28 July 2013

Memento





Judul Buku: Memento
Pengarang: Wulan Dewatra
Penyunting: Alit Tisna Palupi
Tebal: vi + 266 hlm;  13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: GagasMedia






Shalom, gadis dengan mata berbentuk buah badam, akan segera menikahi Harmein Khagy, tunangannya. Selain bekerja menghasilkan desain yang akan diproduksi Sonya Clothing -tempatnya bekerja,  Shalom juga tak lupa merancang gaun pengantin baginya sendiri. 

Sayangnya, sebelum sketsa yang dibuatnya mewujud dalam sehelai gaun pengantin berbentuk kebaya modern, Harmein meninggalkannya, mati di atas meja operasi dalam sebuah pembedahan yang gagal. Yang tersisa dari Harmein hanyalah kenangan, cincin pertunangan yang tetap melingkari jari manis Shalom, dan telepon genggam dengan SIM card yang tetap diaktifkan -sehingga kalau rindu, Shalom bisa mengirimkan SMS. 

Kematian Harmein dilihat Wirya sebagai peluang untuk memiliki Shalom. Wirya adalah manajer produksi di Sonya Clothing. Lantaran obsesinya pada Shalom, ia memutuskan pertunangannya dengan Dayu dan berharap Shalom bisa meninggalkan Harmein. Bukannya menerima, Shalom malah menganjurkannya untuk kembali pada Dayu. Dilanda kegusaran karena ditolak terus-menerus, Wirya berbuat nekat dan menyerang Shalom. 

Setelah penyerangan yang dilakukan Wirya, membawa kotak mimpi dan ratapan, Shalom meninggalkan pekerjaaan, apartemennya, dan kota Bandung. Ia pergi ke Indihiang 1, peternakan yang diwariskan ayah angkatnya kepadanya. Peternakan itu terletak di provinsi di ujung barat Pulau Jawa yang berpantai (yang dimaksud tentu saja Banten). Selain peternakan, Indihiang I telah berkembang menjadi perkebunan organik pula.  

Sampai di kota kecil dengan sejarah para jawara, ada indikasi kalau Shalom akan terlibat hubungan cinta dengan Teguh Mohesa, manajer Indihang 1. Tapi ternyata ada laki-laki lain yang kehadirannya cukup mencuri perhatian Shalom gara-gara wajah masamnya. Elgar, nama laki-laki itu, adalah putra dari pemilik Indah Katering dan pelanggan Indihiang 1. Ia bekerja sebagai reporter televisi di Ibu Kota, punya kedai ramen dekat daerah kampus, tapi selalu berada di kota kecil itu. 

Dalam tempo singkat, Shalom dan Elgar sudah menjalin cinta, dan tanpa membuang banyak waktu, Elgar pun melamar Shalom menjadi istrinya. Sekalipun tidak direstui ibu Elgar lantaran asal-usul Shalom yang tidak jelas, mereka tetap menikah dan membangun sebuah rumah di dekat laut. Awalnya, pernikahan mereka tampak bahagia. Secara rutin, Elgar pulang untuk menjumpai Shalom. Tapi setelah bertemu lagi dengan Kinanti, mantan kekasihnya, Elgar bermaksud menceraikan Shalom, dan kembali pada Kinanti. Sementara itu, tanpa Shalom sadari, bayangan buruk dari masa lalunya semakin mendekati rumahnya, mengintai untuk merealisasikan dendam kesumat.

Apakah Elgar benar-benar akan meninggalkan Shalom demi Kinanti? Apakah Shalom mampu menepis bayangan buruk dari masa lalunya dan mempertahankan keutuhan rumah tangganya?

Sebenarnya, kisah yang ditawarkan Wulan Dewatra dalam Memento cukup membuat penasaran. Cinta diramunya dengan permasalahan kesetiaaan, obsesi yang mencelakakan, dendam kesumat yang tidak pernah padam, dan kepahitan yang berakar dari masa lalu. Sayangnya, semua elemen yang berpotensi membuat novel ini tampil cemerlang diramu dengan takaran dan adonan yang tidak tepat. Hasilnya adalah jalinan kisah yang melompat-lompat dalam plot yang terburu-buru dan miskin ekplorasi. Keseluruhannya tidak kompak dan sulit menggugah perasaan saat membacanya. Terkesan seperti saduran skenario film dengan penambahan bumbu secukupnya, tanpa mempertimbangkan bahwa bahasa gambar dan bahasa tulisan memiliki efek berbeda dalam mempengaruhi perasaan penikmatnya. 

Kisah dalam plot yang terburu-buru berdampak pada karakterisasi yang timpang dan sangat meragukan. Perkembangan karakter melewati konflik dalam hidup terjadi begitu saja tanpa memerlukan proses yang meyakinkan. Shalom seharusnya sangat mencintai Harmein. Buktinya, ia tetap menyimpan dan mengaktifkan telepon genggam Harmein serta membuat kotak mimpi dan ratapan. Tapi tetap saja, sulit merasakan cintanya kepada laki-laki yang meninggal dunia saat hari pernikahan mereka sudah dekat. Semakin sulit rasanya ketika ia bertemu Elgar dan dengan proses yang lempeng dan cepat, ia pun memindahkan cintanya pada laki-laki itu. Bagaimana mungkin Shalom tidak mengalami sama sekali perbenturan perasaan dan pikiran menghadapi perubahan dalam hidupnya? Apakah tidak pernah ada kebimbangan yang muncul dalam dirinya? Ada kesan Wulan ingin menampilkan Shalom sebagai karakter perempuan yang kuat. Sayangnya, langsung tumbang dengan ketidakmampuan Shalom menahan Elgar tetap setia dengan pernikahan mereka. 

Demikian pula yang terjadi pada karakter Elgar. Ketika ia mulai sering muncul dalam kehidupan Shalom, Wulan tidak pernah menceritakan dampak yang ditimbulkan oleh perpisahannya dengan Kinanti tiga tahun sebelumnya. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah perpisahan mereka terjadi karena keinginan sepihak dan Elgar benar-benar masih cinta mati padanya? Apakah Shalom sekadar pelariannya? Kita tidak akan menemukan jawabannya, sehingga sangat aneh ketika Elgar bertemu kembali dengan Kinanti, ia segera berniat menceraikan Shalom dan berhubungan dengan Kinanti seperti dulu. Alhasil, karakterisasi yang dangkal ini hanya mengesankan kalau disengaja Wulan untuk menciptakan sedikit kerumitan dalam novelnya, yang sebenarnya, mubazir. 

Selain ketimpangan karakterisasi dan kejanggalan yang disebabkannya, novel ini juga mengandung kejanggalan lain yang menimbulkan pertanyaan.

Setelah Harmein meninggal, Shalom tetap mengenakan cincin pertunangannya di jari manisnya. Setelah menikahi Elgar, cincin itu tetap dipakai bersisian dengan cincin pernikahan mereka. Bukankah tetap memakai cincin pertunangan dengan Harmein adalah semacam proklamasi kalau Shalom tidak mencintai Elgar dengan utuh? Bagaimana mungkin Elgar membiarkan hal ini dan tidak menunjukkan kecemburuan sekalipun pada orang yang sudah mati? 

Menjelang novel berakhir, Wulan memunculkan Shalom yang marah pada orangtua kandungnya yang membuangnya di panti asuhan (sebelum diadopsi ayah angkatnya). Apakah sebelumnya Shalom tidak memendam perasan marah karena diabaikan orangtua kandungnya dan baru muncul belakangan? Mengapa perasaan marah itu tidak muncul pada saat pernikahannya dengan Elgar ditentang ibu Elgar karena asal-usulnya yang tidak jelas?  (yang sebenarnya merupakan ide basi yang bikin kening mengernyit). 

Lalu, apa pula yang terjadi dalam hidup Lunar, adik Elgar? Apakah ia akhirnya menikah dan memakai gaun rancangan Shalom? Mengapa setelah Elgar dan Shalom menikah, pernikahan Lunar sedikit pun tidak lagi disinggung? 

Pada akhirnya, sangat disayangkan, ide kisah yang cukup menarik terpuruk menjadi novel yang penuh retakan di sana-sini. Wulan Dewatra yang telah menerbitkan novel Hujan dan Teduh (2011) - juara pertama lomba 100% Roman Asli Indonesia, dan terlibat dalam Gagas Duet bertajuk Harmoni (2012) masih belum mampu mencuri perhatian saya. 

Sejumput pesan indah yang bisa saya petik dari lembar-lembar novel ini adalah apa yang dikatakan Elgar pada Shalom (hlm. 258): 


Memaafkan bukanlah hadiah yang kita berikan pada orang lain. Memaafkan adalah pembebasan bagi diri kita sendiri .



2 comments:

Martina Daruli said... Reply Comment

Wah sayang banget ya padahal ide ceritanya keliatannya udah oke. Kayaknya lebih cocok difilmin aja. Nice review btw!

Jody said... Reply Comment

Betul, eksekusinya aja yang ga banget hehe

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan