28 May 2013

Tiga Burung Kecil



 
Judul Buku: Tiga Burung Kecil
Pengarang: Mikha Ramadewi, Tjatursari Oetoro, Josefine Yaputri
Penyunting: Clara Ng
Tebal: 211 halaman
Cetakan: 1, Maret 2013
Penerbit: PlotPoint Publishing






BlueGreen Airlines, sebuah maskapai penerbangan internasional, merekrut calon awak kabin pesawat -pramugari dan pramugara- dengan cara yang tidak biasa. Berdasarkan gagasan perempuan bule bernama Pamela Maaler, maskapai penerbangan ini mengadakan Lomba Blue for Green Crews untuk mengaplikasikan kegiatan produknya secara ramah lingkungan.

Odette Utomo, Jessica Cantania, dan Samuel Bidarana lolos seleksi awal lomba tersebut. 

Odette adalah gadis keturunan Tionghoa dan putri dari pengusaha kaya. Ia lari dari rumahnya dan mengikuti kompetisi ini karena hendak dikawinkan dengan lelaki yang tidak dicintainya, Nicholas. Meskipun terkadang bersikap seenaknya dan kurang peka, Odette suka pada tantangan dan mau bekerja keras untuk menghadapinya. Dalam perjuangannya menjadi pramugari, Odette terus-menerus dibayang-bayangi Mami dan Papinya yang tidak ingin anak mereka menyimpang dari jalan yang telah mereka tentukan. Tapi, Odette yang keras kepala tidak akan menyerah, sebab ia sudah bertekad kuat menjalani pilihan hidupnya sendiri. Pada akhirnya, kedua orangtuanya pun tidak bisa berbuat apa-apa dan memilih menyerah. 

Jess berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya yang tidak pernah dimunculkan dan hanya sekadar disebutkan (hlm. 67) adalah pegawai negeri yang jujur sedangkan ibunya pernah memiliki usaha katering. Jess bisa mencipta lagu, dan salah satu lagunya yang kerap ia nyanyikan adalah lagu tentang tiga burung kecil yang terbang bebas.

Sam, satu-satunya lelaki, datang dari keluarga dengan prinsip hidup anti gratisan. Ia menjadi orangtua tunggal setelah kematian istrinya, Mira. Kendati ingin memberikan Clarissa, putri semata wayangnya, seorang ibu baru, sangat sulit bagi Sam untuk merealisasikannya. Sam meninggalkan pekerjaannya di Singapura untuk ikut berkompetisi di The BlueGreen Project. 

Setelah lulus seleksi awal, ketiganya mesti berkompetisi dengan para peserta asal Indonesia lainnya, untuk menjadi perwakilan Indonesia di tingkat Asia. Kompetisi tingkat Indonesia dilaksanakan di Tomohon, Sulawesi Utara. Jika berhasil, mereka akan pergi ke Kyoto, Jepang, untuk berhadapan dengan para peserta terpilih dari negara-negara Asia lainnya. Dan jika menang di tingkat Asia, mereka akan mengikuti kompetisi terakhir yang akan dilaksanakan di Marrakesh, Maroko. 

Bertiga dalam satu tim bukanlah hal yang mudah karena mereka memiliki perbedaan karakter. Saat berkompetisi di Tomohon, Odette dan Jess sempat merasa kecewa karena ada kompetitor yang bermain curang. Sempat tebersit untuk ikut-ikutan, tapi Sam bersikeras untuk tetap mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Tim penilai tidak menutup mata, dan akhirnya menetapkan mereka sebagai pemenang yang akan mewakili Indonesia di tingkat Asia. 

Selanjutnya tetap tidak mudah. Masing-masing harus berusaha menekan lonjakan ego. Perang dingin dan pertikaian kecil-kecilan mudah terpicu. Ketika Sam diam-diam mulai merasa jatuh cinta kepada Jess yang merawatnya pada saat sakit, mau tidak mau, demi kepentingan tim, ia harus mengibaskan perasaannya. Sedangkan Odette sendiri, harus menghadapi Nicholas yang tanpa pemberitahuan sebelumnya, muncul di Kyoto. 

Apakah mereka berhasil menundukkan ego dan tetap mampu mempertahankan soliditas tim dengan godaan-godaan yang muncul? Kita sudah bisa menduganya, sehingga ketika para pengarang mengungkapkannya, tidaklah mengejutkan. Meskipun begitu, kisah tiga burung kecil yang mencoba melanglang angkasa ini, tetap menarik untuk ditamatkan. Kita akan terus-menerus penasaran apa yang akan terjadi pada mereka.

Tiga Burung Kecil adalah novel kolaboratif tiga pengarang perempuan, yaitu Mikha Ramadewi, Tjatursari Oetoro, dan Josefine Yaputri yang sebelumnya telah mengikuti Kelas Novel Dasar bersama pengarang Clara Ng yang diselenggarakan Penerbit PlotPoint. Novel ini ditulis dengan ringan, tanpa tendensi merumit-rumitkan kisahnya. Plotnya begitu gampang ditebak, tidak ada kejutan-kejutan yang signifikan, namun mengalir lancar. Secara keseluruhan. enak dibaca dan kita tidak akan membutuhkan banyak waktu untuk menamatkannya.

Sesungguhnya, proses kreatif penulisan novel ini merupakan aspek menarik yang membuat penasaran. Sayangnya, tidak ada penjelasan gamblang dari para pengarang dan editornya, Clara Ng. Apakah ada pembicaraan mengenai karakterisasi dan plotnya? Atau muncul secara spontan seiring berkembangnya kisah? Dan, sempatkah mereka mengalami kebuntuan ide selama penulisan? Yang jelas, metode apa pun yang mereka pakai, mereka berhasil menjaga karakterisasi ketiga tokoh utamanya dengan baik, sejak awal hingga akhir. Tanpa perlu banyak deskripsi, kita dengan mudah akan menyelami karakterisasi ketiga tokoh utamanya melalui kejadian yang melibatkan mereka dan cara mereka mengambil keputusan. 

Pertanyaan yang mengganggu selama membaca terutama terkait dengan Lomba Blue for Green Crews. Meskipun berangkat dari gagasan mendekatkan perusahaan penerbangan dengan lingkungan hidup, kegiatan yang dijalani para peserta sulit dihubungkan dengan perilaku ramah lingkungan. Bahkan, terkesan ganjil. Misalnya, apa hubungannya perilaku ramah lingkungan dengan membantu pedagang di Pasar Tomohon menjual lima ekor anjing, lima ekor ular, lima ekor tikus hutan dan lima ekor kelelawar? Bukan itu saja. Pada bagian-bagian selanjutnya, kegiatan yang dilakukan dalam kompetisi ini tetap terasa tidak masuk akal. 

Hal-hal terkait aktivitas maskapai penerbangan BlueGreen Airlines yang sebenarnya paling krusial dan berhubungan dengan Blue for Green Crews pun tidak memadai. Kita hanya mengetahui bahwa maskapai ini sedang melakukan seleksi awak kabin. Apa yang terjadi setelah nama para pemenang diumumkan, tidak disentil atau diberi gambaran sedikit pun. Apakah setelah para pemenang dipekerjakan, mereka langsung menjadi awak kabin tanpa pelatihan terkait pekerjaan mereka? Entahlah. Setelah kisah perjuangan para kontestan berakhir, cerita segera beralih ke bagian epilog yang terjadi tiga tahun kemudian. Padahal masih ada yang seharusnya bisa digali dan dikembangkan, sehingga setelah menamatkan novel ini tidak ada perasaan tidak puas yang mengendap. 



Keindahan yang ditawarkan oleh pemandangan di Danau Linow  (Tomohon) (hlm. 84)


1 comments:

Tanti Amelia said... Reply Comment

Menulis tanpa menggali karakter, setting dan lain-lain yah...

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan