14 April 2012

I Am Number Four


Judul Buku: I Am Number Four
Penulis: Pittacus Lore (2010)
Penerjemah: Nur Aini
Tebal:493 halaman
Cetakan: 1, Januari 2011
Penerbit: Mizan Fantasi



 



Tiga sudah mati. Kematian mereka dikabarkan kepada yang masih hidup dengan bekas luka berbentuk goresan di sekeliling pergelangan kaki kanan. Daniel Jones, salah satu Garde, mendapatkan goresan pertama pada umur sembilan tahun di Arizona. Goresan kedua muncul pada umur  dua belas tahun di Colorado. Sudah dua puluh satu kali ia berpindah tempat tinggal dengan Henri, Cêpan-nya. Seiring dengan itu, namanya pun berganti-ganti. Goresan ketiga menyusul pada umur lima belas tahun ketika ia bermukim di Florida.

Mulanya mereka bersembilan manakala meninggalkan planet mereka, Lorien. Mereka bersembunyi di Bumi, berpencar ke berbagai tempat, tumbuh, dan mengembangkan kekuatan yang disebut Pusaka. Untuk membiayai hidup mereka di Bumi, mereka dibekali dengan berbagai macam permata dari Lorien. Suatu hari nanti, jika mereka tidak dibunuh, diharapkan mereka bisa membalas kekalahan Lorien. 

Lorien adalah salah satu dari delapan belas planet di jagat raya yang bisa ditempati (termasuk Bumi dan Mogadore). Sebelum hancur, Lorien adalah planet yang kaya dengan sumber daya alam. Mereka menghasilkan berbagai permata dan logam berharga. Lalu ras Mogadorian dari planet Mogadore melakukan invasi. Demi merampas sumber daya alam mereka, Mogadorian berniat membasmi semua penduduk Lorien.

Mengetahui kekuatan sembilan Garde, para prajurit Mogadorian memburu mereka ke Bumi. Sebuah mantra melindungi sembilan Garde. Sebelum mantra itu dipatahkan, mereka tidak bisa dibunuh, kecuali secara berurut.

Menghadapi ancaman prajurit Mogadorian, para Garde hidup nomaden. Daniel Jones yang kini bernama John Smith pindah ke Ohio bersama Cêpan-nya. “Aku  Nomor Empat,” kata John. “Berikutnya adalah giliranku.” (hlm. 17).

Saat berpindah tempat tinggal, barang-barang mereka ditinggalkan. Mereka hanya membawa Peti Loric yang berisi warisan John. Kecuali Cêpan-nya mati, peti itu hanya bisa dibuka bersama-sama.

Hari pertama bersekolah di SMA Paradise, Ohio, Pusaka pertama Nomor Empat muncul. Kemampuan yang disebut lumen membuat tangannya bisa mengeluarkan cahaya. Ia akan menjadi tahan api dan tahan panas. Selanjutnya, ia juga ditakdirkan memiliki kemampuan telekinesis.

Tinggal di Paradise, John menjalin persahabatan dengan Sam Goode, yang kehilangan ayahnya pada umur tujuh tahun. Untuk pertama kalinya pula, John jatuh cinta pada Sarah Hart, yang menyukai fotografi. Masa remajanya mungkin akan terasa indah jika ia tidak sedang menjadi target pembunuhan. Para Mogadorian tetap bisa melacak keberadaannya. Sehingga tidak terhindarkan lagi, ia harus bertarung dengan kemampuannya yang ada. Selain Sam Goode, John akan mendapat bantuan dari Garde lain, gadis jelita yang adalah Nomor Enam. Tidak hanya memiliki kemampuan telekinesis, Nomor Enam juga bisa memanipulasi badai, dan membuat dirinya tidak kasatmata. Trio ini akan didukung Bernie Kosar, anjing beagle yang mengikuti Nomor Empat.

Bagi manusia di Bumi, penghuni Lorien maupun Mogadore adalah alien. Alien Lorien digambarkan sama dengan manusia sehingga bisa berbaur dengan manusia. Hanya saja, mereka berumur lebih panjang. Di samping itu, mereka memiliki Pusaka berupa kekuatan supranatural. Alien Mogadorian bertubuh jangkung hingga mencapai 2,5 meter, berotot dengan urat-urat lengan bertonjolan. Mereka berkulit pucat dan berambut panjang. Paras mereka tampak berbeda karena dilengkapi mata tanpa pupil dengan lingkaran tebal dan gelap serta gigi seperti dikikir yang berkilat dengan bentuk tidak wajar pada bibir yang tampak tidak bisa ditutup. Di sini tidak diceritakan cara Mogadorian yang dalam jumlah banyak bisa berbaur di Bumi dengan penampilan  semenakutkan itu.

Kisah Garde dalam novel I Am Number Four, buku pertama The Lorien Legacies, diceritakan oleh salah satu dari sepuluh Tetua Lorien, Pittacus Lore. Pittacus adalah Tetua terkuat dan merupakan pemimpin para Tetua. Sebagai Tetua, ia menguasai semua Pusaka Lorien. Janggal rasanya, sepuluh Tetua Lorien yang menguasai semua Pusaka Lorien, bisa ditaklukkan oleh Mogadorian dan hanya berharap pada Sembilan Garde. Bukankah Sembilan Garde dengan beberapa Pusaka masih kalah unggul dibandingkan Sepuluh Tetua dengan semua Pusaka? Dalam novel, dikatakan bahwa sebelum Lorien dihancurkan prajurit Mogadorian bersama koleksi binatang buas mereka, Pittacus mengumpulkan para Tetua dan menghilang. Sungguh sangat pengecut, dengan kemampuan luar biasa dahsyat, mereka tidak melakukan apa-apa. Seperti yang disampaikan Pittacus Lore dalam Surat dari Tetua Lorien (hlm. 489-493), rupanya mereka bersembunyi di Bumi.

Nama Pittacus Lore juga disematkan sebagai penulis novel. Dengan memakai pseudonim, jati diri penulis sebenarnya disembunyikan, dan menjadi ghostwriter
 
Novel ini ditulis untuk usaha penerbitan milik James Frey, penulis yang menghebohkan dengan skandal memoar penuh kebohongan berjudul A Million Little Pieces (2003). Sebagai pemilik Full Fathom Five, Frey menjaring penulis muda yang belum pernah menerbitkan buku untuk menghasilkan novel fantasi Young Adult (YA). 
 
Jobie Hughes telah menuntaskan novel pertamanya yang bertajuk At Dawn ketika bergabung dengan proyek Frey. Jobie belum lama menyabet gelar Master of Fine Arts (MFA) di bidang creative writing dari Universitas Columbia. Sesuai isi kontrak, karena gagasan The Lorien Legacies berasal dari Frey, Hughes hanya akan mendapatkan 30% dari semua pendapatan proyek ini. (Frey akan memberikan 40% jika gagasan datang dari penulis yang direkrutnya). Kontrak juga menyebutkan bahwa Hughes tidak boleh membocorkan proyek ini kepada publik. Bila melanggar, Hughes terancam denda 250 ribu dolar.

Menerima isi kontrak tanpa konsultasi sebelumnya dengan pengacara, membuat Hughes kehilangan hak cipta atas karyanya. Ia tidak akan disebut sebagai (salah satu) penulis I Am Number Four. Mungkin, karena Hughes yang berperan besar dalam menghasilkan novel ini (dan bukan James Frey), Full Fathom Five memilih menggunakan pseudonim.

Diam-diam (tapi bisa jadi atas persetujuan Frey), Hughes menempatkan nama James Frey dan namanya ke dalam novel. Seperti rencana Henri, Cêpan-nya, Nomor Empat akan bernama James Hughes pada umur 16 tahun, dan bernama Jobie Frey pada umur 18 tahun (hlm. 298).

I Am Number Four adalah buku pertama dari The Lorien Legacies yang rencananya akan terbit sebanyak empat buku. Memilih alien sebagai karakter utama, merupakan ide James Frey untuk menelurkan novel fantasi yang berbeda. Alien mungkin telah banyak muncul dalam berbagai film, tapi tidak sering digarap dalam novel fantasi remaja. Dengan mengedepankan alien, Frey berharap akan menghadirkan karya yang tidak seperti Twilight Saga, tapi bisa mengikuti kesuksesan tetralogi Stephenie Meyer itu. 

Buku pertama Sembilan Penerus Pusaka Lorien ini ternyata menuai sukses. Bahkan diadaptasi ke dalam film. Cerita mereka pun dilanjutkan ke dalam buku kedua, The Power of Six (2011). Buku ketiga, The Rise of Nine, direncanakan terbit pada Agustus 2012.
 
I am Number Four mungkin belum terlalu seru untuk ukuran novel fantasi. Tapi kisah Sembilan Penerus Pusaka Lorien merupakan gagasan yang sangat menarik. Gagasan ini memberikan sentakan awal yang akan membuat pembaca tergerak tetap mengikuti buku berikutnya. Sehingga mau tidak mau, penulis tertantang lebih piawai mengembangkan intensitas problematika dengan bumbu aksi  yang kendati tidak terjangkau nalar, mampu melambungkan imajinasi pembaca.

Belum terlalu seru bukan berarti daya pikat novel ini berkurang. Cerita tetap mengalir lancar. Romansa berbalut cemburu  yang ada tepat dosis. Kemunculan Nomor Enam semakin memancing harapan akan cerita yang lebih seru. Keseluruhannya enak dibaca.

Edisi Indonesia hadir cukup mengesankan. Terjemahannya enak dibaca, font-nya ramah mata, dan sampulnya menghadirkan Alex Pettyfer, si tampan yang memerankan Nomor Empat dalam versi film.

Setelah menulis buku kedua, The Power of Six, Hughes hengkang dari proyek The Lorien Legacies. Buku ketiga, The Rise of Nine, yang direncanakan terbit Agustus 2012, diselesaikan tanpa campur tangan Hughes.


Catatan:
Novel ini telah saya khatamkan pada 2011, tapi tidak membuat ulasan. Awal 2012, saya membaca kembali dan menulis ulasan ini, karena telah menamatkan dan ingin mengulas buku keduanya, The Power of Six.
 

3 comments:

Yunita Prasetyo said... Reply Comment

membantu banget buat resensiku, makasih :)

Jody said... Reply Comment

@Yunita Prasetyo:
Sama-sama

Anonymous said... Reply Comment

pngen bangrt baca lanjutannya,,,

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan