20 February 2014

Rhapsody


Judul Buku: Rhapsody
Pengarang: Mahir Pradana
Penyunting: Ayuning
Tebal: viii + 322 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: GagasMedia





Setiap cerita memiliki sebuah event yang menjadi penyebab utama cerita itu berlangsung. Sebuah main cause. Tanpa event tertentu itu, bisa jadi keseluruhan cerita tidak akan berlangsung. Seperti halnya suatu materi pelajaran statistik, terdapat dua variabel. Variabel independen dan variabel dependen. Suatu perubahan dramatis yang terjadi pada variabel independen akan mengubah kondisi pada variabel dependen.

Dalam cerita hidupku, siapa yang menduga bahwa major cause atau variabel independennya adalah apa yang terjadi di Berlin, dua tahun lalu.

Pada malam sebelum aku bertemu dengan Agatha Carrion dan membantunya mengangkat lemari temuannya (hlm. 196-197).


Ada dua kisah utama di dalam novel Rhapsody karya Mahir Pradana. Pertama, kisah mengenai Makassar Paradise, youth hostel yang dikelola oleh Abdul Latif Said atau Al. Sedangkan yang kedua, kisah cinta Al dengan dua perempuan yang pernah singgah dalam kehidupannya. Titik singgung kedua kisah itu terjadi di Berlin, Jerman.

Makassar Paradise terletak di pesisir Pantai Losari. Awalnya merupakan hotel melati yang dikelola oleh orangtua Al. Setelah usaha tersebut kandas dan orangtuanya meninggal, Al yang adalah lulusan sekolah perhotelan di Swiss, memutuskan mengubah hotel melati itu menjadi hostel. Sebagai pecinta traveling, Al telah berkelana ke beberapa negara Eropa, dan selalu dengan anggaran terbatas. Hostel telah menyelamatkannya, dan itulah sebabnya muncul keinginan untuk membuka hostel sendiri.

Makassar Paradise adalah bangunan berlantai empat dan memiliki enam belas kamar, yang masing-masing berukuran lima kali lima meter. Lantai satu terbagi atas lobi resepsionis dan social room, sedangkan lantai dua, tiga, dan empat  dijadikan kamar, setiap lantai memiliki empat kamar (sehingga jumlah kamar seharusnya dua belas, bukan enam belas). Masing-masing kamar diisi oleh empat bunk bed atau tempat tidur susun dan bisa menampung total tamu 108 orang dalam satu malam (hlm. 14).

Membuka usaha hostel tidak semudah yang dibayangkan Al. Selama tiga bulan sejak dibuka, tidak banyak pelancong yang mampir di Makassar Paradise. Usaha itu baru berkembang, bahkan kemudian go international, ketika Miguel Luis Carrion Martinez muncul di hostel itu.

Miguel datang dari Madrid, Spanyol, untuk bertemu Al. Ia adalah putra dari Agatha Carrion, perempuan yang pernah ditolong Al di Berlin, Jerman, dua tahun sebelumnya. Miguel tergerak membantu Al karena berpikir sedang menjalankan konsep banco de favores atau bank budi yang dipopulerkan oleh pengarang terkenal Paul Coelho. Ia bahkan memutuskan menetap di Makassar.

Saat bertemu Agatha Carrion secara tidak sengaja, Al baru patah hati. Nadia Puspita, kekasihnya yang kuliah di Berlin, memiliki laki-laki lain dalam hidupnya. Al sangat terpukul lantaran kenyataan ini baru terungkap setelah mereka berdua traveling keliling Eropa. Luntang-lantung di Berlin, ia bertemu dengan Agatha Carrion yang membutuhkan pertolongannya. Agatha berasal dari Spanyol dan pindah ke Berlin setelah bercerai dengan suaminya.

Masih belum bisa melupakan Nadia, Al membuka hostel Makassar Paradise. Kenangan bersama Nadia selalu menghampirinya, hingga Sari Desiana, teman sewaktu SMP, muncul di hostelnya untuk menginap selama berada di Makassar. Mereka pernah berpacaran tapi berpisah karena ayah Sari dipindahtugaskan. Mereka menjalani long distance relationship yang hanya bertahan empat bulan. Enam tahun setelah perpisahan mereka, Sari muncul lagi dan membangkitkan kembali cinta yang telah lama terkubur. Sari berhenti dari pekerjaaanya dan memutuskan mengadakan traveling. Ia berniat mewujudkan salah satu bucket list-nya, yaitu pergi ke Selayar dan mencoba diving

Harapan Al melambung, dan sempat merasa cemburu pada Miguel tatkala laki-laki Spanyol itu menemani Sari pergi ke Selayar. Tapi ketika ia menyatakan cintanya pada gadis itu, Sari menolak. Sari beralasan belum siap menjalani LDR dan tidak mau pacaran dengan seseorang yang belum bisa move on dari cinta lamanya. Sekali lagi, Al patah hati.

Patah hati ditolak Sari tidak menjadi pukulan terakhir bagi Al. Masih ada dua kenyataan pahit yang akan memukul mundur semangatnya. Al terpaksa menghentikan operasi hostelnya, bahkan kemudian memutuskan untuk melego peninggalan orangtuanya itu.

Apakah Makassar Paradise benar-benar tidak bisa bangkit lagi? Benarkah nasib bisnis Al akan menjadi sama dengan cintanya pada Sari?

Pengarang telah menyiapkan kejutan di bagian-bagian akhir novelnya. Kejutan yang berpotensi menyelamatkan usaha Al, hidup, dan cintanya. Seperti apa kejutan dan efek yang ditimbulkannya, tentu saja bisa diketahui dengan membaca sendiri novel Mahir Pradana ini.

Selain Al, Miguel, Nadia, dan Sari, dalam novel ini kita akan menemukan karakter-karakter pendamping yang cukup memeriahkan novel. Sebut saja Bebi, waria bernama asli Bambang yang sebelum membantu Al di Makassar Paradise bekerja di salon milik Siska. Bebi adalah pemakai Okkots –gaya bahasa Makassar seperti menyebut ikan sebagai ikang dan ujung menjadi ujun- yang sulit disembuhkan. Ditambah status kewariaannya, Bebi akan meramaikan setiap perbincangan yang melibatkan dirinya. Siska yang bernama asli Siti Zulaikha adalah kakak perempuan Al. Ia sempat menikah dengan seorang laki-laki Australia. Setelah pernikahannya karam, Siska kembali ke Makassar dan membuka salon. Tanpa diketahui adik laki-lakinya, Siska diam-diam menjalin hubungan dengan seorang laki-laki berstatus duda yang mencintainya dan siap membuktikan cintanya. Selain Bebi, Al juga mempekerjakan Simon Raharjo, mahasiswa sok imut yang mengisi posisi tour guide. Simon bertugas memandu para pelancong mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah di Makassar. Setiap berbicara, Simon membahasakan dirinya sebagai ‘Simon’ bukan ‘aku’ atau ‘saya’.

Kisah digulirkan dalam alur gabungan, alur maju yang sesekali disela dengan kilas balik. Kilas balik, khususnya, terjadi ketika Al mengenang kembali perjalanan traveling-nya di Eropa bersama Nadia dan cintanya pada perempuan itu yang berakhir patah hati. Dan tentu saja, pertemuannya dengan ibu Miguel. Berlin, Madrid, Kopenhagen, Paris, adalah kota tempat kenangan-kenangan Al kembali.

Sebenarnya, setiap kisah yang disampaikan Mahir Pradana telah disimpulkan dalam setiap Lesson of Life yang disematkannya sebanyak 11 kali.

1. Do your best to hang on to your dream!
2. Strangers are just families you haven't met.
3. Dream needs to be decorated.
4. Do not look for an exit strategy! You better try to find a commitment strategy.
5.  Love is not an easy thing. Be prepared!
6.  Everybody loves a joker, but nobody likes a fool.
7.  Every dream has a deadline. Then a good dreamer must ignore the deadline.
8. There will always be trouble that makes you so angry that you want to burn the world down. But if the world is burned, where will you live?
9. Miracle can happen twice if you don't stop believing in it.
10. The world is  a compilation of dreams that have come true.
11. The most wonderful moments in life is when our dreams finally come true.

Selain memberikan kisah yang cukup menarik disimak, dengan novel ini Mahir tampaknya bertujuan untuk lebih memperkenalkan Makassar kepada orang-orang di luar Makassar. Ia mencoba merayu pembaca untuk menjadikan Kota Anging Mamiri itu sebagai tujuan wisata. Tidak heran ia menyebutkan tempat-tempat tujuan wisata seperti Fort Rotterdam, Lapangan Karebosi, Monumen Mandala, Pantai Losari, Pulau Selayar, Toraja, Pulau Kayangan, Pulau Samalona, Tanjung Bira, museum kota dan gedung Societeit de Harmonie, Jalan Somba Opu dengan toko suvenirnya, Masjid Raya Makassar. Ia pun tidak lupa mengingatkan pembaca mengenai warisan budaya seperti Il la Galigo, salah satu literatur tertua di dunia yang berasal dari Sulawesi Selatan, kisah epik yang memaparkan kehidupan dewa dan manusia menurut budaya Bugis. Kekurangannya mungkin terletak pada sedikitnya makanan khas Makassar yang ditampilkannya.

Dibanding novel perdananya, Here, After (2010), Rhapsody memang masih kalah menarik. Meskipun demikian, novel ini tetap enak dibaca dan terasa menghibur. Keberadaan Bebi yang waria dan Simon yang sok imut tak ayal akan membuat kita tersenyum-senyum selama membaca.


2 comments:

Peri Hutan said... Reply Comment

lama banget nggak baca resensi mas Jody, seperti biasa resensinya lengkap dan jelas :)

Jody said... Reply Comment

@Peri Hutan:
Terima kasih Sulis. Aku malah sering nengok blog Sulis setiap kali di-update :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan