10 November 2012

Kubah



Judul Buku: Kubah
Pengarang: Ahmad Tohari
Tebal: 216 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: ketiga, September 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 



Setelah dua belas tahun menjadi tahanan politik di Pulau Buru, Maluku Utara, Karman dibebaskan.. Ada perasaan terasing melandanya ketika pulang kampung. Bukan hanya karena kampungnya telah berubah seiring perjalanan waktu. Tapi karena ia sedang dalam keadaan kehilangan dan merasa tidak berarti apa-apa. Sewaktu dibuang ke Pulau Buru, satu-satunya yang membuat ia tetap hidup adalah harapan untuk kembali bersama dengan istri dan anak-anaknya. Sekarang istrinya, Marni, telah menceraikannya dan menikahi pria sekampung yang menceraikan istrinya pula, Parta. Salah satu dari tiga anaknya pun telah meninggal. 

Tapi pertanyaan terbesar, tentu saja, apakah masyarakat Kampung Pegaten bisa menerima dirinya yang telah meninggalkan agama dan menjadi komunis kemudian berakhir sebagai tahanan politik? Tahun 1977, ketika ia pulang, geger Oktober 1965 sudah kehilangan gaungnya di kampung. Orang-orang yang pernah tersangkut organisasi komunis telah berbaur kembali. Sehingga bisa dipastikan, Karman, yang juga telah bertobat lantaran perkenalannya dengan Kapten Somad di Pulau Buru, akan bisa diterima oleh masyarakat kampung.

Kubah, novel pertama Ahmad Tohari, berpijak pada peristiwa Gestapu tahun 1965. Di sini, Tohari tidak melontarkan sinisme terhadap peristiwa yang hingga saat ini masih dikungkungi kabut ketidakjelasan. Atau mempertanyakan kebenaran dan sekian banyak manusia yang menjadi korban dalam aksi pembasmian yang dilaksanakan pihak militer. Bisa jadi karena saat buku ini pertama kali diterbitkan (1980), Indonesia sedang berada dalam cengkeraman rezim Soeharto yang menjadikan para komunis sebagai pemikul dosa sejarah yang amat berat dan tak tertanggungkan. Tanpa tedeng aling-aling Tohari menandaskan bahwa pilihan hidup Karman menjadi komunis adalah pilihan yang keliru, dan oleh karena itu, ia mesti menanggung akibat dari pilihannya.  

Sebagian besar isi novel ini bukanlah tentang pemulihan Karman dari bekas tahanan politik kembali menjadi bagian masyarakat Pegaten. Kita tidak akan banyak mendapatkan pergumulan pribadi Karman untuk mendapatkan kembali tempatnya di tengah masyarakat, padahal hal ini berpotensi melahirkan kisah yang lebih menggugah perasaan. Semua seolah berlangsung dengan mudah, tidak ada kontra, seakan-akan peristiwa menggegerkan di tahun 1965 itu tidak pernah terjadi dan memberikan dampak apa-apa. Bahkan Tohari menyatakan bahwa: "Geger peristiwa Oktober 1965 sudah dilupakan orang." (hlm. 38). Padahal, saat itu tahun 1977, dan rezim yang berkuasa masih sedang gencar-gencarnya mempropagandakan dosa-dosa komunis. 

Masa lalu Karman, dari seorang Muslim yang beribadah di Masjid Haji Bakir hingga menjadi komunis yang kemudian terdampar sebagai tahanan politik, menjadi bagian paling utama dalam novel ini. Tohari bisa dikatakan berhasil menyampaikan transformasi yang dialami Karman, lengkap dengan motif di belakangnya. Meskipun harus diakui, bagian utama ini juga menyimpan bagian-bagian yang terkesan hanya dijejalkan untuk mempertebal novel. 

Tanpa sepengetahuannya, Haji Bakir telah menjadi katalisator transformasi Karman menjadi seorang komunis. Tidak hanya dianggap telah berlaku tidak adil lantaran menyilih sawah satu setengah hektar milik keluarga Karman dengan satu ton padi. Tapi juga karena dua kali menolak Karman saat meminang Rifah, putrinya. Selain mendamaikan Karman dengan masyarakat Pegaten, Tohari merasa perlu terlebih dahulu mendamaikan Karman dengan Haji Bakir. Hal ini ditunjukkannya melalui pernikahan Jabir, putri Rifah, dengan Tini, putri Karman. Pendamaian ini - dengan Haji Bakir dan masyarakat Pegaten- menyatu dalam usaha pemugaran masjid pada bagian akhir novel. Karman menyodorkan dirinya untuk membuat kubah baru bagi Masjid Haji Bakir. 

".. Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa. Se-sen pun ia tak mengharapkan upah. Bahkan dengan menyanggupi pekerjaan itu ia hanya ingin memberi jasa. Bagaimana juga sepulang dari pengasingan, ia merasa ada yang hilang pada dirinya. Ia ingin memperoleh kembali bagian yang hilang itu. Bila ia dapat memberi sebuah kubah yang bagus kepada orang-orang Pegaten, ia berharap memperoleh apa yang hilang itu. Atau setidaknya Karman bisa membuktikan bahwa dari seorang bekas tahanan politik seperti dia masih dapat diharapkan sesuatu!." (hlm.  209-210).

Sejujurnya, saya kurang bisa menikmati Novel Terbaik 1981 Yayasan Buku Utama Kementerian P & K ini. Bahkan sedikit merasa bosan dengan kejadian yang disisipkan dalam hidup Karman di seputar tahun 1965. Saya semakin merasa kurang puas tatkala rekonsiliasi antara Karman dan warga Pegaten berlangsung tanpa kesulitan, tanpa perlawanan sedikit pun.  Terasa tidak realistis.

Saya pikir, usaha Karman membuat kubah masjid Haji Bakir perlu mendapatkan porsi penceritaan yang lebih. Supaya makna mahkota masjid itu benar-benar terasa selama membaca novel yang sudah diterbitkan dalam bahasa Jepang ini.




Foto Ahmad Tohari diambil di sini


Wonder



Judul buku: Wonder
Pengarang: R.J. Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penyunting: Ida Wajdi
Tebal: vi + 430 hlm; 13 x 20 cm
Cetakan: 1, September 2012
Penerbit: Atria
 



Mungkin Anda berwajah indah: tampan dan cantik. Orang-orang melihat Anda dengan tatapan menyiratkan pujian dan pujaan. Anda tidak takut berada di tengah-tengah keramaian, karena Anda biasa menjadi pusat perhatian. Tapi bagaimana jika Anda terlahir tidak tampan atau cantik? Bagaimana jika wajah Anda menakutkan, cacat, atau tidak sedap dipandang? Anda akan merasa gamang berada di keramaian, menyembunyikan wajah dan tidak berani bertatapan dengan orang lain. Seperti August Pullman, Anda mungkin akan melontarkan pertanyaan pada ibu Anda: "Kenapa aku harus sejelek ini, Mommy?" (hlm. 85).   

August Pullman -dipanggil Auggie- menderita kelainan genetik yang disebut Mandibulofacial Dystosis atau Treacher Collins Syndrome. Anda bisa meng-google kelainan genetik ini untuk melihat seperti apa tampang penderitanya. Bisa dipastikan, Anda akan tercekat. Nah, meskipun sudah melalui sejumlah operasi, wajah Auggie tidak menjadi senormal wajah Justin Bieber. 

"Mata August sekitar satu inci lebih rendah dari yang seharusnya, nyaris mencapai pipinya. Matanya melengkung turun dengan sudut ekstrem, nyaris seperti celah diagonal yang disayat seseorang pada wajahnya, dan mata kiri yang jelas terlihat lebih rendah dari mata kanannya. Mata August menonjol keluar karena lubang matanya terlalu dangkal untuk menampungnya. Puncak kelopaknya selalu setengah tertutup, seakan-akan dia nyaris tertidur. Kelopak bawahnya sangat melorot hingga kelihatan seperti ada benang tak terlihat yang menariknya ke bawah, kau bisa melihat bagian merah di dalam matanya, nyaris seperti terbalik. August tidak punya alis atau bulu mata. Hidungnya terlalu besar untuk wajahnya, dan agak lembek. Kepala August tertekuk masuk ke bagian telinga seharusnya berada, seakan-akan ada yang menggunakan tang raksasa dan menghantam bagian tengah wajahnya. Wajahnya terlihat meleleh, seperti tetesan yang terdapat pada sebatang lilin. Beberapa operasi yang dilakukan untuk memperbaiki langit-langit mulutnya menyisakan beberapa bekas luka di sekitar mulutnya, yang paling mencolok adalah luka bergerigi yang memanjang dari pertengahan bibir atas hingga ke hidungnya. Gigi atasnya kecil dan melebar, benar-benar menutupi gigi bawahnya. Dagunya sangat kecil, dan lidahnya menggantung begitu saja dari dalam mulutnya, karena di bawahnya tidak ada apa pun yang menahannya."  (hlm. 124-125).

Dengan tampang seperti ini, tidak heran Auggie ketakutan manakala hendak dimasukkan ke kelas lima di sekolah umum. Sampai umur sepuluh tahun, ibunya yang mengajarnya. Namun karena keterbatasan sang ibu dan sudah saatnya Auggie menghadapi realita, diputuskan ia bersekolah di Breacher Prep.  

Tidak mudah bagi Auggie untuk berbaur, karena tidak semua murid di sekolah itu menerima kehadirannya. Namun, kendati hanya memiliki sedikit teman, Auggie bisa mengatasi tantangan yang dihadapinya. Bahkan, akhirnya, ia menyukai sekolah dan pertemanan, dan menurut ibunya: menjadi sebuah keajaiban. 

August Pullman adalah karakter sentral Wonder, novel debut R.J. Palacio -bernama asli Raquel Jaramillo- yang sebelumnya bekerja sebagai perancang sampul buku. Auggie lahir ketika Palacio melihat seorang gadis kecil penderita Mandibulofacial Dystosis di depan sebuah toko es krim. Gagasannya semakin menebal saat ia mendengar lagu berjudul Wonder yang dinyanyikan Natalie Merchant.

Doctors have come from distant cities
Just to see me
Stand over my bed
Disbelieving what they're seeing

They say I must be one of the wonders
Of god's own creation
And as far as they can see they can offer
No explanation
 

Melalui Auggie, Palacio mencoba mendorong para penderita seperti Auggie untuk menerima diri sendiri, meyakini diri sebagai keajaiban Tuhan sekalipun dipandang jijik oleh orang lain. Bahkan, Palacio berharap, para penderita bisa melihat diri mereka seperti dalam lagu Beautiful yang dinyanyikan Christina Aguilera:

I am beautiful
No matter what they say
Words can't bring me down
I am beautiful
In every single way
Yes words can't bring me down

Selain itu, Palacio juga menghimbau para pembaca yang lebih beruntung dari Auggie untuk bisa berempati, untuk bisa bersikap wajar tatkala berhadapan dengan orang-orang semacam Auggie. Menjadi seperti Jack Will, Summer, Justin, Miranda, dan guru-guru di Breacher Prep, terutama kepala sekolahnya, Mr. Lawrence Tushman, yang ucapannya selalu membesarkan hati.

Kisah dalam novel ini disampaikan menggunakan narator orang pertama. Selain Auggie, Palacio juga menggunakan beberapa narator lain. Olivia atau Via, kakak perempuan Auggie yang walaupun menyayangi Auggie tidak bisa menahan cemburu saat Auggie menjadi pusat perhatian keluarga. Miranda, sahabat Via yang juga sangat menyayangi Auggie, memiliki masalah yang tidak diungkapkannya, bahkan kepada sahabatnya. Jack Will, teman sekolah yang sempat dilanda kebimbangan apakah akan menjadi sahabat Auggie atau justru menjauhinya. Summer, gadis cantik yang menerima Auggie dengan terbuka dan menawarkan persahabatan. Justin, yang mencintai Via dan tidak meninggalkan gadis itu sekalipun memiliki adik dengan tampang yang menakutkan. Mereka akan melengkapi kisah Auggie dengan penerimaan mereka atas kondisi anak itu. Mereka akan memberikan kehangatan dalam hati pembaca.

Bagian pamungkas mungkin merupakan bagian novel yang paling menyentuh hati. Di sini Auggie berkata kepada ibunya: "Terima kasih sudah menyuruhku sekolah." Ibunya membungkuk dan berbisik di telinganya: "Kau memang sebuah keajaiban, Auggie. Kau adalah sebuah keajaiban."(hlm. 422).

Nah, pernahkah, Anda yang tampan atau cantik, mendengar orang mengatakan kepada Anda: "Kau adalah sebuah keajaiban"?

09 November 2012

Kukila




Judul Buku: Kukila
Pengarang: M. Aan Mansyur
Editor: Siska Yuanita
Tebal:192 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, September 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 



Jika Anda membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, Anda akan menemukan arti kata Kukila yang dipakai dalam kesusastraan Melayu klasik. Kukila yang berarti burung rupanya begitu memikat bagi M. Aan Mansyur, sehingga menjadikan kata ini sebagai judul buku kumpulan ceritanya. Dan memang, ada empat perempuan bernama Kukila dalam buku ini. 

Cerita pertama berjudul Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) mengisahkan tentang sebuah keluarga disfungsional yang dibangun perempuan bernama Kukila dengan Rusdi, teman mantan kekasih Kukila. Rusdi mandul sehingga tidak bisa memberikan anak pada Kukila. Maka, Rudi bersepakat dengan Kukila untuk meminta Pilang, mantan kekasih Kukila, menggauli Kukila. Bukan hanya menghasilkan satu anak perempuan, Aurora, hubungan di antara Kukila dan Pilang juga membuahkan dua anak lain, Nawa dan Janu. Kedua anak terakhir ini bukan lagi hasil kesepakatan tapi perselingkuhan yang tidak berakhir. Suatu hari, Rusdi memutuskan menceraikan Kukila dan meninggalkan keluarganya. Rusdi tidak bisa lagi menahan dirinya menyaksikan kemesraan Kukila dan Pilang. Karena dalam hatinya, ia menyimpan rahasia, yang tidak pernah diketahui Kukila dan Pilang. Bukan cuma Kukila, Pilang, dan Rusdi yang menyimpan rahasia, tapi Aurora, Nawa, dam Janu pula. Cerita paling panjang dalam kumpulan cerita ini menyertakan bagian yang pernah dimunculkan dalam kumpulan cerpen Dari Datuk ke Sakura Emas (April, 2011) dengan judul Di Tempatmu Berbaring Sekarang. 

Kukila yang kedua muncul dalam cerita jenaka Setengah Lusin Ciuman Pertama. Dalam cerita ini pengarang membongkar rahasia enam ciuman yang pernah dirasakannya. Ada empat cewek dan dua cowok yang pernah berciuman dengannya. Salah satu cewek itu, tentu saja, bernama Kukila.

Cerita Tiba-tiba Aku Florentino Ariza menampilkan Kukila sebagai perempuan cantik, berprofesi sebagai dokter, sudah menikah, tapi belum mempunyai anak karena suaminya mandul. Ketika Kukila sering menyaksikan seorang pemuda mandi telanjang di sumur belakang rumah pada musim kemarau, ia memutuskan mendapatkan anak darinya. Perasaan sang pemuda ketika Kukila berhasil merenggut keperjakannya adalah seperti Florentino Ariza, lelaki dalam novel Love in the Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez, yang keperjakannya direnggut dengan mendadak dan cepat dalam kegelapan sebuah kapal oleh seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Setelah keperjakaannya melayang, pemuda itu menemukan kenyataan pahit terkait apa yang telah terjadi. Sebuah kehilangan dan rasa malu sebagai kompensasi kenikmatan yang dirasakannya. 

Kukila keempat muncul dalam cerita Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim. Ia adalah salah satu dari tiga orang yang seharusnya menerima surat cinta dari sang narator  bertahun-tahun sebelumnya. Ketiga orang itu bersinggungan hidupnya dengan pernikahan. Pertama, adik laki-laki yang hendak menikah; kedua, kekasih yang menikahi laki-laki pilihan orangtuanya, dan ketiga, ibu, yang pernikahannya berakhir dengan minggatnya suaminya dan tidak pernah kembali. 

Ibu dalam cerita Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim agaknya ibu yang sama dalam cerita Setia adalah Pekerjaan yang Baik. Setelah setahun meninggalkan suaminya sebelum menikmati malam pertama pada hari pernikahannya, ibu dalam cerita ini kembali dan mendapatkan suaminya masih menunggu dengan setia. Setelah mereka punya tiga anak, suaminya yang meninggalkannya dan tidak pernah kembali. Akankah ibu itu tetap setia kepada suaminya sementara ada tiga pria yang ingin melamarnya? 

Beberapa cerita yang ada dalam kumpulan cerita ini pernah diterbitkan sebelumnya. Kebun Kelapa di Kepalaku yang pernah terbit dalam antologi Setapak Salirang (Insist Press, 2006) merupakan curahan hati seorang pemuda kepada kekasihnya mengenai permasalahan rambut yang dialaminya, ibunya yang selalu memaksanya memotong rambut, Tante Maryam yang selalu memotong rambutnya walaupun hasil pekerjaannya selalu jelek. Hampir di akhir curahan hatinya, ia mengungkap rahasia yang disimpan ibunya bertalian dengan potong-memotong rambut yang dialaminya. Perahu Kertas dengan Huruf-huruf Kanji yang pernah terbit di buku Kupu-kupu dalam Kotak Kaca (Ininnawa, 2005) berkisah tentang pembuktian cinta seorang pemuda kepada gadis yang dicintainya. Menjelang berakhirnya pembuktian cintanya, ia diperhadapkan dengan perasaan kecewa yang mendalam. Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi dan Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan telah dimunculkan dalam antologi Perkara Mengirim Senja (Serambi, 2012) sebagai bagian dari cerita bertajuk Selepas membaca Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta, Alina menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya. Kedua cerita ini mengisahkan tentang perempuan yang mengecundangi suami mereka. Cerita penuh gairah berjudul Hujan. Deras Sekali. yang mengetengahkan perselingkuhan di antara tiga perempuan dan empat lelaki ini diterbitkan dalam antologi lain, Perempuan yang Melukis Wajah (Gramedia Pustaka Utama, 2012). 

Erwin dalam cerita Membunuh Mini menggauli Mini, hingga hamil. Tapi ia tidak berniat menikahi Mini lantaran perbedaan status, ia seorang direktur dan Mini hanya seorang pembantu. Akhirnya ia memutuskan untuk membunuh Mini. Sehabis bercinta dengan Mini untuk terakhir kalinya, ia pun menjalankan rencananya, tanpa mengetahui, ada pihak yang berniat merusak rencananya itu.

Aku Selalu Bangun Pagi dikisahkan dari perspektif seorang pemuda pemilik perpustakaan dan toko buku, kemungkinan pengarang sendiri. Setiap pagi, seorang gadis cantik berkunjung dan setiap kali bertemu, gadis itu akan menyapanya: Baru bangun, kan? Lama-kelamaan sapaan gadis itu menjengkelkan pemuda itu, karena memang ia selalu bangun lebih pagi, bahkan mungkin, lebih pagi dari gadis itu. Hingga suatu hari, kemarahannya meledak, dan terlambat menyadari, cinta sebenarnya sudah menghampiri kehidupannya.

Ide yang cukup menarik dihadirkan pengarang dalam cerita Lebaran Kali Ini Aku Pulang yang dipersembahkan kepada Umar Kayam, pengarang yang pernah menulis kisah-kisah tentang Lebaran (diterbitkan pada 2002 dengan judul Lebaran di Karet, di Karet...), salah satunya berjudul Lebaran Ini, Saya Harus Pulang. Dikisahkan dari perspektif orang pertama, naratornya mengisahkan kepulangannya ke kampung halaman setelah tidak pernah pulang selama 20 tahun. Ia datang untuk menziarahi makan kedua orangtuanya, tapi sebelumnya ia menyaksikan kampungnya ternyata telah banyak mengalami perubahan, termasuk degradasi moral. Dan yang terutama, ternyata di sana tidak dikenal lagi bulan Ramadhan dan Lebaran. Diam-diam ia telah menyiapkan sebuah rencana. Nah, apakah rencana sang narator bagi kampungnya? 

Lima Pertanyaan Perihal Bakso adalah tanya jawab seputar bakso pada sebuah reuni antara seorang pemuda dengan mantan kekasihnya. Kelima pertanyaan yang dilontarkan mantan kekasih itu akan mengungkapkan perjalanan cinta dan kehidupan keduanya hingga saat reuni tersebut.

Ketinggalan Pesawat dan Cinta (Kami) seperti Sepasang Anjing dan Kucing adalah dua cerita yang sangat sederhana. Cerita pertama hanya mengisahkan satu peristiwa yang terjadi di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Naratornya hendak pergi ke Jakarta untuk menjumpai seseorang dan ketinggalan pesawat. Cerita kedua, yang dijadikan penutup kumpulan cerita ini adalah kisah cinta antara sang narator, seorang pecinta kucing dan Nanti, kekasihnya yang mencintai anjing. "Kelak, jika ada yang bertanya kenapa kita berpisah, tapi semoga tidak berpisah, katakan saja kita seperti anjing dan kucing, " kata Nanti. Apakah mereka bisa mempertahankan hubungan dan melawan perumpamaan anjing dan kucing dalam hubungan mereka?

Membaca cerita-cerita realis dalam kumpulan cerita Kukila ini adalah pengalaman baca yang menyenangkan. Kisah-kisah yang diusungnya umumnya sederhana, terkadang terkesan sepele, dan tampaknya, sering dipulung dari kehidupan pribadinya. Tapi kesederhanaan yang ada selalu berpeluang menghadirkan kisah yang meninggalkan kesan mendalam. Cerita-ceritanya pun acap menghadirkan akhir yang mengejutkan. Sementara membaca, kita akan bertanya-tanya, dengan sedikit gelisah, apa yang akan dibeberkan pengarang pada bagian akhir atau pada kalimat pamungkas? 

Cara pengarang menyajikan kisah-kisah dalam kumpulan cerita yang paling banyak menggunakan perspektif orang pertama ini cukup kreatif. Pengarang tidak selalu menggunakan susunan yang biasa kita jumpai dalam karya fiksi. Beberapa cerita disajikan dengan cara membagi-baginya ke dalam tiap bagian yang diberi nomor seperti pada cerita Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), Setengah Lusin Ciuman Pertama, Lima Pertanyaan Perihal Bakso, Lebaran Kali Ini Aku Pulang, dan Setia adalah Pekerjaan yang Baik. Cerita yang disebut terakhir - ditulis di Twitter - setiap bagiannya cukup singkat, paling panjang berisikan tiga kalimat.

Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) merupakan cerita yang membutuhkan kejelian pembaca untuk mengurainya. Cerita yang ditulis dengan kalimat-kalimat bernada puitis ini merupakan gabungan dari isi surat, curahan hati, dan penceritaan dari perspektif orang ketiga. Rahasia setiap tokoh akan dikelupas dan menginformasikan kepada kita, betapa rumitnya kehidupan ini, dan itulah sebabnya, tidak selalu bisa berjalan sesuai dengan yang kita inginkan.

Sebenarnya, gagasan inilah yang menjadi warna dominan cerita-cerita dalam Kukila, kumpulan cerita karya M. Aan Mansyur.
 

Tentang Pengarang:

M. Aan Mansyur dilahirkan di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Sehari-hari, ia bekerja sebagai relawan di Kafe Baca Biblioholic -mungkin dijadikan seting cerita Aku Selalu Bangun Lebih Pagi- dan komunitas Ininnawa di Makassar. Bukunya yang sudah terbit adalah Hujan Rintih-Rintih (2005), Perempuan Rumah Kenangan (2007), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012).


08 November 2012

Cerita Calon Arang




Judul Buku: Cerita Calon Arang
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Tebal: 96 hlm; 13 x 20 c
Cetakan: 5, Februari 2010.
Penerbit: Lentera Dipantara






Tidak diketahui siapa pencipta kisah Calon Arang. Kisah ini merupakan salah satu cerita rakyat yang dikenal di Bali dan Jawa dan dihidupkan dalam tradisi dongeng. Usaha untuk melestarikan kisah Calon Arang telah dilakukan beberapa kali dalam karya fiksi Indonesia. Toeti Heraty dengan prosa lirik berjudul Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki (2000), Femmy Syahrani dengan novel Galau Putri Calon Arang (2005), dan Cok Sawitri dengan Janda dari Jirah (2007). Sebelum ketiga perempuan penulis itu, Pramoedya Ananta Toer telah mendokumentasikan kisah Calon Arang dalam buku berjudul Dongeng Calon Arang yang kemudian diterbitkan kembali dengan judul Cerita Calon Arang (diterbitkan pertama kali oleh penerbit Lentera Dipantara, 2003). 

Calon Arang adalah seorang perempuan setengah tua yang mempelajari mantra hitam dan menebarkan teluh kepada banyak orang dengan izin Dewi Durga yang disembahnya. Pramoedya menggambarkan bahwa sebenarnya sebelum Calon Arang mengganas dengan teluhnya, ia telah dikenal sebagai perempuan jahat yang tidak disukai warga sedusun, Girah. Akibatnya, warga pun menjauhi putri tunggalnya, Ratna Manggali. Tidak ada seorang lelaki pun yang mau meminang Ratna Manggali untuk menjadi istri walaupun ia seorang perempuan cantik. 

Gara-gara tidak ada lelaki yang berminat memperistri putrinya, Calon Arang yang pada dasarnya sudah jahat, memutuskan untuk membalas dendam dengan menebarkan teluh di dusunnya. Akibatnya banyak orang yang tewas, dan kegelisahan pun menyebar hingga ibukota kerajaan Daha. Raja Erlangga segera mengutus pasukannya untuk menangkap Calon Arang, dan menyabdakan bahwa jika ia melawan, Calon Arang boleh dibunuh. Tapi ketika para prajurit berhadapan dengan Calon Arang, mereka tidak sanggup melawan perempuan itu. Tiga di antara mereka bahkan terbakar oleh api yang disemburkan dari mata, hidung, kuping, dan mulut Calon Arang. 

Kedatangan pasukan Raja Erlangga untuk menangkapnya membuat Calon Arang semakin murka. Kali ini meminta restu Dewi Durga, Calon Arang memutuskan menebarkan teluh hingga ke ibukota kerajaan, termasuk ke dalam istana raja. 

Erlangga tidak tinggal diam. Atas arahan sembahannya, Dewa Guru, ia meminta bantuan Empu Baradah, satu-satunya orang yang bisa mengatasi keganasan Calon Arang. Tindakan pertama yang dilakukan Empu Baradah adalah menikahkan Empu Bahula, salah satu muridnya dengan Ratna Manggali. Apa yang menjadi tujuan Empu Baradah sangat jelas yaitu bahwa setelah menikah dengan Ratna Manggali, Empu Bahula bisa menemukan rahasia gelap Calon Arang. Rencana Empuh Baradah berhasil karena dengan memperdaya istrinya, Empu Bahula bisa membawa rahasia kekuatan Calon Arang ke hadapan gurunya.

Pada akhirnya, Empu Baradah siap berhadapan langsung dengan Calon Arang. Mengira bisa mengalahkan Empu Baradah, Calon Arang tidak segan melecehkan sang pertapa. Tapi nasibnya telah ditentukan, Calon Arang tetap harus mati, dan ia mengalami dua kali kematian.

Dari pengantar yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, diketahui bahwa buku ini disusun sebagai buku anak-anak untuk membangkitkan cerita lama dalam diri mereka. Itulah sebabnya, gaya bercerita Pramoedya di sini seperti orangtua yang sedang menceritakan dongeng kepada anak-anak. Dan sebagai buku anak-anak -kendati tidak semua isinya cocok untuk konsumsi anak-anak- tentu saja tidak dibutuhkan permainan metafora, kalimat-kalimat yang terlampau rumit, dan deskripsi yang sulit dicerna. Alhasil, cerita dalam buku ini menjadi terlalu biasa, lempeng, dan jauh dari memuaskan, bagi para pembaca dewasa.

Sebagai buku anak-anak, pesan yang disampaikan juga harus jelas, hitam-putih, diserap tanpa banyak berpikir. Bahwa kejahatan tidak akan abadi, dan kebaikan akan mampu mengalahkan kejahatan. Bahwa pelaku kejahatan selalu memiliki kesempatan untuk mengubah perilakunya jika mau. 

Selain kisah utama yang berpusat pada Calon Arang, buku tipis ini juga memuat kisah tentang putri Empu Baradah, Wedawati, yang menjadi pertapa. Bila dihilangkan, tidak akan mempengaruhi sajian utamanya. Demikian pula bagian penutup yang mengisahkan tentang Empu Baradah yang pergi ke Bali menaiki daun nangka. Agaknya, kedua bagian ini dimasukkan agar Cerita Calon Arang tidak menjadi terlalu pendek. Tapi, jujur saja, terutama yang berkisah tentang Wedawati adalah bagian yang membosankan dibaca dalam buku ini.

Sudah pasti Cerita Calon Arang tidak bisa dibandingkan isi dan cara penggarapannya dengan Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki dan Galau Putri Calon Arang. Apalagi dengan Janda dari Girah yang ditulis dengan  indah. Cerita Calon Arang terlalu sederhana dan dangkal. Tidak ada kedalaman yang perlu diselami selama membaca buku ini. 

Tapi ada pesan penting yang disampaikan Pramoedya melalui Wedawati, bahwa: "Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu tiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap-tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara."


07 November 2012

¿Quién mató a Palomino Molero?


Judul Buku: Siapa Pembunuh Palomino Molero? 
Judul Asli : ¿Quién mató a Palomino Molero?
Penulis: Mario Vargas Llosa (1986)
Penerjemah: Ronny Agustinus
Dari: Edisi ke-7 (1997)
Tebal: xiv + 192 hlm; 13 x 18,5 cm
Cetakan: 1, Mei 2012
Penerbit: Komodo Books
 
 





"Bocah itu tergantung pada pohon khurnub tua dengan posisi yang begitu absurd sampai-sampai lebih mirip orang-orangan sawah atau boneka karnaval rusak ketimbang mayat. Entah sebelum atau sesudah dibunuh ia dihajar dengan kekejaman tiada tara: hidung dan mulutnya robek, darah kering bergumpal-gumpal, mukanya lebam penuh luka sayat dan sundutan rokok. Dan seakan itu belum cukup, Lituma melihat mereka juga mencoba mengebirinya, karena buah zakarnya melorot menutupi pangkal paha. Ia bertelanjang kaki, bagian pinggang ke bawah bugil, dengan kemeja compang-camping." (hlm. 7).

Palomino Molero, putra semata wayang seorang janda, dikenal banyak orang sebagai pemuda dari Piura yang piawai menyanyikan bolero. Ia adalah seorang penerbang yang bertugas di Pangkalan Angkatan Udara yang dikomandani Kolonel Mindreau. Ia tewas meninggalkan tanda tanya besar: siapa yang telah membunuh dirinya sedemikian rupa? 

Letnan Silva dan bawahannya, Lituna, dua polisi desa, bergerak untuk mengivestigasi pembunuhan yang menghebohkan Talara itu. Meskipun tidak semua merespons dengan baik upaya mereka, tapi mereka berhasil menanyai beberapa orang. Kolonel Mindreau, komandan pangkalan Angkatan Udara, yang meremehkan Guardia Civil. Dona Asunta, ibu Palomino, yang tidak bisa memahami keputusan Palomino untuk sukarela mendaftar ke Dinas Militer di Angkatan Udara. Dona Lupe yang sempat menampung Palomino sebelum pemuda itu diculik, kemudian ditemukan mati. Letnan Ricardo Dufo, pacar dari putri Kolonel Mindreau yang merasa hancur gara-gara dijauhkan dari pacarnya padahal setahun lagi akan menikah. Alicia Mindreau, sang pacar, yang tidak cantik tapi menarik, yang kepadanya setiap malam sebelum meninggal, Palomino mempersembahkan serenadenya. 

Dari penyelidikan mereka terungkap bahwa kematian Palomino terkait dengan kisah cinta yang pincang karena perbedaan status sosial. Kisah cinta ini dibayang-bayangi oleh dendam, inses, dan kegilaan dengan porsi yang tidak pasti yang berakhir menjadi tragedi. Yang pasti, kedua polisi desa itu berhasil menyingkapkan tabir kasus pembunuhan Palomino Molero. Kendati keberhasilan mereka tidak pelak akan menjadi hukuman bagi mereka.
 
Novel ¿Quién mató a Palomino Molero? yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Siapa Pembunuh Palomino Molero? dan berseting Peru tahun 1950-an adalah karya penulis Peru bernama lengkap Jorge Mario Pedro Vargas Llosarset. Selain sebagai penulis, ia juga dikenal sebagai politikus yang pada tahun 1990 maju dalam pemilihan presiden membawa ide reformasi tapi dikalahkan oleh Alberto Fujimori. Ia memenangkan hadiah Nobel Sastra pada tahun 2010 "untuk pemetaan struktur kekuasaan dan gambaran yang tajam atas perlawanan individu, pemberontakan, dan kekalahannya." Saat ini, ia adalah sastrawan Amerika Latin yang paling berpengaruh di dunia. 

Tidak hanya memiliki kisah beraroma misteri yang tajam, novel yang tidak begitu panjang ini mengedepankan berbagai karakter yang menarik dan mengesankan karena sangat apa adanya. Terutama, tentu saja, karakter kedua polisi desa yang mengusut kasus pembunuhan Palomino Molero. Lituma adalah prototipe bawahan yang hanya mengikuti atasannya, mengamati sambil berpikir, mengapresiasi situasi dan keadaan orang-orang yang mereka temui. Letnan Silva, polisi yang baik, memiliki kecakapan dalam hal mengorek informasi dari orang-orang yang diwawancarai dengan cara persuasif. Ia putih dan tampan serta gampang menyita perhatian cewek, tapi justru tergila-gila pada Dona Adriana, perempuan gendut  yang sudah bersuami. Kisah Letnan Silva dan Dona Adriana mengambil tempat yang cukup dalam novel ini, tidak berlebihan, tapi membuat novel ini semakin menggairahkan untuk diikuti. 

Karena tidak membaca versi asli yang ditulis dalam bahasa Spanyol -lagi pula saya tidak bisa berbahasa Spanyol- saya tidak bisa mengapresiasi lebih baik penggunaan bahasa dan pemilihan diksi dari sang pengarang. Tapi hasil terjemahan ke dalam bahasa Indonesia menunjukkan bahwa novel ini ditulis dengan bahasa kalangan bawah yang cederung vulgar. Ronny Agustinus yang antara lain telah menerjemahkan dengan gemilang
La casa de los espíritus (Rumah Arwah) dan Retrato en sepia (Potret Warna Sephia) karya Isabelle Allende ke dalam bahasa Indonesia berhasil menyilih kekasaran bahasa Llosa dalam bahasa Indonesia. Kita misalnya akan mendapatkan kata-kata seperti lonte, taik, tai, kutukupret, bunting, bangsat, jembut, digunakan dengan luwes dalam terjemahannya. Secara keseluruhan, hasil terjemahan edisi Indonesia sangat bagus, bahkan memberi kesan merupakan karya asli sang penerjemah. Dan yang pasti, dengan hasil terjemahan seperti ini, novel ini tidak cocok untuk dikonsumsi pembaca anak-anak dan remaja.

Apa yang ingin disampaikan penulis kelahiran Peru 28 Maret 1936 ini lewat kisah pembunuhan Palomino Molero, investigasi kasus kematiannya, kemudian penciptaan versi berbeda dari apa yang ditemukan kedua polisi desa itu pada akhir kisah? Jawabannya adalah bahwa kekuasaan kalangan ataslah yang menentukan bagaimana hukum dijalankan, dan keadilan bukan milik kalangan bawah. Sebuah kondisi menyedihkan yang kemungkinan besar masih berlangsung di Peru saat ini, dan juga masih terjadi di negara kita, Indonesia yang kita cintai.
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan