06 August 2013

London




Judul Buku: London
Pengarang: Windry Ramadhina
Penyunting: Ayuning & Gita Romadhona
Tebal:  x + 330 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2013
Penerbit: GagasMedia





Gara-gara provokasi keempat sahabatnya -Brutus, Hyde, dan si kembar Dum dan Dee- Gilang, editor penerbit buku sastra, memutuskan cuti dari kantornya dan pergi ke London menemui Ning. Ia bermaksud memberikan kejutan pada gadis itu sehingga tidak mengabarkan kedatangannya. Kemudian, seperti rencananya, menyatakan cinta yang telah dipendam bertahun-tahun. 

Ning adalah tetangga sekaligus sahabatnya sejak sekolah dasar. Gadis inilah yang telah membuat Gilang membatalkan niat kuliah di Fakultas Teknik dan menekuni sastra. Ning melanjutkan kuliah di Royal College of Arts, London, untuk mempelajari kurasi seni kontemporer. Seperti cita-citanya, selesai kuliah, ia diterima bekerja sebagai kurator di Tate Modern, galeri seni kontemporer di Bankside, London Tengah. Ning sempat kembali ke Indonesia sebelum bekerja, tapi Gilang tidak mendapatkan kesempatan menyatakan cinta secara terang-terangan. 

Sesampainya di London, Gilang langsung pergi ke tempat tinggal Ning di Colville Place, Charlotte Street. Sayangnya, Ning sedang tidak berada di rumahnya. Ia sedang dalam perjalanan menjemput lukisan di Cambridge dan tidak jelas kapan kembali. Padahal, Gilang hanya punya lima malam untuk dihabiskan di London. 

Gilang menginap di penginapan bernama Madge yang terletak di Windmill Street, Fitzrovia. Ed, pelayan Madge yang berdarah campuran Inggris-India mendorong Gilang pergi ke Southbank untuk melihat London Eye. Sebetulnya Gilang tidak berminat memasuki salah satu kapsul kincir raksasa itu, tapi ia tidak bisa menolak ajakan Goldoilocks.

Goldilocks adalah gadis kaukasoid yang dijumpainya di Southbank. Ia cantik, berkulit pucat, dan berambut cokelat muda kemerah-merahan, bagaikan berasal dari lukisan renaisans. Begitu melihatnya, Gilang segera membaptis gadis itu dengan nama Goldilocks. Gadis itu muncul saat hujan turun, tapi begitu hujan reda, ia menghilang secara misterius, meninggalkan payung merahnya di tangan Gilang.  

Tidak hanya sekali Gilang bertemu dengan Goldilocks. Setelah di depan London Eye, ia masih bertemu gadis itu di tempat seperti Shakespeare's Globe Theatre di Bankside dan toko aksesoris dekat Oxford Street di Soho. Sekali, saat hujan turun, ia melihat gadis itu bermandikan hujan di luar toko payung James Smith & Sons di New Oxford Street. Siapa sebenarnya Goldilocks? 

Selain Goldilocks, ia juga bertemu Ayu, gadis asal Jakarta yang sedang berlibur di London. Mereka bertemu saat Gilang mencari peta London di toko buku milik Mister Lowesley, yang terletak di seberang Madge. Ayu adalah gadis yang senang mencari buku langka seperti Gilang di masa lalu. Gilang pernah mencari cetakan pertama Burmese Days karya George Orwell, tapi karena tidak pernah menemukannya, ia pun melupakan buku langka itu. Ayu mengunjungi berbagai toko buku di London untuk mencari cetakan pertama Wuthering Heights karya satu-satunya Emily Brontë. Pertemuan ini tidak akan menjadi satu-satunya pertemuan mereka.


Shakespeare's Globe


Ning baru muncul di hadapan Gilang pada malam ketiganya di Fitzrovia. Tapi kemunculan Ning tidak lantas memberikan kesempatan baginya untuk menyatakan cinta. Apalagi, Ning tampaknya sedang jatuh cinta dan telah berencana menetap di London demi cintanya. Tanpa dikehendakinya, Gilang pun terperangkap dalam lingkaran cinta segitiga. 

Sanggupkah Gilang mengubah perasaan dan keinginan Ning dan membuat gadis itu mau kembali dengannya ke Indonesia? 

London adalah novel kelima dari serial Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang diterbitkan GagasMedia. STPC adalah proyek kolaborasi GagasMedia dengan Bukune yang ditujukan untuk memberikan pembaca buku terbitan kedua penerbit ini karya fiksi dengan pengalaman traveling ke mancanegara. Sebelum London, GagasMedia telah menerbitkan Paris (Prisca Primasari), Roma (Robin Wijaya), Bangkok (Moemoe Rizal), dan Melbourne (Winna Efendi). Windry Ramadhina, yang sebelumnya telah melahirkan empat novel yaitu Orange (2008), Metropolis (2009), Memori (2012), dan Montase (2013), dipilih untuk mengggiring pembaca STPC ke London bersama Gilang yang sedang memperjuangkan cintanya. Dan sebagaimana dalam novel-novel terdahulunya, Windry mampu menghadirkan kisah memikat dalam jalinan plot yang mengundang penasaran menggunakan bahasa Indonesia yang baik tapi tetap segar dan enak dibaca. 

Windry memang memulai kisahnya dari gagasan yang sudah tergolong generik dalam karya fiksi yaitu cinta yang muncul dari hubungan persahabatan. Itulah yang mendorong Gilang melanglang ke London demi mencuri hati Ning. Tapi begitu tiba di London, kisahnya berkembang dalam momen-momen indah yang memaksa kita untuk terus mengikuti plot maju-mundurnya. Kehidupan Gilang di London dibayang-bayangi kehadiran Goldilocks yang misterius. Goldilocks, tentu saja, tidak sekadar menjadi penghangat cerita hari-hari hujan bulan September di London, karena ia akan menciptakan keajaiban cinta dengan payung merahnya. Banyak karakter dalam novel akan bersinggungan dengan keajaiban payung merahnya. Ayu yang kemunculannya sebenarnya tidak cukup banyak tapi tetap signifikan. Madam Ellis yang bertemperamen dingin dan keras hati semenjak kematian suaminya. Mister Lowesley yang berpenampilan membosankan. V yang bertemu Gilang di pesawat menuju London. Juga Ning, setelah bersama Gilang melewati malam saat Fitzrovia Lates (festival seni yang diadakan di Fitzrovia). Dan tentu saja Gilang, sang narator orang pertama novel ini. 



Karakterisasi yang diciptakan Windry terbilang sangat matang. Terutama karakter Gilang, berhasil dibesut dengan sedikit iseng. Mungkin karena menekuni dunia sastra kendati belum mampu menuntaskan novel perdananya, ia cepat sekali menganalogikan orang yang dijumpainya dengan karakter dalam karya fiksi yang pernah dibacanya. Brutus, Hyde, Dum dan Dee, V, Goldilocks, dan Finn(egan) bukanlah nama-nama asli. Sampai novel berakhir, kecuali Goldilocks, Windry tidak pernah mengungkapkan nama-nama asli mereka. 

Selain komposisi yang menarik dan kurangnya typo, London juga dikemas dengan baik sebagaimana novel-novel STPC sebelumnya. Warna merah yang menjadi latar belakang sampul depan (rancangan Levina Lesmana) adalah warna payung Goldilocks yang bisa dihubungkan dengan keajaiban cinta. Kata Angel yang mengikuti judul utama sebenarnya tidak diperlukan karena berpotensi spoiler. Novel ini juga dilengkapi ilustrasi karya Diani Apsari dan kartu pos bergambar Tower of London.

Kata Goldilocks: "Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri." (hlm. 320). Sudahkah Anda menemukannya? 


05 August 2013

Skenario Remang-Remang



Judul Buku: Skenario Remang-Remang
Pengarang: Jessica Huwae
Editor: Mirna Yulistianti
Proofreader: Dwi Ayu Ningrum
Tebal: 180 halaman
Cetakan: 1, Juni 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Skenario Remang-Remang adalah kumpulan cerita pendek karya Jessica Huwae, pengarang yang pernah menerbitkan novel metropop bertajuk soulmate.com (2006). Ada empat belas cerpen di dalam kumpulan ini yang mengusung beragam tema seperti cinta, keluarga, dan perjuangan hidup. Sebagian besar cerita diramu dalam plot yang melahirkan kejutan di bagian pamungkas. 

Resep Rahasia Tante Meilan dijadikan pembuka kumpulan cerpen ini. Cerpen ini berkisah tentang Tante Meilan atau Mei yang tersohor dengan mi ayam racikannya yang lezat. Meskipun tidak dijual di tempat yang megah dan mewah, hanya di lantai dasar sebuah ruko tua bertingkat dua di dalam gang sempit, mi ayam Tante Mei laris manis. Kesuksesan Tante Mei memunculkan banyak kompetitor yang semuanya tidak mampu menandinginya. Termasuk Burhan, yang bersikeras mengetahui rahasia kelezatan mi ayam Tante Mei. 

Responsnya pada keingintahuan Burhan: "Tidak ada rahasia, Burhan. Penderitaan adalah rahasianya. Aku ingat suamiku dan anakku saat aku menguleni adonan. Aku berjerih lelah untuk siapa? Kalaupun akhirnya usahaku untung, itu semata-mata hanya untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi yang bisa menopangku kecuali dua tanganku sendiri. Aku bekerja dengan darah dan air mata. Itu saja rahasianya, Burhan." (hlm. 8-9).

Tante Mei menjual mi ayam setelah mencoba berbagai usaha, menyusul kerusuhan Mei 1998 yang melanda Jakarta. Lumbung penyimpanan bahan pangan yang menjadi usaha keluarga terbakar, suaminya ikut terbakar saat berusaha memadamkan api, dan anak perempuannya hilang tak diketahui nasibnya. Yang tersisa bagi Tante Mei hanyalah dua tangan yang cekatan dan semangatnya yang pantang menyerah. Setelah sejak awal dibangun sebagai kisah perjuangan hidup yang sangat mengharukan, di bagian pamungkas, Resep Rahasia Tante Meilan, berubah menjadi kisah horor yang absurd. 

Di ruang tunggu bandara yang ramai dalam cerpen Gate 4, dua orang laki-laki bertemu dan terlibat perbincangan sementara menunggu penerbangan ke Bali. Sang narator orang pertama mengaku bernama Montgomery atau biasa dipanggil Tom, sedangkan laki-laki yang lain mengaku bernama Dimas. Keduanya bertukar kisah tentang perselingkuhan dan pernikahan yang gagal. Menuju bagian pamungkas, kita akan mengetahui kalau salah satu dari kedua laki-laki itu, telah menyampaikan kisah palsu. Dimas? Atau sang narator? Kejutannya tidak terlalu mendebarkan lantaran pekerjaan salah satu dari kedua laki-laki itu (yang sejak awal telah diungkapkan) memang memberikannya kemampuan untuk menciptakan kisah penuh kebohongan. 

Suatu Hari dalam Hidup Aidan mengisahkan peristiwa yang terjadi dalam hidup anak laki-laki bernama Aidan saat berumur sepuluh tahun. Hari itu, ia memutuskan meninggalkan sekolah dan pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Sarono, sopir pribadi keluarga yang bertugas menjemputnya, datang terlambat lagi, lebih lama dari biasanya. Aidan mengabaikan peringatan Atik, pembantu keluarganya, untuk tidak melewati Gang Sawo Belakang. Jessica tidak mengungkapkan dengan gamblang apa yang terjadi pada Aidan saat ia berada di gang tersebut. Tapi kita bisa mengira-ngira, dan teryakinkan, tatkala ia mengungkap apa yang terjadi pada Aidan sepuluh tahun kemudian, di bagian pamungkas. Pelajaran yang bisa dipetik dari cerpen ini adalah sebuah keputusan impulsif yang kita lakukan terkadang bisa mendestruksi seluruh hidup kita selamanya

Saat meminang Elisa untuk menjadi istrinya, laki-laki dalam Mencintai Elisa telah bersumpah akan menjaga Elisa seumur hidupnya. Tapi ternyata, setelah hidup dalam pernikahan, laki-laki itu tidak bisa memegang sumpahnya. Keguguran kandungan Elisa membuatnya berubah, dari laki-laki penuh cinta menjadi seorang pemarah yang tidak segan melakukan kekerasan domestik. Suatu hari, setelah lempengan besi menghantam tubuhnya, Elisa menghampirinya dalam kesedihan dan ketakutan. 

Jessica menulis: "Ia ingin meraih Elisa dan memeluknya begitu saja. Menyadari luka perempuan yang dulu begitu ia kasihi dan mati-matian ia perjuangkan. Sekaligus meminta maaf atas kegagalannya untuk terus mengasihi Elisa, terutama di waktu-waktu buruk dalam hidup mereka."(hlm. 57). Tapi mampukah laki-laki itu melakukannya lagi? Mencintai Elisa yang membuat mata berkaca-kaca adalah kisah tentang cinta mula-mula yang kandas dengan kemarahan yang tidak perlu. Bukan cuma suaminya, Elisa juga kehilangan karena keguguran yang dialaminya. Saat penyesalan datang, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.  

Bagi laki-laki dalam Mengeja Perempuan dalam Kesunyian, perempuan sekantor yang menyimpan sejumlah tawa berbeda itu hanyalah 'distraksi dari semua agenda hidup yang telah disusunnya dengan begitu hati-hati dan teliti." (hlm. 59). Kehadiran perempuan itu dan cinta yang ditawarkannya tidak sanggup menggoyahkan perasaan laki-laki yang telah tumpul karena cinta bertepuk sebelah tangan yang dialaminya. Hingga perempuan itu pindah ke kota lain untuk bekerja barulah perasaan rindu menyergap laki-laki itu. Ah, cinta, mestikah serumit itu? Sayang sekali, tidak ada yang cukup menarik dari cerpen ini. 

Cerpen yang judulnya dijadikan judul kumpulan cerpen ini, Skenario Remang-Remang, merupakan dialog antara sepasang kekasih mengenai hal yang remeh. Percakapan mereka mungkin akan memberikan impresi mesum, tapi sebenarnya bukan itu yang dimaksudkan. Hal ini dipertegas oleh isi percakapan terakhir mereka dan kata-kata si perempuan yang menutup cerita. "Bibirku masih perawan." (hlm. 71). Cerpen ini sangat-sangat biasa dan sama sekali tidak mengesankan. Anehnya, dipilih mewakili semua cerpen yang ada untuk disematkan menjadi judul kumpulan cerpen ini. 

Menggunakan narator orang pertama, dalam Menjemput Bapak, Jessica menguraikan perjalanan pulang yang dilakukan Ayu, seorang perempuan Bali, ke tanah kelahirannya. Bertahun-tahun meninggalkan Bali, Ayu tidak punya keinginan lagi untuk menjejakkan kakinya di sana. Bali telah mengalami perubahan yang tidak disukainya, dan yang paling utama, ia tidak ingin bertemu Bapak. "Bapak adalah pria setengah dewa yang bisa melakukan apa saja -menjadi apa saja. Apa saja, kecuali menjadi pasangan jiwa yang setia bagi ibuku." (hlm. 86). Tapi saat Bapak sakit, ia memutuskan untuk pulang dan diperhadapkan dengan tantangan: sanggupkah ia memaafkan Bapak? Kecuali latar belakang keluarga Bali yang disfungsional, kisah semacam ini sudah generik karena banyak diangkat dalam karya fiksi. Lalu, mengapa judulnya Menjemput Bapak? Jawabannya bisa ditemukan di bagian pamungkas. 

Nostalgia Rasa mendedahkan pertemuan sepasang sahabat, setelah lama berpisah. Pertemuan ini memunculkan kembali kenangan yang pernah terjadi di antara mereka, khususnya pada si perempuan. Dengan gaya tutur orang kedua, kita diperlakukan sebagai laki-laki yang dulu pernah menghabiskan waktu dengan si perempuan, berbincang tentang rasa, tentang cinta. Tapi sebelum sempat menuai rasa itu, meninggalkan si perempuan tanpa penjelasan dan kata-kata perpisahan. Apakah pertemuan kembali ini akhirnya memberi kesempatan untuk menuai rasa cinta yang pernah ditanam?  Cerpen ini sama klisenya dengan Mengeja Perempuan dalam Kesunyian. 

Setelah Mengeja Perempuan dalam Kesunyian dan Nostalgia Rasa, kisah cinta terpendam yang klise muncul lagi dalam cerpen Elegi Sabtu Sepi. Dikisahkan persis seperti Nostalgia Rasa, cerpen ini mendedahkan kerinduan yang muncul dalam hati seorang perempuan pada suatu Sabtu pagi. Kerinduan yang ditujukan pada seorang laki-laki yang diam-diam dicintainya. Setiap Sabtu pagi, mereka mengadakan pertemuan di sebuah kafe di salah satu sudut mal untuk membicarakan konflik dalam kisah-kisah yang mereka tulis. Mengapa kali ini yang tertinggal hanyalah kerinduan? 

Mirna Kastali, narator orang pertama dalam Jalan Kembali adalah mantan penyanyi hebat dan artis film pada masa kejayaannya. Bertahun-tahun setelah gemerlap sorot lampu meninggalkannya, muncul kesempatan untuk kembali ke dunia yang ditinggalkannya dan telah melupakannya. Sebuah acara televisi akan mengembalikannya ke hadapan para penggemar. Sanggupkah aku kembali? Itulah pertanyaan yang bergaung dalam benaknya (hlm. 110). Sementara semakin dekat saatnya gemerlap sorot lampu kembali menerpanya, ia memanggil pulang masa lalu yang membuatnya terpuruk dalam kesedihan dan kemelaratan. Jalan Kembali adalah sebuah kisah dramatis yang kerap melanda para pelaku dunia glamor, tragis dan menimbulkan simpati. Salah satu cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. 

Gadis kecil Saparua dalam cerpen yang menggunakan namanya sebagai judul, Galila, ditinggalkan ayahnya, yang dinyatakan hilang saat pergi melaut. Itulah sebabnya, ia hanya memiliki memori yang pendek mengenai Kris. Setahun setelah kepergian Kris, Greta -ibu Galila, memutuskan untuk menghilangkan nama belakang Galila yang merupakan warisan ayahnya. Mengapa Greta memutuskan bahwa semua yang berhubungan dengan Kris merupakan aib yang perlu ditepis? Galila adalah kisah mengenaskan tentang kesalahan orangtua yang menyebabkan seorang anak kehilangan masa kanak-kanaknya yang indah.

Setelah Resep Rahasia Tante Meilan, Jessica kembali menampilkan kisah berlatar belakang kerusuhan Mei 1998 dalam Semangkuk Salad dan Setumpuk Kenangan Saat Jam Makan Siang. Setelah lima belas tahun momentum reformasi, Arla, perempuan keturunan Tionghoa, bertemu kembali dengan Rasyid, kekasihnya. Sangat mengejutkan, karena Rasyid adalah salah satu mahasiswa yang dinyatakan hilang dalam kerusuhan. Rasyid yang pernah bercita-cita menjadi musisi telah berkecimpung dalam dunia politik dan mengincar kursi presiden. Arla, tentu saja, telah berubah juga. Ia telah meninggalkan kuliahnya dan menikahi laki-laki pilihan orangtuanya. Tapi menghadapi perubahan Rasyid, ternyata menimbulkan kekecewaan dalam diri Arla. Semangkuk Salad dan Setumpuk Kenangan Saat Jam Makan Siang -juga merupakan cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini- adalah kisah tentang masa lalu yang telah hilang dan masa depan yang tidak diharapkan. Ironis dan menggugat. Dalam kalimat yang tak terucapkan Arla menyatakan, "Kesetiaan dan cita-cita kita ternyata hanya sedalam saku celana. Adakah yang lebih menyedihkan dari hal itu?" (hlm. 143) 

Pelajaran Patah Hati adalah serial patah hati yang menimpa Edna Marpaung, seorang perempuan berdarah Batak yang meragukan eksistensi Tuhan dalam hidupnya. Ada empat pelajaran patah hati yang didapatkan Edna selama hidupnya. Tiga dari empat pelajaran itu disebabkan oleh laki-laki dan satu dari ketiga pelajaran itu menyebabkan akhir hidup Edna yang tragis. 

Dari mana manusia belajar mengenai patah hati? Ibuku pernah berteori bahwa jauh dari Tuhanlah yang membuat manusia patah hati oleh berbagai kesulitan-kesulitan hidup. Sudah sejak lama memang ibuku berusaha membuat aku percaya pada Tuhan. Tidak beragama itu lebih hina daripada orang yang tidak memiliki pekerjaan, katanya. Karena dari ketidakpercayaanlah segala kesusahan bermulai (hlm. 145). Saya kira, inilah penyebab serial patah hati dalam hidup Edna Marpaung.

Segitiga, cerpen penutup kumpulan cerpen ini, berkisah tentang berakhirnya sebuah pernikahan dengan acara membagi-bagi segala sesuatu yang pernah dikumpulkan selama pernikahan. Secara bergantian, Banyu dan Pene, mengisahkan apa yang terjadi dalam kehidupan cinta dan pernikahan mereka serta keputusan untuk mengakhirinya dengan damai. Satu-satunya yang tidak bisa mereka boyong ke dalam kehidupan pasca perceraian adalah Otis. Siapa Otis? Tidak ada penjelasan langsung dari Jessica, tapi saya menduga Otis adalah seekor anjing. Apa yang akan terjadi pada Otis setelah Banyu dan Pene meninggalkannya di rumah mungil mereka? Tema yang generik menciptakan keharuan ketika Jessica memberikan kesempatan kepada Otis untuk menyampaikan perasaannya. "Aku pun memahami cinta. Cinta itu membebaskan dan aku baru saja melakukannya," kata Otis (hlm. 176). 

Meskipun bisa dikhatamkan karena penulisannya yang cukup sederhana, tidak semua cerpen dalam kumpulan cerita Skenario Remang-Remang meninggalkan impresi yang dalam. Beberapa di antaranya, yang berkisah tentang cinta terpendam, agak membosankan dibaca. Sebenarnya, tema seperti ini bisa disiasati agar lebih enak dibaca dengan menggunakan untaian diksi yang cantik, tapi Jessica Huwae masih belum cukup mumpuni dalam pemilihan diksi. 

Selain itu, masih terdapat cukup banyak kesalahan cetak yang mengganggu pembacaan. Padahal buku ini kumpulan cerpen dan bukan novel -yang kesalahan cetaknya lebih bisa ditolerir. Buku ini juga sudah melewati tahap penyuntingan dan proofreading


03 August 2013

Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya


Judul Buku: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Pengarang: Dewi Kharisma Michellia
Penyunting: Donna Widjajanto
Tebal: 240 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juni 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Tiga puluh tujuh surat, sekeping CD berisi rekaman suara serta transkrip rekaman suara itu, diterima oleh seorang laki-laki. Pengirimnya seorang anonim yang memutuskan untuk meneruskan apa yang tersisa dari kehidupan seorang perempuan yang sudah meninggal dunia. Perempuan itu memang menujukan ke-37 suratnya kepada laki-laki yang adalah teman masa kecil sekaligus cinta abadinya. 

Kita tidak diberi tahu nama si perempuan penulis surat dan laki-laki yang menerima surat-suratnya. Maka kita sebut saja si perempuan Nona Alien, karena ia menyebut laki-laki itu dengan sebutan Tuan Alien. Bagi Tuan Alien, mereka kemungkinan merupakan pasangan alien. 

Pernah selama bertahun-tahun, kita tak terlepaskan. Kau bilang kau selalu dapat mendengar apa yang tak kuucapkan, dan kau seperti dapat mengetahui segalanya tanpa aku banyak bicara. Kau bilang kita dapat mengirimkan sinyal-sinyal yang hanya kita saja yang tahu. Kau bilang kita barangkali adalah pasangan alien (hlm. 11). 

Mereka bertemu saat Nona Alien menyusul kedua kakak perempuannya untuk tinggal di rumah nenek dari pihak ibu di Bima. Sebelumnya, Nona Alien tinggal di Bali bersama dengan ayah dan ibunya di rumah keluarga ayahnya. Ayahnya adalah laki-laki Bali beragama Hindu yang menikahi ibunya, perempuan Bima yang beragama Islam. Dalam budaya patrilinial keluarga ayahnya, Nona Alien memang bukanlah anak yang diharapkan. Setelah kelahiran kedua kakak perempuannya, orangtuanya berharap anak ketiga mereka seorang laki-laki, demi menyenangkan keluarga Bali mereka. Itulah sebabnya, kepindahan Nona Alien ke Bima disambut gembira oleh keluarga ayahnya. Meskipun demikian, penolakan keluarga Balinya bukanlah satu-satunya alasan kepindahannya. Sebelumnya, Nona Alien sudah hidup dalam keterasingan karena dituduh berperan besar dalam peristiwa kematian teman Belandanya. Bali tidak lagi menjadi tempat tinggal yang nyaman baginya.

Mungkin perasaan terasing inilah yang membuatnya akhirnya bisa menjalin tali perkawanan dengan Tuan Alien. Sebab, Tuan Alien juga hidup dalam keterasingan lantaran tidak pernah cocok dengan teman-teman sebayanya. Bersama-sama, mereka mengisbatkan diri sebagai pasangan alien yang tersesat di bumi. Pasangan alien yang mengikrarkan janji untuk setia di bawah pohon beringin di pekarangan rumah Tuan Alien. 

Setelah lulus SMA, mereka sama-sama melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Janji untuk setia yang pernah diikrarkan Tuan Alien tidak bisa dipertahankan. Tentu saja bukan sekadar karena mereka masih memiliki hubungan darah sebagai saudara sepupu. Tapi setelah memilih kuliah di jurusan berbeda, hubungan mereka merenggang dan akhirnya saling menjauh. 

Sekalipun begitu, Nona Alien tidak bisa menghalau Tuan Alien dari benaknya. 

Selama bertahun-tahun kau pergi, yang kulakukan hanyalah terus-menerus menolak para pria -terkadang juga perempuan- yang datang. Banyak di antara teman lesbianku menyangka aku menunggu seorang perempuan yang dapat kucintai. Sementara para pria yang kutolak selalu mengarang cerita bohong tentang alasan penolakanku. (hlm. 15).

Tidak heran kalau Nona Alien terpukul ketika suatu hari, setelah berpisah puluhan tahun, ia menerima surat dari Tuan Alien yang disertai undangan pernikahan dengan seorang pengarang terkenal. 

Kalau kau perlu tahu - aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan. Dan ketika aku harus membagi darahku dan menyatukan dagingku dengannya, aku akan melakukannya dengan satu orang terpilih itu. Aku akan membesarkan anak-anak kami. Hanya kepadanya aku dapat membagi seluruh cerita dan duniaku, memperkenalkan semua orang di hidupku, membuatkan semua hal dalam hidupku menjadi miliknya juga. Termasuk kebahagiaan dan kesedihanku. 

Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak pertama kali bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu. (hlm. 18 & 19).

Maka pada tanggal 23 Juli 2008, sepekan setelah menerima undangan pernikahan Tuan Alien, Nona Alien memutuskan untuk menulis surat kepada Tuan Alien. Ia ingin membagi kisah hidupnya, sebelum Tuan Alien melupakannya untuk selamanya. Rencananya, ia hanya akan menulis satu surat panjang sebagai ucapan selamat tinggal dan selamat menempuh hidup baru. Tapi ternyata ia terus menulis (kemudian mendiktekan suratnya) hingga surat ketiga puluh tujuh yang bertanggal 26 Juni 2011 dan tidak pernah mengirimkannya. Karena toh Tuan Alien sudah tidak memedulikan keberadaannya di Bumi. 

Sempat aku mengira kau mungkin pernah mengalami kecelakaan dan menderita amnesia berkepanjangan. Apa mungkin kau pernah mengalami kecelakaan dan amnesia, dan orang-orang merahasiakannya dariku karena mereka benci dengan kedekatan kita pada masa kecil? Apa mereka begitu berharap agar kita saling menjauhi satu sama lain? (hlm. 45).

Dalam surat-suratnya ia mengisahkan perjalanan hidupnya. Terlahir sebagai anak dari keluarga Bali, ia terbuang karena dilahirkan sebagai anak perempuan. "Modernitas tidak terjadi pada keluarga yang masih menistakan manusia hanya gara-gara jenis kelamin," kecamnya (hlm. 77). Anehnya, meskipun terbuang gara-gara lahir dalam cengkeraman budaya patrilinial, ia tetap berangan-angan memiliki anak laki-laki. Berbeda dengan Tuan Alien, yang sangat membenci budaya patrilinial dan ingin memiliki anak perempuan. 

Perjalanan hidup Nona Alien juga mencakup kehidupannya sebagai mahasiwa dua jurusan di Yogyakarta yang tidak pernah dirampungkannya, usaha untuk meraih gelar sarjana psikologi setahun setelah ayahnya meninggal, memerah keringat sebagai wartawan di media massa nasional di Jakarta, dan hidup melajang sendirian di apartemen yang dibeli secara mencicil.

Aku selalu menjadi penyendiri yang kerap mengamati jalan hidup orang lain. Dan begitu sering memaklumi segala hal. Termasuk mereka yang seharusnya merasa kecewa dan putus asa atas hidupnya tetapi justru terlihat bahagia. Tidak seperti diriku. Seseorang yang tidak punya hal-hal untuk membuatku kecewa dan merasa putus asa, seseorang yang seharusnya bahagia, tetapi terlihat lemah dan selalu berusaha menyendiri untuk menutupi kelemahan-kelemahannya itu. (hlm. 199).

Nona Alien tidak punya banyak teman dalam kehidupan di luar lingkup pekerjaannya sebagai wartawan. Yang paling dekat dengannya hanyalah Tuan pemilik toko buku tempat ia mendapatkan informasi buku-buku yang ditulis istri Tuan Alien. Tuan pemilik toko buku adalah seorang laki-laki gay asal Prancis yang pernah hidup seperti suami-istri dengan laki-laki Indonesia yang menjadi kolonel KNIL. Setelah suami-nya meninggal, Tuan pemilik toko buku membuka usaha toko buku di dekat Stasiun Gambir yang dijalankannya dengan anak angkatnya. Tuan pemilik toko buku dan anak laki-lakinya inilah yang menopang Nona Alien pada saat-saat terakhir hidupnya.  

Setelah mengayuh kehidupan sendirian dan jauh dari Tuan Alien, Nona Alien bukannya tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. Setidaknya ada dua laki-laki yang dikisahkannya dengan cukup gamblang, seorang laki-laki bule yang dijumpainya di Prancis saat tinggal setahun di negara itu dan seniman yang datang dalam hidupnya saat ia berusia 40-an. Hubungannya dengan kedua laki-laki ini tentu saja gagal karena sampai saat kematiannya, Nona Alien tetap tidak pernah menikah. 

Selain kasih tak sampai antara Nona dan Tuan Alien yang memang sudah semestinya, Dewi Kharisma Michellia, pengarang novel Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya memasukkan banyak pengalaman hidup yang dialami Nona Alien. Pengalaman hidup itu sebagian besar tidak melibatkan Tuan Alien dan menimbulkan sedikit digresi. Setidaknya, hanya ada tiga bagian yang memunculkan Tuan Alien, yaitu kisah masa kecil mereka, pesta topeng yang menandai perpisahan mereka di Yogyakarta, dan acara pernikahan Tuan Alien. Kendati hubungan mereka yang telah mendorong Nona Alien menulis surat-suratnya, kehadiran Tuan Alien terasa hanya seperti bayang-bayang. Ia ada tapi seakan-akan tidak ada. Hal ini merupakan dampak dari penulisan menggunakan teknik epistolari. Dalam hal ini, kita seakan-akan menjadi penerima surat, menjadi Tuan Alien. Kita membaca, merasa, dan berpikir. Kita berada di dalam sekaligus di luar kisah yang kita baca.

Salah satu keunikan novel tanpa dialog ini adalah anonimitas yang diberlakukan pengarang. Kita tidak akan mengetahui nama-nama karakter rekaannya sampai novel ditamatkan. Mereka hanya dikenal dengan identitas seperti Tuan Alien, Tuan pemilik toko, Anak tuan pemilik toko, Gadis berliontin naga, Kekasihku/mantan kekasihku, Nyonya Pemred, dan Lelaki yang selalu tampak ingin menangis. Memang unik, tapi membuat kita berjarak dengan mereka semua.

Jeda memberi kesempatan tumbuh dan berkembangnya suatu hubungan, lebih-lebih hubungan asmara. Namun, jarak yang begitu jauh terkadang justru memutus keterhubungan.

Bagiku kini, jarak kita telah mencapai jarak yang harus ditempuh selama jutaan tahun cahaya. Jarak yang tak akan dapat ditempuh dalam usia kita sebagai manusia.

Waktu terus bergerak, tetapi ujung usia kebanyakan manusia tak pernah melebihi dua ratus tahun -tak sampai menyentuh hitungan satu tahun cahaya. Tak peduli alat tercanggih dari negeri mana pun yang kita gunakan untuk menempuh jarak itu, kau dan aku -dalam jarak sejauh itu- sudah barang tentu tak akan mungkin lagi bertemu secara fisik. Maka bila surat-suratku ini kelak diberikan judul, aku mungkin akan dengan jail menamainya "Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya". (hlm. 211).



Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan