Padang-Padang. Di sanalah, Nilam menemukan panorama yang ingin dipindahkannya ke atas kanvas. Di sanalah, Shen merasakan kebersamaan mereka akan segera berakhir. Maka, tanpa bisa dikendalikan lagi, sesuatu terjadi pada titik kulminasi kegalauan perasaan mereka. Keesokannya, pada hari ketujuh berada di Bali, sepasang sahabat sejak kecil itu tiba-tiba berubah menjadi orang asing, satu sama lain.

Seven
Days (Tujuh Hari Bersamamu) adalah gabungan antara kisah perjalanan dan romansa yang manis. Kisah utamanya memang generik dan tidak orisinil, tapi tetap enak diikuti. Menggunakan narator orang pertama, yaitu dari perspektif Nilam, Rhein Fathia meletakkan kisahnya dalam plot, yang meski lempeng, mengayun lancar dan membuat penasaran. Karena membaca apa yang terjadi pada Nilam dan Shen setiap hari hingga hari ketujuh, kita dibuat kemelit terkait apa yang akan terjadi di antara mereka dan kapan interaksi mereka akhirnya memunculkan sesuatu yang berbahaya.

Sejak Shen mengatakan alasan kepergian mereka ke Bali, kita sudah mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Ada harapan dalam hatinya, perjalanan ini akan membuat Nilam berubah pikiran, mungkin menolak lamaran Reza, dan kedekatan mereka pun bisa diselamatkan. Tapi apakah Nilam memahami perasaannya? Itulah yang kita nanti-nantikan seiring berkurangnya lembar-lembar halaman novel yang belum dibaca.

"Aku bakal kangen berat sama kamu,"  kata Shen (hlm. 224).

"Time flies, Shen. Mau nggak mau kita bakal menjalani hidup masing-masing. Bukan hanya kamu yang bakal kangen, tapi aku juga," ucap Nilam (hlm. 226).

Ketiga karakter utama dalam novel ini dihadirkan sebagai karakter baik-baik. Mereka berpendidikan dan berperilaku santun. Shen, walau disukai banyak wanita, termasuk rekan kerja di kantornya, tidak menjadi womanizer. Nilam adalah gadis yang tetap mampu merawat kesetiaan walaupun menjalani pacaran jarak jauh. Reza, meminjam istilah Nilam, merupakan laki-laki yang memiliki hati bagai telaga sabar tak berbatas. Kebaikan dan pengertian Reza-lah yang membuatnya tidak perlu merasa cemburu mengetahui pacarnya berlibur dengan sahabat laki-lakinya. Kehadiran mereka sebagai karakter baik-baik membuat kita mudah sekali bersimpati tatkala kehidupan mereka bertubrukan dengan konflik.

Ada bagian yang saya sangsikan dalam novel ini. Saat  Nilam pergi ke Pantai Kuta dalam keadaan marah pada Shen setelah berbelanja di Joger, ia berkenalan dengan Made, pemuda Bali yang gemar surfing. Tidak membutuhkan banyak waktu, ia segera akrab dengan Made dan mereka pun saling curhat. Aneh rasanya, karena pada pertemuan pertama itu, Nilam langsung blakblakan mengungkapkan konflik asmaranya kepada Made. 

Penggunaan kata jahil untuk menggambarkan gerak-gerik atau kelakuan suka menggoda dari dua karakter utamanya cukup banyak ditemukan dalam buku ini. Padahal sesuai KBBI kata yang tepat adalah jail karena jahil sendiri berarti bodoh. Agaknya, penggunaan kata jahil dalam buku ini sesuai dengan gaya selingkung penerbit.

Sepertinya, untuk menemukan cinta sejati, selalu dibutuhkan momen spesial. Nah, apakah momen spesial yang dimaksud dalam Seven Days? Bagaimana kalau Anda mencarinya sendiri dengan membaca novel ini?

"Sering kali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? Sosok yang selalu hadir menemani atau yang sejatinya dipilih oleh hati? Bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih. Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa," kata Nilam, menutup kisah tujuh harinya bersama Shen (hlm. 292). 






 Pantai Padang-Padang ini menjadi saksi kamu mengacaukan segalanya ...






09 April 2013

The Child Thief




Judul Buku: The Child Thief
Penulis: Brom (2009)
Penerjemah: Tanti Lesmana
Tebal: 936 hlm; 20 cm
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 





James Matthew Barrie (J.M. Barrie), penulis Skotlandia, memunculkan Peter Pan, karakter fantasi ciptaannya, pertama kali dalam sandiwara yang ditulisnya pada tahun 1904. Novelisasi kisah Peter Pan baru dilakukannya pada tahun 1911 dengan judul Peter and Wendy. Peter Pan adalah bocah laki-laki yang tidak menyukai orang dewasa dan tidak ingin menjadi dewasa. Dari namanya, berkembang istilah psikiatri Sindrom Peter Pan yang menggambarkan perilaku orang dewasa yang takut berkomitmen dan tidak mau bertindak sesuai usianya. Kisah Peter Pan telah berkali-kali diceritakan kembali, bahkan dengan revisi, dalam bentuk sandiwara, film, atau kisah sekuel maupun prekuel.

Dave Barry dan Ridley Pearson adalah dua nama yang dikenal sebagai penulis novel-novel prekuel tidak resmi dari Peter Pan. Mereka antara lain telah menerbitkan Peter and the Starcatchers (2004), Peter and the Shadow Thieves (2006), Peter and the Secret of Rundoon (2007), dan Peter and the Sword of Mercy (2009). Geraldine McCaughrean memenangkan kompetisi menulis sekuel Peter Pan pada 2004 dan telah menerbitkan sekuel resmi Peter and Wendy yang diberi judul Peter Pan in Scarlet (2006). Selain mereka masih ada nama lain seperti Peter David yang menceritakan kembali kisah Peter Pan dalam novel berjudul Tigerheart (2008).

Gerald Brom yang secara profesional dikenal dengan nama Brom, seorang pencipta role-playing games, novel, dan komik terpesona dengan kisah Peter Pan. Awalnya, Peter Pan yang ada dalam benaknya adalah Peter Pan seperti yang ditampilkan dalam film Disney. Seorang bocah nakal, usil, dan menggemaskan. Tapi setelah memeriksa versi asli yang ditulis J.M. Barrie, ia melihat sisi gelap karakter Peter Pan. Ternyata, Peter Pan dari versi asli adalah seorang yang amat haus darah, berbahaya, dan terkadang bersikap kejam. Penemuan inilah yang mendorongnya menulis The Child Thief (Si Pencuri Anak) untuk menampilkan Peter Pan dalam realita yang suram dan apa adanya.

The Child Thief tidak hanya sekadar menceritakan ulang kisah Peter Pan versi Barrie karena Brom melakukan revisi kisah aslinya. Ia menciptakan seting yang baru dan menambahkan karakter yang belum pernah ditampilkan sebelumnya oleh penulis pendahulunya. Dan terutama, ia berhasil membesut sebuah kisah baru yang rumit dan brilian. Meskipun berdurasi panjang, kepiawaian Brom  tidak akan sempat membuat kita bosan untuk menuntaskan kisah si Pencuri Anak ini.  Khusus untuk edisi Indonesia, penerjemahan yang gemilang membuat novel ini semakin menantang untuk dibaca dan ditamatkan.

Peter dalam The Child Thief  adalah anak laki-laki yang dilahirkan dari hubungan seorang perempuan manusia dengan roh penghuni hutan. Keganjilan pertumbuhannya membuat ia dibuang ke hutan dengan harapan   akan menjadi santapan binatang buas. Tapi ia tidak mati dan bisa hidup aman bersama  Goll, sampai si manusia-lumut  itu dibunuh oleh manusia. Setelah nyaris menjadi korban Ginny Greenteeth,  penyihir dengan kulit dan rambut berwarna hijau zamrud, Peter diselamatkan Lady Modron.

Saat Lady Modron berhasil memulihkan kondisi Peter, tanpa setahu Peter, ia telah menyerahkan jiwanya kepada Penguasa Danau dan Ratu seluruh wilayah Avalon. Sejak saat itu, apa pun akan dilakukannya demi Lady Modron, sekalipun Ulfger, putra Yang Bertanduk, berusaha memisahkan mereka. Kepada Peter, Lady Modron memberikan seuntai kalung emas berbandul bintang, kepunyaan almarhum anak laki-lakinya, Mabon.

Saat kisah dalam The Child Thief dimulai, Avalon sedang berada dalam kondisi sekarat. Penyebabnya adalah Para Pemakan Daging (Flesh Eaters), musuh besar penghuni Avalon, telah melakukan pembakaran hutan untuk menyingkirkan para penghuninya. Para Pemakan Daging sebenarnya adalah manusia-manusia yang tidak sengaja bermukim di pantai Avalon. Terdampar di Teluk Putri Duyung, mereka memutuskan menetap, bercocok tanam, beternak, dan mendirikan gereja. Pendeta mereka menancapkan sebuah salib besi di pantai dan menajiskan Avalon. Keberadaan para manusia mengguncang kedamaian Avalon. Mereka menangkap dan membantai makhluk-makhluk Avalon seperti elf, centaur, gnome, troll, dan faerie karena menganggap sebagai jelmaan setan yang mesti dibasmi. Maka, Lady Modron melepaskan kabut tebal guna melindungi Avalon dan para penghuninya. Tapi dengan munculnya kabut itu, para manusia itu tidak bisa meninggalkan Avalon. Sama dengan para penghuni Avalon, mereka terkena efek pulau sihir itu dan tidak mengalami pertambahan usia lagi.

Setelah Avallach meninggalkan Avalon, posisinya digantikan anak laki-lakinya, Yang Bertanduk. Dialah yang memimpin pertempuran melawan Para Pemakan Daging di Teluk Putri Duyung. Malangnya, dia tewas tertembak, dan nasib Avalon beralih ke dalam tangan saudarinya, Lady Modron yang hanya bisa melepaskan kabut untuk melindungi warganya. Ulfger, putra Yang bertanduk, yang seharusnya menggantikan ayahnya mengkonsolidasi dan memimpin semua klan di Avalon memerangi Para Pemakan Daging, menolak. Ia tidak mau menggunakan Helm Bertanduk dan maju ke medan tempur. Bahkan, kemudian ia menjadikan Lady Modron sebagai tawanan, yang seiring berjalannya waktu, melemah dan sekarat seperti kondisi Avalon.

Setelah melarikan diri dari kediaman Lady Modron karena menggigit salah satu telinga Ulfger sampai robek, Peter membentuk klannya sendiri, klan Iblis. Ia pun memiliki wilayah sendiri yang dinamakan Hutan Iblis, tempat ia membangun benteng perlindungan dan melatih anak-anak yang dibawanya dari dunia manusia.

Peter disebut Pencuri Anak karena ia kerap meninggalkan Avalon dan berpindah ke dunia manusia untuk mencari anak-anak yang akan memperkuat klannya. Targetnya bukanlah anak-anak yang hidup bahagia, melainkan anak-anak yang terbuang, teraniaya, atau ditinggalkan orangtuanya. Ia akan memberikan bantuan kepada mereka anak-anak bermasalah itu, kemudian menawarkan Avalon sebagai tempat tinggal terbaik. Tidak pernah ia memaksa mereka mengikutinya karena kabut tidak pernah mengizinkannya. Ia hanya harus mengarahkan anak-anak itu untuk percaya kepadanya, mengikutinya masuk ke dalam kabut, dan bersedia mengatakan: Aku pergi dengan sukarela (hlm. 81). Di Pohon Iblis (Deviltree) yang dikuasainya, anak-anak yang disebut Darah Baru (New Blood) itu akan dilatih bertarung oleh anak perempuan bernama Sekeu. Begitu bisa membuktikan keberanian dan kemampuan bertarung, mereka akan diresmikan menjadi anggota klan dan digelari Iblis.

Menyaksikan kondisi Avalon yang kian sekarat, Peter memutuskan menggerakkan klannya untuk berperang melawan Para Pemakan Daging. Usaha pertamanya berakibat fatal, Sekeu yang menjadi salah satu andalannya pun terluka. Satu-satu cara untuk menyembuhkan Sekeu adalah membawanya kepada Lady Modron untuk disembuhkan di kolam bundarnya. Selah berhasil melewati Ulfger yang berusaha mencegahnya menemui sang Lady, Peter menemukan kenyataan yang menyedihkan. Ternyata, Lady Modron sedang berada di ambang kematiannya.

Kisahnya masih jauh dari berakhir. Kemunculan Peter, anggota klannya, dan klan lain yang mendukung perjuangannya membangkitkan kembali semangat Lady Modron. Tapi perang melawan Para Pemakan Daging belum berakhir, dan Ulfger yang diharapkan akan memimpin perang bukannya sadar, malah sibuk dengan dendam kesumatnya sendiri.

Nasib Avalon berada di ujung tanduk. Peter menyadari bukan hal yang gampang mengalahkan Para Pemakan Daging. Bahkan, ia akhirnya tertangkap dan harus berhadapan dengan Simon Carver, kapten kapal yang putus asa, dan  dua pendeta yang bertekad melakukan pengusiran setan dengan cara-cara sadis.

Menggantikan Neverland dalam kisah aslinya, Brom menciptakan Avalon. Pulau itu tidak dimunculkannya begitu saja tapi dengan sejarahnya yang menarik. Brom menyatakan bahwa di dalam Avalon, terdapat sebuah tempat sakral yang disebut Firdaus di mana di pusatnya, tumbuh Pohon Avallach. Akar-akar pohon itu menyatukan seluruh wilayah Avalon. Setelah pengkhianatan Raja Arthur dan kesatria meja bundarnya, Avalon pelan-pelan menjauh dari peradaban manusia. Avalon melepaskan diri dari Kepulauan Britania, terapung-apung di sepanjang pantai-pantai beku Atlantik, hingga akhirnya menemukan perlabuhan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Amerika.

Di dalam Avalon Brom menciptakan sistim kekuasaan. Penguasa awal dari Avalon adalah Avallach. Ia mempuntai tiga orang anak yang diciptakannya dengan cara berbeda-beda. Lady Modron diciptakan dari sungai-sungai, danau-danau, dan mata air-mata air. Yang Bertanduk diciptakan dari darah dan dagingnya, sedangkan Ginny Greenteeth, dimunculkan langsung dari dalam bumi. Setelah Avallach meningggalkan Avalon, posisinya digantikan Yang Bertanduk yang kemudian digantikan Lady Modron. Avalon terbagi ke dalam beberapa klan yang ditandai dengan hutan yang dikuasai mereka.

Seting yang unik dilengkapi dengan karakter-karakter yang dirancang dengan piawai. Selain karakter-karakter yang telah disebutkan sebelumnya, Brom juga memunculkan banyak karakter pendukukung. Ada troll bernama Tanngnost, para elf dan pixie, serta para Iblis dan Darah Baru. Untuk para iblis karakter menonjol lainnya adalah Redbone yang bertubuh jangkung dan Abraham, anak kulit hitam dengan tangan kiri buntung, Sedangkan untuk Darah Baru ada Nick yang diselamatkan Peter dari pengedar Narkoba di Brooklyn, Cricket, anak perempuan berkepala pitak, Danny, anak laki-laki gemuk, pendek dan mudah merajuk, Leroy, yang tidak memiliki kemampuan bertarung dan cuma bisa memanfaatkan kelicikan untuk bertahan. Selain itu, Brom juga memasukkan makhluk-makhluk seperti bhargest, hissi, dan sluagh yang turut menciptakan ketegangan dalam kisah si Pencuri Anak ini. 

Memanfaatkan seting dan karakter-karakter yang menarik, Brom mengalirkan kisah tentang penyelamatan Avalon ini dalam plot berpilin dan sarat konflik. Kita akan menikmati taburan intrik, pembalasan dendam, kepahlawanan, kegilaan, pengorbanan, dan cinta tanpa pamrih. Lalu, setelah mengulir dan mengular dalam durasi yang panjang, mencapai klimaksnya di sebuah tempat yang tidak terduga melalui serangkaian adegan yang mencengangkan, bermuatan humor, dan tentu saja, penuh kejutan.

Bagian pamungkas tidak lepas dari keharuan. Brom membuat Peter mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Setelah terlibat pertempuran yang menelan banyak korban, Peter tidak sama lagi. Apakah ia akan terus memperjuangkan  eksistensi Avalon yang telah sekarat? Ataukah ia harus mengambil jalan berlawanan? Saya sangat suka dengan pilihan yang ditetapkan Brom untuk Peter sebelum menutup novelnya yang luar biasa ini.

The Child Thief  adalah novel fantasi tapi tidak ditujukan untuk pembaca anak-anak. Di dalamnya, kita tidak hanya akan menemukan kata-kata kasar yang tetap terasa kasar setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia melainkan juga adegan yang hanya pantas dikonsumsi oleh orang dewasa. Adegannya tidak sangat vulgar,  tapi tetap saja, tidak  cocok dibaca untuk anak-anak. 




                                           



  


                                 








Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan