Showing posts with label Sanie B. Kuncoro. Show all posts
Showing posts with label Sanie B. Kuncoro. Show all posts
09 December 2012

Silang Hati


Judul Buku: Silang Hati
Penulis: Sanie B. Kuncoro & Widyawati Oktavia
Tebal: viii + 324 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: GagasMedia 



Seorang lelaki kerap diombang-ambingkan dilema. Cinta masa lalu ataukah cinta masa kini? Keraguan datang, terkadang sulit menentukan pilihan, padahal cinta menuntut ketegasan. Kedua lelaki muda dalam Gagas Duet bertajuk Silang Hati sama-sama diperhadapkan dengan dilema untuk menetapkan gadis yang akan menjadi cinta masa kini mereka.

Lelaki pertama bernama Rajesh, karakter utama dalam novela bertajuk Senandung Hujan karya Sanie B. Kuncoro. Rajesh patah hati karena Magnolia atau Magni, kekasihnya, berpaling kepada pria lain. Rajesh belum sempat memikirkan pengganti Magni, ketika di sebuah hari berhujan, ia bertemu Lotus. Gadis tertutup itu tidak berhenti mengusik pikiran Rajesh, sampai mereka dipertemukan kembali dalam kegiatan pendidikan dasar pengenalan alam. Rajesh mulai berpikir mendapatkan pengganti Magni. Tapi tidak mudah baginya melakukan pendekatan, lantaran Magni secara tiba-tiba datang dan sempat membuat hatinya terbelah. Magnikah, cinta masa lalunya, atau Lotus, yang akan menjadi cinta masa kininya? Sementara jauh di dalam hati Lotus, ia masih menyimpan luka yang belum kunjung sembuh.

Lelaki kedua bernama Aria Smarapradhipa. Setelah disebut-sebut dalam Senandung Hujan, ia muncul dalam Persimpangan karya Widyawati Oktavia. Aria, sahabat Rajesh, adalah pemuda yang dicintai gadis bernama Rubina. Demi mendekatkan dirinya dengan Aria, Rubina memutuskan ikut pendakian Ciremai bersama pemuda itu. Kedekatan yang tercipta antara mereka selama perjalanan pendakian membuat Rubina semakin berharap pada Aria. Tapi, sebelum mencapai puncak Ciremai, Rubina mengetahui kalau Aria tidak sendirian lagi. Rubina patah hati. Harapannya untuk menjadi kekasih Aria kandas. Apakah ia harus mematikan cintanya? Sementara jauh di dalam hati Aria, ia merasakan keterbelahan. Siapakah gadis yang seharusnya memenangkan hatinya? Rubinakah atau Hana? Sebagaimana Rajesh, Aria pun dituntut mengambil keputusan untuk meraih cinta.

Sejujurnya, kedua novela yang tergabung dalam Silang Hati ini hanya merupakan repetisi dari banyak kisah generik yang pernah ditulis berbagai penulis. Tapi apa mau dikata? Ruang gerak bagi kisah-kisah romantis memang terbatas. Untunglah kedua penulis ini mampu menyajikan kisah yang cukup sedap dinikmati. Cara pengungkapan yang indah, penuh perasaan, dan menghanyutkan tak urung akan memunculkan keharuan dalam hati. Betapa terkadang cinta menjadi demikian rumit karena ulah para pecinta itu sendiri. Sekalipun pecintanya seperti Rubina yang menganggap: "... cinta bukanlah sesuatu yang rumit, hanya sesuatu yang membuatmu tenang -membuatmu nyaman. Dan, yang terpenting, membuatmu tak hilang harapan." (hlm. 200).

Dibandingkan dengan Senandung Hujan, Persimpangan sedikit lebih rumit dan berbelit. Membaca novela ini serasa menonton sinetron yang kisahnya semestinya sudah ditamatkan tapi masih dilanjutkan beberapa menit karena jam tayang masih cukup. Terkesan bertele-tele dengan sengaja menampilkan kekerasan hati Rubina. Tapi syukurlah, masih mempertahankan sentuhannya yang manis.

Untuk kisah-kisah semacam Senandung Hujan dan Persimpangan, kita tidak perlu tergesa-gesa mencapai ending. Semenjak mulai membaca setiap kisah ini, kita dengan mudah sudah bisa meraba kemana kisah akan dibawa dan berakhir. Oleh karena itu, bacalah dengan perlahan dan tenang sambil meresapi supaya kita bisa merasakan keindahan kedua kisah ini. Ketika kedinginan hutan yang basah berpindah ke dalam kehangatan dapur yang dijejali aroma cokelat dan kayu manis, kita akan bisa merasakan manisnya cinta.


12 February 2012

Garis Perempuan

 

Judul Buku: Garis Perempuan
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Tebal: x+378 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Januari 2010
Penerbit: Bentang




Empat Perawan Menguak Takdir




Setiap perempuan adalah perawan. Sudah jalannya seorang perempuan menjadi perawan. Kecuali meninggal sebelum mendapatkan haid, seorang perempuan akan atau pernah menjadi perawan. Itulah yang tergambar sebagai titik tolak utama novel perdana pengarang perempuan berpseudonim Sanie B. Kuncoro ini.

Lebih lanjut Sanie mengungkapkan, bahwa keperawanan adalah milik berharga seorang perempuan. Kepada siapa yang punya keperawanan akan mempersembahkan selaput daranya, merupakan hak prerogatifnya. Tidak ada yang bisa menentukan, termasuk orang yang melahirkannya. Kecuali, tentu saja, nasib. Itulah yang menjadi modal utama novel bertajuk Garis Perempuan ini.

Adalah empat orang perawan, iniren dan congkouren, yang menjalin persahabatan sejak belia. Ranting, putri seorang janda penjual karak (kerupuk beras); Gendhing, anak dari pasutri buruh cuci dan tukang becak; Tawangsri, anak gadis seorang pedagang batik yang bersuamikan seorang lelaki yang tidak bisa diandalkan; Zhang Mey, gadis Tionghoa yang memiliki ayah seorang pengusaha dan ibu juragan becak.

Meski sehati, mereka memiliki nasib yang berbeda. Ranting, terlahir dalam kemiskinan dan tanpa ayah berhenti sekolah sebelum lulus SMA dan menggantikan ibunya yang sakit sebagai penjual karak. Ketidakmampuan mereka membayar biaya operasi penyakit yang kian parah memperhadapkan Ranting pada pilihan sulit: membiarkan ibunya meninggal atau menyerahkan keperawanannya kepada lelaki setengah baya yang menawarkan pelunasan biaya rumah sakit dan rumah yang lebih layak selaku istri ketiga. Ia pun menyerahkan dirinya pada apa yang ia percaya sebagai takdir. "Mungkin inilah cara Tuhan berbelas kasihan kepadaku. Tidak ingin dilihat-Nya aku sengsara menjajakan karak selamanya dan ingin diberikan-Nya kehidupan yang lebih baik dengan menjadi istri juragan. Bahwa kehidupan yang lebih baik secara financial itu kuperoleh dengan menjadi istri ketiga, barangkali memang begitulah takdirku," katanya (hlm. 86, dengan sedikit koreksi). Namun, setelah keperawanan ia persembahkan di ranjang perkawinan kepada lelaki separuh baya yang tidak ia cintai, ia berubah pandangan, "Aku tidak mau menjadi istri Basudewo selamanya. Terlalu murah hargaku kalau harus kuberikan seluruh hidupku kepadanya." (hlm. 96).

Nasib Gendhing sedikit lebih lumayan dari Ranting. Namun, meskipun masih berorangtua lengkap dan lulus SMA, ia tidak bisa menjangkau impiannya dari lembar halaman iklan Koran. Beruntung, ia bisa bekerja di salon milik majikan ibunya sambil menunggu pekerjaan lain yang sesuai dengan harapannya. Sebagai perempuan yang disebut-sebut memancarkan naraiswara (cahaya rahasia yang dipancarkan Ken Dedes), Gendhing berusaha mengelak dari godaan para lelaki pesolek yang mengunjungi salon. Sayangnya, nasib menyingkapkan takdirnya: ia bukan ratu atau dewi, tetapi prajurit yang memiliki kekuatan melaksanakan tugas yang dibebankan padanya dan mempertaruhkan dirinya atas nama kesetiaan. Ketika ibunya bertindak ceroboh dan terlilit utang, Gendhing memutuskan, "Aku tidak akan menjadikan diriku sebagai perempuan lain bagi seorang laki-laki, dengan atau tidak berdasarkan perkawinan yang sah. Yang kulakukan ini adalah transaksi. Cukup satu kali kulakukan, dia ambil perawanku, kuterima uangnya, lalu selesai."  Gendhing pun pasang harga pada seorang lelaki separuh baya kesepian setelah meyakinkan dirinya bahwa komodifikasi tubuh yang akan ia lakukan adalah, "…. Politik keperawanan, mengeksplorasi darah perawan demi sebuah timbal balik yang berdaya guna untuk kehidupan yang lebih baik, secara ekonomi." (hlm. 198).

Baik Ranting maupun Gendhing mengorbankan hak prerogatifnya demi untuk menyelamatkan keluarga dari masalah yang lebih besar lagi.

Tidak demikian nasib kedua sahabat mereka yang lain, Tawangsri dan Zhang Mey. Kedua perawan ini bisa lulus SMA dan memasuki perguruan tinggi karena ditopang kemampuan finansial yang memadai. Bagi mereka, walau tidak sepenuhnya, ada keleluasaan untuk mempersembahkan keperawanan kepada lelaki yang mereka inginkan.

Ketika bertemu dengan seorang lelaki yang mampu memuaskan kerinduannya akan kasih sayang ayahnya,  dan setelah melewati pembicaraan mengenai keperawanan dengan lelaki tersebut, Tawangsri memutuskan, "Akan kupergunakan hak pilihku untuk menentukan siapa laki-laki pertamaku. Sama seperti seorang laki-laki memilih perempuan pertamanya. Tidak ada keharusan bagiku untuk tetap menjadi perawan demi sebuah pernikahan. Menjadi tetap perawan atau tidak adalah suatu pilihan dan aku hanya akan melakukannya dengan seseorang yang kuinginkan, dengan atau tanpa pernikahan." (hlm.274). Namun, ketika gayung bersambut, apakah lelaki itu akan memperoleh keperawanan Tawangsri yang menurutnya bagai mitos?

Sampai mengenal lelaki idamannya, Zhang Mey dibayang-bayangi tradisi saputangan yang harus ia lewati sebagai perawan Tionghoa. Ketika ia menikah dengan laki-laki yang dikenan keluarga, ibu mertuanya akan menyiapkan saputangan putih untuk menampung darah perawannya. Sungguh bukanlah yang Zhang Mey harapkan, karena ia memiliki pilihan lain, seorang lelaki berlainan etnis yang mencintainya.  Seorang laki-laki yang tidak masuk perhitungan orangtuanya untuk menjadi penerima keperawanan anak perempuan mereka. Pada puncak ketakberdayaannya, Zhang Mey berujar, "… aku akan melaksanakan kewajibanku, menjalani tradisi atas nama kehormatan keluarga, menjadi pengantin yang perawan bagi seorang laki-laki yang terpilih sebagai suamiku pada masa nanti." (hlm. 351)

Topik keperawanan sudah pasti bukanlah hal yang baru dalam dunia fiksi Indonesia. Namun, Garis Perempuan memiliki berbagai kelebihan sebagai sebuah fiksi tentang keperawanan. Berbicara mengenai keperawanan (dan mempersembahkan keperawanan), mau tidak mau, akan mengarah pada perbincangan aktivitas seksual. Sebagai perempuan, boleh dikatakan, Sanie B. Kuncoro adalah pencerita yang terkendali. Kendati terbuka peluang baginya untuk mengeksplorasi seksualitas secara lebih gamblang, Sanie tidak mengambil pilihan ini.  Hal ini mengindikasikan bahwa meski mengangkat tema seks,  semua pengarang pasti memiliki filter. Dalam hal ini, tidak ada istilah munafik  ataupun dilakukan demi sesuatu yang disebut 'seni'.  Bagi pembaca dewasa –dan novel ini memang untuk pembaca dewasa, yang tidak eksplisit pun sudah bisa dipahami.

Berbekal sekian tahun menulis fiksi, memproduksi rangkaian kalimat cantik tidak menjadi kesulitan bagi Sanie. Penulisannya yang cenderung puitis sekalipun menjabarkan tragedi memberikan daya tarik yang emosional. Sanie memiliki kekayaan diksi dan kekuatan metafora yang tidak selalu bisa didapatkan dari pengarang perempuan lain dalam ranah olah kata fiksi Indonesia.  Meskipun harus diakui bahwa kerap kekayaan diksi yang ditampilkan Sanie dalam berbagai dialog kurang realistis. Karakter yang berbicara terasa janggal untuk bermain kata-kata canggih. Akibatnya, sangat terasa jika para karakter ini terlepas dari perwatakan dan latar yang sesungguhnya telah dirancang dengan unggul. 

Garis Perempuan sudah jelas bukanlah novel dengan satu konflik yang kompak. Novel beralur lurus ini adalah bagai empat novelet yang dikolaborasi menjadi  satu. Kisah hidup keempat perawan yang berusaha menguak takdir masing-masing ini dibentangkan satu demi satu dalam bagian-bagian yang judulnya menggunakan nama-nama mereka. Tidak ada yang mengikat konflik mereka menjadi satu; kecuali bahwa mereka sama-sama perempuan yang menjalani kehidupan perawan dan menjalin persahabatan yang erat. Namun, ini bukanlah kelemahan dan sama sekali tidak mengganggu kenikmatan membaca.

Latar budaya lokasi berlangsungnya novel ini harus dikukuhkan sebagai salah satu kekuatan yang tidak bisa diabaikan dari Sanie. Sanie jelas menguasai budaya Jawa dan Tionghoa yang menjadi akar keempat tokoh novelnya termasuk perbedaan yang hingga saat ini masih menjadi kesenjangan antar kedua budaya. Pembaca yang bukan Jawa dan bukan Tionghoa tidak akan kebingungan walau terdapat percakapan dalam kedua bahasa itu. Sanie memberikan artinya secara langsung dan menyediakan glosarium untuk 'kata-kata sulit' ini.

Akhirnya, sehubungan dengan problem mengenai keperawanan, yang memperhadapkan perempuan pada makhluk bernama laki-laki, secara arif Sanie menyampaikan bahwa memang ada laki-laki yang memandang bahwa keperawanan adalah sesuatu yang secara mutlak berhak didapatkannya, tetapi ada juga laki-laki, seperti Tenggar (hlm. 351) yang bisa berkata kepada perempuan yang ia cintai, "Ketika kau bersama seorang nanti, akan kuanggap kau hanyalah tersesat. Entah berapa lama ketersesatanmu, kenanganmu terhadapku akan membawamu kembali padaku".

Mimpi Bayang Jingga


 

Judul: Mimpi Bayang Jingga
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penyunting: Imam Risdiyanto
Tebal: vi + 214 hlm; 13 x 20,5 cm
Cetakan: 1, April 2009
Penerbit: Penerbit Bentang (Pustaka Populer)



"Kisah yang pernah menjadi juara ke-2 lomba cerber tabloid Nyata ini akan memberikan sentuhan lembut nan memukau kepada Anda". 

 
Kalimat ini tercantum pada bagian luar sampul belakang buku Mimpi Bayang Jingga karya Sanie B. Kuncoro. Sebelum menilik isinya, kalimat ini akan menggiring pembaca untuk percaya bahwa Mimpi Bayang Jingga adalah sebuah novel. Apalagi kata "Novel" memang disematkan pada buku ini. Padahal, sesungguhnya, Mimpi Bayang Jingga adalah kumpulan tiga novela: The Desert Dreams, Mimpi Bayang, dan Jingga. Entah kenapa penerbit seolah-olah hendak memosisikan buku ini sebagai novel. Apakah karena novel adalah jenis buku yang lebih banyak dibeli dibanding karya fiksi jenis lain?

Ketiga kisah dalam Mimpi Bayang Jingga berkisar pada hubungan cinta antara perempuan dan laki-laki. Sehingga, ketiganya bisa ditinjau dari berbagai perspektif karakter yang dihadirkan pengarang. Namun, tentu saja, yang paling menarik adalah meninjaunya dari perspektif perempuan. Apalagi, ketiga kisah tersebut ditulis seorang perempuan.

The Desert Dreams
berkisah tentang May. Perempuan ini memiliki kemampuan 'melihat' sesuatu atau seseorang yang tidak terlihat oleh orang lain. Tetapi ia tidak bisa 'melihat' bila perasaannya terlibat di dalamnya. Karenanya, ketika Baron -suaminya, jatuh cinta pada perempuan lain, May tidak segera menyadarinya. May baru mengetahui hati suaminya telah beralih manakala perempuan yang dicintai suaminya datang ke tempatnya untuk 'dilihat'.

"Mimpiku adalah sebuah rumah di tepi pantai berkarang. Pantai itu berombak jernih hingga pasir putihnya terlihat jelas di dasar air. Ada banyak jajaran pohon kelapa dan palem, dengan dedaunan hijau yang teduh. Akan kubuat perpustakaan dengan kafe di teras. Buku yang ada hanya tentang perjalanan, Kisah Para Petualang." Demikianlah impian Jingga, perempuan yang namanya dijadikan judul novela yang menjadi Juara ke-2 lomba cerber tabloid Nyata. Impian ini diuraikannya di hadapan seorang lelaki bernama Bentang, lelaki yang tidak membutuhkan impian untuk hidup karena memiliki segalanya. Setelah menjalin hubungan dengan Bentang, Jingga sadar, ia punya impian lebih dari sekadar sebuah rumah di tepi pantai berkarang. Ia mengimpikan sebuah pernikahan yang akan ditawarkan lelaki yang dicintainya. Sayang, lelaki tanpa impian itu hanya ingin menikmati cinta, tetapi tidak pernikahan.

Frangipani dalam Mimpi Bayang tiba-tiba menemukan dirinya berada di persimpangan di sebuah kota bernama Pringsewu. Ia tidak tahu mengapa bisa berada di sana, tetapi bak diatur, ia menemukan lelaki, yang bersamanya, Frangi bisa melihat dan mengoreksi diri sendiri. Sementara Frangi bertualang, seorang pemuda bernama Jati berada di sebuah kamar perawatan di sebuah rumah sakit menunggui kekasihnya yang terbaring koma.

Ketiga novela itu memiliki kesamaan: perpisahan. Tetapi kesamaannya hanya sampai di situ. Perpisahan yang terjadi di antara para karakter bersumber dari sebab yang tidak sama. May memutuskan berpisah dari Baron karena kehadiran orang ketiga; Jingga berpisah dengan Bentang karena tidak ingin dianggap menjerat kekasihnya untuk menikahinya; Frangi berpisah dengan Jati karena tidak mendapatkan titik singgung dalam hubungannya mereka. Dua dari tiga perpisahan tersebut tidaklah gampang, namun pamungkasnya yang menggantung membuka kemungkinan, meskipun tipis.

Ketiga novela tersebut ditulis dengan lembut, berefek melenakan dengan kata-kata yang dirangkai manis namun terkadang getir. Plot yang dirancang menemukan akhir dengan cara tidak melegakan, tetapi menciptakan gedoran yang bermakna. Pada dua novela pertama ketika pengarang menyodorkan kepasrahan perempuan menghadapi keadaan, pembaca akan tergelitik untuk bertanya-tanya 'apa yang terjadi' setelah ending berlalu. Apakah May dan Baron atau Jingga dan Bentang akan menemukan kebahagiaan setelah semua masalah terlewatkan?

Namun harus diakui, dari ketiga novela tersebut, Jingga-lah yang punya kemampuan menggedor perasaan yang paling maksimal. Meskipun plotnya lurus dan bergegas –mungkin untuk menyesuaikan dengan ketentuan lomba yang diikuti, muatan kisah cintanya yang rawan tetap tidak kehilangan pesona hingga akhir. Mungkin itulah sebabnya, novela ini mewakili yang lain untuk tampil pada sampul belakang novel.

Dari segi penceritaan, The Desert Dreams tampil beda. Jika Jingga dan Mimpi Bayang dituturkan dari perspektif orang ketiga, The Desert Dreams hampir semuanya dari perspektif orang pertama yaitu dari perspektif tiga karakter utamanya: May, Baron, dan Orien. Pada penghujung setiap narasi, ketiga karakter ini akan tiba di "The Desert Dreams'. Meski rasa yang tercecap dari ketiga narasi nyaris sama, pengarang bisa menyiasati perjalanan kalimat menuju akhir dengan baik tanpa kesan mengada-ada (hlm. 58, 60, dan 65- 66). Hanya, perpindahan perspektif, dari 'aku-dia' menjadi 'aku-kamu' pada halaman 47-48, terasa mengganggu.

Akhirnya, setuju dengan testimoni pada sampul depan buku ini, karya Sanie B. Kuncoro akan selalu dirindukan oleh pembaca yang sudah pernah membaca karyanya: Kekasih Gelap atau Ma Yan.

Ma Yan

 

Judul Buku: Ma Yan
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Editor: Rahmat Widada
Tebal: viii + 214 hlm
Cetakan: 1, Januari 2009
Penerbit: Bentang (Lini Laskar Pelangi)




"Kau mungkin tak bisa kembali bersekolah."
"Tega sekali Ibu kepadaku. Bagaimana mungkin aku tidak boleh bersekolah? Zaman sekarang tidak mungkin orang bisa hidup tanpa pendidikan. Bahkan petani memerlukan pengetahuan tentang cara bercocok tanam yang tepat untuk mendapatkan hasil panen terbaiknya."





Kutipan di atas merupakan potongan percakapan Ma Yan, seorang gadis kecil China dari Muslim Hui, dengan ibunya, Bai Juhua, tatkala karena alasan keuangan, ibunya menyorongkan ide untuk meninggalkan sekolah. Orangtua Ma Yan tidak memiliki dana untuk terus membiayai sekolah Ma Yan dengan seorang adik laki-lakinya di sekolah dasar Yuwang. Maka, Ma Yan diminta menerima kenyataan itu dan merelakan hanya adiknya yang bersekolah. Namun, di hadapan ibunya, Ma Yan tetap menunjukkan tekad untuk tetap bersekolah. Bahkan, untuk memperkuat tekadnya, Ma Yan menulis sepucuk surat yang dialamatkan kepada ibunya, kendati ia tahu, ibunya buta huruf. 

Kisah Ma Yan tertuang dalam buku bertajuk The Diary of Ma Yan : The Struggles and Hopes of a Chinese Schoolgirl. Seperti judulnya, buku yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Prancis ini, merupakan catatan harian Ma Yan. Buku ini diedit dan dipublikasikan oleh Pierre Haski, seorang jurnalis asal Prancis kelahiran Tunis. 

Pierre Haski mendapatkan diari Ma Yan langsung dari Bai Juhua pada Mei 2001. Saat itu, ia tengah berada di Zhangjiashu –desa yang terletak ribuan kilometer di sebelah barat laut Beijing. Bak melempar botol bersi pesan ke laut lepas, ibu Ma Yan menyerahkan tiga buku catatan harian warna cokelat dan sepucuk surat yang ditulis Ma Yan. Ada harapan yang disemai Bai Juhua. Anaknya yang bersikukuh tetap bersekolah di tengah kemiskinan akan mendapatkan pertolongan. Memang, setelah menggugat dan memohon kepada ibunya, Ma Yan tetap diizinkan bersekolah. Walaupun, untuk kekerasan hati Ma Yan ini, Bai Juhua harus meminjam uang sebesar 70 yuan dan bekerja keras sebagai pemanen fa cai di lokasi berjarak 400 km dari desanya. 

Dalam catatan harian Ma Yan yang diterjemahkan He Yanping, asistennya, ke dalam bahasa Prancis, Haski menemukan hasrat yang kuat dari gadis remaja ini untuk menikmati pendidikan. Terdapat keyakinan di dalam diri Ma Yan, pendidikan akan membantu mengangkat keluarganya dari jurang kemiskinan. Sedangkan dalam surat untuk ibunya yang ditulis dengan penuh amarah di bagian belakang kantung benih buncis, Haski mendapatkan suara hati Ma Yan yang tidak terima ketika pintu baginya untuk kembali bersekolah hendak ditutup, lantaran kekeringan yang melanda desanya selama 5 tahun berturut-turut membuat orangtuanya gagal menggenggam banyak yuan. Pendidikan warga miskin memang tidak menjadi perhatian pemerintah China. Apalagi, untuk seluruh China peningkatan anggaran pendidikan kalah cepat dibandingkan anggaran pertahanan yang mencapai enam kali lebih besar. Bahkan, tewasnya 38 anak sekolah dan 4 guru di desa Fanglin (Provinsi Jiangxi di barat daya China) pada Maret 2001 dimanipulasi pemerintah sebagai perbuatan orang gila yang ingin bunuh diri. Padahal, anak-anak itu sedang membuat kembang api untuk membayar gaji guru-guru yang tertunggak secara tetap. 

Artikel mengenai Ma Yan yang ditulis Haski dimuat di harian Libération pada 11 Januari 2001. Kisah gadis Muslim Hui ini mendapatkan perhatian banyak orang dan memunculkan ide untuk menerbitkan diarinya sebagai buku. Maka, lahirlah The Diary of Ma Yan, yang dijadikan sumber utama penulisan buku Ma Yan (Perjuangan dan Mimpi Gadis Kecil Miskin di China untuk Meraih Pendidikan) yang diterbitkan Penerbit Bentang Pustaka melalui lini Laskar Pelangi. The Diary of Ma Yan merupakan rekaman kegiatan dan pengalaman Ma Yan dalam dua periode. Periode pertama, 2 September hingga 28 Desember 2000, sedangkan periode kedua, 3 Juli hingga 13 Desember 2001. Bagian yang hilang di antara dua periode ini disebabkan karena kertas-kertas berisi catatan Ma Yan dipakai ayahnya melinting rokok. 

Masalah pendidikan yang terjadi di Ningxia (termasuk Zhangjiashu) memang disebabkan karena negara telah lama menanggalkan segala tanggung jawab di daerah Muslim itu. Sisten pendidikan China hanya dijalankan demi kepentingan ideologi negara dan bertujuan membentuk warga komunis yang taat di beberapa tempat. Agar bisa bersekolah, orangtua dituntut bekerja keras untuk memperoleh 200 yuan dan 25 kilogram beras, yang harus disetorkan ke sekolah anak-anak mereka. Selain itu, anak-anak membutuhkan uang saku yang bisa dipakai membeli sayur guna membubuhkan sedikit rasa enak pada semangkuk nasi yang menjadi menu makanan siang di asrama sekolah. 

Padahal alam di sana tidak cukup ramah. Hujan enggan turun bertahun-tahun sehingga mengakibatkan kekeringan yang memangkas sebagian besar hasil ladang.  Bahkan saking kerontangnya lahan orang-orang di Zhangjiashu menyeduh teh menggunakan air dari salju yang mencair dan tayamum dengan pasir. Hasil ladang yang minim mendorong warga Muslim Hui mencari pekerjaan lain. Para ibu meninggalkan desa untuk memanen fa cai, dan suami mereka pergi ke tempat seperti Mongolia Dalam untuk bekerja di proyek konstruksi. 

Dari Zhiangjiashu yang menurut Haski "agak menyerupai ujung dunia" ini, Ma Yan dan adiknya bersekolah ke Yuwang, sekitar 20 kilometer dari rumah. Kemiskinan membuat mereka mesti berpikir untuk menumpang traktor. Jalan kaki selama 4-5 jam mengundang bahaya, tetapi mereka tidak selalu punya 1 yuan untuk ongkos traktor. Maka, kerap mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki; dalam panas terik atau dingin salju. Bukan hanya itu saja, kemiskinan membuat orangtua Ma Yan hanya sanggup membekali anak-anak mereka 1 yuan seminggu. Di asrama, mereka tidak makan pagi; makan siang hanya semangkuk nasi tanpa lauk; makan malam sekadar sepotong roti kukus yang dibuat Bai Juhua untuk konsumsi seminggu. Dengan uang saku 1 yuan, mereka bisa membubuhkan sayur ke dalam makan siang. Namun 'kenikmatan' ini tidak bisa selalu dicicip. Ketika Ma Yan menghendaki sebatang pulpen seharga 2 yuan,  selama 15 hari, setiap siang, ia hanya makan nasi yang kian lama kian terasa tidak enak di lidah. 

Manakala dihadapkan pada pilihan untuk meninggalkan sekolah, Ma Yan bagaikan terpuruk. Ia kecewa pada orangtuanya. Sebab, sekolah adalah harapan Ma Yan. Dengan bersekolah Ma Yan berpikir ia akan mendapatkan jalan keluar untuk mengentaskan kemiskinan keluarganya. Ma Yan tidak ingin nasibnya berakhir seperti ibunya; hanya setahun bersekolah lalu pada usia 16 tahun dinikahi seorang lelaki miskin. Ma Yan sudah berusaha untuk mengukir prestasi, walau tak bisa mengelak dari kegagalan yang membuat perkataan ibunya menyilet hatinya. "Apa gunanya segala kerja keras ayahmu? Jika kau terus mendapat nilai jelek seperti itu, kau tak layak mendapat roti yang kubuat untuk bekalmu setiap pekan. " (hlm. 106). 

Kemiskinan terasa berat membebani hidup keluarga Ma Yan. Rasa sakit mesti ditepis agar bisa meraup yuan yang tak seberapa untuk bertahan hidup. Setiap tahun mereka mengejar penghasilan dengan rata-rata sekitar 400 yuan. Nilai yang begitu memprihatinkan jika dibandingkan rata-rata penghasilan tahunan China yang mencapai 6000 yuan atau Shanghai yang berkisar 33.000 yuan. Empat ratus yuan berarti setara dengan biaya sekolah dua anak dasar selama 1 semester; belum lagi kebutuhan lain. Dengan bekerja keras, hanya televisi hitam putih yang bisa mereka beli untuk menyentuhkan sedikit kesenangan dalam hidup. Maka, hari demi hari, tulang harus dibanting, meski sampai terasa lantak. 

Sanie B. Kuncoro, salah satu penulis prolifik pada masa kejayaan majalah Anita Cemerlang dan yang telah memenangi lomba mengarang di sejumlah majalah terpilih untuk novelisasi kehidupan Ma Yan. Ke dalam 18 bab, Sanie menggelar kemiskinan Zhangjiashu, usaha keluarga Ma Yan untuk tetap eksis, dan perjuangan Ma Yan agar tetap bersekolah. Sudah bisa dipastikan, pembaca tidak bisa berharap menemukan kejutan dalam novel ini. Sebagai novel yang beranjak dari kisah nyata, ikhwal kehiduan Ma Yan mungkin sudah terang benderang bagi sebagian pembaca. Oleh sebab itu, diperlukan penulis yang peka, dengan kekayaan kelembutan yang mengundang simpati, untuk bisa menghidupkan kembali Ma Yan dalam bahasa kita dengan cara memikat. 

Tak ragu dikatakan, Sanie B. Kuncoro yang juga menulis buku Kekasih Gelap (2006), merupakan pilihan yang tepat. Ia berhasil menganyam kisah Ma Yan dengan penuh perasaan sehingga menghasilkan efek yang menyentuh hati. Bahkan ketika mendeskripsikan ulang kemiskinan, Mao Zedong, dan fa cai, Sanie berhasil menggugah dengan kecanggihannya merangkai kalimat. 

Untuk menggulirkan cerita, Sanie mengandalkan perspektif orang pertama, yaitu dengan menggunakan Ma Yan dan Bai Juhua sebagai narator. Sebagian kecil digurat dari perspektif orang ketiga, ketika Sanie menyampaikan kisah Pierre Haski. Deskripsi tentang 'Dataran yang Dahaga' dan fa cai seolah lepas dari kedua macam perspektif ini, seakan-akan Sanie sendiri yang tengah bertutur. Mungkin yang paling menarik adalah tatkala Bai Juhua, ibu Ma Yan, yang berkisah. Efek yang dihasilkan terbilang mengejutkan. Bai Juhua, yang notabene buta huruf –dan tidak pernah membaca, memiliki kecakapan bertutur dengan indah. Pemilihan perspektif ini memang keputusan Sanie sendiri dan harus diakui agak riskan. Tidak bisa dipungkiri, latar belakang pendidikan pasti berpengaruh pada cara bertutur seseorang. 

Latar belakang kehidupan Bai Juhua cukup menarik disimak. Dari kehidupan sederhana, menikahi Ma Dongji dari keluarga melarat, Bai Juhua menceburkan diri dalam kemiskinan. Jika disimak teliti, Sanie tampaknya sedikit lengah. Hal ini berhubungan dengan Bai Juhua yang hanya mengenyam pendidikan setahun dan dipulangkan dari sekolah sehingga tetap buta huruf. Sebelumnya, Sanie menulis bahwa ayah Bai Juhua adalah "seorang yang ahli mengolah tanah pertanian dan mencukupi kebutuhan makan keluarganya dengan kesederhanaan, seorang ayah yang membiarkan anak perempuannya tumbuh tanpa pendidikan memadai karena beranggapan bahwa kaum perempuan tidak memerlukannya".(hlm 26-27). Saya menyimpulkan jika keluarga Bai Juhua sesungguhnya tidak masuk kategori miskin sehingga susah untuk mendapatkan makanan. Tetapi selanjutnya, Bai Juhua mengatakan pada anaknya bahwa ia dibawa pulang dari sekolah karena "tidak ada uang untuk membeli beras, apalagi membayar uang sekolah" (hlm. 134). Nah, saya kira, bagian kecil yang tampak kurang penting ini memang luput dari perhatian editor. 

Yang pasti, novel Ma Yan adalah sebuah kisah nyata inspiratif yang layak dibaca. Ia mengingatkan pembaca bahwa masih ada manusia yang tidak gampang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal sekalipun mereka sangat mendambakannya. Karenanya, bagi yang memiliki kesempatan, seharusnya memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Mungkin, kerelaan Ma Yan berjalan kaki 5 jam mencapai sekolah, ketegaran Ma Yan menahan keinginan perutnya demi sebatang pena, uraian air mata Ma Yan untuk mempertahankan haknya sebagai anak yang perlu bersekolah, akan mengetuk hati pembaca yang masih sedang bersekolah dan kerap tergoda sehingga mengabaikan kesempatan yang ada. Namun, membaca kisah Ma Yan mungkin akan melahirkan pertanyaan bagi kita semua: apakah sistem pendidikan di negara kita telah bisa merespons dengan baik keinginan bersekolah semua anak Indonesia? Jangan-jangan malah ada banyak anak Indonesia yang nasibnya lebih malang dari Ma Yan. Yang tidak pernah terlintas untuk menulis diari karena tidak punya buku dan pena, dan tak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara di televisi nasional serta menghadiri acara Book Fair di Paris.

 
07 February 2012

Kekasih Gelap


Judul Buku : Kekasih Gelap
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penyunting : Imam Risdiyanto

Cetakan: 1, Desember 2006
Penerbit : C| Publishing




Cinta adalah ladang tema yang sering dibajak dan digarap oleh banyak penulis di seluruh dunia. Pengaruhnya terhadap kehidupan manusia memang dahsyat. Cinta bisa membuat dunia lebih berwarna karena cinta bukan saja menawarkan kebahagiaan, tapi juga menawarkan torehan luka di hati manusia. Sekalipun bisa menyebabkan luka, manusia tetap tidak kapok-kapok untuk bercinta, dengan berbagai cara, terang-terangan, atau gelap-gelapan. Karena itu lahirlah buku dengan judul menantang Kekasih Gelap.

Namun, jangan dulu buru-buru berpikir yang tidak-tidak. Jangan berharap akan menemukan eksplorasi seksual yang intens dalam buku ini seperti novel-novel Sandra Brown. Jangan juga menuduhnya sebagai chicklit yang cenderung memanfaatkan gaya tutur dan ide cerita yang senada seirama.

Kekasih Gelap karya Sanie B. Kuncoro adalah satu dari 2 novelet yang ada dalam buku ini. Novelet lain diberi judul Jalan Sunyi. Kekasih Gelap mungkin ditonjolkan sebagai judul karena memenangkan Juara II Lomba Cerber Femina tahun 2003. Meskipun demikian, 2 novelet ini sesungguhnya memiliki kekuatan yang sama.

Apa pun yang Sanie tawarkan dalam ceritanya, ada benang merah yang menyejajarkan 2 novelet ini pada wilayah yang sama. Bahwa cinta, bagaimanapun rumitnya, bisa tercipta secara mendadak. Dan juga bisa terbelah kepada lebih dari satu orang.Itu lah yang dialami tokoh-tokoh Sanie dalam karyanya ini.

Dalam Jalan Sunyi Sanie menghadirkan karakter perempuan bernama Puan. Di tengah-tengah persiapan acara pernikahannya, mendadak Puan dihadapkan dengan pertanyaan ciptaannya sendiri. "Apakah aku siap?" (hal. 13). Puan mengalami depresi. Menjadi waswas dan takut dengan apa yang akan terjadi setelah menikah. Ketakutan yang menurut Jingga, sahabatnya (hal. 17) hanya terjadi pada pasangan yang dijodohkan. Padahal sebelum memutuskan menikah Puan dan calon suaminya, Limar, telah menjalin hubungan bertahun-tahun.

Jingga menyarankan Puan untuk berlibur. Sebagai tujuan liburan ditetapkan desa nenek Jingga, Tanah Bumi, yang secara geografis, tidak jelas ada di belahan mana di Indonesia. Puan menginap di rumah nenek Jingga, Umi. Tidak dijelaskan rinci, tapi rupanya nenek Umi bukan sembarangan nenek. Walau berdomisili di desa yang stasiun kereta apinya kecil, kusam, dan sunyi serta listrik menyala hanya sampai pukul 9 malam, nenek Umi membaca novel seperti Va' dove ti porta il cuore (Pergilah Ke mana Hati Membawamu) karya Susana Tamaro. Cara bicara nenek Umi juga cerdas menggunakan kata-kata seperti "menolerir", "filosofi air" dan "pengaruh hormon". Rupanya nenek Umi bukan nenek-nenek desa stereotipikal novel-novel kebanyakan.

Di Tanah Bumi, Puan bertemu Darga, seorang arsitek muda yang sedang menangani proyek resort di desa antah-berantah nan sepi itu. Cinta menyelip secara mendadak dalam hati masing-masing. Puan menampik gelora cintanya karena dia sudah menjadi calon pengantin. Meskipun berprinsip cinta masih bisa diperebutkan selama janur belum melengkung dan rumah belum berhias bunga pengantin, Darga mencoba mengalah. Justru Puan yang tidak bisa melupakan Darga bahkan setelah terpisah jauh dengan laki-laki itu. Kegelisahan Puan membuat Limar mengetahui ada orang lain selain dia dalam benak Puan. Limar menyerahkan keputusan masa depan hubungan mereka kepada Puan.

Sanie mengolah Jalan Sunyi dengan nada-nada manis dan sendu. Dia menunjukkan bahwa ada kalanya perempuan nekat mempertaruhkan kehidupannya untuk sesuatu yang sesungguhnya nihil. Cikal bakal kebahagiaan dirusakkan untuk pesona mendadak yang semu. Sekalipun menyadari cinta yang dimiliki Limar, tunangannya, begitu besar, Puan tidak cukup memiliki sikap untuk menghargainya. Akibatnya kelak, dia tidak punya pengampunan yang cukup untuk memaafkan dirinya sendiri.

Justru cinta Limar yang membebaskan mengetuk kesadaran Darga. Darga memutuskan untuk mengkhianati dirinya sendiri karena sadar tidak sanggup memberikan cinta sebesar cinta yang diberikan Limar pada Puan.

Keputusan yang kemudian diambil Puan tidak hanya menyakitkan hati satu orang saja, tapi sekaligus hati 3 orang.

Sanie menutup kisah Jalan Sunyi yang melodramatis dengan indah melalui proses batin tiga karakter utamanya yang sangsi dan kehilangan keyakinan diri.

Dalam Kekasih Gelap Sanie menghadirkan perempuan bernama Senja yang mau menjadi kekasih gelap Ruben. Ruben mengajak Senja ikut kapal pesiar karena Aline, istrinya yang tengah hamil ngidam naik kapal pesiar. Maksud Ruben, walaupun dia menemani istrinya, dia juga tetap bisa menikmati saat-saat indah di atas kapal pesiar bersama selingkuhannya.

Keikutsertaan Senja yang bak kerbau dicocok hidung diatur sedemikian rupa dengan memanfaatkan Benteng, laki-laki yang berutang judi pada Ruben. Benteng berperan sebagai pasangan Senja. Walaupun sempat bersitegang, mereka akhirnya bisa memahami diri masing-masing. Ketika kapal singgah di Bandar Melaka, keduanya mengunjungi gereja tua St. Paul dan benteng A Famosa. Di sana mereka bertemu Khalila yang mengubah paradigma dan visi mereka dan menciptakan impian untuk diwujudkan.

Sebenarnya ketika Senja bertemu Benteng pertama kali, arah cerita sudah bisa ditebak. Yang tidak bisa ditebak adalah peristiwa yang bakal mempersatukan mereka.

Sekali lagi Sanie menganyam sebuah kisah yang manis-sendu. Tapi dibandingkan dengan Jalan Sunyi, Kekasih Gelap disampul dengan akhir yang memberikan harapan.

Baca keindahan bertutur Sanie manakala Senja menyadari apa yang telah ia lakukan selama ini adalah kesia-siaan belaka (hal. 136).

Senja mengatakan pada Ruben, "Yang kaupunya adalah cinta yang terbelah. Dan itu tidak cukup untukku." (hal. 146).

Ketika Ruben ngotot mempertahankan hubungan yang keliru, Senja menambahkan mantap, "….sesungguhnya aku hanyalah sekedar tamu di teras hatimu. Sebagai tamu, tentulah kau perlakukan aku dengan istimewa. Dan sebagai tamu kubawa sesuatu yang indah bagimu, sebagai variasi penyegar kehidupanmu. Tapi tamu tetaplah tamu. Waktuku hanya sesaat, hakku sangat terbatas. Begitu kuambil lebih dari yang sepatutnya, maka jadilah aku sebagai duri dalam daging dalam hidupmu." (hal. 147).

Secara keseluruhan, isi buku Kekasih Gelap dituturkan secara ringan tanpa menimbulkan kerinyut di wajah pembaca. Apalagi Sanie mengalirkan cerita tanpa bertele-tele, menderas pada lautan akhir yang menyentuh. Keduanya terasa indah dan bening. Dengan penuturan yang lebih intens, mengingat pengalaman menulis Sanie yang banyak, Sanie bisa hadir menjadi satu penulis yang meramaikan belantika sastra Indonesia. Sanie bisa mengembangkan wilayah ceritanya untuk tidak sekedar berkutat pada masalah cinta semata-mata.

Tapi untuk penggemar kisah cinta yang diracik manis dan indah, Kekasih Gelap bisa dijadikan alternatif bacaan.


Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan