05 January 2014

Carrie


Judul Buku: Carrie
Pengarang: Stephen King (1974)
Penerjemah: Gita Yuliani K
Tebal: 256 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Oktober 2013
Desain dan ilustrasi sampul: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama






Carrie White adalah seorang gadis yang tidak menarik, bertubuh gemuk dan pendek dengan jerawat bertebaran di tubuhnya. Ia -sudah pasti- tidak populer dan kerap menjadi sasaran olok-olok serta penggencetan anak-anak SMA Ewen -tempat Carrie bersekolah. Saat menstruasi untuk pertama kalinya di ruang mandi sekolah pada umur 17 tahun dan tidak memahami apa yang sedang terjadi, Carrie menjadi histeris. Akibatnya, anak-anak perempuan yang berada di ruang mandi melemparinya dengan tampon dan pembalut.

Sue Snell -salah satu dari anak perempuan yang menghina Carrie di ruang mandi- merasa bersalah atas apa yang dilakukannya pada Carrie. Untuk menebus kesalahannya, Sue meminta Tommy Ross, pacarnya, mengajak Carrie menghadiri malam prom. Melihat keseriusan Tommy, Carrie menyambut ajakannya dan mempersiapkan diri untuk hadir pada Pesta Dansa Musim Semi itu. Bahkan, ia menjahit sendiri gaun yang akan dikenakannya dan mengabaikan ketidaksetujuan Margaret White, ibunya.

Baik Carrie maupun Tommy serta Sue tidak menyadari kalau Chris Hargensen -salah satu siswi yang kerap menggencet Carrie- telah menyiapkan sebuah rencana busuk untuk menghancurkan Carrie. Malam Prom yang berpeluang membuat Carrie tampil sebagai gadis normal melahirkan petaka berskala besar yang tidak saja memorakporandakan sekolah melainkan juga kota tempat tinggal mereka, Chamberlain (Maine). Para penggencet yang bertindak kelewat batas tidak tahu Carrie memiliki kemampuan yang bersifat destruktif, dan mereka sukses memunculkannya dengan mempermainkan sisi psikologis Carrie yang rapuh.

Carrie terlahir dengan kemampuan telekinesis. Ia bisa menggerakkan benda-benda dan menyebabkan perubahan di dalam benda-benda tersebut. Kemampuan telekinesis Carrie muncul karena momen negatif yang dialaminya. Insiden di ruang mandi sekolah yang memalukan menjadi pemicu yang kemudian meledak pada malam prom saat kemarahannya yang ia pendam tidak bisa dikendalikan lagi. Hasrat membalas dendam yang muncul mendadak kian memperkuat kemampuan destruksinya.

Sejatinya, Carrie ingin menjadi seorang gadis normal. Malangnya, ia dilahirkan seorang perempuan yang mengungkung diri dengan fanatisme keagamaan yang keliru. Sejak dilahirkan, Carrie sudah dianggap ibunya sebagai hukuman yang ditimpakan Tuhan padanya. Ketika melahirkan Carrie, Margaret White bahkan tidak tahu kalau mendiang suaminya telah menghamilinya -Margaret menganggap ia sedang menderita kanker di bagian kewanitaannya. Margaret tidak pernah mengajarkan anaknya mengenai menstruasi dan tidak melakukan tindakan apa-apa sehubungan dengan keterlambatan menstruasi putrinya. Malah, ketika Carrie menstruasi untuk pertama kalinya, kemarahan Margaret meledak. Baginya, Carrie telah menjadi Hawa, perempuan lemah, jahat, dan berdosa. Ia memaksa Carrie berdoa di dalam lemari untuk memohon pengampunan Tuhan.

Carrie adalah novel Stephen King yang pertama diterbitkan meskipun merupakan novel keempatnya. Diterbitkan pada tahun 1974, sesungguhnya Carrie mengisahkan kisah yang terjadi di masa depan pada saat itu (tahun 1979). King membagi Carrie ke dalam tiga bagian yang terdiri atas Olahraga Berdarah (Blood Sport), Malam Prom (Prom Night) dan Reruntuhan (Wreckage). Bagian pertama mengantar kejadian pada bagian kedua dan menghasilkan kejadian pada bagian ketiga. Itulah sebabnya, Carrie sebenarnya masih tetap bisa dinikmati seandainya King memilih menggunakan plot lempeng. Hanya saja, kemungkinan besar, dengan plot lempeng, Carrie yang awalnya direncanakan menjadi cerpen tidak akan cukup tebal untuk diterbitkan sebagai novel. Untuk mempertebal Carrie, King menggunakan teknik epistolari yaitu dengan menggabungkan elemen seperti surat, berita koran dan majalah, kutipan buku, jurnal ilmiah, artikel, hasil penyelidikan dan buku catatan sekolah. Alhasil, Carrie bisa hadir sebagai novel dan tetap tidak membosankan dibaca. Teknik epistolari tidak menghalangi plot utama Carrie untuk bergerak cepat dalam suasana yang mencekam dan menegangkan. King sukses menumbuhkan rasa penasaran untuk tetap setia membaca hingga kisahnya ditamatkan. Setelah meletakkan Carrie, ada dua kesan dominan yang terasa: tragis dan mengerikan. 

Carrie telah dua kali diadaptasi menjadi film layar lebar. Yang pertama digarap oleh Brian de Palma (1976) dengan Sissy Spacek sebagai Carrie dan Piper Laurie sebagai Margaret. Yang kedua diarahkan oleh Kimberly Peirce (2013), menampilkan Chlo─ô Moretz sebagai Carrie dan Julianne Moore sebagai Margaret. Film layar lebar kedua ini beredar pada bulan Oktober 2013 dan Gramedia Pustaka Utama memanfaatkan momen ini dengan menerbitkan Carrie pertama kalinya dalam bahasa Indonesia. 



3 comments:

mia said... Reply Comment

Tragis dan kasihan kalau saya Mas, seharusnya Carrie bisa menjadi gadis biasa dengan kemampuan luar biasa tapi perlakuan lingkungan membuatnya jadi seperti itu, saya pas bagian prom night itu ga tega bacanya *pukpukCarrie*

Jody said... Reply Comment

@mia:
Sama, Mbak, bagian prom night memang keterlaluan. Tapi bagian itu yang paling penting dan menentukan dalam novel ini.

shita rahutomo said... Reply Comment

aku suka film ini. Sayang belum baca novelnya. Si Cloe mainnya bagus, ekspresinya dapat jadi bintangnya bersinar karena film ini

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan