28 January 2013

Pemenang The Fault in Our Stars GA





Selamat Hari Senin.

Saatnya untuk mengumumkan pemenang The Fault In Our Stars Giveaway.

Awalnya saya ingin meminta seorang rekan kerja di kantor untuk memilihkan pemenang dengan menilai setiap komentar. Tapi karena ada halangan mendadak hari ini, saya menetapkan pemenang menggunakan random.org berdasarkan urutan komentar.

Pemenangnya adalah ...... 



dengan komentar:

keinginan yang akan diwujudkan? punya pintu ke mana saja.
sampai sekarang saya beneran berharap ada pintu kaya gituan suatu hari nanti, biar gampang berangkat kuliah, biar masih bisa anter jemput anak sekolah, biar bisa optimal di lab, biar bisa.. yah..banyak hal.


Selamat untuk pemenang, diharapkan segera mengirimkan alamatnya ke: sepetaklangit@gmail.com. Ditunggu sampai 29 Januari 2013. 


Terima kasih atas partisipasi semua peserta giveaway. 


27 January 2013

Sanctus



Judul Buku: Sanctus
Pengarang: Simon Toyne (2011)
Penerjemah: Shandy Tan
Tebal: 540 hlm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: Elex Media Komputindo







Terletak di Ruin -kota kecil di selatan Turki- Citadel adalah negara di dalam negara.  Segala sesuatu di wilayah hukum daerah kantong ini bersifat rahasia dan tidak terjangkau publik. Kendati dikenal sebagai pusat kekristenan, Citadel telah eksis sebelum kekristenan menyentuh tempat itu. Di dalamnya, disimpan sebuah relik keramat yang dikenal sebagai Sakramen. Hanya biarawan ordo tertinggi yang disebut Sanctus Custodis Deus Specialis -Penjaga Rahasia Kudus Allah- yang mengetahui identitas Sakramen.

Suatu hari, seorang laki-laki berdiri di tepi puncak gunung tempat Citadel berada. Kedua tangannya direntangkan ke samping tubuhnya dan kepalanya miring ke bawah, tampak bagaikan Kristus yang disalibkan. Setelah keberadaannya diketahui banyak orang, bahkan disiarkan di televisi, laki-laki yang adalah biarawan Citadel itu menjatuhkan dirinya.

Samuel Newton, sang biarawan, sebenarnya baru dilantik menjadi sanctus. Tapi begitu menjadi sanctus dan mengetahui kebenaran mengenai Sakramen, ia justru membelot. Dan ketika kematian menjadi pilihan tunggal, ia pun mengatur cara kematiannya guna memberikan pesan kepada dunia. Tidak semua orang bisa memahami pesannya. Hanya pihak-pihak yang mengetahui sebuah ramalan yang dimaktubkan pada batu tulis menggunakan bahasa suku kuno, Suku Mala. 



Satu-satunya salib sejati akan muncul di bumi
Semua orang melihatnya dalam kejadian tunggal – dan pasti tercengang
Salib akan jatuh
Salib akan bangkit
Untuk mengungkap Sakramen
Dan membuat Zaman Baru
Lewat kematiannya yang penuh kasih 

Pesannya segera ditangkap oleh Kathryn Mann, perempuan yang menjadi penggerak Ortus, sebuah badan amal internasional. Suaminya, Dr. John Mann, seorang arkeolog, terbunuh tatkala melakukan pendaftaran temuannya berupa teks-teks kuno yang digali di gurun Irak. Kathryn segera menghubungi ayahnya, Oscar de la Cruz, yang menetap di Rio de Janeiro. Oscar de la Cruz adalah salah satu yang berhasil melarikan diri dari Citadel sebelum dilantik menjadi sanctus. Sama seperti Kathryn, begitu melihat Samuel membentuk simbol salib -sebenarnya bukan simbol salib tapi simbol Tau- di atas Citadel, segera meyakini bahwa ramalan itu segera menjadi kenyataan.

Karena Samuel menjatuhkan dirinya di wilayah hukum Ruin, dan bukan Citadel, kematiannya menjadi kasus Kepolisian Kota Ruin. Hasil autopsi di bawah pengawasan Inspektur Davud Arkadian menunjukkan adanya berbagai sayatan dan luka berat di tubuh Samuel. Di dalam perutnya ditemukan secarik kulit tipis bertuliskan nomor telepon seorang perempuan bernama Liv Adamsen.

Bagi Liv Adamsen -reporter kriminal di New York- Samuel Newton adalah saudara laki-laki yang menghilang delapan tahun sebelumnya. Secara resmi, Samuel dinyatakan sudah meninggal. Sebagai saudara, Liv merasa berkewajiban mendatangi Ruin untuk mengenali Samuel.

Kematian Samuel meredakan kegelisahan Bruder Abbas, biarawan Citadel yang berambisi menjadi uskup. Tapi betapa terperanjatnya Abbas mengetahui ada perempuan yang mengaku sebagai saudara Samuel akan mendatangi Ruin. Data di Citadel menunjukkan bahwa Samuel adalah anak semata wayang dan tidak mempunyai keluarga. Samuel telah dilantik menjadi sanctus, dan untuk menjadi sanctus, ia tidak boleh mempunyai saudara. Siapa yang berbohong? Samuel Newton atau Liv Adamsen? Abbas memutuskan untuk membungkam Liv sekalipun tidak disepakati uskup yang sedang dalam kondisi sekarat.

Begitu tiba di Ruin, Liv langsung menyadari jika dirinya telah terjebak dalam komplikasi masalah yang berakar dari pertikaian kuno di wilayah itu. Dari Miriam Anata, ahli sejarah Ruin, Liv mendapatkan informasi kalau ada dua suku terlibat konflik berkaitan dengan Sakramen, Suku Mala dan Suku Yahweh. Tapi apa sebenarnya Sakramen tidak diketahui orang yang belum pernah melihatnya. Yang jelas, menurut Anata, Sakramen bukanlah atribut kekristenan karena telah berada di Citadel sebelum kekristenan menyentuh tempat itu. Kalau begitu, apa sebenarnya Sakramen dan mengapa mesti dilindungi sedemikian rupa oleh Citadel?

Secara mengejutkan, mayat Samuel Newton dicuri dari tempat penyimpanan. Padahal, berdasarkan hasil penelitian patologi tidak ditemukan kematian sel dalam tubuhnya. Selnya justru beregenerasi, dan menunjukkan adanya penyembuhan. Tapi bukankah Samuel telah mati? 

Dalam kondisi terjepit, Liv yang berakhir dalam pengawasan polisi, hampir kehilangan seluruh kepercayaannya kepada orang-orang yang ditemuinya. Ia melarikan diri, mendapati dirinya dikejar-kejar Carmina - biarawan  berjubah merah di Citadel- kemudian terperangkap di dalam keasingan Citadel.

Siapa sebenarnya Liv Adamsen? Apakah ia benar-benar saudara perempuan Samuel Newton? Setelah berada di dalam Citadel, bisakah Liv keluar dalam keadaan selamat?

Oscar de la Cruz, Kathryn Mann, dan Gabriel de la Cruz, putra Kathryn, tidak akan membiarkan Liv kehilangan nyawa di dalam Citadel.  Gabriel, terutama, siap berjibaku untuk mengungkap sumber pertikaian Suku Mala dan Suku Yahweh. Sakramen harus dibebaskan supaya kebenaran bisa dikuakkan. 


Sanctus adalah novel debut Simon Toyne, penulis yang sebelumnya berkecimpung dalam dunia pertelevisian Inggris. Novel ini ditulis sebagai perwujudan keinginannya untuk menulis novel thriller setelah keluar dari pekerjaannya pada Desember 2007. Sanctus yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2011 menjadi buku pertama dari The Sancti Trilogy. Sampai sekarang, Sanctus telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 17 bahasa dan diterbitkan di 27 negara. Menyusul Sanctus, Toyne telah menerbitkan novel kedua  dari triloginya, The Key (2012).

Sejak awal novel, Toyne telah mengungkapkan persoalan inti dalam Sanctus, yaitu mengenai Sakramen yang disimpan di Citadel beserta upaya melindungi dan membebaskannya. Tapi apa sebenarnya Sakramen berhasil dijaga ketat dengan cara yang sama dengan para sanctus menjaga kerahasiaannya. Kita akan mengetahui kebenaran mengenai Sakramen setelah membaca ratusan halaman dan novel hampir dikhatamkan, setelah cukup banyak darah tertumpah karena kebengisan Bruder Abbas. Selama membaca, sulit rasanya bisa menebak identitasnya.

Kendati merupakan novel perdana, kemampuan Toyne tidaklah meragukan. Ia berhasil menciptakan kota fiktif Ruin dengan Citadel sebagai enklaf seperti Roma dan Vatikan. Ia membuka kisahnya secara menggugah dan mampu mempertahankannya pada setiap pertambahan halaman sehingga mendorong kita melanjutkan pembacaan. Berbagai karakter yang muncul diimbuhkannya latar belakang yang memadai, khususnya karakter yang membuat kita bersimpati. Kemudian, seiring pergerakan plot, ia akan mengungkapkan berbagai hal yang membuat kita berempati kepada Liv Adamsen. Ketegangan pun disusupkan dengan cerdik berbaur misteri yang membuat kita semakin bertekad menuntaskan novel ini.

Sanctus, sungguh sebuah novel yang tidak layak dilewatkan oleh para penggemar novel thriller.

22 January 2013

The Fault In Our Stars



Review + Giveaway

Judul Buku: The Fault In Our Stars
Pengarang: John Green
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Tebal: 424 hlm; 20,5 cm
Cetakan: 1, Desember 2012
Penerbit: Qanita


 



Tiga bulan setelah mendapatkan menstruasi pertama pada umur tiga belas tahun, Hazel Grace Lancaster didiagnosis mengidap kanker tiroid stadium empat. Penyakit itu bermetastasis hingga ke paru-parunya dan membuatnya terserang pneumonia. Selain harus menelan Phalanxifor  untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, Hazel mesti membawa BiPAP (Bilevel Positive Airway Pressure) ke mana-mana untuk membantu pernapasannya.

Atas dorongan ibunya, Hazel yang sudah berusia enam belas tahun, mendatangi kegiatan Support Group (Kelompok Pendukung) yang dilaksanakan di ruang bawah tanah sebuah Gereja Episkopal. Kelompok Pendukung ini dipimpin oleh seorang penyintas kanker buah pelir. Di sana, Hazel bertemu Augustus Waters, cowok seksi berumur tujuh belas tahun, mantan pemain basket. Augustus atau Gus bergabung dengan Kelompok Pendukung karena diminta sahabatnya, Isaac, yang terkena kanker mata. Gus sendiri adalah penyintas osteosarkoma -kanker tulang- yang membuatnya kehilangan salah satu kakinya karena harus diamputasi.

Hazel memiliki perbedaan pandangan dengan Gus mengenai kehidupan yang sedang dijalaninya. Gus hidup dalam ketakutan akan dilupakan untuk selamanya ketika meninggal. Sedangkan Hazel tidak begitu peduli. Ia telah belajar dari buku An Imperial Affiction (Kemalangan Luar Biasa) yang ditulis Peter Van Houten bagaimana menyikapi kondisi sekarat. Bagi Hazel, kematian adalah suatu kelumrahan. "Jika kau khawatir dilupakan untuk selamanya oleh manusia, aku mendorongmu untuk mengabaikannya saja. Tuhan tahu, itulah yang dilakukan semua orang lainnya." (hlm. 23).

Meskipun tidak sependapat, Gus tertarik pada Hazel. Ketertarikannya langsung diwujudkannya dengan mengajak Hazel menonton film V for Vendetta di rumahnya. Hazel pun tidak bisa menepis ketertarikan pada cowok seksi bermata biru itu. Ketika Hazel memperkenalkan An Imperial Affiction pada Gus, hubungan mereka pun kian akrab. Apalagi Gus memberikan novel yang ditulis berdasarkan permainan video favoritnya, The Price of Dawn (Ganjaran Fajar).

Sebagaimana Hazel, Gus pun terobsesi dengan ending terbuka yang diberikan Peter Van Houten untuk bukunya. Mereka ingin tahu apa yang terjadi pada Anna, ibunya yang bermata satu, pedagang tulip Belanda yang disebut Anna sebagai Lelaki Tulip Belanda, dan Sisyphus, hamster milik Anna. Sayangnya, Peter Van Houten telah lama meninggalkan Amerika dan kembali ke Belanda. Hazel telah menulis selusin surat kepada penulis itu melalui penerbitnya, tapi tidak pernah dibalas.

Secara mengejutkan, Gus ternyata berhasil menghubungi Peter Van Houten menggunakan surel melalui asistennya, perempuan Belanda bernama Lidewij Vliegenthart.  Hazel mencoba sekali lagi menghubungi Peter melalui surel hingga akhirnya mendapat balasan. Dalam suratnya, Peter menyatakan tetap tidak mau memberikan kisah para karakter bukunya setelah bukunya berakhir. Tapi ia mengundang Hazel datang ke rumahnya jika Hazel berada di Amsterdam.

Gus memberikan solusi untuk Hazel agar bisa pergi ke Amsterdam. Yayasan Peri (The Genie Foundation) -semacam Make a Wish Foundation- bisa mewujudkan satu keinginan untuk anak yang sedang sakit. Hazel berkesempatan mengunjungi Peter asalkan kondisinya mengizinkan. Untunglah, hasil pemindaian PET (Positron Emission Tomography) mengindikasikan tidak ada pertumbuhan tumor.

Sebelum pergi ke Amsterdam, Gus telah melakukan pemindaian PET saat mulai merasakan nyeri pinggul. Ia telah berada dalam kondisi NEC (no evidence of cancer = tidak ada bukti kanker) selama empat belas bulan. Tapi hasilnya ternyata menunjukkan kekambuhan. Gus hanya bisa bertekad memerangi penyakitnya untuk Hazel dan salah satu penyemangatnya adalah meletakkan rokok yang tidak diisapnya di antara bibirnya. .Sebuah tindakan metaforis untuk menyatakan bahwa dia tidak memberi kekuatan untuk membunuh pada si pembunuh. Gus pernah kehilangan kekasihnya karena kanker otak dan ia tidak mau kehilangan lagi.

Peperangan yang hebat. Apa yang kuperangi? Kankerku. Dan, apakah kankerku itu? Kankerku adalah aku. Tumor-tumor itu adalah bagian dari diriku. Mereka adalah bagian dari diriku, sama seperti otak dan jantungku adalah bagian dari diriku. Ini perang saudara, Hazel Grace, dengan pemenang yang sudah ditentukan sebelumnya. (hlm. 291).

Perjalanan ke Amsterdam bisa terwujud. Sayangnya, Peter tidak menyambut mereka dengan antusias. Ternyata, mengasingkan diri di Belanda telah membuatnya menjadi pemabuk yang menyebalkan setiap berbicara. Ia sama sekali tidak mau memuaskan keinginan kedua tamunya mendapatkan kisah setelah bukunya berakhir. Untuk menghibur Hazel, Gus berjanji membuatkan epilog untuk kekasihnya itu.


Bagaimana nasib kisah kasih Hazel dan Gus? Apakah mereka akan tetap keluar sebagai penyintas kanker? Atau sama-sama akan menyerah kalah pada keganasan kanker yang mereka derita? Sebelum semuanya itu, apakah Hazel dan Gus bisa mewujudkan obsesi mereka terkait An Imperial Affiction?  Dan jangan lupa Peter Van Houten. Karena ternyata, ia memiliki rahasia masa lalu yang memerangkapnya dalam kehidupan mubazir.

The  Fault In Our Stars karya John Green adalah novel yang bikin sesak dan tidak nyaman. Meskipun kedua karakter utama -Hazel dan Gus- mencoba optimis menghadapi penyakit mereka, tapi kerap kesedihan mengambil tempat terbesar di antara mereka. Mungkin terkadang pembaca remaja -target utama novel ini- harus diberikan kisah-kisah realis agar memahami kehidupan yang sebenarnya. Tapi, bukan novel dengan kisah semuram The Fault In Our Stars. Memang benar, kita akan menemukan tebaran humor yang disampaikan Hazel sebagai narator orang pertama, tapi tidak cukup membuat gembira. 

John Green sama sekali tidak gagal dalam membangun kisah, merancang karakter, dan menata plot. Kisahnya pun disampaikan dengan cara yang sedap dibaca. Tapi kanker-kanker yang dimunculkannya, menurut saya, berlebihan. Seakan berada di mana-mana. Coba saja hitung berapa kanker dalam novel ini. Kanker tiroid, osteosarkoma, kanker buah pelir, leukemia, kanker mata, kanker usus buntu, kanker otak. Benar-benar kemalangan luar biasa.

Lalu apa maksud judul The Fault In Our Stars? Judul ini bisa ditemukan dalam surat Peter Van Houten yang ditujukan kepada Gus.

Semua orang di dalam cerita itu punya hamartia (=cacat fatal) yang begitu mantap: hamartia gadis itu adalah keparahan penyakitnya; hamartia-mu adalah kesehatanmu yang luar biasa. Seandainya gadis itu lebih sehat atau kau lebih sakit, maka bintang-bintang tidak akan membawa takdir, walaupun secara alami bintang-bintang memang membawa takdir, dan Shakespeare sangatlah keliru ketika menyuruh Cassius berkata, "Kesalahannya, Brutus tersayang, bukanlah pada bintang-bintang/Melainkan pada diri kita sendiri". Itu cukup mudah untuk dikatakan jika kau bangsawan Romawi (atau Shakespeare), tapi kesalahan selalu bisa ditemukan di antara bintang-bintang. (hlm. 151-152).

Edisi Indonesia novel ini yang diberi judul terjemahan Salahkan Bintang-Bintang cukup sedap dibaca. Tapi karena sempat membaca edisi Inggrisnya (saya punya edisi hardcover bertanda tangan pengarang), saya menemukan ada bagian yang dihilangkan dalam edisi Indonesia, yaitu ketika Hazel dan Gus bercinta di Amsterdam. Sebenarnya adegan percintaan mereka tidak bisa dikatakan vulgar, hanya saja cukup mesra. Sementara di bagian penutup, tepatnya dalam surat Gus kepada Peter Van Houten, saya menemukan  "A nurse guy"  diterjemahkan menjadi "Seorang suster laki-laki." Padahal seharusnya "Seorang perawat laki-laki". Bukankah suster itu jelas-jelas sebutan untuk perawat perempuan? 



John Green



The Fault In Our Stars Giveaway



Ada satu buku The Fault In Our Stars  edisi Indonesia khusus untuk salah satu Follower blog ini -yang berdomisili di Indonesia. Bagi yang ingin menjadi Follower dan mengikuti giveaway ini, disilakan. Cukup meninggalkan jawaban di kotak komentar. Pertanyaannya adalah: jika mendapatkan kesempatan untuk mewujudkan satu keinginan Anda, keinginan apa yang akan diwujudkan? Jangan lupa berikan alasannya. Pemenang akan ditentukan berdasarkan jawaban yang diberikan.

Ditunggu sampai 27 Januari 2013. Pemenangnya akan diumumkan pada 28 Januari 2013.


21 January 2013

Matched



Judul Buku: Matched
Pengarang: Ally Condie  (2010)
Penerjemah: Yohanna Yuni
Tebal: 384 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juli 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Pada umur 17 tahun, Cassia Maria Reyes dipanggil mengikuti Perjamuan Pasangan di Balai Kota Provinsi Oria. Di acara ini, ia akan mengetahui siapa laki-laki yang akan menjadi Pasangannya. Sesuai dengan Sistim Penentuan Pasangan, pada umur 21 tahun, Cassia dan Pasangannya akan melangsungkan Perjanjian Perkawinan dan menjadi suami-istri. Penentuan ini didasarkan pada sejumlah penelitian yang mengindikasikan bahwa kesuburan pria dan wanita mencapai puncaknya pada umur 24 tahun. 

Sebuah kejutan terjadi pada malam Perjamuan Pasangan itu. Ternyata, Pasangan Cassia berada di provinsi yang sama dan Cassia sangat mengenalinya. Xander Thomas Carrow, pemuda yang dinobatkan sebagai Pasangan Cassia adalah sahabat Cassia sejak lama. Mereka tinggal di sektor yang sama, Mapletree, dan bersekolah di Sekolah Lanjutan yang sama pula.  Keadaan ini membuat Cassia tidak perlu mencari tahu perjalanan hidup Xander dan hal-hal yang menjadi favoritnya. Meskipun begitu, sebagai bagian dari Perjamuan Pasangan, keduanya mendapat sebuah kotak perak kecil. Kotak itu akan digunakan untuk menyimpan cincin untuk Perjanjian Perkawinan. Di dalamnya terdapat kartu mikro berisi informasi masing-masing pasangan.

Tidak masalah bagi Cassia mendapat Pasangan dari satu provinsi kendati ia sempat merasakan ada sesuatu yang hilang. Dengan Xander sebagai Pasangan berarti ia tidak membutuhkan Panduan Masa Pengenalan sehingga tidak ada misteri yang melingkupi hubungan mereka. Tapi penerimaan itu hanya bertahan sampai Cassia memasukkan kartu mikro itu ke dalam port. Wajah Xander muncul di layar port, kemudian menghilang dan digantikan wajah pemuda lain. Wajah Ky Markham. 

Ky Markham adalah anak adopsi Pasangan Aida dan Patrick Markham. Ia pindah ke Sektor Mapletree pada umur 10 tahun dan mengisi kekosongan anak dalam Keluarga Markham. Putra tunggal mereka tewas dibunuh oleh seorang Anomali Level Satu yang tidak teridentifikasi. Ky Markham dikenal sebagai anak pendiam yang tidak pernah mencetuskan kerusuhan. Ia telah menerima penempatan kerja lebih awal di blok distribusi makanan dan meninggalkan sekolah. Cassia tahu Ky seorang Aberasi dari Provinsi Luar, tempat di mana kehidupan sangat berat dan liar. Ky diganjar status Aberasi karena ayahnya melakukan Pelanggaran terhadap Institusi.

Aberasi tidak seberbahaya golongan Anomali yang harus dipisahkan dari masyarakat. Tapi sebagai Aberasi, Ky tidak akan pernah bisa menjadi Pasangan siapapun. Oleh karena itu, tidak mungkin namanya masuk dalam kelompok Penentuan Pasangan. Nasib yang sudah digariskan untuk Ky adalah menjadi Lajang dan tidak boleh mempunyai anak. Munculnya wajah Ky di layar port Keluarga Reyes menegaskan adanya kesalahan yang telah dilakukan secara sengaja.

Setelah mengetahui kesalahan yang terjadi dan mendapatkan penjelasan dari Administrator  Departemen Penentuan Pasangan, secara kebetulan, Cassia dan Ky tergabung dalam kelompok hiking yang sama. Mereka juga ditetapkan menjadi pasangan pendakian dalam kegiatan waktu luang musim panas itu. Pertemuan demi pertemuan membuat mereka kian dekat. Mereka saling mengetahui rahasia berbahaya yang disimpan satu sama lain dan berusaha saling mendukung. Pada akhirnya, mereka tidak bisa menolak kehadiran cinta di antara mereka. 

Setiap Sabtu Cassia bekerja di tempat penyortiran. Ia tidak hanya menyortir kata, kalimat, gambar, dan angka. Ia juga menyortir warna mata, warna rambut, tinggi dan berat badan. Ketika kemampuan sortirnya diuji, ia menunjukkan prestasi yang luar biasa, mendapatkan skor tertinggi. Atas dasar itu, ia diminta pergi ke blok distribusi makanan, yang kebetulan adalah tempat Ky bekerja. Di sana ia akan menyortir tenaga kerja untuk mendapatkan pekerja paling efisien yang akan dikirim bekerja di proyek alternatif.

Cassia melihat ada kesempatan bagi Ky untuk mengubah hidup. Setelah menimbang-nimbang, ia memasukkan Ky ke dalam kelompok pekerja paling efisien. Ia berharap, Ky akan tetap tinggal di Provinsi Oria sehingga akan selalu bertemu dengan pemuda itu. Tanpa disadarinya, keputusan gegabah yang diambilnya menyebabkan kehancuran hidup Ky.

 
Matched (Perjamuan Pasangan) karya Ally Condie adalah novel distopia. Kisahnya mengambil latar masa depan ketika  masyarakat di mana Cassia tinggal dipimpin rezim bernama Institusi. Negara dibagi-bagi ke dalam berbagai provinsi, setiap provinsi mempunyai satu Balai Kota, dan kehidupan masyarakat diatur oleh petugas Institusi yang disebut Administrator. Institusi inilah yang menentukan kehidupan, cinta, pekerjaan, makanan, dan kematian mereka. Hal ini diyakini banyak orang sebagai usaha untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Meskipun untuk itu, mereka tidak bisa bersikap sembarangan dan harus menyerahkan mimpi kepada Institusi dengan memakai elektroda data pemantau tidur secara terjadwal. Mereka dibekali tablet tiga warna untuk digunakan dalam kondisi khusus. Secara berturut-turut, pada umur 10 tahun, 13 tahun, dan 16 tahun, mereka akan menerima tablet biru, tablet hijau, dan tablet merah. Mereka harus menerima sistim pemilihan Seratus Terbaik. Seratus lagu, seratus lukisan, seratus kisah, seratus sajak. Apa yang tidak masuk seratus terbaik akan disingkirkan dan lenyap untuk selamanya. kecuali diambil kelompok Pengarsip yang menyimpannya di dalam port ilegal. Jika melakukan pelanggaran atau melakukan tindakan kriminal, mereka akan dimasukkan dalam golongan Aberasi atau Anomali yang lebih berbahaya. 

Pada ulang tahunnya yang ke-17, Cassia menerima sebuah kompak -benda kecil berisi cermin kecil dan bedak wajah yang dipakai perempuan membetulkan riasan- dari kakeknya. Di bagian bawah kompak terdapat sehelai kertas tua berisikan sajak karya Dylan Thomas
(Do Not Gentle Into that Good Night) dan Lord Alfred Tennyson (Crossing the Bar) yang tidak masuk Seratus Sajak. Kakeknya memberikan kompak itu supaya Cassia tidak mudah menyerah menghadapi masalah sebagaimana termaktub dalam sajak Thomas:
Jangan menyerah begitu mudah pada malam,
Usia senja selayaknya membawa dan bergelora di pengujung hari;
Amarah, amarah, melawan cahaya yang mulai padam.
Walau orang bijak akhirnya menyadari kebenaran kelam,
Karena kata-kata  mereka tak membelokkan kilat,
Jangan menyerah begitu mudah pada malam.

Matched, bagian pertama dari trilogi, menimbulkan banyak pertanyaan selama membaca. Mengapa Molly, ibu Cassia, mesti mengadakan perjalanan dinas ke Arboretum di provinsi lain? Mengapa Abran, ayah Cassia, menghancurkan sampel jaringan kakek Cassia?  Apakah Xander tahu wajahnya di kartu mikro digantikan wajah Ky dan apakah Ky tahu dirinya masuk dalam kelompok Penentuan Pasangan?

Menjelang novel berakhir berbagai kejutan dimuntahkan Ally Condie. Kejutan paling menggetarkan adalah yang terkait dengan cinta segitiga antara Casia, Xander dan Ky. Apa yang sesungguhnya terjadi di antara mereka? Siapa pemuda yang akan mendapatkan seluruh hati Cassia? 

Pertanyaan final yang belum terjawab adalah apakah yang dilakukan ayahnya sehingga Ky menjadi Aberasi dan siapakah yang memasukkan Ky ke dalam kelompok Penentuan Pasangan? 

Membaca Matched cukup mengasyikkan. Memang tidak ada adegan-adegan laga mendebarkan, Cassia -sang narator orang pertama- pun digambarkan sebagai gadis biasa yang tidak memiliki kecakapan bertarung. Demikian pula dua pemuda yang memperebutkan cintanya. Tapi selama membaca kisah yang dikendalikan dengan baik ini, terasa sekali suasana depresif yang siap terguncang. 

Dengan ending seperti yang diangsurkannya, saya belum bisa meraba ke arah mana Ally Condie akan membawa kisah selanjutnya. Karenanya, saya tidak sabar lagi untuk membaca kedua sekuel yang telah terbit. Crossed (2011) dan Reached (2012). 




* Dengar Sajak  Do Not Gentle Into that Good Night di sini





The Yearling



Baca Bersama BBI Pulitzer Prize for Fiction


Judul Buku: The Yearling
Pengarang: Marjorie Kinnan Rawlings
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Tebal: 504 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 


The Yearling (Jody dan Anak Rusa) berkisah tentang kejadian selama setahun dalam kehidupan Jody Baxter di sebuah tempat di Florida. Jody adalah anak laki-laki dari pasangan Ezra "Penny" dan Ora Baxter. Ia satu-satunya anak yang dilahirkan Ora yang tidak meninggal saat masih bayi. Sebelum Jody, Ora telah melahirkan beberapa anak, menyaksikan kematian mereka dan membuatnya hidup dalam kegetiran. Itulah yang menyebabkan Ora tidak memiliki rasa sayang sebesar Penny kepada Jody. 

Pada umur dua belas tahun, Jody adalah seorang anak yang mencintai kehidupan alam di luar rumahnya. Ia menikmati kegiatan menjelajah dan berburu, menyaksikan keindahan bentangan alam dengan tanaman dan hewan di dalamnya.  Meskipun begitu, ia tidak bisa melepaskan dirinya dari kesepian yang terkadang menyerang seorang anak semata wayang.

Sebenarnya, Keluarga Forrester yang telah menjual lahan untuk ditempati Keluarga Baxter mempunyai anak laki-laki sebaya Jody bernama Fodder-wing. Jody senang berteman dengan anak bertubuh bengkok dan bungkuk itu, tapi tidak bisa menemuinya setiap hari. Fodder-wing tinggal di rumah orangtuanya yang berjarak enam setengah kilometer dari rumah Jody. Tidak heran Jody ingin sekali memelihara seekor hewan untuk dijadikan teman. 

Sulit bagi Jody untuk bisa memelihara hewan sekalipun gampang mendapatkannya dari alam di sekitar tempat tinggal. Ora tidak suka menambah hewan peliharaan di rumahnya sebab hanya berarti ada tambahan mulut yang mesti diberi makan. Padahal mereka sedang melalui masa-masa sulit dan tidak tersedia banyak bahan makanan. Hingga suatu hari, saat sedang berburu, Penny dipagut ular derik. Penny menembak seekor rusa betina yang muncul tiba-tiba, merobek perut rusa itu, dan mengambil hatinya untuk menyedot racun ular. 

Penny bisa diselamatkan dan Jody mengingatkan ayahnya akan peran rusa betina yang telah diambil hatinya. Tanpa rusa betina itu, Penny tidak akan tetap hidup. Dan kematian hewan itu membuat anaknya yang masih menyusui telantar. Bagi Jody, jalan satu-satunya untuk menyelamatkan anak rusa jantan itu adalah mengadopsinya dan membawa ke rumah untuk menjadi bagian keluarga. Kali ini, dengan restu Penny, Ora tidak bisa menolak keinginan Jody. Anak rusa itu dinamai Flag oleh Fodder-wing karena ia mengibaskan ekornya dengan ceria sehingga tampak seperti bendera putih kecil.  

Flag lucu dan cantik, setidaknya di mata Jody yang sedang bahagia. Demi Flag, Jody rela membagi jatah susunya. Padahal Flag bukanlah anjing seperti  Julia dan Rip atau kuda seperti Caesar, yang berguna. Sebagai anak rusa, Flag sama sekali tidak berguna bagi Keluarga Baxter selain menjadi pengobat kesepian Jody. Flag tidak bisa diajak berburu, membajak ladang, menghasilkan telur atau susu. Ia bahkan menjadi anak rusa yang sangat nakal. Serangkaian kenakalannya membuat Ora kalap. Ia masuk ke rumah dan melahap sepanci adonan roti jagung yang siap dipanggang. Menanduk -meski belum punya tanduk- bantal berbulu di tempat tidur Jody sampai sekeliling rumah diseraki bulu selama berhari-hari. Merusak ubi-ubi  -persediaan makanan keluarga- dan ketika diusir Ora, berbalik menanduk bokong perempuan bertubuh besar itu. Menanduk sekaleng minyak hewan di gudang pengasapan karena ingin melihat isinya. 

Saat bercak-bercak terang yang menandai dirinya sebagai anak rusa menghilang dari kulitnya, ia semakin nakal. Ia melompat ke meja dan melahap sepiring kacang tunggak (cowpea). Menginjak-injak petak tanaman tembakau muda dan nyaris menghancurkan separuhnya. Mencabut tunas-tunas jagung dan merusak kacang tunggak yang ditanam Penny. Jody terpaksa bekerja keras untuk menutupi semua kesalahan berandalan itu. Tapi ketika sekali lagi Flag berulah, Penny tidak bisa lagi bersikap toleran seperti sebelumnya. Karena jika dibiarkan terus, Flag akan membuat Keluarga Baxter kelaparan. 

Selain kisah Jody dengan anak rusanya, The Yearling karya Marjorie Kinnan Rawlings
(1928-1953) mempunyai beberapa subplot. Pertama adalah kisah permusuhan Keluarga Baxter dengan Slewfoot Tua, beruang hitam yang kerap memangsa ternak mereka. Meskipun penumpasan hewan ini tidak gampang, Penny tidak pernah kehilangan semangat. Subplot kedua adalah kisah mengenai hubungan Keluarga Baxter dengan Keluarga Forrester. Selain Fodder-wing, Pa dan Ma Forrester mempunyai enam orang anak laki-laki yang bertubuh besar. Buck, Mill-Wheel, Gabby, Pack, Arch, dan Lem. Yang disebut terakhir selalu menghina ayah Jody, membuat nama Ezra menjadi Penny, dan tidak pernah berhenti memicu kerusuhan. Subplot ketiga adalah kisah permusuhan Lem Forrester dengan Oliver Hutto, pemuda yang bekerja sebagai pelaut. Mereka bermusuhan lantaran memperebutkan seorang gadis yang dibenci Jody. 

Ketiga subplot ini berasimilasi dengan plot utama dan menghasilkan sebuah novel yang rimbun. Karena selain percabangan kisahnya, Marjorie Kinnan Rawlings juga memberikan detail-detail yang komplit untuk setiap kisah yang dimunculkannya. Akibatnya, The Yearling menjadi sebuah sajian yang membutuhkan konsentrasi dan kesabaran untuk menuntaskannya. Bukan novel yang bisa dibaca dalam waktu yang singkat. 

Untunglah,
Marjorie Kinnan Rawlings mempunyai keunggulan dalam berkisah. Ia berhasil melukiskan kondisi alam Florida pada masa kisah ini terjadi -penghujung abad kesembilan belas- dengan indah, termasuk flora dan fauna yang berada di alam liar. Kita akan diberikan gambaran mengenai pepohonan, bebungaan, dan sesemakan dengan intens. Kita akan diberi tahu kebiasaan-kebiasaan hewan seperti beruang, rusa, serigala, rakun, dan lebah madu. Kita akan diajak mengimajinasikan adegan anak-anak beruang berayun di pohon pinus muda sambil mengobrol dan dua beruang yang berjalan dengan gaya dansa, saling dorong kemudian berkelahi. Dan yang menakjubkan adalah adegan enam belas burung bangau yang menari secara berkelompok. 
 
The Yearling pertama kali dipublikasikan pada Maret 1938, menjadi novel laris pada tahun itu, dan memenangkan Pulitzer Prize setahun kemudian. Hingga saat ini, The Yearling telah dua kali difilmkan yaitu film layar lebar pada tahun 1946 dan film televisi pada tahun 1994. Kesuksesan The Yearling melambungkan nama pengarang yang kabarnya telah menulis sejak berumur enam tahun ini. 

Yearling adalah istilah untuk seekor hewan pada tahun pertama hingga tahun kedua kehidupannya. The Yearling menggambarkan secara paralel transisi usia seorang remaja dan seekor rusa dalam satu tahun kehidupan. Flag berubah menjadi rusa muda, sedangkan Jody berubah dari remaja menjadi dewasa. Proses transisi ini digambarkan oleh Marjorie Kinnan Rawlings sebagai proses yang sulit. Untuk Flag, menjadi rusa muda berarti membuat dirinya siap jika dimangsa pemburu, sedangkan bagi Jody menjadi dewasa adalah menerima setiap konsekuensi yang diberikan kehidupan, mau atau tidak. Dan dalam proses itu, Jody kehilangan kontrol dan terpaksa harus merasakan kelaparan, ketakutan, dan kesepian. 

Penny yang bertubuh ceking dan kurus tapi berhati teguh dan jujur akan memberi tahu Jody makna pengalaman hidupnya pada masa yang singkat itu. 

Kau sudah melihat apa yang terjadi di dunia manusia. Kau sudah tahu ada orang yang jahat dan nista. Kau sudah melihat Maut dan trik-triknya. Kau sudah mengenal Kelaparan. Semua orang ingin agar hidupnya indah dan mudah. Hidup memang indah, Nak, sangat indah, namun tidak mudah. Hidup akan menjatuhkan seseorang dan begitu orang itu bangkit, dia akan dijatuhkan lagi.

Aku ingin agar hidupmu mudah. Lebih mudah daripada yang kualami. Hati seorang ayah sakit saat melihat anak-anaknya menghadapi dunia. Tahu bahwa mereka akan terluka, sama sepertinya. Aku ingin melindungimu selama mungkin. Aku ingin kau bermain-main dengan rusamu. Aku tahu dia menghibur kesepianmu. Tapi semua manusia kesepian. Lalu apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan ketika jatuh? Tentu saja ia harus menerima hal itu dan melanjutkan hidup. (hlm. 498-499)

Marjorie Kinnan Rawlings menutup novelnya dengan kesimpulan yang sendu tapi penuh arti. 

Di awal tidurnya, ia berseru, "Flag!" 
Tapi, itu bukan suaranya. Itu suara seorang anak lelaki kecil. Di suatu tempat, di balik dolina, di balik pohon magnolia, di bawah pohon-pohon ek, seorang bocah lelaki dan seekor rusa muda berlari berdampingan, lalu lenyap selamanya. (hlm. 500-501)

***


Baca review buku lain peraih Pulitzer Prize for Fiction dalam blog ini:





Sampul Edisi 1938



Adegan dari film The Yearling (1946)

18 January 2013

Bliss


Judul Buku: Bliss
Pengarang: Kathryn Littlewood (2012)
Penerjemah: Nadia Mirzha
Tebal: 310 halaman
Cetakan: 1, November 2012
Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi)




Follow Your Bliss, toko roti Keluarga Bliss, telah beroperasi selama dua  puluh lima tahun di sebuah kota kecil bernama Calamity Falls. Meskipun menjajakan berbagai kue dan setiap pagi orang-orang mengantre di depan pintu, keuntungan finansial bukanlah tujuan utama berdirinya toko itu. Pasangan Bliss -Purdy dan Albert- lebih suka memanfaatkan kemampuan membuat kue untuk menyembuhkan orang. Mereka mendapatkan resep-resepnya dari Bliss Cookery Booke, buku pusaka keluarga.

Pada umur sepuluh tahun, Rosemary Bliss -anak kedua dari empat anak Keluarga Bliss- mengetahui penggunaan sihir di toko roti itu. Ia menyaksikan ibunya, Purdy, memerangkap halilintar ke dalam stoples lalu mengaduknya ke dalam semangkuk adonan. Setelah adonan itu dipanggang menjadi roti dan ditambahkan frosting, dibawa ke rumah sakit untuk memulihkan Kenny Calhoun, anak laki-laki  yang nyaris tersengat listrik.

Kenny Calhoun bukan satu-satunya yang mendapatkan pemulihan sesudah memakan kue dari Follow Your Bliss. Masih ada nama-nama seperti Mr. Rook, yang suka berjalan dalam tidut; Mr. Wadsworth yang terjebak di dasar sumur; Mrs. Rizzle, penyanyi yang suaranya menjadi serak. Berturut-turut mereka memakan Snickerdoodle Tidur Pulas, Macaroon Putih Mengembang, dan Kue Jahe Menyanyi. Dampaknya, kue-kue dari Follow Your Bliss dikenal sebagai kue-kue ajaib. Tidak mengherankan jika suatu hari Janice 'martil' Hammer, walikota Humbleton, mengunjungi Follow Your Bliss. Ia meminta bantuan pasangan Bliss untuk memberantas penyakit flu musim panas di kotanya dengan membuat Croissant Almond dan Cheesecake Labu.

Meskipun berat meninggalkan Follow Your Bliss, Purdy dan Albert setuju dengan permintaan Hammer dan pergi ke Humbleton seminggu penuh. Anak-anak mereka - Thyme, Rosemary, Sage, dan Parsley- yang akan menjaga toko sambil membantu Chip, asisten dapur Purdy. Sebuah kunci duplikat dari kamar pendingin ditinggalkan kepada Rosemary dengan harapan tidak ada yang membuka dan memindahkan  Bliss Cookery Booke yang disimpan di dalamnya.

Sejak mengetahui pengaruh sihir terhadap kue-kue ajaib yang dibuat ibunya, Rosemary telah berambisi menjadi ahli sihir dapur. Sayangnya, ia tidak diberi kesempatan untuk membuat kue-kue ajaib. Ambisinya menyala lagi begitu orangtuanya pergi dan muncul seorang perempuan cantik mengendarai sepeda motor di depan toko Bliss. Perempuan itu mengaku bernama Lily, bibi dari anak-anak Keluarga Bliss, telah menerbitkan buku masak sendiri dan mengasuh sebuah acara radio. Meskipun awalnya tidak menyukai Lily, Rosemary tidak bisa menghalau perempuan itu begitu saja dari toko Bliss. Apalagi tanpa banyak memakan waktu, Lily berhasil memikat dua anak laki-laki Keluarga Bliss; Thyme dan Sage. Lily yang berambisi mendapatkan resep-resep terbaik untuk kelak disiarkannya dalam acara televisinya, 30-Minute Magic, ternyata pintar masak. Ia mampu membuat Paella Valenciana -hidangan nasi dari Spanyol, daging domba saus yoghurt Yunani selembut mentega, dan kue tar berlapis remahan yang dipenuhi custard kuning. 

Begitu terjerat pesona Lily, Sage mulai merasa perlu dan bersikeras untuk membocorkan soal Bliss Cookery Booke kepada Lily. Rosemary yang terdesak tanpa disadarinya terusik untuk membuktikan potensi dirinya. Maka ia pun memutuskan membuka Bliss Cookery Booke, menyalin beberapa resep, dan mempraktikkannya.

Bliss Cookery Booke berisi resep-resep yang tidak ditulis secara biasa yaitu dengan bahan dasar dan instruksi pembuatannya tahap demi tahap. Resep-resep ditulis dalam bentuk kisah disertai sejarah penemuannya. Bukan hanya tepung, gula, susu, dan telur ayam yang menjadi komposisi dalam resep-resep itu. Tapi juga bahan-bahan seperti air liur gajah, telur burung cinta bertopeng, bisikan rahasia waktu dari kurcaci yang tidur abadi, angin pertama musim gugur, tangisan seorang warlock, dan napas tidur lembut seseorang yang tak pernah berbohong. Sesungguhnya, resep-resep ini akan menghasilkan berbagai kue ajaib yang berkhasiat untuk kebaikan manusia. Hanya saja, dengan mudah bisa disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab.

Eksperimen pun dimulai dengan sebuah resep bernama Muffin Labu Hijau. Muffin ini diindikasikan untuk Melarutkan Berbagai Rintangan Cinta. Itulah sebabnya Muffin Labu Hijau disebut Muffin Asmara. Sebagai target eksperimen Rose dan Thyme adalah sepasang pelanggan yang saling mencintai tapi tidak pernah mengungkapkan perasaan. Bernard Bastable, tukang perabot yang setiap pagi membeli Muffin Wortel-Dedak dan Felidia Thistle, guru Biologi Rosemary.

Resep pertama ini tidak menunjukkan efek yang diharapkan. Merasa gagal dengan Muffin Asmara, Rosemary dan Thyme melakukan eksperimen kedua, Koekjes van Waarheid atau Cookie Kebenaran. Target mereka adalah Mrs. Havegood, penjahit yang dikenal sebagai pembual besar. Setelah mendapatkan pengalaman pertama, kali ini mereka berhasil menciptakan kue dengan takaran bahan yang tepat. Tapi mereka tidak menyangka eksperimen ini mengakibatkan kekacauan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Calamity Falls. Mendadak semua orang bersikap jujur dan tanpa tedeng aling-aling mengecam sesama mereka. Tak pelak lagi, pertikaian tidak bisa dihindari. Rosemary pun menyadari, Muffin Asmara dan Cookie Kebenaran adalah kombinasi yang mematikan.

Ketika Rosemary dan Thyme bermaksud memperbaiki situasi dengan membuat kue ketiga dari resep Bliss Cookery Booke, kekacauan kian berekskalasi. Calamity Falls mengalami kondisi-kondisi terbalik. Sepi pada siang hari dan ramai pada malam hari. Orang-orang berjalan mundur. Menyapa dengan melambaikan kaki. Berbicara dengan kata-kata terbalik. Pokoknya segala sesuatunya menjadi terbalik.

Apa yang akan dilakukan Rosemary dan Thyme? Adakah resep dalam Bliss Cookery Booke yang bisa meredakan situasi menggila ini? Atau malah kekacauan akan kian menjadi? 
 
Bliss adalah buku pertama dari The Bliss Bakery Trilogy karya Kathryn Littlewood, penulis wanita yang berprofesi sebagai aktris dan komedian serta mengaku sebagai bon vivant. Kendati merupakan karya debutan, Littlewood berhasil menulis Bliss menjadi sebuah kisah yang tidak bisa diremehkan. Di tangannya, Bliss hadir sebagai kisah unik, meriah, penuh geliat humor, dan akan membuat kita bergembira pada saat-saat menikmati isinya.

Karena Bliss merupakan kisah fantasi, tidak ada resep kue di dalamnya yang bisa ditiru untuk dipanggang di dapur kita. Tapi resep-resep kue itu sangat menggoda imajinasi karena proses pembuatannya yang diuraikan secara fantastis. Kita bisa membayangkan dalam benak bagaimana bahan-bahan yang diracik itu menjelma kue-kue berselera yang akan sukses menggoyang lidah. Sihir yang menyusup ke dalam adonan menciptakan keajaiban tatkala kue siap dimakan. Tidak hanya memberikan efek delicioso tapi juga kejutan yang menciptakan derai tawa.

Sebenarnya, dengan eksperimen resep dari Bliss Cookery Booke dan akibat yang ditimbulkannya, kisah dalam Bliss sudah sangat menarik. Tapi menjadi lebih menarik ketika Lily menyusup ke dalam Follow Your Bliss. Ia antagonis, tapi tidak digambarkan sebagai perempuan berpenampilan jahat. Ia cantik, menarik, dan mudah mencuri hati. Tidak hanya anak laki-laki Keluarga Bliss yang terjerat pesonanya. Rosemary pun sempat teruji kesetiaannya pada keluarga gara-gara Lily. Perempuan itu akan memberikan pelajaran bagi anak-anak Keluarga Bliss dan kita sebagai pembaca. "Orang-orang paling mengerikan selalu begitu," kata Albert Bliss, "itulah pelajaran hidup." (hlm. 300). Apa yang dilakukan Lily di penghujung Bliss membuka peluang munculnya sekuel, sebagaimana yang telah direncanakan.

Pesan yang bisa ditangkap dari novel ini adalah berkaitan dengan masalah kepercayaan. Sebuah kepercayaan yang diberikan kepada kita semestinya dipegang dengan penuh tanggung jawab. Karena ketika melalaikannya, selalu ada risiko yang siap menghadang kita.

Tapi terkait dengan pesan ini, saya jadi berpikir. Kalau Bliss Cookery Booke dilarang untuk dibuka dan dipindahkan, mengapa orangtua Rosemary meninggalkan kunci duplikat kamar pendingin yang mengarah ke tempat penyimpanan buku itu? Kalau memang mesti mempercayakan kunci itu kepada Rosemary mengapa tidak menyimpan buku itu di tempat yang tidak terjangkau anak-anak? Apakah ini semacam ujian buat Rosemary?

Meskipun begitu, Bliss tetap merupakan novel menggoda yang tidak mudah dilupakan. Bahkan, sebelum melembari halaman-halamannya, kita sudah ditawari godaan menggiurkan dari desain sampulnya yang cantik.

Saya berharap bisa segera membaca buku kedua dari The Bliss Bakery Trilogy yang berjudul A Dash of Magic. 






*bon vivant: seseorang yang menikmati hal-hal yang baik dalam hidup, terutama makanan dan minuman


15 January 2013

Circa



Judul Buku: Circa
Penulis: Sitta Karina
Tebal: 216 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juli 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 



Circa adalah brand kosmetika remaja dari Amerika yang juga diproduksi dan beredar di Indonesia. Perusahaan pemegang lisensi Circa menjadi tujuan Almashira Dania Raiz untuk mengerjakan class project-nya sebagai persiapan memasuki perguruan tinggi. Alma, seorang siswa SMA yang aktif dalam kegiatan kesiswaaan di Sekolah Surya Ilmu, berharap akan mendapatkan sponsor untuk kuliahnya kelak di teknik kimia. Alma ingin menjadi ahli kosmetika sekaligus ahli kecantikan.

Diterima di Circa, Alma diminta terlibat dalam pelaksanaan kampanye Circa Lip Moist  limited edition. Kampanye ini akan menggandeng Yayasan Putra-Putri Indonesia yang bergerak di bidang kreativitas muda-mudi putus sekolah.

Di pabrik Circa, Alma bertemu dengan Genta Ramya Sasmitro, putra dari pimpinan Circa Indonesia, Azman Sasmitro. Genta -atau Ramya bagi Alma- sedang berada di sana dalam rangka mempersiapkan tugas mata kuliah Riset Pemasaran. Ia adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Richmond Indonesia yang malas dan selalu membayar orang lain untuk mengerjakan tugasnya. Tapi kali ini tidak ada yang bisa membantunya sehingga ia mesti melakukan riset seorang diri.

Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi. Keduanya saling tertarik. Meskipun Genta masih mendambakan Linka Hudyana yang sudah punya pacar dan kehadirannya di sekolah Alma untuk melakukan riset brand equity-nya membuat Sailendra, teman Alma cemburu karena merasa diserobot.

Tapi ternyata hubungan Alma dan Genta yang sama sekali belum berkembang mendapatkan tantangan dari Aldebaran, abang Alma. Bukan karena Alma belum cukup umur untuk berpacaran, melainkan karena Aldebaran sangat membenci Genta. Padahal mereka bersahabat semasa SMA dan pernah melewati suka duka bersama. Aldebaran menyimpan kebencian dalam hatinya dan tak segan merusak reputasi Genta di hadapan Alma.

Kena cipratan getah dari pertikaian Genta dan Aldebaran, Alma memutuskan untuk memfokuskan dirinya pada proyek Circa dan menepiskan semua yang berkaitan dengan cinta. Apalagi ketika Azman Sasmitro, ayah Genta, meninggal dunia karena serangan jantung dan Circa terancam ditutup. Belum lagi dengan kemunculan Linka dalam hidup Genta begitu mengetahui Genta menjadi managing director menggantikan ayahnya. Class project dan impian Alma mendapatkan sponsor untuk kuliahnya terancam gagal. Mau tak mau ia harus berkonsentrasi pada usaha untuk membantu Genta mempertahankan eksistensi Circa Indonesia. Terlebih saat Genta dianggap tidak kapabel  menduduki tampuk kepemimpinan yang ditinggalkan ayahnya. Genta membutuhkan kecerdasan otaknya bukan cintanya. 

Hanya ada satu cara untuk meredakan kegentingan situasi di Circa. Genta harus menciptakan terobosan yang akan memperkuat keyakinan BoD (Board of Directors) dan Dewan Komisaris pada eksistensi Circa. Ia harus mengupayakan kesuksesan Circa Lip Moist teen limited edition dengan bantuan Alma. Akankah mereka berdua mampu menaklukkan BoD dan dewan komisaris Circa? Dapatkan Alma menuntaskan class project-nya dan mendapatkan sponsor untuk masuk perguruan tinggi selulus SMA? Dan pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: apakah Alma sanggup menghalau Linka dari sisi Genta yang dicintainya?

Sedangkan terhadap Aldebaran timbul pertanyaan lain. Apakah ia bisa melunturkan kebenciannya pada Genta dalam kondisi pelik yang dihadapi mantan sahabatnya? Maukah ia membantu Genta keluar dari masalah?

Circa, novel remaja karya Sitta Karina, tidak hanya sekadar membincang romantisme remaja. Selain kisah pencarian cinta untuk menemukan pasangan yang tepat, di dalam novel ini kita juga akan menemukan persahabatan yang mengalami ujian, semangat seorang remaja untuk menjangkau cita-cita, dan proses pendewasaan seorang anak muda yang mengharukan. Semua elemen ini berkolaborasi menghasilkan kisah yang berbobot dan cukup enak diikuti.

Dari segi penyajian dan plot, memang tidak ada yang istimewa. Hanya saja, Sitta memiliki kecakapan dalam hal  membangun karakterisasi. Alhasil, selain kedua karakter utama, Genta dan Alma, novel ini menghadirkan juga karakter pelengkap yang mencuri perhatian. Seorang pemuda yang sangat mencintai gadis yang dipacari sahabatnya. Seorang penari yang melepas cita-citanya karena sebuah musibah. Seorang gadis egois yang tidak mau tahu kesulitan yang menimpa pacarnya. Seorang gadis blasteran Indonesia-Amerika yang menyembunyikan dirinya dalam kepribadian queen bee.

Sitta mengawali setiap bab dalam novel ini dengan tips-tips kecantikan yang bermanfaat bagi remaja yang peduli pada aktivitas bersolek. Bagi yang tidak tertarik boleh melewatkannya karena jika tips-tips itu disingkirkan dari halaman novel tidak akan memberi efek apapun. Kecuali dalam dialog, penggunaan bahasa Inggris terkesan dipaksakan karena sebenarnya ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia. 

Meskipun segmen utama yang ditargetkan novel ini adalah pembaca remaja dan perempuan, sebenarnya ilustrasi sampul tidak mewakili semangat Almashira -kalau gadis di sampul dimaksudkan sebagai Almashira. Almashira memang bercita-cita menjadi ahli kosmetika dan ahli kecantikan tapi ia tidak menghabiskan waktunya dengan bersolek. Lagipula, dengan sampul semacam ini, segmen pembaca Circa menjadi sempit. Padahal, novel remaja tidak cuma dibaca remaja dan perempuan.

Ada yang ingin saya kupas dari novel ini. Pertama kalimat yang berbunyi: "Pak Tubagus memperlihatkan beberapa alternatif ramuan rasa lip moist, yang nantinya akan mereka pakai. Rasa ini dibuat langsung dari ekstrak buah-buahan dan biasanya berbentuk cair, berupa minyak esensial." (hlm. 100). Setahu saya minyak esensial (minyak atsiri) tidak dibuat dari ekstrak melainkan dengan proses distilasi atau penyulingan bahan bakunya.

Yang kedua adalah isi percakapan lewat Yahoo Messenger antara Alma (MoiCirca) dan temannya, Farri (MyCHEMICALromance) (hlm. 123-124). Alma meminta Farri untuk mengajarinya titrasi asam-basa dan terjadilah percakapan berikut ini:

myCHEMICALromance: buat persamaan reaksinya dulu jadi begini: NaCl (aq) + H2O (l), cari mol HCl, lalu berdasarkan koefisien reaksinya, cari mol NaOH, di mana mol NaOH = mol HCl. 

MoiCirca: Abis itu tinggal hitung kemolaran NaOH pake rumus M= n/V?

Percakapan yang sungguh konyol. Sitta tampaknya sekadar mengutip dari buku Kimia SMA -salah kutip pula - dan sama sekali tidak paham dengan topik yang dijadikannya bahan percakapan itu. Isi percakapan Alma dan Farri sama sekali bukan tentang titrasi asam-basa. Lalu, untuk apa cari mol HCl, NaOH segala? Mana persamaan reaksinya? Dari mana muncul NaOH dan HCl? Kalau Sitta mengira   NaCl +  H2O akan menjadi NaOH + HCl,  sungguh menggelikan. 


14 January 2013

Unforgettable




Judul Buku: Unforgettable
Pengarang: Winna Efendi
Tebal: vii + 176 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: GagasMedia



 

Sejoli itu bertemu di Muse, sebuah kedai wine. Sang perempuan adalah salah satu pemilik Muse, seorang penulis berwajah muram yang telah berhasil menerbitkan buku-buku laris. Ia selalu duduk di dalam Muse, tepatnya di sebuah meja persegi di samping jendela besar, mengetikkan hasil imajinasinya. Sang lelaki adalah seorang pengusaha muda bermata sayu yang setiap malam datang mengunjungi Muse. Selalu muncul lima menit sebelum pukul sembilan dan pulang pada pukul sebelas. Ia mengambil tempat duduk di pojokan sambil pelan-pelan menyesap wine langganannya, Cabernet Sauvignon. Setiap kali lelaki itu datang, sang perempuan seolah-olah kehilangan ide dan tidak bisa menulis.

Lelaki itulah yang berinisiatif memulai pembicaraan di antara mereka dan perempuan beraroma arbei itu menyambutnya, keluar dari kerangkeng introvertnya. Perempuan itu menemukan kegembiraan bertukar cerita dengan seorang lelaki. Maka mereka pun melewatkan waktu hari demi hari, setiap lelaki itu mendatangi Muse, dengan berbincang. Masa lalu, kenangan, cinta dan cinta pertama, musik, mimpi, anggur favorit, kematian, Natal, dan ketakutan-ketakutan menjadi materi perbincangan yang kian mendekatkan mereka.

Mereka memiliki persamaan, juga perbedaan. Sama-sama menggemari anggur, Nirvana dan Kurt Cobain, tapi memiliki cara pandang yang berbeda mengenai masa lalu dan kenangan serta hubungan antara perempuan dan laki-laki. Bagi si perempuan, cintanya tunggal, pertama dan terakhir, dalam wujud pemuda delapan belas tahun bernama Remy.  Sementara bagi si lelaki, cinta tidak bernama dan karenanya ia mempunyai banyak pengalaman dengan perempuan, tapi tidak dengan cinta. Ia sama sekali tidak bisa menerima definisi cinta yang disampaikan si perempuan.

Mencintai seseorang ... mungkin seperti berjalan di atas lapangan es tanpa merasakan dinginnya. Lapisan esnya bisa retak kapan saja, tetapi bagai orang bodoh, kita terus melangkah maju. Terkadang, paranoia menguasai dan membuat kita mengambil beberapa langkah mundur. Cinta adalah faktor yang membuat kita membulatkan tekad dan terus maju, percaya bahwa kita tidak akan jatuh dan tenggelam, walau percaya terlihat seperti risiko terbesar yang akan pernah kita ambil. (hlm. 65).

Lelaki itu punya pendapat sendiri mengenai hubungan perempuan dan laki-laki:

Alangkah baiknya jika hidup dan cinta merupakan sebuah perhitungan risiko, evaluasi untung rugi, persentase kecocokan...saat sebuah angka akan menentukan nilai akhirnya, apakah risiko yang diambil pantas, apakah volatilitasnya terlalu tinggi sehingga lebih baik tidak dilanjutkan. Setidaknya, itu akan membuat semua orang merasa lebih aman. (hlm. 66-67).

Bagaimanapun, perbedaan tidak menciptakan jarak di antara mereka. Mereka malah kian mengenal dan memahami satu sama lain karena berani terbuka mengenai kelemahan dan ketakutan dalam hidup. Dan kendati tidak mencari, mereka merasa telah menemukan sesuatu.

Sayangnya, mendadak lelaki itu berhenti mendatangi Muse, meninggalkan tanya dalam benak sang perempuan. Tidakkah lelaki itu merindukan dirinya? Apakah lelaki itu tidak akan pernah lagi memunculkan wajahnya di Muse? Dan yang terpenting: apakah ia telah jatuh cinta pada lelaki itu? 

Winna Efendi
Perempuan dan lelaki itu adalah karakter utama dalam Unforgettable, novel alit karya Winna Efendi. Anehnya, nama kedua karakter ini tidak diperkenalkan sejak awal. Bukan karena mereka tidak memiliki nama tentunya, tapi disengaja oleh Winna. Seolah-olah hendak menandaskan bahwa sesungguhnya nama tidak lebih penting dari interaksi dan pemahaman di antara mereka. Padahal, kisah dalam Unforgettable tidak hanya terjadi sehari. Ganjil rasanya ada dua orang terlibat perbincangan dari hari ke hari dan tidak pernah mengetahui nama masing-masing. Maka ketika Winna akhirnya mengungkapkan nama mereka di bagian epilog atau bab enam belas, efeknya tidak mencengangkan. 

Tapi hal ini tidak lantas membuat Unforgettable tidak menarik. Dalam durasi yang singkat, Winna berhasil menggulirkan kisahnya dengan indah. Kalimat-kalimatnya terjalin apik memanfaatkan kata-kata yang ekonomis dan selektif. Memiliki kecenderungan puitis tapi tidak hiperbolis sehingga tetap enak dibaca. Meskipun tidak diberi tanda petik, dialog-dialognya tetap masih bisa dipahami. 

Setiap bab, kecuali prolog dan epilog, diberi judul dengan nama wine yang dijual di Muse kemudian diikuti kutipan-kutipan yang mengandung kata "wine" dan "champagne". Winna cukup menguasai topik tentang wine dan berhasil memberikan gambaran yang kuat di benak pembaca mengenai wine yang dicium ataupun disesap para tokoh.  

Saat itu, ia mencium aroma musim semi. Vanilla, juga jeruk nipis yang kental, beradu dengn bau buah peach yang baru matang dan permen toffee yang masih berada di pemanggangan. Aroma yang sangat menyenangkan, seperti berada di kebun buah sekaligus kedai permen pada saat bersamaan. (hlm. 25). 

Wine pertamanya adalah ledakan seribu satu rasa. Dia bahkan tidak mampu menjelaskan komplikasi rasa buah-buahan yang manis, lembut seperti krim, yang diakhiri dengan sentuhan karamel begitu ia menelannya. (hlm. 25). 

Cinta itu seperti segelas Eiswein. Kesan pertama selalu manis -seperti sekeranjang aprikot segar berpadu dengan vanili dan gulali. Meskipun sudah diteguk habis, rasanya tersisa untuk waktu yang sangat lama, baik pahit maupun manisnya. (hlm. 64). 

Banyak penulis menggunakan kata 'akut' secara tidak tepat. Winna melakukannya dalam kalimat "Lelaki itu mengidap insomnia akut" (hlm. 45). Yang benar tentu saja kronis dan bukan akut karena lelaki itu sudah lama mengalami insomnia. 

Bisa disimpulkan, Unforgettable adalah sebuah kisah romantis tentang menemukan cinta dan menghadapi kenyataan yang diakibatkannya. Saya tidak ingin memberi kesimpulan yang gamblang agar tidak mengungkapkan ending novel ini. Yang jelas, atmosfer novel ini mengingatkan saya pada film Before Sunrise (1995) yang kisahnya berpusat pada pertemuan sepasang anak manusia dan percakapan di antara mereka.

  



08 January 2013

Take a Bow



Judul Buku: Take a Bow
Pengarang: Elizabeth Eulberg (2012)
Penerjemah: Mery Riansyah
Tebal: vi+ 322 hlm; 19 cm
Cetakan: 1, September 2012
Penerbit: Bentang Belia






Mereka berempat adalah siswa Sekolah Seni Kreatif dan Pertunjukan -Creative and Performing Arts (CPA)- di New York. 

Carter Harrison, mantan bintang cilik dan aktor opera sabun, datang ke salah satu sekolah seni paling bergengsi di Amerika itu dengan harapan keterampilannya bisa ditingkatkan.  Ia mengambil kelas di Departemen Drama, berusaha menyeimbangkan karier dan pendidikan, serta berpacaran dengan Sophie, siswa Departemen Vokal yang haus ketenaran. 

Memulai ambisi menjadi bintang terkenal di Brooklyn, Sophie Jenkins berharap CPA akan membuka jalan menuju studio rekaman hingga mendapatkan Grammy Award sebelum berumur 20 tahun. Segala yang dilakukan Sophie sampai tahun ketiga di CPA adalah usaha untuk mendapatkan tempat utama di Pentas Senior. Beruntung Sophie memiliki teman seperti Emme yang bisa menciptakan lagu yang selalu cocok dinyanyikannya.

Bagi Emme Connelly sendiri, menjadi siswa CPA adalah berkat dorongan Sophie yang dikenalnya di Brooklyn sejak berumur delapan tahun. Meskipun mahir memainkan alat musik seperti piano dan gitar dan menulis lagu, ketenaran solo bukanlah target Emme. Tapi meskipun Sophie adalah tujuan utama keberadaannya di CPA, Emme membentuk band dengan tiga cowok dalam kelasnya di Departemen Komposisi Musik. Ketiga cowok itu adalah Jack Coobs, Benjamin McWilliams, dan Ethan Quinn. 

Memainkan berbagai alat musik adalah bakat luar biasa yang dimiliki Ethan Quinn. Dikenal sebagai Yang Terpilih, Ethan bisa bersekolah di CPA hanya dengan mengikuti satu audisi. Ethan benci menyanyi, tapi tidak bisa menolak ketika teman-temannya mendaulatnya menjadi penyanyi bagi band mereka, Teenage Kicks. Belakangan, Ethan menemukan dengan menjadi penyanyi, terbuka jalannya untuk memacari dan menyelingkuhi gadis-gadis. Tapi, tanpa diinginkannya, ia cemburu menyaksikan Emme bergaul dengan cowok-cowok di luar band seperti Tyler Stewart, pemain piano, dan Carter, si aktor idola remaja. Sambil memendam perasaannya, Ethan melakoni peran sebagai sahabat yang berusaha menyadarkan Emme mengenai pertemanannya dengan Sophie. Ethan jelas-jelas bisa melihat jika Sophie sebenarnya telah memanfaatkan Emme untuk kebaikan dirinya sendiri.

Mereka berempat dinobatkan oleh Elizabert Eulberg -penulis Take a Bow- menjadi narator orang pertama dari kisah mengenai perjuangan remaja menemukan identitas diri demi menyongsong masa depan, persahabatan yang umumnya mewarnai kehidupan masa remaja, dan ambisi untuk meraih kesempatan. Juga cinta dan pengkhianatan yang melalui kedua hal ini, para remaja mencapai pendewasaan diri. 

Pada tahun ketiga mengenyam pendidikan di CPA, Carter akan menemukan passion-nya dan berani berjuang untuk itu. Emme akan menyadari bahwa dirinya bukanlah manusia nomor dua yang hanya pantas berdiam di belakang layar. Ethan akan memahami bahwa cinta selalu membutuhkan keberanian dan perjuangan untuk meraihnya. Sophie akan mengetahui bahwa memang tidak mudah mewujudkan sebuah ambisi, apalagi ambisi menjadi superstar. Hanya satu yang tidak bisa dipelajari Sophie, untuk menjadi bintang terkenal, ia membutuhkan introspeksi diri.

Menggunakan narator majemuk seperti dalam novel ini sebenarnya tidak gampang, apalagi kalau penulisnya cuma satu orang. Kegagalan potensial yang kerap dijumpai adalah para narator tidak bisa mengeluarkan suara yang benar-benar merupakan suara mereka. Akibatnya, kendati menggunakan narator orang pertama, semuanya berkisah dengan cara yang identik. Saya kira, meskipun menggunakan empat narator orang pertama, Elizabeth Eulberg berhasil memberikan warna berbeda dari cara pengungkapan mereka, sehingga suara mereka segera bisa dikenali pembaca. Pada gilirannya, keempat narator ini pun menjadi saling melengkapi.

Meskipun sudah tidak remaja lagi, saya masih bisa menikmati kisah di dalam novel ini. Selain penuturannya yang tidak berlebihan, seni terutama musik, selalu membuat saya bersemangat. Sebelum membaca  novel ini, saya telah bisa menamatkan drama musikal Korea bertajuk Dream High yang bertema sama dengan Take a Bow. Padahal, saya bukanlah penggemar film seri Korea.

Setelah Take a Bow, saya berharap bisa membaca karya Elizabeth Eulberg yang lain. Pengarang yang juga pencinta musik ini sebelumnya telah menerbitkan The Lonely Hearts Club (2009) dan Prom & Prejudice (2011 -edisi Indonesia kedua novel ini telah diterbitkan Bentang Belia. Pada Maret 2013, ia akan menerbitkan buku keempatnya, Revenge of the Girl with the Great Personality.  

Saat ini Elizabeth Eulberg tinggal di New York bersama tiga gitar, dua keyboard, dan satu stik drum. 



06 January 2013

The Hunter


Judul Buku: The Hunter
Judul Asli: Kogoeru Kiba  ( 凍える牙)
Pengarang: Asa Nonami (1996)
Penerjemah: Julanda Tantani
Tebal: 536 hlm; 13,5 x 20 cm
Cetakan: 1, Desember 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Seorang laki-laki tewas terbakar di sebuah restoran di lantai dasar sebuah gedung bertingkat enam. Anehnya, tidak ada orang atau kondisi di dalam restoran yang membuatnya terbakar. Ia terbakar dengan sendirinya dan tidak bisa menyelamatkan diri atau diselamatkan oleh orang lain. Setelah tubuhnya terbakar, lidah-lidah api merayap hingga ke lantai tiga gedung. 

Tentu saja laki-laki itu tidak membakar dirinya sendiri, karena ketika api menggulung tubuhnya ia berteriak-teriak minta tolong. Di TKP polisi menemukan potongan sabuk yang dipakai laki-laki itu. Di dalamnya terdapat penyulut api berpengatur waktu yang berisikan senyawa penyebab kebakaran, benzoil peroksida. Disimpulkan bahwa laki-laki yang dikenal sebagai Takuma Sugawara itu sengaja dibunuh. Tapi siapa yang merancang pembunuhan dengan metode yang belum pernah ada dalam dokumen kejahatan di Jepang?

Sebelum pihak kepolisian Metropolitan Tokyo berhasil memecahkan kasus pembunuhan Takuma Sugawara, terjadi dua kasus pembunuhan. Kazuki Horikawa, seorang laki-laki, dan Chieko Yoshii, seorang perempuan, tewas dengan cara yang sama: dicabik-cabik  anjing serigala. Kedua kasus pembunuhan ini membuat investigasi kepolisian terpecah dua: benzoil peroksida dan anjing serigala.

Tamotsu Takizawa, seorang detektif setengah baya yang tidak setuju dengan keberadaan detektif perempuan dipasangkan dengan Detektif Takako Otomichi, seorang perempuan. Walaupun perempuan, Takako Otomichi pernah menjadi kadal atau polisi bersepeda motor dari Unit Investigasi Bergerak. Mereka mendapatkan tugas untuk menyelidiki anjing serigala dan keberadaan binatang itu di Tokyo. Hasil investigasi keduanya akan dipadukan dengan hasil penyelidikan mengenai benzoil peroksida yang dilakukan detektif lain untuk memastikan keterkaitan kedua kasus itu.

Satu demi satu fakta berhasil digali dan menghasilkan kesimpulan bahwa kedua kasus itu memang berhubungan. Tapi di mana titik singgung kedua kasus itu? Apakah pembunuhan Takuma, Kazuki, dan Chieko dilakukan oleh orang yang sama? Dan apa sebenarnya motif yang melatari kedua kasus itu? Lalu, karena kedua kasus itu berhubungan, pertanyaan akan semakin berkembang: bagaimana mungkin seekor binatang bisa menjadi pembunuh yang begitu akurat? Di sinilah kisah dalam The Hunter karya Asa Nonami bertambah rumit sekaligus menarik. Kita tidak akan bisa menunda pembacaan terlalu lama sebelum mencapai bagian pamungkas dan semua misteri terpecahkan secara tuntas. Sebuah kejutan akan menggiring kita menuju bagian epilog yang mengharu-biru. 

Kendati menyodorkan kasus-kasus pembunuhan, The Hunter tidak kehilangan elemen dramanya. Yang pertama terkait dengan kehidupan kedua karakter utama, Takizawa dan Takako. Keduanya sama-sama telah bercerai dengan pasangan hidup mereka dan tidak pernah terbebaskan dari permasalahan keluarga. Takizawa mempunyai dua orang anak yang tidak mudah diatur, sedangkan Takako memiliki keluarga yang tidak pernah berhenti mencampuri hidupnya. Yang kedua dan paling menyentuh terkait dengan karakter bernama Topan yang begitu mencintai keluarganya dan kehilangan semangat hidup saat harus berpisah dengan mereka. 

The Hunter (Kogoeru Kiba) pertama kali diterbitkan pada 1996 dan memenangkan Naoki Prize -penghargaan yang setara dengan The National Book Award. Setelah dua kali dijadikan film televisi di Jepang, The Hunter diadaptasi ke dalam film layar lebar berjudul Howling (2012) produksi Korea Selatan. 

 
Asa Nonami adalah pengarang perempuan asal Jepang kedua dalam genre misteri yang telah saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca karya Natsuo Kirino, pengarang yang juga pernah memenangkan Naoki Prize (1999). Kesamaan yang saya temukan dalam karya mereka adalah intensitas dalam menyajikan detail yang dibutuhkan sebuah novel. Asa Nonami yang dikenal di Jepang sebagai pengarang prolifik menerbitkan karya fiksi pertamanya, Happy Breakfast, pada tahun 1988 dan memenangkan Japanese Mystery and Suspense Award. Selanjutnya, ia juga telah menerbitkan karyanya yang lain seperti The June 19th Bride, Paradise Thirty, Dramatic Children, Murderer of the Blooming Season, dan Body

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan