13 February 2012

Emmy and the Incredible Shrinking Rat


Judul: Emmy and the Incredible Shrinking Rat
Pengarang: Lynne Jonnel (2007)
Penerjemah: Maria M. Lubis
Tebal: 341 halaman
Cetakan 1, Juni 2010
Penerbit: Atria
 

Emmaline Augusta Addison meyakini bahwa: "Tindakan paling  jahat di dunia adalah mengabaikan seseorang," karena, "Itu membuat seseorang merasa bahwa dia tidak benar-benar ada" (hlm. 17). Di usia hampir 11 tahun, Emmy –begitu ia dipanggil, kecuali oleh pengasuhnya—telah menjadi korban kejahatan itu, di rumah dan sekolah.

Sebelum tinggal di rumah tua besar di tepi Danau Grayson, Jim dan Kathy Addison adalah orangtua yang baik dan sangat memedulikan putri mereka. Namun, setelah secara mengejutkan menerima warisan dari William Addison, mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan bepergian dan menghadiri berbagai pesta. Mereka sering tidak berada di rumah, dan jika pulang, Emmy tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan mereka.

Jane Barmy, pengasuh Emmy—kepada siapa kehidupan Emmy dipercayakan orangtuanya—sangat ketat soal waktu. Tidak hanya waktu bersama orangtuanya, juga waktu keseharian Emmy. Sehabis jam sekolah, Emmy mesti mengikuti seabrek les—balet, bahasa Prancis, senam lantai, keramik, dansa tap, teater kecil, tenis, dan menenun keranjang. Meskipun kewalahan, Emmy menuruti jadwal yang disusun Barmy. Demi untuk menjadi yang terbaik, karena di mata Barmy, Emmy tahu, dia belum yang terbaik. Sayangnya, sudah bertekun menjadi yang terbaik, Emmy tetap diabaikan. Di sekolah, tidak ada yang menyadari kehadirannya, guru ataupun teman sekelas. Tidak mengherankan jika akhirnya ia merasa kesepian. Sampai akhirnya, seekor  tikus yang dikurung dalam kandang di kelas, menggigitnya.

Gigitan  pertama membuat Emmy bisa mendengar si Tikus bicara. Sadarlah Emmy kalau  tikus bernama Ratson itu adalah tikus bawel yang arogan dan temperamental. "Tidak ada yang menyukaimu, tidak ada yang membencimu, tidak ada juga yang memedulikanmu. Kau adalah nol besar, jika kau bertanya kepadaku, " kata Ratson (hlm. 5). Dan penyebab kemalangan Emmy, menurut Ratson, karena Emmy 'terlalu baik' —tidak sama dengan citra diri yang Emmy bangun. "Sedikit kejahatan bagus bagi jiwa seseorang. Aku sangat merekomendasikannya."  (hlm. 6).

Bagaimanapun hanya Ratson yang menyadari keberadaan Emmy dan mau bicara dengannya, jadi Emmy tidak sakit hati. Bahkan, ia  terdorong membebaskan Ratson yang merasa tidak adil dikurung. Begitu bebas, tikus tidak tahu berterima kasih itu segera minggat, tidak mau berlama-lama dengan Emmy.  Anehnya, Emmy menemukan Ratson berada di toko Tikus Antik, yang menjual dan menyewakan binatang pengerat berbakat langka. Emmy baru menyadari kekeliruannya saat Cheswick Vole, pemilik toko itu, memperlihatkan ketertarikan yang besar. Apalagi kemudian, dalam kondisi memelas, Ratson muncul di rumahnya mencari suaka. Tidak lama setelah kemunculan Ratson kembali, Emmy mendapatkan gigitan kedua.

Kali ini, tubuh Emmy menciut sebesar Ratson. Sebelumnya, Joe Benson, teman sekelas yang pertama menyadari kehadiran Emmy, telah mendapatkan dua kali gigitan. Bersekutu, Emmy, Joe, dan Ratson memutuskan mencari jawaban penyebab kemalangan Emmy.

Di dalam pencarian, mereka bertemu Sissy yang adalah antidot Ratson; Tikus Sayang, si cantik berhati mulia;  Brian, penjaga Tikus Antik yang baik hati;  Mrs. Bunjee, tupai tanah penuh kasih beranak dua, Buckram dan Chipster; Maxwell Capybara, profesor binatang pengerat pengidap ratolepsy yang tubuhnya juga menciut.

Mereka semua berpadu dalam novel yang diwarnai kisah Kota Binatang Pengerat, cetakan kaki chinchilla, pemainan bola cakar (pawball), karaskop, aroma celurut yang menyebabkan lupa; ekstrak gerbil yang melipattigakan usia, dan  minyak berang-berang yang bisa mengendus kebohongan.

Memasuki situasi genting, Emmy mendapatkan gigitan ketiga. Mujurnya, setelah gigitan kedua yang membuat tubuhnya menciut, Emmy sempat dinormalkan. Celaka baginya kalau mendapatkan gigitan ketiga dan belum dinormalkan. Emmy akan mengetahui efek gigitan ketiga ini, kala secara paripurna, ia menyadari penyebab pengabaian dirinya, dan berjuang untuk mematahkannya.

Emmy and the Incredible Shrinking Rat (2007) adalah novel pertama Lynne Jonell, pengarang cewek Amerika asal Minnesota—sebelumnya telah menerbitkan buku bergambar. Novel yang memenangkan Minnesota Book Award ini merupakan buku pertama serial Emmy Addison. Menyusul Emmy and the Incredible Shrinking Rat, Jonell telah menerbitkan Emmy and the Home for Troubled Girls (2008) dan sedang mempersiapkan penerbitan buku ketiga, Emmy and the Rats in the Belfry (2011).

Seperti mayoritas fiksi anak-anak, novel ini memakai resep yang seolah sudah kemestian, yaitu kebaikan yang akan selalu memperoleh sokongan demi menaklukkan kejahatan. Meskipun demikian, Emmy and the Incredible Shrinking Rat tidak terperangkap menjadi kisah stereotipikal yang gampang ditebak. Jonell menampilkan dirinya sebagai pengarang dengan kecerdikan yang mampu menyihir pembaca untuk tidak berhenti hingga novel ditamatkan. Ia menggerakkan ceritanya dalam alur yang dikemas apik, dilengkapi kejadian sarat humor dan kejutan yang dipersiapkan  penuh perhitungan. Selera humor pengarang tidak hanya tampak dalam cerita, tetapi juga dalam dialog-dialognya.  Percayalah, sebelum pembaca sempat bosan, novel kocak ini telah disudahi dengan pamungkas yang akan membuat pembaca bersorak.

Tidak terbantahkan lagi kalau di antara berbagai karakter hewan yang ada, Raston yang paling menarik. Tikus ini banyak memuntahkan kalimat yang membuat Emmy tergelitik untuk berdebat. Salah satu bagian yang menarik—tak disangsikan lagi merupakan kritik Jonell—adalah saat mereka berdebat tentang 'yang biasa-biasa saja' setelah Ratson tidak mampu memahami 'kebodohan' tupai dan bajing (hlm. 69-70).

Raston: Mungkin aku tidak dididik dengan benar. Mungkin Teacher's Tattle benar—sekolah-sekolah di Amerika seharusnya memberikan lebih banyak lagi pelajaran bahasa. Bagaimana aku bisa menjadi bintang, seekor tikus dengan pencapaian tinggi, jika aku tak pernah mempelajari bahasa Tikus?"
Emmy: Tidak ada yang berharap kau lebih dari sekadar tikus biasa, sejauh yang kuketahui.
Raston: Dan apakah kau bertekad untuk hanya menjadi seorang anak perempuan yang biasa-biasa saja?
Emmy:  Aku tak keberatan menjadi biasa-biasa saja.
Raston: Dan itu, adalah suatu kekurangan lain dalam sistem sekolah di Amerika. Ekspektasi yang rendah. Menghasilkan—dirimu sebagai contoh yang baik—anak-anak yang membosankan, yang biasa-biasa saja. Oh, memalukan ….

Memang Emmy and the Incredible Shrinking Rat lebih ditargetkan untuk pembaca anak-anak, namun amat penting dibaca orangtua. Terkadang, orangtua menaruh ekspektasi menjulang pada anak-anak untuk menjadi manusia unggulan dengan melibatkan mereka dalam berbagai aktivitas. Para orangtua lupa jika anak-anak juga memiliki keinginan menikmati masa anak-anak, yang hanya sekali terjadi. Kendati motivasinya culas, Jane Barmy memaksa Emmy mengikuti segala macam les sepulang sekolah. Sahabat Emmy, Joe Benson, dipaksa ayahnya untuk terus berlatih sepakbola. Jeritan hati Joe dituangkannya dalam puisi berjudul 'Untuk Ayah"  (hlm. 91).

Aku selalu berlatih keras
Bahkan saat hujan deras
Juga setiap hari pada musim dingin
Bisakah Ayah membolehkan aku—hanya
bermain?

Tidak perlu diragukan lagi Emmy and the Incredible Shrinking Rat (Emmy dan Tikus Penciut yang Menakjubkan) sungguh novel yang layak disantap. Setiap gigitan, akan membuat Anda termehek-mehek. Sedaaap.

Libri Di Luca




Judul Buku: Libri di Luca
Pengarang: Mikkel Birkegaard (2007)
Penerjemah: Fahmy Yamani
Diterjemahkan dari: The Library of Shadows
Tebal: 588 hlm, 15 x 23 cm
Cetakan: III, April 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta




Beberapa buku bagaikan diisi kembali setiap kali dibaca, jadi pembacaan berikutnya dari buku itu terdengar lebih kuat―lebih efektif dalam mengomunikasikan pesan dan emosi yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.  (hlm. 63).
 

Agar sebuah buku bisa berbicara, diperlukan pembaca. Tapi, membaca buku bukanlah hal sepele, apalagi jika dilakukan dengan bersuara keras. Membaca buku bisa menjadi kegiatan berbahaya, baik bagi yang membaca maupun yang mendengar. Itulah yang merasuk pikiran Jon Campelli, karakter utama novel Libri di Luca karya Mikkel Birkegaard, pada hari pemakaman ayahnya, Luca Campelli.

"Membaca adalah kombinasi dari mengenali simbol dan pola, menghubungkannya dengan suara dan mengumpulkannya menjadi suku kata sampai akhirnya mampu menginterpretasikan arti sebuah kata," kata seorang Lector.  "Banyak daerah di otak yang terlibat dalam menerjemahkan simbol menjadi suara atau memahami bila kamu membaca sendiri. Dan saat itulah, saat proses tersebut berlangsung, sesuatu yang luar biasa terjadi.  Untuk beberapa orang, aktivitas otak meliputi daerah otak yang membuat kita mampu memengaruhi mereka yang mendengar ... tanpa disadari oleh mereka, memengaruhi pandangan mereka akan tulisan, tema, atau hal lainnya. Kalau kita mau, kita bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah dengan menambahkan penekanan."

Menambahkan penekanan dengan membaca keras-keras akan memengaruhi persepsi dan sikap para pendengar. Para pembaca buku yang terlatih ini disebut Lector. Kemampuan mereka bersifat genetis dan memerlukan pengaktifan. Ada dua macam Lector, Pemancar dan Penerima. Pemancar memengaruhi persepsi dan sikap pendengar  terhadap tulisan yang sedang dibaca. Penerima memengaruhi persepsi dan sikap orang yang membaca―termasuk membaca dalam hati―serta bisa membaca apa yang meningkahi pikiran orang itu selama membaca.  Luca Campelli, pemilik toko buku antik tertua di Kopenhagen, Libri di Luca, adalah seorang Pemancar. Jon mengetahuinya setelah ayahnya meninggal secara mendadak sepulang bepergian, dikelilingi buku-buku kesayangannya.

Sejak 20 tahun silam, pertikaian telah merebak dalam tubuh Perkumpulan Pencinta Buku yang merangkul Pemancar dan Penerima. Berbagai peristiwa terjadi dan menghasut mereka untuk saling tuduh. Luca telah berusaha mendamaikan kedua pihak, tapi berbarengan dengan kematian istrinya,  ia tidak bisa mencegah perpecahan perkumpulan menjadi dua kelompok. Kematiannya yang diikuti serangan untuk membakar toko bukunya, memperparah hubungan mereka.

Di usia 32 tahun, Jon dikenal sebagai pengacara dengan kemampuan mempresentasikan argumentasi penutup di ruang sidang. Saat kisah dimulai, ia sedang membela Muhammad Azlan, pria keturunan Turki yang dituduh menadah barang curian. Sukses memenangkan perkara Muhammad, Jon dipercaya membela Otto Remer, pebisnis yang disebut-sebut membangkrutkan ratusan perusahaan dengan aksi pembajakan. Meski harus membagi waktu dengan investigasi kematian ayahnya, Jon berupaya menangani kasus Remer. Hanya saja, bukan memberi informasi penting terkait kasusnya, Remer lebih tertarik membicarakan Libri di Luca. Jon meninggalkan kasus Remer seiring pemecatan dari pekerjaannya.

Svend Iversen yakin Jon memiliki kemampuan Lector. Kendati tidak mudah diyakinkan, pasca pemecatan, Jon bersedia diaktifkan. Hasilnya sungguh menakjubkan, ia memiliki kekuatan dahsyat sebagai Pemancar. Begitu diaktifkan, Jon memutuskan meneruskan investigasi kematian ayahnya yang telah menyempit pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan dari Perkumpulan Pencinta Buku. Informasi yang ia dapat sebelumnya mengatakan bahwa Luca sedang berusaha mengungkap keberadaan organisasi yang mengisruhkan perkumpulan. Cinta yang menggelegak di antara Jon dan Katherina, anggota perkumpulan pengidap disleksia, menunjang penyelidikan. Tapi sungguh tidak mudah menemukan si biang onar, apalagi ketika seorang dari perkumpulan terbukti berkhianat.  Dalam keadaan tidak berdaya, Jon menemukan dirinya dibawa ke Alexandria, Mesir, tempat di mana sejarah Lector pertama kali disigi.

Katherina tidak bergeming. Bersama Henning Petersen, anggota perkumpulan yang lain, dan Muhammad yang ikut terseret, ia menyusul Jon. Di kota yang didirikan Alexander Agung untuk menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan paling terkenal di dunia, telah dibangun kembali Bibliotheca Alexandrina atas kerja sama pemerintah Mesir dan UNESCO. Sebelum Bibliotheca Alexandrina yang asli dihancurkan oleh peperangan, perampokan, dan pembakaran, diperkirakan perpustakaan itu menyimpan 750.000 buku. Lebih dari 700 tahun perpustakaan itu menjadi pusat literatur dan pendidikan di dunia, sehingga banyak sekali buku yang telah berulang diisi kembali. Walaupun telah musnah, tidak berarti buku-buku itu kehilangan pengaruh. Jon akan menyadari kekuatan buku-buku itu seraya mendapatkan pemahaman apa yang telah merongrong persatuan Perkumpulan Pencinta Buku.

Libri di Luca merupakan sebuah novel thriller yang tidak menjadi menarik karena unsur thriller-nya. Daya pikat utamanya justru terletak pada unsur fantasi yang meliputinya.  Bagi para pembaca buku, kisah pembacaan buku dengan efek serupa sihir, akan menjadi sesuatu yang memabukkan. Kita sudah tahu buku punya potensi berbahaya seumpama senjata. Informasi yang dikandungnya mampu melakukan hal-hal seperti guncangan iman, penggulingan kekuasaan, kericuhan publik, ataupun legitimasi tindakan kriminal. Dalam novel ini, di tangan para Lector, buku bisa menjelma senjata menyeramkan. Mampu mengakibatkan pembunuhan dan menyalurkan kekuatan tidak terbatas. Semakin tua sebuah buku, semakin sering dibaca, semakin banyak energi yang terakumulasi. Semakin klasik sebuah buku, semakin berbahaya.

Novel dirancang dengan cemerlang, pembukaan dan penutup sama-sama menggedor. Setelah mengangsurkan misteri pada bagian pertama, usaha pengarang menggelontor gagasan mengenai dunia buku dan para Lector pada paruh pertama akan membuat novel  bergerak lambat. Meskipun begitu, sama sekali tidak membuat novel kedodoran. Bagaimanapun pengungkapan eksplisit seting yang digunakan sangat penting guna meyakinkan pembaca, sekalipun novel ini tergolong novel fantasi. Memasuki paruh kedua, novel bergerak lebih cepat, setiap halaman semakin mengundang untuk dibalik. Hingga mencapai klimaks yang mencengangkan, pengarang tetap mampu mengendalikan laju ceritanya. Bagi saya, dari segi penulisan, Mikkel Birkegaard berhasil memeragakan keunggulan yang dimilikinya.

"Tidak diragukan lagi, kamu bisa menghasilkan kekuatan yang hebat dengan tulisan berbahasa Inggris dan mungkin bahkan Italia, tetapi efeknya selalu lebih kuat dalam tulisan dengan bahasa asli kita. Untuk mengisi tulisan itu, kita harus mengenal bahasanya dan semakin baik kita mengenalnya maka semakin besar kemungkinannya dijadikan alat untuk mencapai tujuan kita," kata si karakter antagonis (hlm. 452). Inilah yang menjadi alasan signifikan penetapan latar belakang Italia untuk karakter Luca dan Jon. Luca yang berasal dari Italia sedang membaca buku berbahasa Italia ketika meninggal secara mengenaskan. Demikian pula buku yang dibaca Jon saat novel mencapai klimaks. 

Di penghujung novel, kita akan melihat keajaiban lain dari sebuah buku. Sebuah buku akan memanggil pulang kenangan masa lalu seperti orang amnesia mendapatkan kembali ingatan. Sebuah buku akan menjadi jembatan kasih sayang, seperti yang terlukis dalam hubungan Luca dan Jon. Memang, sebuah buku bisa juga mengakibatkan pembunuhan, tapi bahkan hal ini hanya meneguhkan keajaiban sebuah buku.

Dalam edisi Denmark, novel ini aslinya berjudul Libri di Luca (2007). Diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh oleh Tiina Nunnally, novel ini diberi judul The Library of Shadows (2008). Edisi Indonesia diterjemahkan Fahmy Yamani dari The Library of Shadows, dan judul aslinya dikembalikan.  

Libri di Luca adalah buah sulung imajinasi  Mikkel Birkegaard, pria Denmark kelahiran 1968 dan berprofesi sebagai pengembang teknologi informasi. Novel ini mencetak kesuksesan di Denmark―cetakan pertamanya terjual 10.000 eksemplar dalam waktu 3 hari―dan setelah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa masuk kelompok "International Bestseller". Menyusul Libri di Luca, Birkegaard telah menerbitkan Over mit lig (Over My Dead Body, 2009). 

The Einstein Girl




Judul Buku: The Einstein Girl
Pengarang: Philip Sington (2009)
Penerjemah: Salsabila Sakinah
Penyunting: Zahra Ilmia & Anton Kurnia
Tebal: 528 hlm; 15 x 23 cm
Cetakan: 1, Mei 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta




Kesetiaan pada dusta adalah sesuatu yang tak bisa diterima, betapapun itu mungkin lebih nyaman bagi orang-orang berpandangan sempit dan tak punya prinsip (hlm. 455). 

 



Sejauh yang diketahui publik, seumur hidupnya Albert Einstein  hanya memiliki satu istri yaitu Elsa Löwenthal yang dinikahinya Juni 1919. Pada 1986 terungkap bahwa ternyata Einstein pernah menikahi Mileva Máric, ilmuwan Serbia yang tercatat sebagai wanita pertama yang belajar matematika dan fisika di Eropa. Mereka menikah di Swiss pada Januari 1903 dan bercerai enam belas tahun kemudian, setelah hidup terpisah selama lima tahun, Máric di Zurich sedangkan Einstein di Berlin. Dari pernikahan mereka, diketahui telah lahir dua putra, Hans Albert Einstein dan Eduard Einstein. Si bungsu Eduard dikenal sebagai pemuda cerdas dengan bakat musikal. Saat dalam proses mewujudkan impiannya menjadi psikiater, pada usia 20 tahun Eduard didiagnosis mengidap skizofrenia dan dirawat di rumah sakit jiwa Burghölzli di Zϋrich. Gangguan kesehatan mental yang dialaminya merenggangkan hubungannya dengan ayahnya. Albert Einstein (1879-1955) beremigrasi ke Amerika Serikat menjelang berkuasanya si kanselir Jerman Adolf Hitler menggantikan Presiden Paul von Hindenburg. Eduard tidak pernah berjumpa lagi dengan ayahnya hingga meninggal karena stroke pada usia 55 tahun, Oktober 1965. Berbarengan dengan terungkapnya pernikahan Einstein-Máric, terungkap pula sebuah fakta mencengangkan. Sebelum menikah pada Januari 1903, dari hubungan mereka telah lahir seorang anak perempuan yang dipanggil Lieserl pada Januari 1902. Lieserl menghilang setelah orangtuanya menikah secara sah, dan sampai saat ini tidak diketahui nasibnya.

Fakta yang berusaha dipendam dari masa lalu sang ilmuwan yang digadang-gadang sebagai Bapak Fisika Modern ini menjadi tempat berpijak novel bertajuk The Einstein Girl karya Philip Sington.

Dikisahkan Alma Siegel sedang mencari Martin Kirsch, tunangannya yang telah hilang selama dua minggu pada bulan Mei 1933 di Berlin. Seingatnya, Martin yang bekerja sebagai psikiater di Klinik Psikiatri Charité sedang merawat seorang pasien amnesia yang dikenal publik sebagai 'The Einstein Girl' (Gadis Einstein). Pasien tanpa nama itu ditemukan hampir tewas di sebuah hutan di Postdam dalam keadaan setengah telanjang dan basah kuyup. Tidak ada identitas yang ditemukan di tempatnya ditemukan kecuali sepotong kertas berisi pengumuman kuliah umum tentang Teori Kuantum di Philharmonic Hall dengan Albert Einstein sebagai pembicara utama. Hal inilah yang membuat media massa menamakannya 'The Einstein Girl'.

Sebuah kilas balik yang merupakan bagian utama novel dibeberkan panjang-lebar guna menelusuri jejak Martin Kirsch yang hilang.  Sebagai psikiater yang berdedikasi tinggi, Kirsch yang tengah bergumul dengan penyakit neurosifilis, kecewa atas terapi yang dilakukan rekan sejawatnya. Sebelumnya, ia telah menulis sebuah makalah yang dipublikasikan di sebuah jurnal psikiatri sebagai kritik atas terapi tanpa dasar yang pasti itu. Tulisan ini ditambah insiden seorang pasien yang mendapatkan terapi insulin, membuatnya terancam dipecat dari pekerjaannya. Belakangan, Kirsch bertemu seorang pengagum tulisannya yang akan menyelamatkan pekerjaannya.

Kendati terancam dipecat, Kirsch berhasil menjadikan si Gadis Einstein sebagai pasiennya. Alasannya adalah ingin menyelidiki adanya kemungkinan amnesia yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan, padahal sesungguhnya gadis itu bukanlah sosok yang asing baginya. Mereka pernah bertemu dan sekalipun sudah bertunangan, Kirsch tidak mampu menampik daya tarik gadis yang dikenalnya sebagai Elisabeth. Demi menolong Elisabeth memperoleh kembali ingatannya, Kirsch menggelar investigasi.

Di tempat Elisabeth tinggal setibanya dari Zϋrich, Kirsch mengetahui jika nama sebenarnya adalah Mariya Draganović. Perhitungan matematis yang ditemukan dalam sebuah buku catatan milik Mariya diteguhkan oleh rekan Albert Einstein sebagai upaya perumusan teori fisika baru, Teori Medan Terpadu. Yang menarik di sini, Albert Eisntein juga sedang meneliti topik yang sama. Tidak diragukan lagi, Mariya adalah wanita dengan kecerdasan luar biasa. Padahal, sampai saat itu, hanya ada dua wanita yang bisa menyerap penemuan Albert Einstein dengan mudah. Mereka adalah Marie Curie dan Mileva Marić, mantan istri Einstein yang bekerja sebagai pengajar di Zϋrich.

Penemuan Kirsch menuntunnya ke Zϋrich untuk bertemu Mileva Máric dan Eduard Einstein, si bungsu yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Burghölzli.  Mereka tidak sepenuhnya terbuka, namun Kirsch menemukan kaitan mereka dengan hidup Mariya. Sebuah fakta lain juga ditemukannya, bahwa sebelum pergi ke Berlin, Mariya pernah menjadikan dirinya pasien di rumah sakit jiwa Burghölzli.

Pertanyaan yang mungkin menyeruak adalah apakah Mariya Draganović adalah Lieserl yang sengaja disingkirkan dari kehidupan Einstein-Máric? Dalam sebuah subplot yang disampaikan menggunakan perspektif orang pertama, pembaca akan dibawa mengarung masa lalu Mariya untuk menemukan identitas sejatinya. Menyelami ke lubuk kehidupan Mariya yang enigmatis, Sington akan menyingkapkan sebuah kesetiaan pada dusta yang dilakukan dengan dalih melindungi kehormatan keluarga.

Daya pikat utama The Einstein Girl tidak terbantahkan lagi terletak pada penyingkapan selubung misteri yang meliputi kehidupan Lieserl Máric. Seusai memancing rasa penasaran pada beberapa halaman awal, Sington akan mendorong pembaca mengikuti cerita dengan alur yang tidak terburu-buru. Mungkin akan pembuat sementara pembaca tersendat-sendat, namun tidak bisa diungkiri, Sington mampu mendesak pembaca untuk bertanya-tanya.  Apa yang dilakukan Mariya di Berlin hingga ia ditemukan dalam keadaan sekarat?  Apa yang akan terjadi dengan penyelidikan Kirsch? Sebuah pamungkas disuguhkan untuk menyempurnakan ide 'sang penulis' sebenarnya dari cerita yang kita baca, bahwa:  "Akhir suatu cerita haruslah dapat dipercaya atau pembaca akan merasa ditipu. Akhir yang tidak masuk akal akan merusak cerita yang bagus." (hlm.360).  Lantas, memanfaatkan kesalahpahaman yang terjadi sebelum novel benar-benar ditutup, Sington akan menerangkan maksud kalimat pembuka pada bagian "Tak Bernama" (hlm. 13).  

Riset intensif seputar kehidupan Albert Einstein yang membawa Sington kepada tumpukan arsip Jewish National & University Library di Yerusalem mendukung perwatakan Albert Einstein sebagai karakter yang tidak menimbulkan simpati.  Pria yang dinobatkan majalah Time sebagai "Person of the Century" ini boleh tersohor karena kesuksesannya menggulingkan teori lama mengenai cahaya ―dari cahaya sebagai gelombang menjadi cahaya sebagai berkas partikel energi yang disebut kuanta.Tetapi ia juga tergolong manusia yang tidak mampu membangun hubungan dengan manusia lain, termasuk keluarganya sendiri. Tidak hanya terlihat dari pernikahannya dengan Mileva Máric (faktanya, masih terikat pernikahan dengan Máric, ia telah terlibat hubungan ekstramarital dengan Elsa Löwenthal), melainkan juga dalam caranya menyikapi cacat mental putra bungsunya. Disebutkan, Einstein tidak percaya jika penyakit Eduard berhubungan dengan dirinya. Seolah-olah mendukung, Sington menghadirkan pula kecondongan cacat mental dari pihak keluarga Máric. Ketidaksimpatikan si penerima Nobel Fisika tahun 1921 ini terlukis eksplisit dalam respons eksplosifnya terhadap kemunculan Mariya Draganović. 

Kegemilangan Sington tampak pula ketika mengemas kompleksitas dunia psikiatri sebagai bagian signifikan novel dengan sokongan deskripsi yang memadai. Kita akan digiring mengenal lekuk-liku dunia yang bermuatan beragam ketidakpastian yang ditandai dengan ketidaksepahaman dalam pemberian terapi. Kita juga akan disadarkan betapa kerap penderita cacat mental menjadi bahan eksperimen dalam rangka penegakan kebenaran masing-masing psikiater. Sang protagonis ―Martin Kirsch― meyakini, salah satu metode untuk menangguk kembali kesadaran para penderita bukanlah menyiksa dengan terapi serampangan, melainkan dengan merangkul untuk menemukan dan memulihkan pemicu gangguan mental mereka.

Menghasilkan karya dengan sentuhan historis pasti tidaklah enteng. Pengumpulan informasi faktual demi menetaskan kisah dengan tingkat kepercayaan tinggi adalah sesuatu yang krusial. Namun, tanpa kepiawaian bertutur, kecermatan memadukan elemen historis dan produk imajinasi, ketangguhan membangun karakterisasi, usaha tersebut akan mubazir. Tampaknya, Philip Sington sangat menyadari hal ini, maka terbitlah The Einstein Girl sebagai karya fiksi yang sungguh laik untuk dibaca. 

Madame Bovary



Judul Buku: Madame Bovary
Pengarang: Gustave Flaubert
Penerjemah: Santi Hendrawati
Tebal: 507 hlm
Cetakan: 1, Juni 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta





Emma Rouault mengira menikahi seorang lelaki mapan akan mewujudkan fantasinya sebagai perempuan muda. Seusai kemeriahan pesta perkawinan, Emma meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam kehidupan Charles sebagai seorang officier de santé di Tostes. Seiring perjalanan waktu, Emma sadar telah menempuh jalan yang keliru. Perkawinan tidak mengarahkannya pada realisasi fantasi serupa yang ia baca dalam buku-buku percintaan. Charles tidak memiliki ambisi laiknya kaum lelaki dan romantisme bukanlah gaya hidupnya. Bagi Charles yang berpikiran sederhana, kebahagiaan hanya terletak pada kecakapannya menuntaskan pekerjaan sesuai jadwal. Kekecewaan Emma mengental saat menghadiri sebuah pesta kalangan borjuis dan menemukan kehidupan bergelimang kesenangan para duchess. Seketika, seolah-olah memandang melalui kaca pembesar, ketidakmenarikan Charles kian mencolok.

Demi Emma, Charles rela meninggalkan tempat yang telah memapankan hidupnya selama empat tahun. Mereka pindah ke Yonville, tempat yang mencelikkan Emma akan kebutuhan petualangan asmara bagi seorang istri yang tidak bahagia. Meskipun telah melahirkan seorang anak, Emma tidak mampu mencegah letupan gairah yang dibangkitkan oleh Léon Dupuis, anak muda yang bekerja di kantor notaris Monsieur Guillaumin. Sial baginya, sebelum sempat terbakar kepanasan gairah Léon, anak muda pergi ke Paris melanjutkan kuliah hukum.

Léon boleh saja berlalu, namun Yonville masih menyimpan lelaki lain. Meskipun Rodolphe Boulanger dikenal sebagai pemangsa perempuan, undangan perselingkuhannya tidak mungkin ditepis Emma. Emma tidak menyadari, bagi petualang syahwat semacam Rodolphe, begitu seorang perempuan jatuh cinta pada, ia menjadi kurang menarik. Yang tersisa sekadar hubungan demi menikmati momen-momen penuh berahi tanpa mengempiskan pundi-pundi uang. Dalam berhubungan dengan lelaki, Emma memiliki kecenderungan bersikap posesif. Merasa telah menguasai Rodolphe, ide melarikan diri bersama-sama tidak urung tercetus. Sayangnya, Rodolphe tidak mau bersifat murah hati dalam hal ini, baginya Emma tidak cukup layak dijadikan berhala. Terpuruk karena ditinggalkan Rodolphe, Emma hampir luluhlantak. Untunglah,  Léon muncul lagi dalam kehidupannya dan mampu membangkitkan semangat hidup Emma. Maka sekali lagi Emma terlena dan mengabaikan kenyataan, sangat sulit petualangan cinta berakhir bahagia.

Madame Bovary adalah salah satu dari dua novel yang disebut-sebut sebagai karya terbesar yang pernah ditulis―yang lain  Anna Karenina karya Leo Tolstoy. Merupakan novel Gustave Flaubert (1821-1880), pengarang Prancis, yang pertama kali diterbitkan sekaligus melambungkan namanya sebagai salah satu pengarang penting pada abad ke-19. Novel ini memiliki sejarah yang mengundang perhatian khalayak. Mulai ditulis tahun 1850, membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa diselesaikan. Sebelum diterbitkan pada tahun 1857, novel ini dimuat secara bersambung dalam majalah sastra (1856) yang membuat Flaubert dipengadilankan karena dianggap menodai norma agama dan masyarakat. Flaubert dibebaskan dari tuduhan atas pertolongan Marie-Antoine Jules Sénard, pengacara dari Rouen, kepada siapa buku ini didedikasikan (hlm. 5).

Novel ini merupakan novel realis tragis. Ia mendedahkan kebangkitan dan kehancuran mimpi-mimpi romantis seorang perempuan muda dalam lembaga pernikahan. Ketika mimpi-mimpi itu sukar diwujudkan dalam hubungannya dengan suaminya (karena si suami tidak memahaminya), ia menengok ke luar jendela dan menemukan potensi di luar rumah. Menafikan semua norma yang berlaku, ia menjerumuskan diri dalam petualangan ekstramarital yang tidak memberikannya garansi kebahagiaan. Begitu sadar kemubaziran kelakuannya, ia tidak lagi punya optimisme untuk bermain-main dengan kehidupan. Tindakannya yang didominasi egoisme menciptakan efek domino yang mengenaskan bagi keluarganya. Kendati hanya sebaris, guratan Flaubert di penghujung novel terasa menggerogot: "Berthe hidup dalam kemiskinan dan ia terpaksa harus bekerja pada sebuah pemintalan kapas untuk membiayai hidupnya."(hlm. 503-504). Dari kisah tragis keluarga Bovary, tampaknya Flaubert hendak mengingatkan bahwa dalam sebuah ikatan pernikahan setiap pelaku perlu menciptakan kesepakatan untuk saling terbuka dan saling memahami, terlebih dalam segi seksualitas. Kesepakatan ini akan menjadi semacam kontrasepsi bagi pembuahan problem yang mungkin bisa dicegah.

Dalam hubungan lelaki-perempuan, Flaubert mencitrakan Emma alias Madame Bovary sebagai perempuan dengan kesadaran seksualitas yang tinggi. Meski Rodolphe menganggapnya tidak lebih dari pemuas nafsu belaka, ia berhasil mencuri kesempatan memanfaatkan lelaki itu untuk kepuasan ragawinya. Léon Dupuis, tidak hanya menyilih apa yang tidak ingin diberikan lagi oleh Rodolphe, tapi membalikkan posisi yang ditegakkan lelaki itu. Jika bagi Rodolphe, Emma adalah kekasih gelap, bagi Emma, Leon adalah kekasih gelapnya. Mungkin, inilah yang disebut-sebut mengilhami secara tidak langsung munculnya feminisme.

Bukan hanya Emma karakter yang dibangun dengan cermat oleh Flaubert. Charles, kendati didapuk sebagai lelaki tidak beruntung, karakternya sebagai lelaki tanpa ambisi membesut kuat. Demikian juga Rodolphe yang bergelimang hawa nafsu tapi memendam kepengecutan ataupun Leon yang lantaran pengejaran kepuasan seksual, tidak mampu merebut setir dari tangan Emma. Monsieur Lheureux pemilik toko sekaligus rentenir merupakan karakter yang berperan paling penting dalam kejatuhan Emma. Kemahiran manipulatifnya mengaburkan perspektif Emma. Belakangan terungkap, aktivitasnya sebagai rentenir berhubungan dengan lelaki lain, yang menawarkan bantuan kepada Emma dengan seks sebagai imbalan. Karakter Monsieur Hormais, lelaki yang tidak pernah tulus menolong orang lain, cukup mencuri perhatian. Lelaki yang berprofesi sebagai apoteker ini ateis tapi merasa lebih religius dari para pastur dan tidak segan untuk mengecam mereka. Sejak diperkenalkan hingga novel disudahi, Hormais adalah seorang pelanggar undang-undang sejati.

Sebagaimana lazimnya fiksi klasik yang dikisahkan dengan cara berbunga-bunga, novel ini menuntut semangat tinggi para pembaca. Penerjemah edisi Indonesia telah menghasilkan karya terjemahan yang mudah diikuti, tetap klasik tapi tidak kuno. Namun, napas panjang Flaubert yang menghasilkan deskripsi melimpah terasa sangat tumpat hingga memasuki bagian ketiga (dari tiga bagian) novel. Bisa dipastikan memasuki bagian ketiga, pembaca akan didorong untuk menuntaskan novel ini.

Setelah  berumur lebih dari seratus lima puluh tahun, efek menggegerkan seperti kali pertama dipublikasikan sudah mengendap. Bukan karena publik telah mengenal novel ini secara intim, tapi karena perselingkuhan dan religiositas Katolik bukan lagi tema yang cukup mencuri perhatian. Meski begitu, Madame Bovary tetap layak dibaca, paling tidak untuk mengetahui bagaimana fiksi klasik ini mampu memengaruhi banyak karya lain yang menyusulnya.
 

The Help


Judul Buku: The Help
Pengarang: Kathryn Stockett
Penerjemah: Barokah Ruziati
Tebal: 545 hlm
Cetakan: 1, Mei 2010
Penerbit: Matahati






Mississippi boleh dikenal sebagai tempat dilaksanakannya transplantasi paru-paru dan jantung pertama kali di dunia. Atau juga tempat sistem hukum Amerika Serikat dikembangkan, tepatnya di University of Mississippi. Atau juga kampung halaman pesohor semisal Tennessee Williams, Elvis Presley, B. B. King, Oprah Winfrey, atau Faith Hill. Akan tetapi, Mississippi tidak bisa menyembunyikan praktik rasialis yang pernah berkecamuk di sana. Warga kulit hitam dirugikan oleh sejumlah ketidaksetaraan dan ketidakadilan perlakuan karena dianggap tidak sebanding dengan warga kulit putih.

Di awal tahun 1960-an ketimpangan terhadap warga kulit hitam dan kulit putih sangat mencorong. Garis batas di antara mereka dipertebal sementara orang demi mengekang ekspresi warga kulit hitam. Tidak mengherankan jika keluar peraturan-peraturan yang melarang penggunaan fasilitas atau barang yang sama seperti kamar mandi umum, taman bermain, bilik telepon, bioskop, perpustakaan, buku pelajaran, bahkan obat-obatan. Dampak negatif yang mungkin dirasakan warga kulit putih, khususnya kaum lelaki, hanya berkisar pada masalah libido. Mereka akan dicap melanggar hukum jika berani menikahi warga kulit hitam. Jika mereka telanjur menghamili wanita kulit hitam, sudah bisa ditebak siapa pihak paling dirugikan.

Apa yang dilakukan Hilly Holbrook dalam novel The Help karya Kathryn Stockett, adalah tindakan warga kulit putih yang dianggap lumrah pada masa itu. Hilly begitu membenci orang kulit hitam dan mewujudkannya dalam sebuah rancangan undang-undang yang disebutnya Inisiatif Sanitasi Rumah Tangga. Rancangan undang-undang ini mensyaratkan pemisahan kamar mandi keluarga kulit putih dengan pembantu wanita kulit hitam. Tindakannya sungguh ironis. Sebab, Hilly adalah anggota Liga Jackson Junior yang aktif menggalang dana untuk menolong anak-anak Afrika kelaparan yang notabene berkulit hitam. Bagaimana mungkin Hilly bersimpati pada Negro nun jauh di Afrika namun bersikap antipati pada Negro di seberang kota? Itulah yang mengusik pikiran temannya, Eugenia "Skeeter" Phelan, yang kemudian menunjukkan sikap tidak berpihak. Skeeter tidak terprovokasi kendati anggota Liga yang lain seperti Elisabeth Leefolt segera bersekapat, membangun kamar mandi di luar rumah untuk Aibeleen Clark, pembantunya. Bagaimanapun Skeeter tidak mungkin mengabaikan kenyataan kalau ia dibesarkan oleh Constantine Bates, seorang wanita kulit hitam. Ia selalu merindukan Constantine, apalagi saat pulang kampung seusai kuliah, Constatine telah menghilang.

Keramahannya  pada wanita kulit hitam mencuri simpati Aibeleen. Maka, ketika Skeeter mengajak terlibat sebuah proyek rahasia berbahaya, Aibeleen tidak sanggup menampik. Bahkan, ia berupaya membantu mencarikan dukungan wanita kulit hitam lain. Karena proyek ini akan mempertaruhkan hidup dan pekerjaan, banyak yang menolak terlibat, kecuali Minny Jackson, sahabat Aibeleen. Namun, penolakan para wanita kulit hitam lantaran ketakutan hanya berlaku hingga salah satu dari mereka dijebloskan Hilly ke dalam penjara. Gelombang solidaritas segera menyebar, dan secara sukarela mereka menyingkapkan kehidupan dan pengalaman selama bekerja sebagai pembantu keluarga kulit putih, untuk dibukukan. Bagi Skeeter sendiri, proyek ini berpeluang dipersonanongratakan dirinya oleh banyak warga kulit putih Jackson. Ini juga berarti akan menggagalkan rencana masa depannya dengan seorang pria yang mau menerima kekurangan fisiknya.

Bagi Kathryn Stokett, The Help serupa tumpukan kenangan semasa menetap di kampung halamannya, Jackson, Mississippi. Tumbuh dalam sebuah keluarga disfungsional, Kathryn tidak bisa melepaskan diri dari Demetrie McLorn, pembantu kulit hitam di keluarganya. Kepergian Demetrie untuk selamanya ketika Kathryn berusia enam belas tahun, menyisakan pertanyaan yang terus mengusik. Seperti apa rasanya menjadi orang kulit hitam di Mississippi dan bekerja bagi keluarga kulit putih? Kathryn menghabiskan waktu bertahun-tahun membayangkan seperti apa jawaban Demetrie, dan inilah yang mendorong lahirnya novel yang berpotensi mengharubirukan hati pembaca ini. Setelah novel diterbitkan, ada ketakutan yang menggerogot. Mungkinkah ia telah bicara terlalu banyak perihal garis batas antara wanita kulit hitam dan kulit putih? Mungkinkah ia terlalu sedikit mengungkap kesengsaraan para pembantu wanita kulit hitam dan adanya cukup banyak cinta di antara keluarga kulit putih dan pembantu kulit hitamnya? Ketakutan Kathryn sesungguhnya tidak beralasan. Kendati menyampaikan ketidakadilan yang dialami pembantu kulit hitam, terutama akibat perlakuan wanita kulit putih, ia melukiskan pula sebentuk keramahan warga kulit putih. Lou Anne Templeton misalnya, meski termasuk anggota Liga, tidak bersedia melaksanakan ide Holly karena berhubungan baik dengan pembantu wanita kulit hitamnya.

Kecuali satu bagian yang dituturkan dari perspektif orang ketiga, novel berseting 1962-1964 ini digelontor oleh tiga wanita berbeda warna kulit dan usia. Pertama, Aibeleen, wanita kulit hitam separuh baya bijaksana, ditinggalkan suami demi wanita lain. Setelah membesarkan putranya seorang diri, ia diperhadapkan dengan kematian putranya itu dalam usia belia. Saat cerita dimulai dan bergulir, ia bekerja sebagai pembantu sekaligus pengasuh anak-anak keluarga Leefolt yang terabaikan. Narator kedua adalah Minny Jackson, wanita kulit hitam bertubuh pendek, tambun, dan berlidah tajam. Setelah sepuluh tahun mengurus seorang ayah pemabuk, ia terikat pernikahan dengan pemabuk lain yang tidak segan memukulinya. Minny sangat membenci Hilly Holbrook yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan sulit mendapatkan pekerjaan baru. Maka, sebelum mundur dari kehidupan Hilly, Minny mempersembahkan pai cokelat 'istimewa'. Belakangan, Minny bekerja di rumah Celia Rae Foote, wanita cantik yang karena menikahi mantan kekasih Hilly, tidak mungkin masuk Liga Jackson. Narator ketiga adalah yang termuda,  Skeeter Phelan, wanita kulit putih lulusan universitas, berpenampilan kurang menarik dan terlalu jangkung sehingga sukar mendapatkan jodoh. Sambil meraba-raba masa depannya, ia menjawab tantangan editor senior sebuah penerbitan untuk membukukan sebuah ide orisinil.

Kathryn terbilang piawai dalam hal bertutur sekalipun mesti berkisah menggunakan perspektif orang pertama wanita kulit hitam. Ia menjangkau jauh ke dalam hati dan benak mereka dan berhasil mengekstraksi kerinduan, harapan, kesedihan, permasalahan, kekuatiran bahkan kemarahan mereka. Semua terungkap secara wajar dan tanpa tersendat, menutup kenyataan Kathryn sebagai wanita kulit putih.

Semangat humoristis Kathry meliputi beberapa karakter ciptaannya. Aibileen, dengan sikap serius dan bijaksana, tidak bisa membedakan 'amonia' dan 'pneumonia'. Minny yang temperamental di luar rumah, sebenarnya tidak lebih dari wanita dungu bila berada di rumah, di hadapan suaminya. Celia Rae Foote yang tergila-gila dengan warna pink dikemas bak Barbie imbesil yang tidak bisa mengerjakan apa-apa, namun di balik sikapnya itu, tersimpan  kemarahan seorang wanita dari wilayah termiskin di Mississippi.

Cerita pun tidak disterilkan dari selera humor sang pengarang. Tingkah laku pria eksibisionis di pekarangan rumah Celia, apa yang dilakukan Minny dengan pai cokelat yang dikudap Hilly, dan tragedi kakus di rumah Hilly, niscaya akan mengundang tawa pembaca,  kendati mungkin akan diawali dengan kernyitan di wajah.

Secara keseluruhan, novel perdana Kathryn Stockett ini sangat layak dibaca. Kisah jadul terasa segar didedahkan dengan gaya kontemporer. Sedikit ketegangan yang dipercikkan ke dalam alur, akan mendorong pembaca menamatkan novel ini. Khusus untuk edisi Indonesia ini, tentu saja, kita tidak mungkin mengabaikan usaha penerjemah untuk menghasilkan terjemahan dengan tingkat keterbacaan yang tinggi.

Sebelum pertama kali bisa dinikmati publik, Kathryn menghabiskan 5 tahun untuk menggarap novel ini dan menghadapi lebih dari 40 kali penolakan untuk diterbitkan. Namun ternyata, keuletan Kathryn berbuah manis. Berhasil diterbitkan, novel ini ini sempat setahun bertengger di puncak daftar bestseller Los Angeles Times, beredar di lebih dari 30 negara, dan dipastikan diadaptasi menjadi film layar lebar. Nama-nama seperti Emma Stone, Viola Davis, Bryce Dallas Howard, dan Octavia Spencer akan memvisualisasikan berbagai karakter ciptaan Kathryn. Uniknya, Octavia Spencer yang adalah sahabat Kathryn akan memerankan Minny Jackson, yang sejatinya terinspirasi darinya. Spencer tidak hanya memerankan  Minny dalam film tapi juga mengisi suara dari karakter yang sama dalam versi audiobook novel The Help ini.

Tak diragukan, Kathryn mencintai kampung halamannya. Bahkan baginya, Mississippi tidak ubahnya ibu kandung. Tapi dengan tidak mengurangi rasa hormat, menjadi kemestian baginya mengakui bahwa kampung halamannya pernah menjadi saksi ketidakadilan karena perbedaan warna kulit. Nasib malang yang dialami Constantine sangat mungkin pernah terjadi dalam kehidupan sejumlah wanita kulit hitam di Mississippi. Demikian pula musibah yang menimpa Robert Brown, dianiaya warga kulit putih hingga kehilangan penglihatan gara-gara tidak sengaja menggunakan kamar mandi kulit putih. Atau yang terjadi pada Medgar Evers, ditembak di rumahnya sendiri karena aktivitas memajukan warga kulit hitam.

Akhirnya, jika Anda membaca buku ini, Anda mungkin akan bersepakat dengan Kathryn Stockett: "Pembantu yang baik seperti cinta sejati. Kau hanya menemukannya satu kali seumur hidup."(hlm. 449).

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan