Showing posts with label Vikas Swarup. Show all posts
Showing posts with label Vikas Swarup. Show all posts
13 February 2012

Six Suspects


Judul Buku: Six Suspects
Pengarang: Vikas Swarup
Penerjemah: Rini Indradini
Tebal: x + 662 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Mei 2010
Penerbit: Bentang






Six Suspects adalah novel Vikas Swarup, pengarang India yang sebelumnya telah menerbitkan dan menikmati kesuksesan karya perdananya, Q&A –yang difilmkan dengan judul Slumdog Millionaire. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa dan akan difilmkan menyusul pendahulunya. Six Suspects adalah novel misteri pembunuhan yang ditulis dengan cara yang tidak biasa.

1. Pembunuhan
Arun Advani, seorang jurnalis investigasi, menulis dalam kolomnya: "Tak semua kematian setara. Dalam kematian pun ada sistem kasta. Penarik becak miskin yang ditikam sampai mati tidak lebih dari statistik, terkubur di halaman-halaman koran. Namun, pembunuhan seorang selebriti seketika menjadi berita utama. Karena orang-orang yang kaya dan terkenal jarang dibunuh. Mereka menjalani kehidupan bintang lima dan, kecuali mereka overdosis kokain atau mengalami kecelakaan ganjil, umumnya meninggal dalam kematian bintang lima ketika mereka sudah ubanan, setelah memilik banyak keturunan dan harta benda." (hlm. 4).

Vivek "Vicky" Rai, seorang industrialis muda dengan kehidupan ala selebritas, mati sebelum ubanan. Ia adalah putra Menteri Dalam Negeri Uttar Pradesh yang tersohor karena berkali-kali lolos dari jerat hukum, kendati melanggar hukum. Pernah menggilas mati enam orang pengemis dalam keadaan mabuk dan membunuh dua rusa hitam liar di sebuah suaka margasatwa, namun mendapatkan putusan tidak bersalah. Pada ulang tahunnya yang ke-25, ia membunuh Ruby Gill, mahasiswi doktoral Universitas Delhi yang bekerja paruh waktu di restoran tempat dilaksanakannya pesta ulang tahun. Ruby Gill ditembak mati lantaran menolak memberikan segelas tequila yang diminta Vicky. Kasus pembunuhan ini menyedot perhatian publik, hingga akhirnya, Vicky mendapatkan kembali impunitasnya. Putusan tidak bersalah kali ini dipestakan di rumah peternakannya di Mehrauli, pinggiran New Delhi. Di sana, ia mati dengan cara sama yang digunakannya membunuh Ruby Gill.

2. Tersangka
Arun Advani menulis lagi: "Para tersangka sangat beragam, kumpulan aneh yang terdiri dari si jahat, si cantik, dan si buruk rupa." (hlm. 9).

Polisi di TKP segera bertindak, menggeledah semua tamu. Enam orang ditetapkan sebagai tersangka, karena mereka membawa senjata api. Mohan Kumar, mantan Sekretaris Kepala Negara Bagian Uttar Pradesh yang dikenal sebagai koruptor dan pemburu wanita. Mr. Rick Myers, orang Amerika bebal yang mengaku sebagai produser Hollywood. Jiba Korwa, pemuda kulit hitam dengan tubuh setinggi lima kaki, berasal dari Jharkand dan dicurigai bagian dari kelompok Naxalite―gerakan revolusioner India yang ingin menggulingkan pemerintahan demokratis dan menggantikan dengan kepemimpinan garis keras― yang pernah mengancam akan membunuh Vicky terkait proyek Zona Ekonomi Khusus.  Munna Mobile, sarjana pengangguran, anak wanita tukang sapu kuil di Mehrauli, yang mendapatkan uang dengan jalan mencuri telepon seluler. Jagannath Rai, si Menteri Dalam Negeri, ayah kandung Vicky, seorang politisi ambisius. Shabnam Saxena,  satu-satunya wanita, aktris Bollywood dengan kemolekan yang menggelarinya "Mimpi Basah Nomor Satu". Ia digosipkan sedang digilai Vicky Rai.

Arun Advani melanjutkan: "Pembunuhan mungkin kusut, tapi kebenaran lebih kusut. Mengikat ujung-ujung yang terurai pasti sulit. Sejarah hidup keenam tersangka perlu disisir. Motif harus ditetapkan. Bukti perlu disusun. Dan baru setelah itu kita dapat menemukan pelaku sesungguhnya." (hlm. 10).

3. Motif

Mohan Kumar: Pensiunan Birokrat
Mohan Kumar mengatasi post power syndrome dengan bergiat sebagai anggota dewan enam perusahaan Vicky Rai dan memelihara wanita simpanan. Pasca menghadiri acara pemanggilan arwah Mahatma Gandhi, ia ditengarai mengidap kepribadian ganda, ada kalanya mengakui dirinya si Bapak Bangsa. Layaknya Gandhi, Mohan bersikap penuh kemuliaan: berpantang seks, berhenti mengonsumsi daging dan alkohol, serta berbusana laksana Mahatma Gandhi. Alhasil, ia menyandang julukan "Gandhi Baba" dan direkomendasikan menerima Nobel Perdamaian. Menanggapi kasus kematian Ruby Gill, Mohan berkata, "Dia adalah muridku yang terhebat. Dia sedang mengerjakan studi doktoral mengenai ajaranku sebelum hidupnya dengan tragis diakhiri terlalu dini." (hlm. 134). Selanjutnya, ia pun menandaskan, "... Aku selalu berpendapat bahwa ketika hanya ada pilihan antara kepengecutan dan kekerasan, aku lebih memilih kekerasan. Jauh lebih baik membunuh seorang pembunuh daripada membiarkannya membunuh lagi. Orang yang sukarela menerima ketidakadilan sama bersalahnya seperti orang yang melakukan ketidakadilan itu."  (hlm.192).

Shabnam Saxena: Aktris Bollywood
"Para pria di India menggolongkan perempuan ke dalam dua kategori―bisa dipakai dan tidak bisa dipakai. Perempuan yang disakralkan adalah ibu dan saudara perempuan mereka. Sisanya adalah hidangan bagi impian mesum dan fantasi mereka saat masturbasi," kata Shabnam Saxena (hlm. 40), si dewi seluloid pengagum Nietzsche. Sebagai wanita asal wilayah terpencil, walaupun tersohor, ia memiliki kebaikan hati. Ia mengundang Ram Dulari, seorang gadis asing berparas cantik ke dalam rumah, dan mengubah si gadis melalui Proyek Cinderella yang digagasnya. Kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan yang berpotensi menghancurkan reputasinya. Di tengah problem yang menguras pikiran, adik perempuannya tersandung masalah. Solusinya hanya Vicky Rai. 

Mr. Rick Myers: Produser Hollywood
Bernama asli sama dengan salah satu pencipta Google―Larry Page, operator forklift asal Texas ini bodoh bukan kepalang. Ia datang ke India untuk menikahi sahabat penanya. Sebelum tiba di New Delhi, ia tahu telah ditipu. Ternyata, wanita idamannya telah mengirimkan foto-foto aktris Bolywood paling menggiurkan, Shabnam Saxena, sebagai dirinya. Tongpes, dipecat dari pekerjaan, kehilangan paspor, menggiring Larry dalam pusaran aksi penculikan kelompok teroris Al Qaeda. Kemujuran memihaknya, ia berkesempatan menjumpai Shabnam Saxena, di pesta pembebasan Vicky Rai.

Munna Mobile: Pencuri Ponsel
Meskipun bergelar sarjana, Munna Mobile tidak punya pekerjaan tetap. Mencuri telepon seluler dengan target utama mobil yang berhenti di lampu merah, menjadi pilihannya. Lantaran aksi pencuriannya, ia menemukan sebuah koper berisi uang 75 lakh (±150 miliar rupiah). Uang itu bak katalisator untuk mewujudkan mimpi-mimpi Munna, termasuk cinta kepada gadis cantik bernama Ritu. Nasib sangat suka mempermainkan Munna. Koper itu direbut darinya dan kekasihnya disiksa. "Cinta bisa membuatmu buta, tetapi keputusasaan bisa membuatmu nekat. Kuputuskan untuk membeli pistol," kata Munna (hlm. 268).

Jiba Korwa: Adivasi dari Jarkhand (?)
Eketi memperoleh nama Jiba Korwa dari Ashok Rajput, tanpa tahu konsekuensinya. Pemuda suku Onge―sebuah suku di Andaman Kecil, Teluk Bengali―pergi ke India bersama Ashok untuk mencari relik milik suku yang dicuri. Tanpa relik yang disebut ingetayi itu, suku Onge tidak akan bebas dari musibah, dan siapa pun yang menyimpan ingetayi, dan bukan suku Onge, akan tertimpa malapetaka. Seraya menebar kutukan, ingetayi berpindah tangan hingga meribetkan Eketi. Sempat terpisah dari Ashok, Eketi bergabung kembali dengan si pegawai Depsos pergi ke Mehrauli. Menurut Ashok, yang sebenarnya punya agenda pribadi, ingetayi ada di tangan Vicky Rai.  

Jagannath Rai: Politisi Ambisius
Jagannath Rai tidak pernah puas dengan jabatannya. Ambisi monumentalnya adalah menduduki posisi Menteri Koordinator yang sangat bergengsi. Untuk melancarkan ambisinya, Jagannath tidak pantang menghalalkan segala cara, termasuk memanfaatkan jasa pembunuh bayaran. Yang membuatnya naik pitam, kendala datang dari dalam keluarganya sendiri.  Kendala itu bernama Vicky Rai yang kebebasannya disambut murka publik yang siap menjegal karier politik sang ayah. "Apa kau pernah dengar tentang Ibrahim?" tanya Jagannath kepada pembunuh bayaran-nya. "Setiap Muslim pernah mendengarnya. Dia adalah pria hebat yang siap mengorbankan putranya demi menyenangkan Allah," sahut Mukhtar Ansari (hlm. 313). 

4.  Bukti
Apa sebetulnya yang terjadi pada di sekitar tewasnya Vicky Rai?  Swarup akan mengurainya pada bagian "Bukti" di mana kita menemukan berbagai peristiwa tak terduga. Mohan Kumar akan dipulihkan dari kesurupan. Larry Page akan merasa marah seperti 'pria berkaki satu dalam pertandingan tendang pantat'. Jagannath Rai akan mengambil keputusan penting selaras konsep pengorbanan Ibrahim. Munna Mobile akan menuntaskan kesumatnya. Eketi akan melakukan penebusan dosa, dan Shabnam Saxena akan menegaskan masa depannya. Tapi, siapa yang telah menarik pelatuk dan melepaskan peluru mematikan? Bagian "Bukti" akan memberikan sejumlah kejutan, tapi belum menghadirkan jawaban.

5. Solusi
Di tengah-tengah kegemparan publik, Arun Advani menghamburkan hipotesis dalam kolomnya dan kian memanaskan situasi. Sayangnya, misteri pembunuhan terus bergulir, berbagai fakta saling sengkarut. Ada yang mesti dijadikan korban karena penyidikan terhambat menghasilkan jawaban. Ada yang menangguk keuntungan dari kegerahan situasi. Sesungguhnya, belum ada SOLUSI.

6. Pengakuan
Bagaimanapun, dalam sebuah novel, setiap misteri akan tetap terjawab. Setelah memberikan peluang yang sama bagi setiap karakter untuk mengisahkan perjalanan kehidupan mereka menuju rumah peternakan Vicky Rai, Swarup memutuskan untuk memberikan jawaban. Secara umum, gaya yang ia gunakan mengingatkan pada gaya Agatha Christie ketika menggarap beberapa novelnya. Tapi, tentu saja, Swarup menguasai teknik mutakhir untuk membuat karyanya, dari segi penulisan, menjadi lebih menggairahkan. Keenam tersangka yang dihidupkan secara karikatural diperagakan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan pembicaraan telepon dan penulisan catatan harian.

Sang pembunuh berkata, "Epos besar kita mengisahkan kepada kita bahwa, saat kejahatan merajalela, Dewa turun ke bumi untuk memulihkan kebaikan. Dengan segala hormat, itu omong kosong. Tak seorang pun turun dari kahyangan untuk membereskan kekacauan di bumi. Kau harus membersihkan kotoran itu sendiri. Kau harus melepas sepatumu, menggulung celanamu, dan mengarungi got basah berlumpur." (hlm. 651).  Untuk meligitimasi  tindakannya, ia berdalih, "Kuanggap tindakanku sebagai keadilan preventif. Tindakan seorang warga negara yang menerapkan hukum dengan tangannya sendiri ketika tindakan pihak berwenang tidaklah cukup."

Apakah Anda tahu untuk membunuh seseorang Anda butuh tiga hal?  "Motif yang kuat, nyali yang teguh, dan senjata yang bagus," kata si pembunuh (hlm. 655). Swarup menunjukkan bahwa, di India masa kini,  tidaklah sukar mendapatkan ketiganya.

Novel berakhir, kejahatan tidak.  Si pembunuh tahu, pembunuhan bisa menjadi candu (hlm. 659).

Swarup mengindikasikan diri sebagai novelis genial yang piawai meracik tragedi dan komedi kehidupan kontemporer, ke dalam kisah mentereng berlapis yang saat dibaca seakan-akan tengah mengelupas siung bawang. Seks, romansa beda kasta, budaya kekeluargaan, ritual religius, pengontaminasian keadilan, KKN, kriminalitas, ambisi politik, kutukan benda keramat, keglamoran selebritas, dan imbesilitas orang Amerika berkelindan cemerlang dan meriah. Melalui kisah yang bergerak cepat dengan dialog-dialog menggelitik, terjadi pembiakan plot yang pada gilirannya akan membentuk harmonisasi. Menghindar tipikal kisah misteri ―tanpa besutan adegan-adegan detektif guna membekuk si pembunuh― di penghujung novel,  motif dan aksi si pembunuh akan menggugat nurani kita. Menakjubkan ketika mengetahui, si korban memiliki agenda spesial pada saat dibunuh.

Selama membaca novel ini, selera humor kita akan diporot oleh keimbesilan Larry Page. Saking idiot, Larry tidak tahu kediaman presiden negaranya, tidak bisa menyanyikan "The Star-Spangled Banner" bahkan mengira lagu itu ditulis Stevie Wonder. Banyak kalimatnya yang 'kurang waras'.  Sebagai contoh: Aku rela berjalan melewati neraka dengan pakaian dalam anti-api demi dirimu/ Hidup ini bagaikan roti isi tahi―semakin banyak roti yang kaumiliki, semakin sedikit kotoran yang harus kau makan/ Pengetahuanku tentang internet tidak lebih dari pengetahuan babi tentang cara main piano/ Kau bisa memasukkan sepatu botmu ke oven, tapi itu tidak menjadikannya biskuit/ Kau membuatku lebih bahagia daripada babi yang disinari matahari. Masih ada lagi, tapi sudah cukuplah untuk memberi gambaran kalau pengarang suka mengolok-olok orang Amerika.

Kasus pembunuhan yang menggulingkan Vicky Rai dalam pertempuran opini publik didasarkan pada pembunuhan Jessica Lall, model India, di sebuah bar di New Delhi, 29 April 1999. Manu Sharma, 24 tahun, putra Venod Sharma, seorang politisi kaya,  melepaskan dua peluru; salah satunya fatal.  Selain untuk kasus pembunuhan Ruby Gill, kisah dua peluru ini juga akan mewarnai pembunuhan Vicky Rai.

Kendati mengaku sulit menulis buku ini, Vikas Swarup tetap bisa menuntaskan pada waktu senggang di tengah-tengah pekerjaannya sebagai diplomat di Afrika Selatan (2006-2009). Keuletannya berbuah manis, karena buku ini menjadi salah satu karya pengarang India modern yang laik dibaca. Bukan sekadar karena cerita dan gaya penulisan yang mengesankan, tapi juga karena seting yang memberikan pengetahuan realita kehidupan India masa kini bagi pembaca.


Catatan: Tulisan ini ditulis seperti pembagian cerita dalam buku

07 February 2012

Q n A


Judul Buku: Q & A
Penulis: Vikas Swarup
Penerjemah: Agung Prihantoro
Tebal: 458 halaman
Cetakan: 1, Desember 2006
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta




Setelah debut Khaled Hosseini yang gemilang dengan novel berjudul The Kite Runner (edisi Indonesia diterbitkan Qanita, 2006), saya berharap akan tampil lagi novel dengan daya pikat yang lebih kurang sama, meskipun berbeda tema.

Q&A, novel dengan judul hanya 3 huruf menjawab harapan saya. Dan sama dengan The Kite Runner, Q&A adalah karya debut. Tapi kali ini bukan debut seorang dokter, melainkan diplomat asal India, Vikas Swarup. Vikas Swarup pernah bertugas di Turki, Amerika Serikat, Etiopia, dan Inggris. Saat ini bekerja di Departemen Luar Negeri India di New Delhi.

Tema kemanusiaan senantiasa menyentuh hati. Apalagi kalau tema tersebut dijalin dengan apik dan rancak dalam kecerdasan bertutur sang pengarang. Q&A memilikinya. Sejak pembagian babnya yang unik sampai cara pengarang mengemukakan gagasan sudah mengindikasikan betapa sesungguhnya Q&A adalah novel yang sangat menarik, berkarakter, dan pastinya akan memberikan petualangan baca yang menggairahkan.

Ide dasar Swarup tidak lain adalah kuis Who Wants To Be A Millionaire yang sangat populer di berbagai negara, termasuk India. Di India, kuis ini dikenal dengan nama Kaun Banega Crorepati (KBC). KBC yang diproduksi oleh Star Entertainment India awalnya memakai Amitabh Bachchan sebagai host. Setelah dua musim tayang, Amitabh Bachchan meninggalkan kursi host dan terakhir dikabarkan sebagai penggantinya adalah aktor tenar Shah Rukh Khan yang adalah salah satu kontestan musim pertama. Dalam Q&A, Swarup memplesetkan acara kuis tersebut menjadi Who Will Win A Billion (W3B). Acara ini diluncurkan di 35 negara oleh perusahaan New Age Telemedia. Di India, sebagai host-nya adalah aktor kelas dua, Prem Kumar, yang memegang 29% saham New Age Telemedia cabang India.

Terdapat skenario di balik acara kuis ini yaitu tidak boleh ada yang mendapatkan 1 miliar rupee sekurang-kurangnya sebelum 8 bulan penayangan dengan asumsi selama 8 bulan sebagian besar modal sudah kembali. Tapi skenario buyar ketika Ram Mohammad Thomas, seorang pramusaji bar berusia 18 tahun bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Pihak W3B menggunakan polisi korup untuk menghancurkan kemenangan Ram.

Di tengah penyiksaan yang dilakukan polisi, muncul seorang perempuan bernama Smita Shah yang mengaku sebagai pengacara Ram. Bersama Smita, kemudian, Ram begadang semalam-malaman menonton DVD rekaman acara kuis yang belum lagi ditayangkan televisi.  Di antara acara menonton itu, Ram menjelaskan perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup Ram tidak dituturkan secara kronologis, tetapi berdasarkan bagaimana kira-kira sampai Ram yang bukan anak sekolahan bisa menjawab tepat semua pertanyaan.

Beginilah dialog Ram dan Smita pada halaman 35:
"Jadi aku harus tahu seluruh kehidupanmu untuk memahami asal-mula jawaban-jawabanmu?" tanya Smita.
"Mungkin."
"Kurasa itulah kuncinya. Bagaimanapun juga, kuis sama sekali bukan tes pengetahuan, tapi tes ingatan, tes kenangan."

Kemudian terungkaplah cerita kehidupan Ram kepada pembaca.

Pada malam Natal, 18 tahun silam, Ram ditinggalkan di depan Gereja St. Mary oleh orang tuanya, sehingga seumur hidupnya, dia tidak mengenal siapa mereka. Ram diadopsi oleh suami-istri pekerja Gereja St. Joseph, lalu ditinggalkan pada Romo Timothy, pastor gereja tersebut karena suami-istri itu berpisah. Dalam suatu kejadian yang sangat menggelikan, dia memperoleh nama dari 3 agama, Ram Mohammad Thomas.

Sejak itu, kita akan diperkenalkan dengan orang-orang yang Ram temui dalam hidupnya. Hidup yang sangat berwarna.

Romo Timothy dan Romo John yang memiliki kehidupan ganda (bab 2.000). 

Gupta, wakil kepala panti remaja yang suka melecehkan para penghuni panti kemudian menjual mereka kepada Babu Pillai yang membikin anak-anak itu cacat dan menjadikan mereka pengemis (bab 10.000). 

Neelima Kumari, mantan aktris Bolywood yang tidak pernah menikah dan terobsesi dengan kecantikan abadi. Neelima tidak ingin mati dengan wajah tua dan keriput. Dia ingin mati seperti Marilyn Monroe atau Mandhubala. Oleh karena itu, dia berdandan secantik-cantiknya dan bunuh diri dengan harapan akan ditemukan mati dalam keadaan cantik. Tetapi apa yang terjadi pada Neelima, akan membuat kita miris sekaligus geli (bab 10.000.000).

Balwant Singh, seorang prajurit desertir yang bermulut besar yang akhirnya menjadi korban mulut besarnya (bab 500.000).

Armaan Ali, bintang film pujaan sahabat Ram, Salim, yang berpenampilan ala Salman Khan, tetapi ternyata gay. Salim yang mengidolakannya secara mengejutkan menjadi korban pelecehan sang aktor(bab 1.000).

Shantaram, ahli astronomi yang hidupnya hancur karena dikhianati sejawatnya dan mencoba melakukan pelecehan seksual kepada putrinya sendiri, Gudiya (bab 5.000).

Kolonel Taylor, si manusia serbatahu yang memperlakukan pembantu-pembantu Indianya dengan semena-mena. Kolonel yang ternyata seorang mata-mata akhirnya dikalahkan oleh rasa cinta tanah air seorang remaja yang namanya mewakili 3 agama (bab 50.000).

Perampok muda yang kejam dan mesum, yang mati setelah bergumul dengan Ram di atas kereta api (bab 200.000), membuat Ram melarikan diri ke Agra, bekerja sebagai pemandu wisata di Taj Mahal, bertemu dengan Shankar seorang anak autis dan perempuan bangsawan keji bernama Swapna Devi (bab 100.000.000).

Prakash Rao, direktur perusahaan kancing yang membunuh kakaknya, yang kemudian terbunuh dengan cara yang sama dengan kakaknya di hadapan Ram, sang pramusaji bar (bab 100.000).

Selain itu kita akan diperkenalkan dengan seorang remaja yang bercita-cita menjadi aktor terkenal, keluarga yang melacurkan anak perempuan mereka, dan pembunuh bayaran yang hobi bertaruh.

Semua bersengkarut untuk memberikan kemenangan pada Ram di acara kuis W3B. Mengendap dalam kenangan Ram, dan membuatnya berhasil melewati pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan Prem Kumar.

Masalah akhirnya datang menghempas kehidupan Ram. Polisi menggaruknya dari kediamannya seolah dia seorang penjahat. Padahal Ram ikut kuis tersebut motivasinya bukan untuk mencari uang, kendati hadiahnya sangat menggiurkan. Ram hanya pernah memiliki uang terbanyak dalam hidupnya ketika mengantongi 50 ribu rupee sebagai upah kerjanya selama bertahun-tahun yang kemudian dirampas darinya. Tetapi 1 miliar rupee bukan menjadi tujuan Ram yang sebenarnya.

Apakah sesungguhnya motivasi Ram?

Temukan kejutan Swarup menjelang tutup novel. Dan Swarup tidak hanya memberikan satu kejutan saja. Sesungguhnya nyaris di sekujur novel, tiap bab yang mengikuti jumlah uang yang akan diraih jika sukses menjawab pertanyaan, ada saja gedoran Swarup. Kita bisa melihat tiap bab, kecuali bab pertama dan 2 bab terakhir, seperti cerpen-cerpen dari orang-orang yang ditemui Ram dalam hidupnya dengan kejutan pada akhir kisah.

Q&A adalah sebuah novel yang menawan dalam segala aspeknya. Ide, penokohan, plot, dan gaya bercerita berkelindan menghasilkan novel cerdas mengharukan bak campuran komedi, melodrama dengan nuansa dongeng yang mengasyikkan. Mungkin pembaca akan terkenang dengan kisah-kisah si miskin yang harus menempuh jalan panjang menuju kebahagiaan. Ada saat mata kita akan dibuat berkaca-kaca. Ada saat senyuman, bahkan tawa tidak bisa kita kendalikan. Ada saat memerihkan hati. Tetapi ada saat jenaka dan bahagia. Semua hanya mengindikasikan betapa piawainya Vikas Swarup menggiring pembaca mengikuti pesonanya yang dahsyat.

Khusus untuk edisi Indonesia, temukan kiprah Agung Prihantoro, sang penerjemah yang tidak kalah piawai dalam seleksi diksi. Mungkin ada kata-kata yang kurang akrab bagi kita, sehingga harus membuka kamus untuk mengetahui artinya. Juga ada kata-kata yang nyaris hilang ditelan waktu seperti hatta, arkian, dan syahdan. Tetapi bukannya mengganggu, kata-kata itu hanya membikin karya ini semakin kocak dan menarik saja.

Di akhir novel, jangan lupa, misteri koin keberuntungan Ram Mohammad Thomas akan diungkapkan untuk melengkapi kejutan-kejutan lainnya.
Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan