06 August 2013

London




Judul Buku: London
Pengarang: Windry Ramadhina
Penyunting: Ayuning & Gita Romadhona
Tebal:  x + 330 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: GagasMedia





Gara-gara provokasi keempat sahabatnya -Brutus, Hyde, dan si kembar Dum dan Dee- Gilang, editor penerbit buku sastra, memutuskan cuti dari kantornya dan pergi ke London menemui Ning. Ia bermaksud memberikan kejutan pada gadis itu sehingga tidak mengabarkan kedatangannya. Kemudian, seperti rencananya, menyatakan cinta yang telah dipendam bertahun-tahun. 

Ning adalah tetangga sekaligus sahabatnya sejak sekolah dasar. Gadis inilah yang telah membuat Gilang membatalkan niat kuliah di Fakultas Teknik dan menekuni sastra. Ning melanjutkan kuliah di Royal College of Arts, London, untuk mempelajari kurasi seni kontemporer. Seperti cita-citanya, selesai kuliah, ia diterima bekerja sebagai kurator di Tate Modern, galeri seni kontemporer di Bankside, London Tengah. Ning sempat kembali ke Indonesia sebelum bekerja, tapi Gilang tidak mendapatkan kesempatan menyatakan cinta secara terang-terangan. 

Sesampainya di London, Gilang langsung pergi ke tempat tinggal Ning di Colville Place, Charlotte Street. Sayangnya, Ning sedang tidak berada di rumahnya. Ia sedang dalam perjalanan menjemput lukisan di Cambridge dan tidak jelas kapan kembali. Padahal, Gilang hanya punya lima malam untuk dihabiskan di London. 

Gilang menginap di penginapan bernama Madge yang terletak di Windmill Street, Fitzrovia. Ed, pelayan Madge yang berdarah campuran Inggris-India mendorong Gilang pergi ke Southbank untuk melihat London Eye. Sebetulnya Gilang tidak berminat memasuki salah satu kapsul kincir raksasa itu, tapi ia tidak bisa menolak ajakan Goldoilocks.

Goldilocks adalah gadis kaukasoid yang dijumpainya di Southbank. Ia cantik, berkulit pucat, dan berambut cokelat muda kemerah-merahan, bagaikan berasal dari lukisan renaisans. Begitu melihatnya, Gilang segera membaptis gadis itu dengan nama Goldilocks. Gadis itu muncul saat hujan turun, tapi begitu hujan reda, ia menghilang secara misterius, meninggalkan payung merahnya di tangan Gilang.  

Tidak hanya sekali Gilang bertemu dengan Goldilocks. Setelah di depan London Eye, ia masih bertemu gadis itu di tempat seperti Shakespeare's Globe Theatre di Bankside dan toko aksesoris dekat Oxford Street di Soho. Sekali, saat hujan turun, ia melihat gadis itu bermandikan hujan di luar toko payung James Smith & Sons di New Oxford Street. Siapa sebenarnya Goldilocks? 

Selain Goldilocks, ia juga bertemu Ayu, gadis asal Jakarta yang sedang berlibur di London. Mereka bertemu saat Gilang mencari peta London di toko buku milik Mister Lowesley, yang terletak di seberang Madge. Ayu adalah gadis yang senang mencari buku langka seperti Gilang di masa lalu. Gilang pernah mencari cetakan pertama Burmese Days karya George Orwell, tapi karena tidak pernah menemukannya, ia pun melupakan buku langka itu. Ayu mengunjungi berbagai toko buku di London untuk mencari cetakan pertama Wuthering Heights karya satu-satunya Emily Brontë. Pertemuan ini tidak akan menjadi satu-satunya pertemuan mereka.


Shakespeare's Globe


Ning baru muncul di hadapan Gilang pada malam ketiganya di Fitzrovia. Tapi kemunculan Ning tidak lantas memberikan kesempatan baginya untuk menyatakan cinta. Apalagi, Ning tampaknya sedang jatuh cinta dan telah berencana menetap di London demi cintanya. Tanpa dikehendakinya, Gilang pun terperangkap dalam lingkaran cinta segitiga. 

Sanggupkah Gilang mengubah perasaan dan keinginan Ning dan membuat gadis itu mau kembali dengannya ke Indonesia? 

London adalah novel kelima dari serial Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang diterbitkan GagasMedia. STPC adalah proyek kolaborasi GagasMedia dengan Bukune yang ditujukan untuk memberikan pembaca buku terbitan kedua penerbit ini karya fiksi dengan pengalaman traveling ke mancanegara. Sebelum London, GagasMedia telah menerbitkan Paris (Prisca Primasari), Roma (Robin Wijaya), Bangkok (Moemoe Rizal), dan Melbourne (Winna Efendi). Windry Ramadhina, yang sebelumnya telah melahirkan empat novel yaitu Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), dan Montase (2013), dipilih untuk mengggiring pembaca STPC ke London bersama Gilang yang sedang memperjuangkan cintanya. Dan sebagaimana dalam novel-novel terdahulunya, Windry mampu menghadirkan kisah memikat dalam jalinan plot yang mengundang penasaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik tapi tetap segar dan enak dibaca. 

Windry memang memulai kisahnya dari gagasan yang sudah tergolong generik dalam karya fiksi yaitu cinta yang muncul dari hubungan persahabatan. Itulah yang mendorong Gilang melanglang ke London demi mencuri hati Ning. Tapi begitu tiba di London, kisahnya berkembang dalam momen-momen indah yang memaksa kita untuk terus mengikuti plot maju-mundurnya. Kehidupan Gilang di London dibayang-bayangi kehadiran Goldilocks yang misterius. Goldilocks, tentu saja, tidak sekadar menjadi penghangat cerita hari-hari hujan bulan September di London, karena ia akan menciptakan keajaiban cinta dengan payung merahnya. Banyak karakter dalam novel akan bersinggungan dengan keajaiban payung merahnya. Ayu yang kemunculannya sebenarnya tidak cukup banyak tapi tetap signifikan. Madam Ellis yang bertemperamen dingin dan keras hati semenjak kematian suaminya. Mister Lowesley yang berpenampilan membosankan. V yang bertemu Gilang di pesawat menuju London. Juga Ning, setelah bersama Gilang melewati malam saat Fitzrovia Lates (festival seni yang diadakan di Fitzrovia). Dan tentu saja Gilang, sang narator orang pertama novel ini. 



Karakterisasi yang diciptakan Windry terbilang sangat matang. Terutama karakter Gilang, berhasil dibesut dengan sedikit iseng. Mungkin karena menekuni dunia sastra kendati belum mampu menuntaskan novel perdananya, ia cepat sekali menganalogikan orang yang dijumpainya dengan karakter dalam karya fiksi yang pernah dibacanya. Brutus, Hyde, Dum dan Dee, V, Goldilocks, dan Finn(egan) bukanlah nama-nama asli. Sampai novel berakhir, kecuali Goldilocks, Windry tidak pernah mengungkapkan nama-nama asli mereka. 

Selain komposisi yang menarik dan kurangnya typo, London juga dikemas dengan baik sebagaimana novel-novel STPC sebelumnya. Warna merah yang menjadi latar belakang sampul depan (rancangan Levina Lesmana) adalah warna payung Goldilocks yang bisa dihubungkan dengan keajaiban cinta. Kata Angel yang mengikuti judul utama sebenarnya tidak diperlukan karena berpotensi spoiler. Novel ini juga dilengkapi ilustrasi karya Diani Apsari dan kartu pos bergambar Tower of London.

Kata Goldilocks: "Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri." (hlm. 320). Sudahkah Anda menemukannya? 


5 comments:

Jesika Napitupulu said... Reply Comment

keren blognya! :) koleksi novel juga ya? atau jangan2 novel addict juga? sama dong :)
salam kenal :D

Jody said... Reply Comment

Terima kasih.
Yeah, sama, fiction addict :))

Adelia Ayu said... Reply Comment

Goldilocks menyebutkan namanya di akhir-akhir kok Kak, namanya Angel. Coba baca lagi hehe.

Jody said... Reply Comment

@Adelia Ayu:
Ga papa spoiler ya? Goldilocks kayanya memang ga punya nama deh. Dia menyebut dirinya Angel karena dia memang angel atau malaikat :)

Adelia Ayu said... Reply Comment

@Jody: Iya emang kayaknya dia "malaikat".

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan