11 July 2013

Beauty Sleep

  
Judul Buku: Beauty Sleep
Pengarang: Amanda Inez Poernama
Penyunting: Jia Effendie
Tebal: viii + 224 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, Juni 2013
Penerbit: GagasMedia






Disengaja atau tidak, Amanda Inez dalam novel debutnya, Beauty Sleep, menggunakan gagasan yang sama dengan dongeng Sleeping Beauty. Kisah di dalam novelnya mengenai perempuan yang terlelap dalam keadaan koma serta judul yang dipakai akan segera menghubungkan kita dengan dongeng Putri Tidur itu. Apalagi dengan rancangan sampul yang menampakkan ilustrasi berupa sesemakan (Putri Tidur terlelap dalam istana yang dikerumuni semak belukar). 

Selain Sleeping Beauty, novel ini juga langsung mengingatkan pada cerpen Peri Menara dan Naga Baik Bersisik Biru karya Stefanny Irawan (bisa dibaca dalam kumcer Tidak Ada Kelinci di Bulan, Gramedia Pustaka Utama, 2006). Di dalam cerpen ini, ada seorang perempuan yang tertidur dalam kondisi koma dan seorang laki-laki yang mencintainya. Kisah dalam cerpen ini dituturkan oleh si laki-laki dengan gaya persis sama dengan yang digunakan Amanda Inez. Perempuan yang terlelap itu dijuluki Naga Baik Bersisik Biru, sedangkan si laki-laki dipanggil Peri Menara. Penjulukan juga terdapat dalam Beauty Sleep, si gadis dipanggil Tuan Putri dan laki-lakinya dinamakan si Bodoh. Jika Amanda Inez belum pernah membaca cerpen Stefanny Irawan, kemiripan yang ada tentunya terjadi secara kebetulan. 

Laki-laki dalam Beauty Sleep yang sekaligus berperan sebagai narator masih muda dan datang dari sebuah kota kecil di Amerika Utara (tepatnya di mana, tidak disebutkan). Dibesarkan di sebuah panti asuhan, ia tidak mempunyai banyak teman. Satu-satunya temannya adalah Zack, anak laki-laki sebaya yang orangtuanya merupakan donatur panti asuhan. Begitu lulus SMA, Zack berniat mengubah hidup, pergi ke Indonesia untuk menggeluti bisnis yang ditekuni pamannya, perdagangan narkoba. Atas permintaan ibu Zack, si Bodoh ikut ke Indonesia, tapi lalu ditinggalkan begitu saja di bandara untuk kemudian terlunta-lunta di Jakarta. 

Akhirnya, si Bodoh menetap sebagai orang asing di Jakarta. Dalam kondisi masa depan yang tidak pasti, ia mendapatkan pekerjaan sebagai anggota pemadam kebakaran. Suatu hari, ia terlibat dalam pemadaman kebakaran di gedung pos tua di pinggir Jakarta dan berhasil menyelamatkan satu paket berupa kaleng berisi surat-surat dan kartu pos. Surat-surat dan semua kartu pos itu dikirimkan seorang ibu kepada anak perempuannya. Penemuan ini membawa si Bodoh kepada anak perempuan yang dijulukinya Tuan Putri. 

Tuan Putri adalah seorang gadis buta yang sangat menyukai bunga matahari. Ia kehilangan penglihatan setelah sebuah kecelakaan mobil yang juga merenggut nyawa ayahnya. Sepeninggal ayahnya, ia tinggal bersama bibi dan kakak sepupunya, Daniel. Si Bodoh mengenal Tuan Putri sebagai gadis yang tangguh, yang mampu menerima kondisinya, bahkan mengatakan:

Bahagia adalah pilihan. Tak peduli di mana pun aku berada, aku bisa saja merasa sedih dan tertekan. Namun, setelah itu, aku belajar bagaimana untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Aku tidak lagi ingi menyiksa diriku sendiri. Bahagia adalah saat kau membuat segala yang (kau) punya menjadi yang terbaik. (hlm, 31).

Apakah kau tahu, bahwa hal-hal terindah di dunia ini tidak bisa dilihat dengan mata? Apa kau tahu, bahwa hatimu bisa melihat hal yang jauh lebih indah dari apa pun di dunia ini? (hlm. 34).

Tuan Putri meminta si Bodoh membacakan semua surat yang ditulis ibunya, perempuan asal Belanda yang lebih memilih karier ketimbang keluarganya. Dan sementara itu, si Bodoh menyaksikan jika sejatinya, Tuan Putri tidak setangguh yang dikatakannya. Kebutaan membuatnya melakukan hal yang berdampak pada terjebaknya ke dalam kondisi koma. Dan Tuan Putri yang menyukai bunga matahari berubah menjadi seperti bunga matahari yang layu. 

Aku tidak bisa melukiskan betapa sedih aku melihatmu seperti itu. Kau terbaring seakan sedang bersiap-siap untuk pergi selamanya. Kau membuatku takut. Beberapa kali aku begitu ingin tinggal di sini, menemanimu, karena aku begitu takut kau pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, tanpa membuka matamu. (hlm. 36).

Setiap kali si Bodoh menengoknya, terbersit harapan untuk menemukan Tuan Putri terbangun dari komanya. Tapi harapannya selalu kandas.

Tuan Putri, kau mengubah hidupku. Kau membuatku ingin menjadi seseorang yang lebih baik, agar aku cukup berharga bagi orang-orang yang kusayangi. Kurasa itu adalah definisi perasaanku kepadamu. Aku menyayangimu sebagai sahabat, karena saat ini, aku hanya bisa menjadi sahabatmu. Mungkin suatu saat nanti, setelah aku berubah, barulah aku ingin mengambil satu langkah lebih maju. (hlm. 192).

Sampai saatnya surat terakhir selesai dibacakan dan si Bodoh mesti mengucapkan selamat tinggal, Tuan Putri belum mengangkat pelupuk matanya. Apa yang akan dilakukan si Bodoh untuk Tuan Putri pada kali penghabisan? Apa yang pernah dikatakan Tuan Putri, pada masa-masa ketangguhannya, menggema dalam benaknya. 

Doa yang tulus dan dengan cinta, adalah kekuatan besar yang bisa menyelamatkan siapa pun, termasuk orang yang mendoakannya. (hlm. 193).

Untuk ukuran novel, Beauty Sleep memang tergolong tipis. Tapi meskipun berdurasi singkat, kita akan merasakan keharuan yang terus bertahan sampai novel ini ditamatkan.  Itulah salah satu kelebihan novel ini.

Amanda Inez menjabarkan kisahnya dalam novel ini dengan bahasa yang sederhana. Sekalipun si Bodoh berasal dari negara di Amerika Utara, Amanda tidak terjebak untuk memperagakan kemampuan bahasa asingnya (Inggris) secara semena-mena. Ia memang sempat memunculkan sedikit kosakata bahasa Inggris, tapi terutama ia mengandalkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hasilnya, memang sangat berbeda dengan novel-novel populer terbitan GagasMedia lainnya, dan saya sangat menyukainya. Sederhana, tapi unik.

Selama membaca, Si Bodoh yang menjadi narator (aku-kamu) memosisikan kita pembaca sebagai Tuan Putri yang berada dalam kondisi koma. Kita seakan-akan sedang mendengar curhatan hatinya yang penuh perasaan untuk membangkitkan perasaan dan kehendak terbaik kita. Cinta, kebaikan hati, ketabahan, pengampunan, iman, dan semangat untuk hidup mengalir dalam alunan indah kata-kata.

Pertanyaan yang terus muncul selama membaca adalah apakah Tuan Putri akan bangkit dari keadaan koma ataukah ia akan terlelap selama mungkin? Bagian epilog, yang dikisahkan menggunakan perspektif orang ketiga, akan memberikan jawaban untuk pertanyaan ini. Seperti yang dilakukan Winna Effendi dalam Unforgettable, Amanda Inez pun baru akan mengungkapkan nama asli Tuan Putri dan si Bodoh, kedua karakter utama novel, secara lengkap pada bagian epilog. 

Selamat datang ke dalam dunia buku Indonesia, Amanda Inez. Semoga novel ini tidak akan menjadi karya satu-satunya dan tetap pertahankan kekhasan yang sudah dimiliki. 


Kalau aku adalah bunga matahari, maka aku ingin kau menjadi matahariku (hlm. 220)


4 comments:

Amanda Inez Poernama said... Reply Comment

Dear Jody,

Terima kasih atas review-nya :) Saya baru tahu bahwa pernah ada cerpen yang ternyata mirip dengan novel ini. Tapi, itu akan menjadi sesuatu yang memacu saya untuk datang dengan ide yang lebih authentic.

Thanks!
Amanda Inez.

Peri Hutan said... Reply Comment

udah jadi wishlist kapan lalu, gara-gara ada dongeng putri tidurnya :)

Jody said... Reply Comment

@Amanda Inez Poernama:
Hai Amanda, trims telah berkunjung.
Aku suka novel perdana kamu.
Aku menunggu karya2mu yang lain :)

Jody said... Reply Comment

@Peri Hutan:
Novelnya keren, terutama bagi yg suka fiksi yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan