Showing posts with label Jodi Picoult. Show all posts
Showing posts with label Jodi Picoult. Show all posts
12 February 2012

Perfect Match



Judul: Perfect Match
Pengarang: Jodi Picoult (2002)
Penerjemah: Julanda Tantani
Tebal: 504 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Mei 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama



Anak-anak yang lain adalah pekerjaanku. Nathaniel adalah hidupku (Nina Frost, hlm. 461).
  




Sudah tujuh tahun Nina Frost bekerja sebagai jaksa penuntut dalam kasus-kasus pelecehan seksual yang dialami anak-anak. Pengalaman mencelikkannya bahwa dalam upaya pencarian keadilan,  anak-anak itu otomatis menjadi pihak yang paling menderita. Bila pelaku tidak mengakui perbuatannya, untuk mendapatkan kejelasan kasus, anak-anak itu akan diminta bersaksi. Sebelum dinyatakan kompeten untuk bersaksi mereka mesti menjalani competency hearing. Dari uji kompetensi ini, mereka bisa dinyatakan tidak kompeten, yang berarti pelaku bisa melenggang bebas. Anak-anak yang dinyatakan kompeten akan pergi ke ruang sidang yang berpotensi menyusutkan nyali. Mereka dipaksa merespons pertanyaan-pertanyaan yang diajukan baik dari jaksa maupun pengacara pembela. Tidak terhindarkan, mereka juga akan bertatapan muka dengan pelaku yang sebelumnya mungkin telah melontarkan ancaman untuk tutup mulut. Kendati si pelaku akhirnya digiring ke penjara, efek yang pasti dari persidangan adalah trauma yang tidak segera pupus. Bagi Nina, selama itu terjadi pada anak orang lain, tidak menjadi urusannya. Yang penting ia telah bekerja keras memastikan sistem peradilan berjalan dengan baik.

"Sebagai jaksa tanggung jawabku benar-benar berbeda. Aku harus mengusahakan keadilan sebaik mungkin untuk masing-masing anak, dan itulah yang kulakukan. Hal-hal lain yang terjadi di luar ruang sidang adalah urusan orangtua mereka, bukan aku.... Kalau seorang ibu tidak menerima keputusan pengadilan dan menembak si pelaku, itu tidak ada hubungannya denganku, " demikian yang diyakini Nina.

Suatu hari Nathaniel, anak semata wayangnya yang berusia lima tahun dan memiliki sedikit kendala dalam berbicara, mengalami pelecehan seksual. Apa yang disaksikan Nina selama bekerja sebagai jaksa penuntut kontan (dan sebelumnya pengacara pembela) menghantui pikirannya. Ia langsung membayangkan tekanan seperti apa yang akan mengganjar putranya demi mendapatkan keadilan.

Menjadi tidak mudah karena Nathaniel mendadak mogok bicara. Padahal, membutuhkan nama pelaku agar kasus bisa dipengadilankan. Nina memutuskan mengajari Nathaniel American Sign Language (Bahasa Isyarat Amerika). Celakanya, kesalahpahaman tidak terelakkan. Caleb, suami Nina dan ayah Nathaniel, seorang pengrajin batu, menjadi tersangka. Caleb dipaksa menjauhi keluarganya yang sedang terguncang. Kesalahpahaman itu tidak sempat berlarut-larut, karena kemudian, masih dalam kebisuannya, Nathaniel mengindikasikan Pastur Szyszynski atau Bapa Glen sebagai pelaku.

"Tapi pada suatu hari, aku bukan hanya seorang jaksa. Aku adalah orangtua. Dan semuanya tergantung padaku untuk mengambil setiap langkah guna memastikan anakku aman, tak peduli yang lain," Nina beralasan.  Maka, ia pun menyusun rencana untuk mencegah Nathaniel menjadi bulan-bulanan di ruang sidang. Pada sidang penuntutan yang pertama kali menghadirkan Bapa Glen, Nina memastikan tersangka tidak meninggalkan ruang sidang dalam keadaan hidup. Sebagai jaksa yang dikenal pekerja gedung pengadilan tidak sulit bagi Nina untuk membawa masuk pistol ke ruang sidang. Empat kali pelatuk ditarik, Bapa Glen tewas dengan kepala berantakan.

Sekalipun sempat tebersit di benak Caleb keinginan membunuh penganiaya Nathaniel, ia tidak pernah berniat balas dendam. Caleb percaya pengadilan akan memberi hukuman yang layak bagi tersangka sehingga tidak bisa menolerir tindakan istrinya. Nina tidak sependapat.  Menurutnya yang akan terjadi:  "Tidak setimpal. Tidak ada hukuman yang bisa dijatuhkan hakim yang bisa menebus perbuatannya... Aku melakukan apa yang ingin dilakukan setiap orangtua. Aku hanya perlu bersikap cukup gila supaya bisa lolos dari hukuman." (hlm. 223). Dua opsi dipertimbangkan pihak Nina untuk pembelaan: ketidakwarasan atau amarah tak terkendali karena terprovokasi keadaan. Nina dan pengacaranya berharap pembelaan ini akan mengukuhkan tindakan kriminal yang dilakukan Nina sebagai pembunuhan tidak direncanakan.

Tewasnya Bapa Glen tidak menghentikan pemeriksaan DNA sampel darah dan sperma yang ditemukan di celana dalam Nathaniel. Kesimpulannya mengejutkan, Bapa Glen bukanlah pelaku pelecehan seksual seperti yang disangka.Hal ini berarti pelakunya masih hidup dan Nina telah membunuh orang yang tidak bersalah. Pengungkapan itu tidak saja menggugat moral Nina yang merasa telah melakukan yang terbaik untuk anaknya. Tetapi juga mengarahkan keluarganya pada kehancuran gigantis. Caleb sama sekali tidak mau membenarkan tindakan istrinya.

Perfect Match (Pasangan Sempurna) adalah sebuah novel thriller dunia hukum yang diramu dengan drama keluarga yang sentimentil. Jodi Picoult menyorongkan perenungan mengenai moralitas dari tindakan yang disebabkan oleh penarikan kesimpulan yang gegabah. Apakah pembunuhan yang dilakukan orangtua sebagai proteksi atas kemungkinan trauma karena pelecehan seksual yang dialami anaknya bisa dibenarkan? Apakah keadilan terbaik memang hanya akan diperoleh dengan jalan merampas kehidupan, dalam hal ini, pelaku pelecehan seksual?  Ironisnya, pertanyaan-pertanyaan ini dialamatkan pada seorang ibu sekaligus jaksa yang mengetahui dengan sangat mendetail mekanisme keadilan yang benar. Kejadian-kejadian yang kemudian berbiak menurut efek bola salju dan benar-benar nyaris merenggut kewarasan Nina mengedukasi pembaca bahwa: tindakan main hakim sendiri akan selalu berdampak buruk.

Tidak pelak lagi, novel ini menjadi pameran kepiawaian Picoult sebagai penutur yang mahir mengaduk-aduk emosi pembaca. Seolah-olah memiliki daya tenung, ia menyeret pembaca ke dalam arus pergolakan emosi setiap karakter, termasuk si kecil Nathaniel yang mendapat tempat khusus. Proses persidangan menjadi bagian paling membius kendati pengarang tidak pernah berdiri di tengah-tengah ruang sidang. Ia hanya mengandalkan pengalaman orang lain, tetapi mampu membuat pembaca terpasung ketegangan seperti sedang berada di ruang sidang. Sekaligus juga ia menggelitik pembaca dengan sentuhan humor yang menyadarkan pembaca akan ketidaksimpatikan terdakwa. Nina kerap kehilangan kontrol, melupakan kenyataan jika dirinya adalah terdakwa dan bukan jaksa penuntut. Pengacaranya harus mengingatkan Nina manakala di tengah-tengah persidangan Nina mendadak berdiri dan berteriak: "Keberatan!" Sikap Nina yang sukar menghargai orang lain kian mengentalkan kegelian saat ia bersikeras menyingkirkan pengacaranya dan menyampaikan sendiri argumen penutup.

Tidak hanya mahir dalam mengadon perasaan pembaca, pengarang juga memiliki selektivitas yang tinggi dalam memilih materi peraut konflik. Saat perhatian teralihkan ke pemeriksaan dan analisis forensik, ia menggedor benak pembaca dengan mengungkapkan salah satu keajaiban dunia medis. Saya yakin, tidak banyak pembaca yang tahu bahwa transplantasi sumsum tulang yang dilakukan pada penderita leukemia akut –jika sukses- akan menyilih darah sekaligus DNA darah si penderita dengan milik pendonor. Hal inilah yang digunakan pengarang memorakporandakan kehidupan tokoh utamanya sekaligus menajamkan daya sengat novel ini.

Pengarang menggulirkan ceritanya dalam plot yang bergerak cepat. Sesudah klimaks yang mendebarkan, ia mengeksekusi pamungkas yang memuaskan. Kejutan yang bagaikan letupan pistol, menerangjelaskan maksud pemilihan judul novel. Menyangkut masalah kriminal, Nina dan Caleb sungguh merupakan pasangan yang sempurna.

Jika ada bagian yang sedikit mengendur, pasti terletak pada kegemaran pengarang memberi tempat bagi permasalahan karakter pelengkap. Misalnya Quentin Brown, jaksa penuntut dalam kasus Nina, tidak sekadar dimunculkan dalam ruang sidang. Masa lalu seputar hubungannya dengan perempuan setempat yang telah memberikannya seorang anak juga ikut-ikutan didedahkan. Kekeliruan kecil tampak pada informasi mengenai lama pekerjaan Nina, sempat sekali disebut sepuluh tahun (hlm. 214) sementara pada bagian-bagian lain disebut tujuh tahun.

Hampir lupa. Novel ini benar-benar mengisahkan cinta yang sangat istimewa: cinta seorang ibu kepada anaknya. Oleh karena itu, simaklah percakapan Nina dan Nathaniel (hlm. 229) di bawah ini sebagai penutup tulisan ini.

Nathaniel: Apa yang terbaik setelah cinta? Kau cinta Mason, bukan?
Nina: Ya, tentu saja.
Nathaniel: Dan kau cinta Daddy lebih dari itu?
Nina: Ya.
Nathaniel: Dan kau cinta padaku bahkan lebih dari itu?
Nina: Benar.
Nathaniel: Jadi apa yang ada setelah itu?
Nina (setelah berpikir keras): Yang terbaik setelah cinta, adalah menjadi seorang ibu.

(Untuk Anda ketahui, Mason adalah anjing milik Nathaniel dan Daddy merupakan panggilan Nathaniel untuk ayahnya).

The Tenth Circle


Judul Buku: The Tenth Circle
Penulis: Jodi Picoult (2006)
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Tebal: 504 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Desember 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama






Dante Alighieri menciptakan sembilan lingkaran neraka pada bagian  Inferno dalam puisi epiknya, Divine Comedy (Divina Commedia). Dikisahkan Virgil -penyair Roma, menuntun Dante melewati sembilan lingkaran neraka itu. Di sana Dante menyaksikan kehidupan abadi dari para pendosa. Berturut-turut mengisi kesembilan lingkaran itu adalah orang-orang yang tidak beriman; pezina; rakus; tamak dan durhaka; pemarah; sesat; pelaku bunuh diri; curang dan culas; dan pengkhianat.

"Seharusnya ada lingkaran kesepuluh, tempat mungil seukuran kepala peniti, dengan ruang untuk jumlah orang yang tak terbatas." (hlm. 362). Begitulah yang terlintas di benak Laura Stone, profesor yang mengajarkan tentang Dante di Monroe College, Bethel (Maine). Ia dikenal sebagai pakar Dante Alieghiere dan tergila-gila pada cantiche pertama, Inferno. Ikhwal lingkaran kesepuluh itu terlintas bukan tanpa alasan. Laura merasa, ia memang layak berada dalam lingkaran yang menurutnya dilupakan Dante. Seorang perempuan berpendidikan tinggi yang berpura-pura steril masalah menjadi istri Daniel Stone dan kekasih Seth Dummerston -mahasiswanya. Sampai suatu malam, setelah membohongi Daniel, ia menghabiskan waktu di ranjang Seth. Sialnya, ia tidak berada di rumah manakala Beatrice Stone alias Trixie, putri semata wayangnya, dibawa Daniel ke rumah sakit, setelah mengaku diperkosa Jason Underhill, teman satu sekolah.

Tidak hanya Laura yang pantas menghuni lingkaran kesepuluh neraka. Trixie, sebagaimana ibunya, adalah seorang pembohong. Pada peringatan 3 bulan asmara mereka, Jason mencampakkan Trixie demi cewek lain. Jason memang seorang cowok idola, pelukannya menjadi magnet bagi kalangan cewek SMA Bethel. Trixie tentu saja tidak terima. Pada usianya yang ke-14 saat ini, ia sudah kehilangan selaput dara. Bukan baru sekali Jason menidurinya. Karenanya, malam itu, dalam pesta seks yang dilakukan anak-anak SMA (dengan aktivitas seks yang tidak terbayangkan), Trixie berniat merebut Jason kembali.

Bagi Jason, pesta malam itu, berakhir dengan petaka. Ia menjadi tertuduh pemerkosa Trixie. Celaka bagi Jason, pada pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan Trixie telah dicekoki ketamine. Obat nonbarbiturat ini kerap salah digunakan sebagai perangsang seks oleh anak-anak muda. Tak pelak lagi, Jason harus diadili sebagai pria dewasa.

Kehancuran masa depan Jason yang gemilang sebagai seorang pemain hoki tampan sama sekali tidak menggugah hati Daniel Stone yang dirundung kemarahan. Peristiwa yang dialami putrinya telah memprovokasinya, membuat amarah yang sekian tahun dibenamkan dari hidupnya mengambang ke permukaan. Amarah yang berubah kekhawatiran ketika kasus pemerkosaan Trixie berubah menjadi kasus pembunuhan. Keluarga Stone terpuruk menjadi tersangka! Daniel pun dipaksa kembali ke masa lalu, ke Bethel lain yang telah ia tinggalkan. Di sana, ia harus menghadapi masa lalu dan mencoba menyelamatkan keluarganya. 

The Tenth Circle (Lingkaran Kesepuluh) merupakan novel kelima Jodi Picoult yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Sebelumnya telah terbit Salem Falls, Plain Truth, My Sister's Keeper, dan Vanishing Acts. Novel yang edisi Inggrisnya terbit pertama kali Maret 2006 ini telah difilmkan (film TV) oleh Sony Pictures Television (2008). Seperti minatnya, penulis yang menulis cerita pertamanya pada usia 5 tahun dengan judul "The Lobster Which Misunderstood" ini masih mengandalkan problematika keluarga Amerika. Kali ini ia mendedahkan kehidupan sebuah keluarga yang anggotanya sibuk sendiri dalam kepompong ketidakterbukaan dengan kecenderungan membohongi diri sendiri dan orang lain. Pergumulan pikiran masing-masing dikonsumsi sendiri sehingga tidak sensitif merespons isyarat petaka. Begitu masalah datang, mereka tidak siap menghadapinya dan cenderung memilih jalan yang termudah, bukan yang terbaik. Picoult mengingatkan pembaca bahwa keterbukaan dalam keluarga sangat penting, menjadi modal bagi keutuhan keluarga. 

Tidak hanya mengikuti masalah keluarga, membaca novel ini akan mengundang pembaca untuk bertanya-tanya seputar pembunuhan yang terjadi; mengapa pembunuhan ini bisa terjadi dan siapa sosok kriminalnya. Setelah mengikuti narasi Picoult yang bersolek panjang lebar, dalam penuturan beralur kilas balik, pembaca akan mendapatkan jawaban yang mungkin sebenarnya sudah berkeliaran di benak.

Sejatinya, The Tenth Circle tidaklah sangat istimewa. Cerita yang ditawarkan penulis kelahiran 19 Mei 1966 ini bukanlah sesuatu yang sangat baru. Namun harus diakui, ide Lingkaran Kesepuluh yang lahir dari Divine Comedy cukup mengesankan. Para pakar Dante mungkin tidak pernah terpikir mengusulkan lingkaran baru dalam Lingkaran Neraka Dante. Picoult melakukannya, dan, dengan brilian. Untuk memperkaya ide Lingkaran Kesepuluh ini, Picoult berkolaborasi dengan Dustin Weaver, seniman komik yang pernah terlibat pembuatan komik Star Wars dan King Kong. Penambahan komik di antara halaman-halaman novel tidak hanya membuat novel ini unik dan tampil beda, tetapi juga membuat pembaca lebih memahami maksud sang novelis. 
 
Tentu saja komik karya Weaver tidak dijejalkan begitu saja. Salah satu karakter novel yaitu Daniel Stone, adalah seorang komikus. Ketika cerita novel bergulir, ia sedang menuntaskan novel grafis berjudul The Tenth Circle. Keluarganya menjadi sumber inspirasi Daniel. Oleh karena itu, kisah dalam novel maupun komik merupakan kisah keluarga Daniel yang sebenarnya. Sayangnya, ide Lingkaran Kesepuluh yang digunakan Daniel dalam novel grafisnya akan menimbulkan pertanyaan. Daniel memang tahu minat dan spesialisasi istrinya, tapi sudah pasti ia tidak tahu ide Lingkaran Kesepuluh yang hinggap di benak istrinya.

Sebelum menikah, Laura telah mengenal Daniel sebagai seniman komik. Pada pertemuan pertama mereka, Daniel membuat sketsa wajah Laura. Pada sketsa itu, Daniel mengimbuhkan pesan tersembunyi, sebuah ajakan kepada Laura untuk bertemu kembali. Dalam komik yang mengisi novel ini, terdapat 86 huruf yang menjadi pesan tersembunyi Picoult untuk ditemukan dan dirangkai pembaca. Jika berhasil, semua huruf itu akan membentuk kutipan yang meringkas tema novel dan nama pengarang kutipan itu. Anda bisa mengetahui benar tidaknya jawaban Anda dengan bertandang di situs sang novelis.

11 February 2012

Plain Truth



Judul Buku : Plain Truth
Penulis: Jodi Picoult
Penerjemah: Esti Ayu Budihabsari
Tebal : 528 hlm; 18 cm
Cetakan: 1, Maret 2007
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama





Pernah mendengar atau membaca tentang Orang Amish? Orang Amish adalah sebuah denominasi Kristen Anababtis yang kebanyakan terdapat di Amerika Serikat dan Ontario, Kanada. Mereka hidup memisahkan diri dari masyarakat umum karena alasan-alasan religius yang mereka yakini. Mereka tidak ikut militer, tidak mengunakan jaminan sosial, tidak menerima bantuan keuangan dari pemerintah, dan menghindari asuransi. 

Dalam percakapan sehari-hari mereka menggunakan dialek Jerman atau Pennsylvania Dutch yang mereka sebut sebagai Deitsch. Mereka terbagi ke dalam lusinan persekutuan terpisah yang terserak ke dalam distrik atau jemaat yang berdiri sendiri dan mempunyai kumpulan peraturan tidak tertulis sendiri yang disebut Ordnung. Orang Amish tidak mendirikan gereja sebagai tempat beribadah, tapi menggunakan rumah khusus yang kadang-kadang disebut House Amish. Mereka memiliki aturan-aturan tertentu dalam pembabtisan anak, perkawinan, dan pemakaman. Setelah kelas delapan, anak-anak Amish tidak diizinkan bersekolah lagi. Jika mereka memutuskan untuk melanjutkan sekolah, mereka akan diasingkan dari komunitas.

Amish Orde Lama masih memberlakukan peraturan-peraturan mengenai tata berpakaian, perilaku, dan pembatasan penggunaan mobil dan listrik atau teknologi modern lainnya. Sedangkan Amish Orde Baru dan Beachy Amish meski tetap menganggap diri Amish, mereka telah menggunakan mobil dan listrik. Amish Orde Lama memiliki komunitas di 21 negara bagian Amerika Serikat, dan salah satu populasi terbanyak berada di Pensylvania. 

Kehidupan Amish telah menjadi sumber berbagai karya, baik itu film, drama, musik, literatur anak, dan novel dewasa. 

Plain Truth (Kebenaran Sederhana) karya Jodi Picoult yang telah dibuat versi film televisinya (2004) adalah salah satu novel yang mengangkat kehidupan komunitas Amish sebagai sentral cerita. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, dan dijadikan cerita bersambung di Harian Kompas, dengan judul Kebenaran Sederhana. Selain Plain Truth, Gramedia Pustaka Utama juga telah menerbitkan novel Picoult lain yang berjudul Salem Falls. Sampai saat ini penulis kelahiran Long Island tahun 1966 ini telah menulis 14 novel termasuk My Sister's Keeper, Vanishing Acts, The Tenth Circle, dan Nineteen Minutes.

Picoult membuka Plain Truth dengan kelahiran seorang bayi laki-laki yang kemudian ditemukan menjadi mayat di gudang milik keluarga petani dari komunitas Amish di Paradise, Lancaster County, Pennsylvania. Berdasarkan bukti yang ditemukan polisi, bayi itu diketahui mati karena dibunuh. Yang menjadi tersangka dalam pembunuhan bayi itu adalah Katie Fisher, perempuan Amish berusia 18 tahun yang telah melahirkan si bayi. Meski bukti sudah sangat jelas, Katie menolak jika ia pernah hamil, melahirkan, dan membunuh bayinya. Sekeras apa pun pertahanan ia buat, ia tetap harus berhadapan dengan pengadilan yang memosisikannya sebagai terdakwa.

Eleanor Hathaway atau Ellie, seorang pengacara Philadelphia, yang memiliki reputasi sebagai pembela sukses para pembunuh, pemerkosa, dan pedofilia berada di East Paradise ketika kasus Katie Fisher merebak. Karena ada hubungan keluarga lewat bibinya, Leda, Ellie memutuskan membela Katie. Sesuai perjanjian jaminan prasidang, Ellie menetap di tanah pertanian keluarga Fisher guna mengawasi Katie.

Keluarga Fisher ternyata memiliki sejumlah masalah. Anak tertua, Jacob, diasingkan dari komunitas Amish gara-gara bertekad melanjutkan kuliah. Anak bontot, Hannah, tewas tenggelam di bawah permukaan es. Katie, anak kedua, berpacaran dengan Samuel Stoltzfus, tapi hamil dengan lelaki lain. Sarah Fisher, ibu Katie, telah menjalani operasi pengangkatan rahim yang membuat ia tidak bisa memiliki anak lagi. 

Untuk membela Katie, Ellie mesti bekerja keras, yang sayangnya kurang didukung oleh Katie sendiri. Katie bahkan tidak dengan mudah mau berterus terang kepada Ellie. Ellie yang mesti mati-matian berupaya mencari jalan untuk membela Katie.

Saat akhirnya Katie mengakui kehamilannya, ia membantah jika telah menghabisi nyawa anaknya. Ellie pun menetapkan dasar pembelaan untuk Katie, bahwa seorang perempuan Amish tak akan dan tak bisa melakukan pembunuhan. Dasar pembelaan yang kemudian dimentahkan oleh Katie sendiri. Padahal situasi pengadilan yang mereka hadapi kurang menguntungkan, mengingat para juri tidak ada yang berasal dari komunitas Amish. Hal ini bukan dikarenakan mereka tidak terpilih, tapi tidak ada warga Amish yang memanfaatkan pengadilan untuk mencari keadilan dan kebenaran. 

Konflik dalam novel ini berangkat dari pola kehidupan komunitas Amish bersama keyakinan yang mereka pegang yaitu menyandarkan perilaku pada hal-hal tertentu dari kitab suci secara literal. Mereka membangun kebenaran sendiri dan tak hendak mereka kompromikan dengan masyarakat luar yang mereka sebut sebagai orang Inggris. Mereka memiliki reputasi, bahwa mereka tidak bisa membunuh, mengutamakan kepentingan komunitas dari kepentingan pribadi, dan menjadi orang-orang yang hidup dalam kedamaian. Pendek kata, orang Amish tidak akan pernah sama dengan orang di luar mereka. Inilah yang hadir sebagai daya tarik utama novel Plain Truth.

Kebenarannya adalah orang Amish tetap manusia, dan inilah yang diungkapkan oleh Picoult dalam novelnya yang ketujuh ini. Mungkin sudah menjadi gayanya, ia mengarahkan cerita dalam plot yang mengalir tenang, cenderung lamban, meski tetap lancar. Ia mengemas kisahnya dalam bagian-bagian yang tidak terlalu panjang kendati novelnya terkemas dalam satu keutuhan yang panjang. Ia adalah pencerita yang mahir, pembaca akan digiring untuk terus membaca apa yang dibeberkannya sambil menyelam ke dalam jiwa para karakter yang diciptakannya. Penggambaran karakter oleh perempuan bertubuh subur ini memang terbilang sangat menarik. Pembaca akan dibawa memahami mereka sekaligus dengan permasalahan yang mereka alami sehingga karakter-karakter itu seolah keluar dari cerita dan hidup. Yang paling mengesankan, oleh Picoult, pembaca yang bahkan tidak mengenal orang Amish dan kebiasaan-kebiasaan mereka akan merasa dekat dengan mereka. Dapat dikatakan penerima penghargaan New England Book Award untuk karya fiksi tahun 2003 ini berhasil mengulik ke dalam jiwa orang Amish dan menghadirkan kepada pembaca dengan gemilang. 

Untuk membeberkan kisahnya, Picoult menggunakan 2 perspektif penceritaan, yaitu dengan perspektif orang ketiga, dan perspektif orang pertama melalui karakter Ellie. Sayangnya, penggunaan 2 perspektif ini sepertinya hanya untuk memberi nuansa berbeda pada teknik penceritaan. Tidak tertangkap kontribusi yang signifikan terhadap jalinan cerita. Artinya dengan mengganti perspektif orang ketiga dengan orang pertama menggunakan Ellie sebagai narator cerita tidak menjadi lebih istimewa.

Dilihat dari tema dan karakterisasi, kita harus mengakui jika novel ini adalah sebuah karya menarik. Temanya mengugah dengan karakterisasi yang diformat secara menawan. Bagian yang paling menarik dari keseluruhan novel, tidak dapat diungkiri, adalah proses pengadilan untuk memutuskan apakah Katie bersalah atau tidak. Konfrontasi antara pembela dan penuntut disajikan secara menarik untuk diikuti. Picoult menuturkan kejadian-kejadian selama persidangan secara mengesankan dengan dialog-dialog yang menyenangkan. Pembaca akan terdorong untuk menduga-duga hasil akhir persidangan. 

Sayangnya, setelah berlembar-lembar halaman dilewati dengan adegan-adegan pengadilan yang mengasyikkan, pengadilan tersebut ditutup dengan pamungkas yang hadir sebagai antiklimaks. Adegan akhir yang berhubungan dengan pengadilan, jalan tengah untuk mengakhiri kasus yang tidak dengan segera diputuskan oleh para juri, sungguh mementahkan kematangan yang telah terbangun sebelumnya. 

Secara pribadi, saya akan merasa lebih terkesan jika adegan pengungkapan yang disajikan di bab terakhir dihadirkan di hadapan pengadilan. Mungkin akan mengejutkan bagi komunitas Amish terutama Arthur, sang kepala keluarga Fisher, tapi akan terasa lebih dramatis karena menohok telak ke jantung reputasi orang Amish. Bagaimanapun, sesaleh apa pun tampaknya mereka, mereka tetap manusia.

Tapi  bagian akhir yang disodorkan Picoult akan sedikit membayar daya tarik yang pupus di bab sebelumnya. 

Tambahan kisah kehidupan Ellie di luar pengadilan dan bagaimana perempuan ini memutuskan siapa lelaki yang akan menjadi ayah dari anak-anaknya memberikan kontribusi yang cukup menarik ke dalam plot utama novel.

Setelah membaca buku Picoult ini, kemungkinan besar, pembaca yang tertarik dengan kefasihannya bertutur, tidak akan melewatkan karya-karyanya yang lain.

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan