12 May 2013

Rapid Fire Questions






Menerima tongkat estafet dari Peri Hutan untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Maaf, wahai Peri, karena responsku memang selalu terlambat (tapi aku bukan lemot lho).


Pertanyaan Wajib:

1. Nambah atau ngurangin timbunan?

Nambah timbunan sebenarnya mengasyikkan, tapi ngurangin timbunan itu keharusan.


2. Pinjam atau beli buku?  
Beli buku.


3. Baca buku atau nonton film? 
Gak bisa hidup tanpa keduanya, tapi baca buku tetap nomor satu.  


4. Beli buku online atau offline? (tobuk yang temboknya bisa disentuh) 
Kedua-duanya oke, online kalo udah kalap pengen baca tapi belum ada di toko buku terdekat. 


5. (penting) Buku bajakan atau ori
Gak pernah beli buku bajakan. Kasian para pekerja buku kalo beli buku bajakan. 


6. Gratisan atau diskonan? 
Gratisan tanpa syarat, tapi diskonan gak mau ketinggalan juga, apalagi untuk buku baru.  


7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar? 
Menanti dengan sabar, gak biasa melakukan PO. 


8. Buku asing (terjemahan) atau lokal? 
Lokal.


9. Pembatas buku penting atau biasa aja? 
Penting untuk buku tebal. 


10. Bookmark atau bungkus chiki
Bookmark dong, gak pernah makan chiki untuk dimanfaatkan bungkusnya.   



Pertanyaan dari Peri Hutan:

1. Buku kipas atau buku kacrut? 
Buku kacrut udah pasti gak mau, tapi buku kipas oke-oke aja. Penting untuk pembelajaran dan peningkatan kinerja. Kinerja apaan? Hahahaha.


2. Sampul dulu dan dicium-cium dulu bau buku atau langsung baca? 
Kalo aromanya enak kaya buku Bliss, bolehlah dicium-cium. Tapi biasanya langsung baca, kebanyakan buku saya gak disampul, tapi semuanya tetap dalam kondisi baik.



 3. Baca sambil tiduran atau duduk? 
Paling enak sambil tiduran.


4. Nggak selesai baca atau baca kilat (skip)?
Nggak selesai baca. Gak pernah men-skip bacaan. 


5. Hero atau heroin?
 Paling suka kalo mereka berkolaborasi dalam satu buku. Tapi kalo harus milih satu, saya pilih hero, sesuai gender :) 



Karena belum sempat menyusun pertanyaan tambahan dan bingung siapa yang akan saya paksa mengerjakan tugas -kemungkinan saya yang paling terakhir mengerjakan tugas, maka saya mengakhirinya di sini.



08 May 2013

Semusim, dan Semusim Lagi


 
Judul Buku: Semusim, dan Semusim Lagi
Pengarang: Andina Dwifatma
Editor: Hetih Rusli
Tebal: 232 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, April 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama






Sehari setelah dinyatakan lulus SMA, seorang gadis remaja menerima dua lembar surat. Surat pertama, dari universitas swasta tempat dia mendaftar sebagai mahasiswa jurusan sejarah. Surat kedua, tanpa nama pengirim, dari seorang yang mengaku sebagai ayahnya dan mengundangnya berkunjung ke kota S (terletak di bagian tengah pulau Jawa). Laki-laki yang mengaku meninggalkannya saat ia baru berusia tiga bulan itu sedang sakit keras dan dalam perawatan.

Tidak terungkap sebab-musabab perpisahan orangtua gadis itu. Hidup tanpa pendampingan seorang ayah seakan-akan belum cukup, ibunya pun -seorang dokter ahli bedak otak- menafikan keberadaannya di rumah. Tapi, begitu mengetahui ayah gadis itu menghubunginya, ibu gadis itu mendadak merasa sakit. Gadis itu pun pergi ke kota S setelah mendapatkan perkenanan ibunya. Setibanya di bandara kota S, ia dijemput oleh J.J. Henri, salah satu anak buah ayahnya. J.J. Henri memiliki seorang anak laki-laki semata wayang yang berusia lebih tua dari gadis itu. Saat libur kuliah, anak laki-laki bernama Muara itu diajak ayahnya untuk menemani gadis itu. Mereka menghabiskan waktu sambil berbincang tentang musik jazz, Bob Dylan dan lagunya yang terkenal Blowin' in the Wind, juga buku-buku. Diam-diam, kebersamaan mereka membuat gadis itu jatuh cinta. 
 
Sementara gadis itu masih menunggu kesempatan untuk bertemu ayahnya  di RS, terjadi serangkaian kejadian aneh yang membuatnya mesti berurusan dengan polisi. Hal itu terjadi setelah Sobron muncul, duduk di salah satu kursi meja makan di rumah ayahnya.

Meskipun mengaku kikuk, gadis itu adalah narator yang banyak bicara. Dengan segera apa yang diceritakannya akan membiakkan hal baru yang akan disampaikannya dengan panjang lebar.

Jangan terkecoh. Gadis itu bukan tidak jujur, tapi setelah berada di kota S, sekalipun terkesan meyakinkan, kita tidak boleh percaya mentah-mentah dengan apa yang diceritakannya. Kita mengira ceritanya berubah menjadi absurd, padahal sebenarnya tidak. Tidak ada yang absurd di sini, karena novel ini bukanlah sejenis novel surealis.

Sebagai pembaca saya jadi kuatir salah menafsirkan. Tapi saya berpegang pada kata-kata ibunya dalam sebuah pertemuan dengan gadis itu -meskipun bagi saya tetap khayali. Menjadi orangtua tidak semudah kelihatannya. Apa pun yang kamu katakan, kamu kerjakan, kamu sampaikan, akan sangat berpengaruh pada kepribadian anakmu. Salah omong sedikit, anakmu bisa mengingatnya sampai tua. Dan jadi orang yang lemah mentalnya.  (hlm.163).

Di penghujung cerita yang disampaikan gadis itu, saya percaya pada kata-katanya. Aku merasa semusim paling berat dalam hidupku telah terlewati, dan aku siap untuk musim selanjutnya. Lalu mungkin semusim, dan semusim lagi... (hlm. 230).

Semusim, dan Semusim Lagi adalah novel yang lahir dari Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012. Ia mengungguli sejumlah novel yang diikutsertakan sayembara penulisan itu dan dinobatkan sebagai pemenang pertama. Meskipun bertaburan segala sesuatu yang bersumber dari budaya pop -sebagaimana yang kerap ditemukan dalam berbagai karya fiksi populer saat ini- Andina bisa menganggit sebuah novel serius dengan prima. Penulis yang pernah tergabung dalam Sarekat Penulis Kuping Hitam dalam rangka penulisan novel kolaboratif bertajuk Lenka (2011) ini mampu memanfaatkan bahasa Indonesia dengan baik dalam mengungkapkan setiap hal yang muncul dalam perjalanan gadis anonim itu menemui ayahnya. Hasilnya adalah kisah bergelimang kalimat-kalimat bernas dan terangkai apik yang akan memikat pembaca untuk tetap meneruskan pembacaan. Kebiasaan gadis itu (baca: pengarang) yang senang membeberkan berbagai detail tidak sampai membunuh semangat untuk menamatkan novel ini. Satu hal yang hampir terlupakan selama pembacaan adalah: gadis anonim itu sesungguhnya masih remaja yang sedang menghampiri fase kedewasaan.

Sejatinya, tema novel ini bukanlah sesuatu yang baru. Kisah gadis bermental lemah yang mati-matian menunjukkan citra seorang gadis cerdas bisa dijumpai dalam karya fiksi lain. Dalam novel ini, karakternya terbentuk dari pengabaian demi pengabaian yang dilakukan kedua orangtuanya. Pada akhirnya, terciptalah sosok Sobron, yang menjadi kambing hitam dari setiap tindakan obsesif gadis itu.

Kemungkinan besar, karena pengarang bermaksud mengangkat kisah dalam novel ini ke tataran realistik,  nama gadis itu –dan ayahnya- sengaja  tidak disebutkan. Saat kesempatan memungkinkan kemunculan nama mereka, gadis itu segera menghindarinya.

Melihat ilustrasi sampul novel ini Anda mungkin akan mengira kalau novel ini berkisah tentang binatang yang diwakili oleh seekor ikan mas koki raksasa. Saya beritahu Anda: kehadiran ikan mas koki dalam novel ini memang penting, karena akan mengungkapkan siapa sebenarnya gadis anonim yang menjadi narator orang pertama novel ini.

Judul novel ini dipetik dari salah satu baris sajak Sitor Situmorang yang berjudul Surat Kertas Hijau. Anda akan menemukan sajak itu disematkan di sampul belakang novel. 



Surat Kertas Hijau

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Segala kemontokan menonjol di kata-kata
Menepis dalam kelakar sonder dusta
Harum anak dara
Mengimbau dari seberang benua

Mari, Dik, tak lama hidup ini
Semusim dan semusim lagi
Burung pun berpulangan

Mari, Dik, kekal bisa semua ini
Peluk goreskan di tempat ini
Sebelum kapal dirapatkan

Sitor Situmorang, 1953





Tentang Pengarang:
Andina Dian Dwifatma dilahirkan di Jakarta pada 15 September 1986. Sejak 2010 bekerja di Kompas Gramedia sebagai wartawan dan telah memenangkan penghargaan jurnalistik Anugerah Adiwara pada 2011. Bukunya yang sudah diterbitkan adalah Cerita Azra, biografi dari Azyumardi Azra (2011). Selain itu, ia mengikutsertakan cerpennya yang berjudul Seorang Penari yang Membutakan Matanya Sendiri dalam bunga rampai cerpen bertajuk Si Murai dan Orang Gila (2010). Ia juga terlibat dalam penulisan novel kolaboratif Lenka (2011) bersama-sama dengan peserta Bengkel Penulisan Novel DKJ 2008 dan 2009.  


07 May 2013

Katarsis


Judul Buku: Katarsis
Pengarang: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Tebal: 264 hlm; 20 cm
Cetakan:1, April 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 





Tara Johandi adalah gadis yang selamat dari peristiwa pembunuhan di rumah pamannya di Bandung. Ia ditemukan dalam keadaan dehidrasi dan syok berat, disekap di dalam sebuah kotak perkakas kayu. Tara bukanlah satu-satunya yang selamat. Arif Johandi, pamannya ditemukan masih hidup meskipun dalam keadaan koma. Sementara Sasi, istri Arif, dan Bara, kakak Arif dan ayah Tara, ditemukan tewas dengan luka tusuk di tubuh mereka. Sedangkan Moses Johandi, anak laki-laki semata wayang Arif dan Sasi ditemukan dalam bentuk potongan-potongan tubuh hasil mutilasi. Mereka dinyatakan sebagai korban perampokan sadis, dan  polisi menetapkan pasangan Martin Silado dan Andita Pramani sebagai tersangka karena mereka tertangkap di dekat TKP.

Polisi kesulitan untuk memastikan siapa pelaku dalam kasus pembunuhan itu. Kedua saksi, yaitu Tara dan Arif, dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan. Bahkan, setelah terbangun dari koma, Arif menghilang dari rumah sakit. Tersisa Tara yang diharapkan bisa memberikan kesaksian. Untuk itu, Alfons, seorang psikiater muda, datang dari Jakarta demi membantu pemulihan Tara. Sebelumnya, Alfons telah menjadi psikiater yang menangani Tara ketika Arif dan Sasi merasakan keanehan perilaku Tara. Pada usia delapan belas tahun, Tara adalah seorang gadis yang terobsesi pada koin lima rupiah. Sebelumnya, lebih aneh lagi. Semenjak kecil, ia menolak nama yang diberikan orangtuanya -Bara dan Tari Johandi- dan tanpa tedeng aling-aling membenci mereka karenanya. Ia memanggil kedua orangtuanya dengan nama mereka. Ia juga dituduh ayahnya sebagai penyebab kematian ibunya. Setelah kematian ibunya, Bara tidak sanggup mengasuhnya dan menitipkannya pada adiknya.

Tapi, setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, Tara tetap tidak bisa mengungkapkan apa yang disaksikannya pada peristiwa pembunuhan di rumah pamannya. Alfons memutuskan membawa gadis itu ke rumahnya di Jakarta dengan harapan akan mengatalis pemulihan dan pemecahan kasus kriminal itu jika Tara memandangnya sebagai teman.

Sewaktu masih dirawat di rumah sakit, Tara pernah mendapatkan kiriman, sebuah paket tanpa nama pengirim. Paket itu membuatnya terguncang karena berupa kotak perkakas kayu berisi seorang gadis seusianya yang berada dalam kondisi sekarat. Persis seperti saat dirinya ditemukan di gudang rumah pamannya. Setelah akhirnya Tara tinggal di rumah Alfons, terjadi rangkaian pembunuhan berantai dengan modus operandi yang sama. Para korban, semuanya perempuan, disekap di dalam kotak perkakas kayu. Tara segera menangkap isyarat bahwa sebenarnya dirinyalah yang menjadi target utama si pembunuh berantai.

Katarsis adalah sebuah novel psychological thriller yang akan membuat kita tercekat ngeri begitu terseret ke dalam plotnya yang bergerak cepat dan penuh kejutan. Setelah kasus perampokan sadis itu diungkapkan, kita disodorkan pengakuan demi pengakuan terkait peristiwa pembunuhan itu. Tidak terlalu lama, kita akan segera mengetahui motif dari pembunuhan tersebut dan menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada perampokan di dalamnya. Tapi, setelah kasus pembunuhan itu dibeberkan, ternyata cerita tidak berhenti melainkan berbiak secara tidak terduga. Saat akhirnya Tara menjadi target pembunuhan, kita memasuki kisah baru yang berkembang dari tindakan kriminal yang terjadi hampir dua puluh tahun sebelumnya dengan kekejaman yang tidak kalah sadisnya. 

Penggunaan dua narator untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi serupa dengan metode katarsis. Kedua narator berkisah secara blakblakan agar kita dapat memahami problematika kehidupan mereka yang tidak terelakkan. Jika banyak karya fiksi memberi alasan kalau sebuah tindakan kriminal terjadi karena pengalaman traumatis pelakunya, novel ini menyorongkan gagasan berbeda. Bagaimana kalau tindakan kriminal itu dilakukan oleh manusia yang memang ditakdirkan untuk menjadi pelaku kejahatan sejak dilahirkan? Pelaku kejahatan dalam novel ini mau tak mau mengingatkan pada Creighton Wheeler, karakter antagonis dalam novel Smash Cut karya Sandra Brown (2009) yang terlahir membawa benih-benih kejahatan.

Menggunakan dua narator –atau bahkan lebih- dalam satu kisah memang tidak gampang. Kedua narator dalam novel ini menggunakan kata ganti ‘aku’ dan berkisah dengan cara yang identik. Ketika terjadi pergantian narator untuk pertama kali yaitu pada bab tiga, agak membingungkan karena tidak ada pemberitahuan atau informasi sebelumnya. Untunglah tidak lama kemudian, kita akan menyadari kalau sudah terjadi pergantian narator, dan pada gilirannya, tidak lagi membingungkan kendati penggantian terjadi lebih sering pada bab-bab selanjutnya.

Menuju bagian pamungkas, pengarang terkesan terburu-buru mengakhiri kisahnya. Tapi mengingat sejak awal kisahnya memang mengalir dengan cepat, kemungkinan hal ini disengaja untuk menghasilkan efek serupa menonton film yang menegangkan. Bagian pamungkas sendiri akan membuat kita terkejut karena tidak prediktabel.

Meskipun sebagai pembaca kita sudah tahu siapa pelaku pembunuhan di rumah keluarga Johandi, sebenarnya kasus yang dijadikan pembuka novel ini tidak diselesaikan. Hingga kita melewati halaman terakhir novel, polisi belum berhasil memecahkan kasus itu dan menyusun kronologisnya. 

Jadi, siapa sebenarnya yang telah membantai keluarga Johandi dan menyekap Tara di dalam kotak perkakas? Siapa pula yang kemudian menjadikan Tara sebagai target pembunuhan? Ke mana Arif Johandi pergi setelah siuman dari komanya dan meninggalkan rumah sakit? Lebih jauh ke belakang, siapa yang telah melaporkan kasus pembunuhan itu sehingga bisa masuk daftar kasus kepolisian? Untuk mendapatkan jawaban semua pertanyaan ini, sebaiknya Anda membaca sendiri novel ini. 




Tentang Pengarang:
Anastasia Aemilia, pengarang novel Katarsis dilahirkan di Jakarta pada 9 Januari 1987.  Ia bekerja sebagai editor dan penerjemah di Gramedia Pustaka Utama. Katarsis adalah novel perdananya. Cerpennya yang berjudul Thirty Something diikutsertakan dalam kumpulan cerpen metropop, Autumn Once More (GPU, 2013).


06 May 2013

Milana

 


Judul Buku: Milana
Pengarang: Bernard Batubara
Editor: Siska Yuanita
Ilustrasi Sampul dan Isi: Lala Bohang
Tebal: 192 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, April 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Meskipun tidak semua cerpen dalam kumcer Milana: Perempuan Yang Menunggu Senja karya Bernard Batubara bermuatan kesedihan, banyak kesedihan yang bisa dikumpulkan selama pembacaan. Cinta adalah faktor penyebab kesedihan terbesar, tapi bukan satu-satunya.

Milana -gadis yang namanya menjadi judul cerpen yang kemudian disematkan sebagai judul kumcer ini- adalah pelukis senja. Hanya senja yang ingin dipindahkannya ke atas kanvas di atas feri yang menyeberangi Selat Bali, dari Banyuwangi ke Jembrana. Karena Areno Adamar, seorang travel photographer, menyukai senja dan mengistimewakan senja untuk direkam lensa kameranya. Setelah pertemuan mereka yang kedua, mereka bersepakat untuk selalu berjumpa di atas feri dan bersama-sama merekam senja, dengan cara mereka sendiri. Tapi dua tahun telah berlalu, hanya Milana sendiri yang merekam senja dan menunggu sambil meyakinkan dirinya bahwa Areno pasti akan datang. "Menunggu adalah perkara melebarkan kesabaran dan berhadap-hadapan dengan risiko ketidakhadiran. Mendedikasikan setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun untuk menyambut sebuah kedatangan kembali. Untuk mendengar sebuah "Halo, ini aku, sudah pulang." (hlm. 175). Milana adalah sebuah cerpen yang indah, melenakan, dan membuat sedih.

Dibangkitkan oleh suara jangkrik, hujan dan suara hujan, debur kali di belakang rumah, dan daun-daun yang berguguran dari sebatang pohon tua, sebuah kisah tentang cinta terlarang akan disingkapkan dalam cerpen Lukisan Kali dan Pohon Tua. Saat Joan bertekad meluruskan percintaannya yang keliru, laki-laki yang mencintainya mau tidak mau harus melepaskannya. Meskipun begitu, kenangan yang terjadi di antara mereka, tidak bisa dilupakan laki-laki itu karena selalu dihidupkan oleh suasana di tempat kediamannya.

Cinta bertepuk sebelah tangan yang melahirkan kesedihan dibekukan dalam cerpen Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari. Para pecinta diibaratkan sebagai Daun, Matahari, Bulan, Embun, Pagi hari, dan Senja, dalam sebuah penuturan puitis yang intens. Dua pertanyaan muncul dari tokoh pelengkap yaitu Angin: Memangnya cinta hanya bisa untuk satu? Tidak bisa dua, tiga, atau empat? (hlm. 30) Memangnya cinta harus selalu menanti? (hlm. 31).

Setiap kali hujan turun dan harus berada di luar rumah, Tetto dalam cerpen Lelaki Berpayung dan Gadis yang Mencintai Hujan selalu membawa payung. Ia tidak menyukai hujan dan basah karena kehujanan. Tapi Erina, gadis yang dijuluki Tetto sebagai Gadis Hujan, sangat mencintai hujan. Setiap kali hujan turun, ia akan menari di bawah guyuran hujan. Hujan membuat Erina merasa lebih hidup. Bagi Erina, dengan membawa payung, Tetto sebenarnya tidak menikmati hidup. "Jika memang hujan itu masalah buatmu, mestinya kau menghadapinya langsung, bukan malah menghindarinya dengan memakai payung. Kau tidak menikmati hidup jika terus lari dari masalah." (hlm. 41-42). Akankah Tetto menerima keyakinan Erina dalam hidupnya meskipun suatu hari Erina tidak pernah lagi menari di bawah guyuran hujan?

Di Goa Maria -kolam renang yang menjadi judul cerpen, Suhana bertemu Wanto, laki-laki yang dicintai dan mencintainya. Tapi cinta mereka tidak sepadan karena Wanto hanyalah anak dari seorang tukang jual sayur, sementara Suhana putri seorang haji (yang kaya, pastinya). Perbedaan status itu membuat Wanto tidak memiliki semangat untuk memperjuangkan cinta mereka. "Mendekatimu dan berpikir dapat memiliki dirimu, bagai mengangkat ayahku tinggi-tinggi ke langit, lalu menjatuhkannya kembali akibat tak disetujui oleh orangtuamu. Maka aku memilih yang lebih patut untukku saja, juga untuk ayahku," kata Wanto (hlm. 56). Tapi Suhana tetap mencintai Wanto dan memutuskan untuk menunggu kekasihnya itu di Goa Maria. Mungkinkah Wanto akan muncul dan mengulang kenangan pertemuan pertama mereka?

Tikungan mengisahkan tentang tikungan misterius di sebuah kompleks pemukiman. Tikungan itu banyak mendatangkan masalah dan menyebabkan sejumlah kecelakaan. Apa sebenarnya yang salah dengan tikungan itu? Setelah kecemasan demi kecemasan yang melanda penduduk kompleks pemukiman, kita akan dibuat tersenyum oleh pengungkapan identitas sumber masalah itu.

Jung dalam cerpen yang memakai namanya sebagai judul adalah gadis yang buta sejak dilahirkan. Tapi meskipun buta, ia bisa melihat kematian, termasuk kematian pada seorang pemuda yang memotretnya. Tanpa diketahui Jung, dengan cara yang sama, pemuda itu bisa melihat kematiannya juga. Mengapa mereka bisa melihat kematian satu sama lain? Kita harus menengok ke masa lalu mereka yang menyedihkan untuk mendapatkan jawaban.

Suatu malam, pintu kamar narator cerpen Pintu yang Yang Tak Terkunci -dikembangkan dari puisi Robert Frost yang berjudul The Lockless Door- diketuk. Ketukan itu berulang dan lambat laun menjelmakan ketakutan dalam dirinya. Ia pun bergerak menjauh dari pintu hingga ke jendela kamarnya. Siapa yang sedang mengetuk pintu kamarnya? Pertanyaan itu baru akan terjawab setelah ia mempersilakan si pengetuk pintu masuk, karena pintu kamarnya memang tidak dikunci. Kau mungkin akan terkejut kemudian tertawa begitu si pengetuk pintu memperkenalkan diri.

Adakah cermin yang mampu mempertontonkan pantulan yang membuat kita tampak jauh lebih cantik atau tampan dari wujud asli? Cermin yang dimaksud hanya ada dalam cerpen berjudul Cermin. Wono, laki-laki berwajah buruklah yang memiliki cermin itu sebagai warisan dari ayahnya yang sudah meninggal dunia. Wono mengagumi Maila tapi selalu minder jika berhadapan dengan perempuan tercantik di desanya itu. Meskipun sudah cantik tanpa membutuhkan cermin untuk penegasan, Maila tergoda untuk melihat wajahnya tampak jauh lebih cantik di depan cermin. Ia pun mengadakan sayembara. Bagi siapa yang bisa membawakan cermin yang diinginkannya, apa pun akan diberikannya pada orang itu. Maka Wono menggali cermin yang telah dikuburkannya dan membawanya kepada Maila. Cermin adalah sebuah kisah yang diracik dari elemen dongeng, komedi, dan tragedi. Cermin mungkin akan memperlihatkan kelebihan-kelebihan lahiriah kita, tapi hati-hati dengan narsisme yang bisa muncul karena pantulan cermin.

Malaikat mengisahkan kesedihan yang dirasakan seorang ibu. Cerita tentang malaikat yang disampaikan Ibu Guru selalu menyita perhatian Lou. Tapi tidak bisa memberikan bayangan jelas di benaknya seperti apa rupa dan wujud malaikat. Saat Lou dirawat di rumah sakit karena demam berdarah dan Ibu Guru tidak menjenguk untuk bercerita tentang malaikat, Lou memutuskan menggambar malaikat versinya sendiri. Siapa sebenarnya malaikat? Apakah hanya sekadar makhluk bersayap penghuni surga? Ternyata, bagi seorang ibu, anaknya pun adalah malaikat, yang didatangkan Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya.

Awalnya laki-laki penulis surat dan Fa dalam cerpen Surat Untuk Fa adalah sepasang sahabat. Tapi lalu, persahabatan mereka berkembang menjadi cinta. Sayangnya, si laki-laki terlalu pengecut untuk menjelaskannya dan Fa terlalu takut untuk mengakuinya. Kelamaan dipendam, mereka tak mampu menahan perasaan dan mewujudkannya dengan kecupan yang panjang dan dalam. Anehnya, setelah kecupan itu, hubungan mereka pun merenggang. Bukan sahabat, bukan kekasih. Fa meninggalkan kota tempat tinggal mereka, pindah ke tempat lain, dan menghindar. Sepuluh tahun lamanya si laki-laki menulis surat untuk Fa dan tidak pernah menerima balasan. Apa salahnya? Ia memang telah menyatakan cintanya pada Fa. Tapi Fa terlalu mandiri, ingin mengurus semuanya sendiri, dan tidak membutuhkannya. Salahkah dia kalau akhirnya menjalin hubungan dengan perempuan lain, yang membutuhkannya?

"Selalu empat putaran. Setiap hari. Hanya empat putaran berlari keliling boulevard kampus pada pukul lima lewat tiga puluh pagi. Kurang dari itu, saya malu. Lebih dari itu, saya tidak mampu," kata pemuda bertubuh gemuk dalam cerpen Hanya Empat Putaran (hlm.121). "Aku perempuan. Dan aku bisa berlari lebih jauh daripada pria mana pun di dunia ini. Tidak pernah empat putaran. Itu terlalu memalukan," kata gadis yang mengamati empat putaran yang dilakukan si pemuda gemuk itu. Mereka tidak saling mengenal dan berlari untuk tujuan berbeda. Tapi empat putaran yang dilakukan si pemuda gemuk itu ternyata menjadi penyelamat bagi gadis itu. "Selama ini, aku pikir aku butuh lebih dari empat putaran. Butuh berkali-kali lipat empat putaran untuk melupakan luka itu. Namun ternyata aku hanya butuh empat putaran. Tepat empat putaran, untuk menemukan kamu yang baru dan memberikan arti lagi pada setiap langkahku." (hlm. 130).

Seorang gadis hadir di kafe setiap malam dan memperhatikan seorang pianis laki-laki membawakan lagu-lagu Diana Krall. Karena dipikirnya si gadis sangat menikmati lagu The Girl from Ipanema (dibawakan Diana Krall menjadi The Boy from Ipanema), sang pianis selalu membawakan lagu ini. Tidak bisa disangkal lagi, sang pianis jatuh cinta pada gadis yang tak dikenalnya itu. Bahkan setelah si gadis menghilang dan tidak pernah muncul lagi di kafe, bahkan setelah laki-laki itu meninggalkan pekerjaannya di kafe untuk mengejar karier dan popularitas. Semalam dengan Diana Krall, sungguh sebuah cerpen mengharukan yang membangkitkan harapan akan cinta sejati.

Kekasih laki-laki dalam cerpen The Beautiful Stranger meninggalkannya karena jatuh cinta pada orang asing yang baru dijumpainya beberapa kali. Laki-laki itu nyaris tidak percaya. Semudah itu kekasihnya pindah ke lain hati? Ya, semudah itu, jawab mantan kekasihnya. "Bisa kalian bayangkan betapa hancurnya perasaan saya mendengar jawaban dan alasannya itu? Jatuh hati pada orang asing? Oh, please! Sungguh konyol!"  (hlm. 150). Tapi benarkah jatuh hati pada orang asing yang baru dijumpai itu sungguh konyol? Saat ia pergi ke Starbucks, menikmati iced hazelnut latte, dan merampungkan pekerjaannya, ia akan mendapat jawaban bagi dirinya sendiri.

Bagi si perempuan, laki-laki yang menjadi temannya itu adalah Red Velvet. Karena selain penggemar warna merah, laki-laki itu berjanji akan membelikan red velvet cake bagi si perempuan bila bukunya diterbitkan. Bagi si laki-laki, perempuan itu adalah Bubur Cikini, tempat mereka pertama kali bertemu kemudian menjalin pertemanan. Setelah pertemuan demi pertemuan, Red Velvet tidak bisa mengingkari perasaannya. Ia mencintai Bubur Cikini dan perempuan itu pun tampaknya mengimbangi perasaannya. Tapi apakah kedua karakter cerpen Semangkuk Bubur Cikini dan Sepotong Red Velvet ini berpeluang menjadi sepasang kekasih?  

Hampir tidak ada tema baru dalam lima belas cerpen Bernard Batubara yang dihimpun dalam kumcer ini. Semua cerpennya masih membincang tentang cinta, keluarga, dan problematika kehidupan yang mencetuskan kesedihan yang sudah kerap diangkat dalam banyak karya fiksi. Tapi membaca cerpen-cerpennya bukan berarti akan membuat kita terjebak dalam kekecewaan. Bagaimanapun Bernard Batubara memiliki teknik penyajian dengan kekuatan merangkai kalimat dan pemilihan diksi yang mahir dan anggun. Semua cerpen dihadirkan dalam kesegaran rangkaian kalimat  indah, puitis tapi tidak hiperbolis. Alhasil, meskipun hampir semua tema yang diusungnya tergolong mainstream, dengan mudah bisa dinafikan oleh kemampuannya berkisah. Kelemahannya hanya terletak pada penggunaan lebih dari satu narator orang pertama dalam satu cerpen tapi tidak menunjukkan kekhasaan suara masing-masing narator.

Kesedihan adalah warna dominan dalam kumcer ini. Selain Tikungan dan Pintu yang Tak Terkunci, kesedihan melekat dalam dalam cerpen-cerpen lainnya. Tapi tidak semua kesedihan yang ada bersifat kekal dan menyesakkan. Terkadang diawali dengan kesedihan, para karakter dalam beberapa cerpen akan menjemput kebahagiaan.

Jika diminta memilih cerpen yang paling mengesankan dalam kumcer ini saya akan memilih Semalam dengan Diana Krall dan Cermin. Cerpen pertama sangat mengharukan dan indah, sedangkan yang kedua, selain sangat orisinil, merupakan dongeng modern dengan ending yang membuat saya tercekat.






Tentang Pengarang:

Bernard Batubara yang dipanggil Bara, lahir 9 Juli 1989 di Pontianak. Ia mulai giat menulis pada pertengahan 2007. Buku-bukunya yang sudah diterbitkan adalah Angsa-Angsa Ketapang (kumpulan puisi, 2010), Radio Galau FM: Frekuensi Patah Hati & Cinta yang Kandas (kumpulan cerita, 2011), dan Kata Hati (novel remaja, 2012). Radio Galau FM: Frekuensi Patah Hati & Cinta yang Kandas dan Kata Hati telah difilmkan dengan judul sama oleh Rapi Films. Milana: Perempuan yang Menunggu Senja (2013) adalah buku keempat sekaligus kumpulan cerpen sastra pertamanya. Sebelumnya, Bara telah menyertakan cerpen Kemenangan Apuk dalam antologi cerpen sebelas pengarang bertajuk Singgah (2013).


01 May 2013

Negeri di Ujung Tanduk



Judul Buku: Negeri di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Tebal: 360 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, April 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 





Setahun setelah Thomas berjuang menyelamatkan Bank Semesta, ia telah menambahkan unit bisnis dalam perusahaan konsultannya. Jika dulu ia hanya fokus mengurus strategi keuangan dan instrumen investasi, sekarang Thomas merambah dunia politik. Menjadi konsultan strategi politik, Thomas telah berhasil mengantar dua kliennya memenangkan pemilihan gubernur. Ia sukses menunjukkan bahwa kompetisi politik bisa dimenangkan dengan kalkukasi yang cermat. 
 
Bagi Thomas sendiri, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, sebuah industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia. (hlm. 20). "Sebagaimana sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih. Anda boleh saja tidak sependapat. Silakan. Tetapi saya dibayar mahal memoles omong kosong tersebut, menjualnya, dan simsalabim, menjadi king maker, mendudukkan orang-orang di kursi kekuasaan." (hlm. 20-21).
 
Setahun sebelumnya, setelah kasus penyelamatan Bank Semesta, dalam penerbangan menuju London, Thomas bertemu JD, mantan wali kota dan gubernur yang dikenal sebagai figur muda yang sederhana dan bersih. Pertemuan itu menjadi momen penting dalam hidup Thomas.  Percakapan dengan JD menginspirasi Thomas untuk terlibat dalam dunia politik.
 
"Kau tahu, Thomas, masalah terbesar bangsa kita adalah penegakan hukum. Hanya itu. Sesederhana itu," kata JD (hlm. 113). "Penegakan hukum adalah obat paling mujarab mendidik masyarakat yang rusak, apatis, dan tidak peduli lagi. Penegakan hukum adalah kunci semua masalah. Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas." (hlm. 114 & 116).
 
Dalam sosok JD Thomas menemukan jawaban dari pertanyaan yang melindap dalam benaknya terkait sosok politikus dengan kemuliaan dan kelurusan hati bak Gandhi atau Nelson Mandela. Maka, Thomas pun menawarkan diri menjadi konsultan strategi demi mewujudkan penegakan hukum yang dikehendaki JD. Dan karena presiden merupakan pemilik komando tertinggi bagi penegakan hukum di Indonesia, cita-cita JD hanya bisa direalisasikan dengan menjadi presiden.
 
Menjelang konvensi partai yang akan mengumumkan secara resmi kandidat presiden dari partai yang menominasikan JD, mendadak terjadi terjadi peristiwa yang tidak diantisipasi Thomas sebelumnya. Terjadi ekskalasi besar-besaran dari peserta konvensi yang ditandai dengan manuver raksasa yang dilakukan pihak lawan JD. Situasi yang berkembang tidak terduga itu membuat JD meminta Thomas yang berada di Hong Kong untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum Thomas meninggalkan Hong Kong, seusai konferensi mengenai komunikasi dan pencitraan politik, ia ditangkap satuan khusus antiteror otoritas Hong Kong. Di dalam kapal yang digunakan Opa dan Kadek menjemput Thomas di Makau, ditemukan seratus kilogram bubuk heroin serta setumpuk senjata api dan peledak. Tidak ada hipotesis lain yang terbentuk di benak Thomas selain bahwa kejadian ini adalah salah satu agenda serius yang dijalankan pihak lawan JD. Ditahannya Thomas di Hong Kong, membuat ia tidak bisa hadir di konvensi partai. Untunglah ada Lee, pengusaha Hong Kong yang dikalahkannya dalam pertarungan di Makau. Lee berhasil meloloskan Thomas dan mengatur perjalanan pulang Thomas ke Indonesia. Setibanya di Jakarta, Thomas disambar berita penangkapan kliennya. JD ditetapkan sebagai tersangka korupsi megaproyek tunnel raksasa selama menjabat sebagai gubernur ibu kota. Penangkapan itu tak pelak lagi disinyalir Thomas sebagai upaya pembunuhan karakter untuk mencemarkan reputasi cemerlang JD. Kemungkinan besar, JD akan didiskualifikasi dari kandidat calon presiden partai. 
 
Maka sebelum notifikasi pelariannya dari Hong Kong menyebar ke seluruh jaringan interpol dunia dan menobatkannya menjadi buruan internasional, Thomas harus bergerak cepat memperjuangkan nasib kliennya. Ia harus pergi ke Denpasar untuk melakukan konsolidasi para pendukung JD. Tapi hal itu pun tetap tidak mudah. Karena seperti dugaan Thomas, ada kelompok yang disebutnya sebagai mafia hukum, bergerak di belakang setiap kejadian itu.
 
Apakah Thomas bisa menghadiri konvensi partai dan mengembalikan kepercayaan semua pendukung JD? Thomas, mau tak mau, mesti merancang sebuah plot untuk bisa menghadapi tekanan demi tekanan mematikan yang dihadapinya. Tidak hanya berupaya membawa keluar seorang saksi mahkota dari tahanan kepolisian, Thomas pun menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi, untuk menjalankan rencananya. Hingga pada akhirnya ia menyadari, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan para pendiri benteng kekuasaan yang mampu melakukan apa saja demi pencapaian tujuan mereka. Dan sebagai pemimpinnya adalah bedebah yang menyeruak dari puing-puing masa lalu Thomas.
 
Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye adalah sekuel dari Negeri Para Bedebah. Seperti yang disebutkan sebelumnya, kejadian dalam novel ini berlangsung setahun setelah kejadian dalam prekuelnya. Sekali lagi, Tere Liye berhasil membesut sebuah kisah suspense thriller yang mengalir lancar dengan kejutan demi kejutan yang telah dipersiapkan dengan matang. Tere Liye menggunakan teknik berkisah yang tidak berbeda dengan yang dilakukannya dalam Negeri Para Bedebah. Setelah memunculkan permasalahan di bagian awal novel, kegentingan situasi diciptakan untuk membawa sang karakter utama mengerahkan semua kemampuannya untuk memutuskan rantai kejahatan yang menantang nyalinya. Di penghujung upayanya sebagai tokoh pahlawan, ia diperhadapkan dengan kejutan yang membuatnya limbung sekaligus kian berkobar amarahnya. Tapi sebagaimana dalam prekuelnya, sang protagonis tetap akan diberikan kemenangan, dan jalan menuju ke sana, selalu datang secara tak terduga. 
 
Thomas memang hanya melakukan apa yang dipikirkannya sebagai tanggung jawabnya sebagai seorang konsultan strategi. Tapi sebenarnya ia telah menunjukkan sebuah sikap, yang tidak disadarinya, sampai seseorang mengingatkannya, tepat di bagian pamungkas novel. 
  
Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.
 
Begitu juga hidup ini, Thomas. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini penuh dengan kehormatan. Kehormatan seorang petarung. (hlm. 358-359).
 
Thomas dalam Negeri di Ujung Tanduk, tentu saja, masih sama seperti Thomas dalam Negeri Para Bedebah. Ia masih melakoni kesenangan bertarung, yang telah berpengaruh besar dalam pembentukan karaktenya sebagai seorang pejuang tangguh. Ia masih Thomas yang memiliki kehidupan steril cinta. Saya menduga, sampai novel ini berakhir, cinta belum menjadi prioritas Thomas, sekalipun Tere Liye menampilkan karakter perempuan menarik seperti Maryam, wartawati review mingguan yang menyusul Thomas ke Makau untuk mewawancarainya. Thomas yang ini, masih membutuhkan bantuan orang di sekitarnya untuk mendukung perjuangannya. Maka, Maggie, sang sekretaris yang cekatan, masih tetap muncul dalam novel ini. Demikian pula Rudi, polisi yang menjadi teman Thomas sejak bertemu di klub petarung Jakarta. Liem Soerja alias Om Liem, meski dalam status tahanan, bertekad membantu Thomas demi sebuah kehormatan dan penghargaan yang menghilang dari kehidupannya. Tere Liye menambahkan satu karakter pendukung yang dibutuhkan Thomas, yaitu Kris, staf khusus bagian teknologi Informasi, yang memiliki latar belakang sebagai peretas jaringan amatir. Opa dan Kadek, masih ditampilkan tapi kehadiran mereka di sini tidak menjadi elemen penting. 

Seperti dalam Negeri Para Bedebah, Tere Liye menggunakan narator orang pertama, yaitu dari sudut pandang Thomas, untuk menggulirkan kisahnya dalam novel ini. Seperti prekuelnya itu, Tere Liye suka keluar dari batasan narator orang pertama. Setidaknya ada dua kali ketika bicara di telepon dengan Maggie, Thomas  menceritakan apa yang tidak dilihatnya secara langsung. 
 
Setelah membaca Negeri Para Bedebah, sekalipun Tere Liye menghadirkan ending yang memberi kemungkinan munculnya kisah baru, saya tidak terlalu berharap kehadiran sebuah sekuel. Tapi setelah akhirnya sekuelnya diterbitkan, saya menyambut dengan ekspektasi tinggi kalau novel ini akan memuaskan saya dengan cara yang sama seperti prekuelnya. Dan ekspektasi saya memang terpenuhi. Negeri di Ujung Tanduk sukses memuaskan saya, selama membaca dan setelah menamatkan buku ini. 
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan