12 May 2013

The Graveyard Book


Judul Buku: The Graveyard Book
Pengarang: Neil Gaiman (2008)
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 351 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Rudyard Kipling mengeset rimba sebagai tempat untuk membesarkan Mowgli dalam The Jungle Book. Terinspirasi karya Kipling itu, Neil Gaiman mengeset permakaman sebagai tempat untuk membesarkan Nobody Owens dalam The Graveyard Book (2008). Jika Mowgli dibesarkan oleh serigala India dibantu beruang dan harimau kumbang, maka nasib Nobody Owens tergantung pada hantu-hantu yang bergentayangan di permakaman tersebut. 

Permakaman yang dijadikan seting oleh Gaiman berada di puncak bukit dan telah ditetapkan sebagai cagar alam. Terdapat sekitar sepuluh ribu jiwa di pemakaman itu tapi sebagian besar dari mereka tidur lelap dan tidak menaruh minat pada kegiatan malam hari di tempat itu. Ke sanalah, pada malam pembunuhan keluarganya, anak laki-laki dan bungsu yang masih batita pergi setelah terjaga dari tidur. Ia tidak tahu kalau ayah, ibu, dan kakak perempuannya telah dibunuh oleh pria bernama Jack. Kegemaran berkeliaran inilah yang justru menyelamatkannya. Mistress Owens, salah satu hantu di permakaman itu, yang menyaksikan kemunculannya bertekad melindunginya. Apalagi, ibunya yang telah menjadi hantu meminta perlindungan bagi anaknya. Karena sewaktu hidup lebih dari 250 tahun lalu tidak memiliki anak, Mr. Owens bersetuju dengan istrinya untuk mengadopsi  anak itu. Singkat cerita, anak itu pun tinggal di permakaman. Silas, salah satu penghuni permakaman, menjadikan dirinya sebagai wali anak itu dan bertanggung jawab untuk menyiapkan semua kebutuhannya.  Anak itu diberi nama Nobody Owens dan nama panggilannya adalah Bod. "Dia tidak mirip siapa pun selain dirinya sendiri. Dia tidak mirip siapa pun -seperti nobody," kata Mrs. Owens (hlm. 35). Bod mendapatkan Kebebasan Permakaman (Freedom of the Graveyard) seperti yang sebelumnya didapatkan Silas. Kebebasan Permakaman membuatnya dilindungi, bisa melihat dalam kegelapan, berjalan di beberapa jalan yang tidak boleh ditempuh orang hidup, dan kalau ia menghendaki, mata orang hidup takkan bisa melihatnya. 

Para hantu-lah yang kemudian mengajarkan segala sesuatu kepada Bod dan berusaha menjawab semua pertanyaan yang terbentuk dalam benaknya. Silas memperkenalkan abjad dengan menggunakan batu-batu nisan yang ada. Tapi karena Silas sering meninggalkan permakaman, Bod juga mempunyai guru-guru lain yang mengajarnya bicara,  menulis, sejarah, geografi, astronomi, dan berbagai pengetahuan umum lainnya. Dan dengan Kebebasan Permakaman yang diberikan kepadanya, ia juga belajar Memudar, Menghantui, dan Merambah Mimpi. Selanjutnya, Bod malah mampu membuka gerbang ghoul -setan kuburan- dan mengenal ghoul seperti Presiden Amerika Serikat yang ke-33 (Harry S. Truman?) dan pengarang ternama Victor Hugo. 

Dengan menetap di permakaman Bod tidak hanya mengenal hantu-hantu yang berada di sana. Ia juga akan mengenal Miss Lupescu, salah satu Anjing Tuhan (Hound of God) yang menggantikan Silas menjaganya saat walinya itu bepergian dalam waktu lama. Juga Liza Hempstock, penyihir yang dimakamkan di Potter's Field -mengingatkan pada Tanah Tukang Periuk yang dibeli menggunakan uang yang diperoleh Yudas Iskariot dengan mengkhianati Yesus Kristus- di pinggiran permakaman dan tidak memiliki batu nisan. Lantaran ingin memberikan Liza batu nisan, Bod nyaris mencelakakan dirinya sendiri. Selain mereka, Scarlett Amber Perkins, seorang gadis nonhantu, akan memasuki kehidupan Bod. Setelah sempat terpisah karena Scarlett pergi ke Skotlandia, mereka bertemu kembali sepuluh tahun kemudian. Scarlett-lah yang berusaha menyelidiki kasus pembunuhan keluarga Bod yang dengan sengaja telah dipetieskan oleh pihak kepolisian. 

Tiga belas tahun telah berlalu, ternyata Bod belum aman, belum bisa diizinkan menengok dunia luar dengan bebas. Silas memberi tahu kepadanya bahwa pria bernama Jack masih terus mencarinya dengan tujuan untuk mencabut nyawanya.  

Bod mengangkat bahu. "Jadi?" katanya. "Itu hanya kematian. Maksudku, semua temanku yang terbaik sudah mati."

"Ya." Silas ragu sejenak. "Mereka memang sudah mati. Dan sebagian besar mereka sudah selesai menjalani hidup di dunia ini. Kau tidak. Kau hidup. Itu berarti kau punya potensi yang tak terbatas. Kau bisa melakukan apa pun, membuat apa saja, memimpikan apa saja. Kalau kau mengubah dunia, dunia akan berubah. Potensi. Begitu kau mati, potensi itu lenyap. Habis. Kau sudah membuat apa yang sudah kaubuat, memimpikan mimpimu, menuliskan namamu. Kau bisa dikubur di sini, kau bahkan bisa bergentayangan. Tetapi potensi itu sudah habis." (hlm. 205).

Mengapa pria bernama Jack bertekad membunuh Bod? Itulah pertanyaan terbesar yang akan mengikuti kita selama membaca The Graveyard Book (Cerita dari Pemakaman), novel fantasi karya Neil Gaiman. Gaiman akan menyingkapkan jawabannya dan menegaskan bahwa sebenarnya bukan keluarganya, melainkan Bod-lah target utama pria bernama Jack. Untuk mengelak dari ketajaman fatal pisau pria bernama Jack itu, Bod tidak hanya membutuhkan bantuan walinya yang bisa berpindah-pindah dunia orang hidup dan orang mati, tapi juga jiwa-jiwa penghuni permakaman. Dan permakaman itu sendiri akan menjadi saksi perjuangan Bod mempertahankan takdirnya sebagai seorang penyintas dari sebuah tragedi. 



Sekali lagi Neil Gaiman menunjukkan kemumpuniannya sebagai penulis fiksi fantasi yang menghanyutkan kita sejak kisahnya dibuka. Setelah membuyarkan batas antara kehidupan dan kematian, Gaiman menetaskan sebuah kisah unik berfondasikan cinta kasih dan kebaikan hati serta perjuangan bertahan hidup di tempat yang sebelumnya tidak terbayangkan. Gaiman bermain-main dengan penuh humor mengubah pandangan yang memvonis permakaman sebagai tempat angker ke pandangan yang mengindikasikan permakaman sebagai tempat di mana kisah-kisah yang menarik terpendam menanti digali. Dan memang, selama membaca kisah ini, bukan suasana permakaman yang membuat kita berdebar-debar, melainkan kemunculan pria bernama Jack yang akan menentukan keberlangsungan hidup Bod di permakaman itu.

Gaiman menutup novel ini dengan pilihan yang akan menggenapkan takdir Bod sebagai bocah yang diselamatkan dan tetap hidup. Sebuah penutup yang sangat mengharukan sekaligus indah dan menciptakan kehampaan seusai membacanya. Pada akhirnya, Mistress Owens, ibu Bod, akan mengingat kembali baris-baris terakhir lagu tua yang dinyanyikannya untuk meninabobokkan Bod saat masih kanak-kanak.

Hadapi hidupmu
Kepedihannya, kenikmatannya,
Jangan biarkan satu jalan pun tak tertempuh.
(hlm. 350)

The Graveyard Book telah memenangkan berbagai penghargaan yaitu Newbery Medal 2009, Hugo Award untuk Novel Terbaik 2009, Locus Award untuk Buku YA Terbaik 2009, dan Carnegie Medal 2010. Novel ini akan difilmkan oleh Walt Disney Pictures dengan format film animasi oleh Henry Selick, yang juga membuat film animasi dari novel Gaiman yang lain, Coraline




*Catatan: sebenarnya bukan pemakaman tapi permakaman yang paling tepat untuk tempat memakamkan jenazah. Pemakaman sendiri adalah proses atau perbuatan memakamkan.

2 comments:

Peri Hutan said... Reply Comment

udah punya bukunya, dalam antrian baca, ehehehe.
apakah lebih afdol kalo baca The Jungle Book sebelum baca buku ini?

Jody said... Reply Comment

Nggak perlu baca The Jungle Book untuk baca TGB. Kebetulan aja pernah baca duluuu :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan