07 May 2013

Katarsis


Judul Buku: Katarsis
Pengarang: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Tebal: 264 hlm; 20 cm
Cetakan:1, April 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 





Tara Johandi adalah gadis yang selamat dari peristiwa pembunuhan di rumah pamannya di Bandung. Ia ditemukan dalam keadaan dehidrasi dan syok berat, disekap di dalam sebuah kotak perkakas kayu. Tara bukanlah satu-satunya yang selamat. Arif Johandi, pamannya ditemukan masih hidup meskipun dalam keadaan koma. Sementara Sasi, istri Arif, dan Bara, kakak Arif dan ayah Tara, ditemukan tewas dengan luka tusuk di tubuh mereka. Sedangkan Moses Johandi, anak laki-laki semata wayang Arif dan Sasi ditemukan dalam bentuk potongan-potongan tubuh hasil mutilasi. Mereka dinyatakan sebagai korban perampokan sadis, dan  polisi menetapkan pasangan Martin Silado dan Andita Pramani sebagai tersangka karena mereka tertangkap di dekat TKP.

Polisi kesulitan untuk memastikan siapa pelaku dalam kasus pembunuhan itu. Kedua saksi, yaitu Tara dan Arif, dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dimintai keterangan. Bahkan, setelah terbangun dari koma, Arif menghilang dari rumah sakit. Tersisa Tara yang diharapkan bisa memberikan kesaksian. Untuk itu, Alfons, seorang psikiater muda, datang dari Jakarta demi membantu pemulihan Tara. Sebelumnya, Alfons telah menjadi psikiater yang menangani Tara ketika Arif dan Sasi merasakan keanehan perilaku Tara. Pada usia delapan belas tahun, Tara adalah seorang gadis yang terobsesi pada koin lima rupiah. Sebelumnya, lebih aneh lagi. Semenjak kecil, ia menolak nama yang diberikan orangtuanya -Bara dan Tari Johandi- dan tanpa tedeng aling-aling membenci mereka karenanya. Ia memanggil kedua orangtuanya dengan nama mereka. Ia juga dituduh ayahnya sebagai penyebab kematian ibunya. Setelah kematian ibunya, Bara tidak sanggup mengasuhnya dan menitipkannya pada adiknya.

Tapi, setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, Tara tetap tidak bisa mengungkapkan apa yang disaksikannya pada peristiwa pembunuhan di rumah pamannya. Alfons memutuskan membawa gadis itu ke rumahnya di Jakarta dengan harapan akan mengatalis pemulihan dan pemecahan kasus kriminal itu jika Tara memandangnya sebagai teman.

Sewaktu masih dirawat di rumah sakit, Tara pernah mendapatkan kiriman, sebuah paket tanpa nama pengirim. Paket itu membuatnya terguncang karena berupa kotak perkakas kayu berisi seorang gadis seusianya yang berada dalam kondisi sekarat. Persis seperti saat dirinya ditemukan di gudang rumah pamannya. Setelah akhirnya Tara tinggal di rumah Alfons, terjadi rangkaian pembunuhan berantai dengan modus operandi yang sama. Para korban, semuanya perempuan, disekap di dalam kotak perkakas kayu. Tara segera menangkap isyarat bahwa sebenarnya dirinyalah yang menjadi target utama si pembunuh berantai.

Katarsis adalah sebuah novel psychological thriller yang akan membuat kita tercekat ngeri begitu terseret ke dalam plotnya yang bergerak cepat dan penuh kejutan. Setelah kasus perampokan sadis itu diungkapkan, kita disodorkan pengakuan demi pengakuan terkait peristiwa pembunuhan itu. Tidak terlalu lama, kita akan segera mengetahui motif dari pembunuhan tersebut dan menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada perampokan di dalamnya. Tapi, setelah kasus pembunuhan itu dibeberkan, ternyata cerita tidak berhenti melainkan berbiak secara tidak terduga. Saat akhirnya Tara menjadi target pembunuhan, kita memasuki kisah baru yang berkembang dari tindakan kriminal yang terjadi hampir dua puluh tahun sebelumnya dengan kekejaman yang tidak kalah sadisnya. 

Penggunaan dua narator untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi serupa dengan metode katarsis. Kedua narator berkisah secara blakblakan agar kita dapat memahami problematika kehidupan mereka yang tidak terelakkan. Jika banyak karya fiksi memberi alasan kalau sebuah tindakan kriminal terjadi karena pengalaman traumatis pelakunya, novel ini menyorongkan gagasan berbeda. Bagaimana kalau tindakan kriminal itu dilakukan oleh manusia yang memang ditakdirkan untuk menjadi pelaku kejahatan sejak dilahirkan? Pelaku kejahatan dalam novel ini mau tak mau mengingatkan pada Creighton Wheeler, karakter antagonis dalam novel Smash Cut karya Sandra Brown (2009) yang terlahir membawa benih-benih kejahatan.

Menggunakan dua narator –atau bahkan lebih- dalam satu kisah memang tidak gampang. Kedua narator dalam novel ini menggunakan kata ganti ‘aku’ dan berkisah dengan cara yang identik. Ketika terjadi pergantian narator untuk pertama kali yaitu pada bab tiga, agak membingungkan karena tidak ada pemberitahuan atau informasi sebelumnya. Untunglah tidak lama kemudian, kita akan menyadari kalau sudah terjadi pergantian narator, dan pada gilirannya, tidak lagi membingungkan kendati penggantian terjadi lebih sering pada bab-bab selanjutnya.

Menuju bagian pamungkas, pengarang terkesan terburu-buru mengakhiri kisahnya. Tapi mengingat sejak awal kisahnya memang mengalir dengan cepat, kemungkinan hal ini disengaja untuk menghasilkan efek serupa menonton film yang menegangkan. Bagian pamungkas sendiri akan membuat kita terkejut karena tidak prediktabel.

Meskipun sebagai pembaca kita sudah tahu siapa pelaku pembunuhan di rumah keluarga Johandi, sebenarnya kasus yang dijadikan pembuka novel ini tidak diselesaikan. Hingga kita melewati halaman terakhir novel, polisi belum berhasil memecahkan kasus itu dan menyusun kronologisnya. 

Jadi, siapa sebenarnya yang telah membantai keluarga Johandi dan menyekap Tara di dalam kotak perkakas? Siapa pula yang kemudian menjadikan Tara sebagai target pembunuhan? Ke mana Arif Johandi pergi setelah siuman dari komanya dan meninggalkan rumah sakit? Lebih jauh ke belakang, siapa yang telah melaporkan kasus pembunuhan itu sehingga bisa masuk daftar kasus kepolisian? Untuk mendapatkan jawaban semua pertanyaan ini, sebaiknya Anda membaca sendiri novel ini. 




Tentang Pengarang:
Anastasia Aemilia, pengarang novel Katarsis dilahirkan di Jakarta pada 9 Januari 1987.  Ia bekerja sebagai editor dan penerjemah di Gramedia Pustaka Utama. Katarsis adalah novel perdananya. Cerpennya yang berjudul Thirty Something diikutsertakan dalam kumpulan cerpen metropop, Autumn Once More (GPU, 2013).


3 comments:

Rimia Alkahestry said... Reply Comment

terima kasih atas reviewnya. Saya jadi penasaran dan ingin membaca langsung novel ini ㅋㅋㅋㅋ

Jody said... Reply Comment

@Rimia Alkahestry:

Terima kasih udah berkunjung. Selamat membaca Katarsis :)

shadow said... Reply Comment

buku ini bisa dibilang novel psychothriller pertama indonesia ga ? atau sebelumnya udah ada novel genre serupa..hehe :D

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan