24 December 2012

Call Me Mrs. Miracle


Judul Buku: Call Me Mrs. Miracle
Pengarang: Debbie Macomber (2009)
Penerjemah: Natali Rosalin
Tebal:218 halaman
Cetakan:1, 2011
Penerbit: VioletBooks 





"Well, terkadang Tuhan mengirimkan malaikat ke bumi. Tapi jika manusia melihat sayap mereka, manusia akan terlalu bersemangat dan mereka tidak akan memahami pelajaran yang ingin diajarkan Tuhan kepada mereka. Itulah kenapa malaikat sering menyamar."  (Mrs. Miracle, hlm. 156).


 


Pada 2009, Mrs. Miracle, novel Debbie Macomber yang bertema Natal, diadaptasi menjadi film televisi oleh Hallmark. Novel yang terbit pertama kali pada 1996 ini memperkenalkan karakter perempuan tua yang menamakan dirinya Mrs. Miracle yang menciptakan keajaiban di musim Natal. Menyusul kesuksesan film Mrs. Miracle, Macomber diminta untuk menuliskan sekuel yang juga dipersiapkan menjadi film oleh Hallmark. Maka, lahirlah novel kedua mengenai Mrs. Miracle yang diberi judul Call Me Mrs. Miracle (Keajaiban Natal).

Kali ini, Emily Merkle atau Mrs. Miracle muncul sebagai karyawan di bagian mainan Finley's Department Store, satu-satunya pusat perbelanjaan milik keluarga yang masih tersisa di New York City. Manajer bagian mainan itu adalah calon pewaris toko, Jake Finley, seorang pemuda yang ingin membuktikan kemampuannya sebagai penerus bisnis keluarga. Kemunculan Mrs. Miracle menerbitkan keraguan dalam benak Jake karena ia mengharapkan seorang asisten penjualan yang masih muda. Tapi, keraguannya tidak berumur panjang. Mrs. Miracle mampu menampilkan kinerja yang unggul sebagai karyawan. Dengan mudah ia bisa memikat semua pengunjung, anak-anak maupun orangtua. 

Tidak ada yang tahu kehadiran Mrs. Miracle di Finley's sebenarnya dalam rangka menjalankan misinya. Bukan hanya bagi Jake Finley dan ayahnya, Jacob Robert Finley, melainkan juga bagi kedua pengunjung Finley's yang istimewa.

Kita mulai dari Jake Finley. Ia seorang pemuda yang baik hati, sedikit tertutup, tapi bersedia mengambil risiko untuk sesuatu yang diyakininya. Keyakinannya, tentu saja, tidak termasuk merayakan Natal dan melibatkan diri dengan kegiatan-kegiatan di musim Natal. Sesungguhnya, lebih dari 20 tahun, Jake dan ayahnya tidak lagi merayakan Natal. Sejak Helene, ibu Jake, dan Kaitlyn, adik perempuan Jake, tewas dalam sebuah kecelakaan yang ganjil pada malam Natal saat Jake berusia dua belas tahun. Setiap malam Natal, segera setelah toko tutup, Jake dan ayahnya akan meninggalkan New York, terbang ke Saint John di Virgin Island. Hal ini tidak lain merupakan tindakan untuk menghindari Natal, keramaian dan sukacitanya yang selalu menjadi warna dominan di New York City. Natal boleh-boleh saja memberikan keluarga Finley keuntungan finansial tapi bukan lagi sesuatu yang membahagiakan.

Pada musim Natal kali ini, Jake telah melakukan tindakan spekulatif yang berpotensi merugikan toko, setidaknya dari pandangan ayahnya. Ia membeli mainan SuperRobot bernama Intellytron -dikenal juga sebagai Telly- sejumlah 500 buah untuk dijual hanya  di Finley's New York. Padahal, Telly cukup mahal, dua ratus lima puluh dolar per buah. Jacob Robert Finley terang saja pesimis, tapi tidak halnya dengan Mrs. Miracle. Perempuan tua itu meyakinkan Jake bahwa Telly akan menjadi mainan paling laris di musim Natal ini. 

Seperti saya katakan sebelumnya, bukan cuma Jake dan ayahnya yang menjadi target misi Mrs. Miracle. Atas saran perempuan tua itu, pada hari pertama pertemuan mereka, Jake membeli kopi di Starbucks. Jake harus membeli kopi di sana, karena pada saat yang sama, Holly Larson sedang membeli latte favoritnya, dan tidak bisa membayar belanjaannya. Itulah pertemuan pertama mereka, dua manusia yang bernasib sama, telah putus dengan para kekasih.

Holly Larson bekerja sebagai asisten seorang perancang busana yang tidak pernah bersikap simpatik. Apalagi setelah Gabe, keponakan laki-laki Holly yang berumur delapan tahun, datang untuk tinggal bersamanya. Gabe adalah anak dari Mickey, kakak Holly, seorang duda yang ditinggal mati istrinya. Mickey telah dipanggil oleh Garda Nasional dan dikirim ke Afghanistan. Dengan kehadiran Gabe, konsentrasi Holly tidak semata-mata diarahkan pada pekerjaannya, tapi juga pada kepentingan Gabe.

Setelah pertemuan di Starbucks, mereka kembali bertemu di Finley's saat Holly membawa Gabe untuk mengunjungi Santa di toko itu. Holly sangat gembira bisa bertemu lagi dengan Jake kendati kunjungan ini hanya mempertegas keinginan Gabe di hari Natal. Anak laki-laki itu menginginkan Telly sebagai hadiah Natal, dan Holly tidak punya banyak uang untuk membelinya. Hanya rasa sayang Holly kepada Gabe yang membuatnya bertekad mewujudkan keinginan Gabe dengan uang sendiri. Bahkan sekalipun Lindy Lee, bosnya, menolak memberikannya bonus Natal yang diharapkan bisa dipakai membeli Telly. Holly memutuskan berhemat demi mempertahankan sukacita Natal dalam hati Gabe. 

Kisah-kisah Natal seperti ini selalu berakhir bahagia. Kesulitan demi kesulitan akan ada, tapi para tokoh bisa melewatkan dengan baik. Apalagi Mrs. Miracle sedang berada di sana, dan menjadi tugasnya untuk menciptakan keajaiban serta memastikan kebahagiaan semua orang. Apa yang dilakukan Mrs. Miracle, sudah pasti akan menciptakan konflik, sehingga dirinya bahkan sempat dianggap pembawa masalah. Tapi sebagaimana pada buku pertama, Mrs. Miracle akan menuntaskan misinya dengan sempurna. Keajaiban Natal akan menjadi milik dari para pemercayanya. Di sinilah terletak keindahan Call Me Mrs. Miracle yang membuat kisah di dalamnya menjadi hidup dan tidak mudah dilupakan. Tidak mengherankan bila Call Me Mrs. Miracle menjadi salah satu novel dalam perbendaharaan klasik berlatar Natal. 

Bagi yang belum membaca novel pertamanya pun, kemungkinan besar sejak awal sudah bisa menebak siapa sejatinya Mrs. Miracle. Ada momen-momen yang diselipkan Macomber untuk menegaskan jati dirinya. Momen-momen yang menimbulkan pertanyaan dalam benak orang-orang yang menjadi target misinya tapi seolah-olah segera terlupakan. Kemudian juga, ada nama-nama yang disebutkan Mrs. Miracle pada Gabe, nama-nama yang pernah menjadi judul novel Natal lainnya dari Macomber: Shirley, Goodness and Mercy (1999). 

Novel yang berselimutkan kehangatan, kasih sayang, dan keajaiban ini ditebari dengan berbagai kutipan yang membekaskan impresi yang dalam. Simak saja kalimat-kalimat berikut ini:

"Butuh hidup baru? Tuhan menerima barter."

"Jika Tuhan adalah kopilot-mu, bertukar tempatlah."

"Manusia itu seperti teh celup -kau harus menjatuhkannya ke dalam air panas baru kau tahu seberapa kuatnya mereka."

"Kebetulan adalah ketika Tuhan memilih untuk tetap di belakang layar."

"Berusahalah untuk menjadi sumber inspirasi sebelum hidupmu berakhir."

"Jadilah penjala manusia. Kau yang menangkap mereka dan Tuhan yang akan membersihkan mereka."

"Orang-orang yang paling berbahagia adalah mereka yang paling sering membahagiakan orang lain."

"Tuhan bukan benar tanpa prasangka. Ia memang benar."

"Mencari penampilan baru? Perbarui imanmu!"

Selain kutipan-kutipan indah tersebut, sebagaimana dalam Mrs. Miracle, Macomber juga menyertakan resep masakan dari buku Debbie Macomber's Cedar Cove Cookbook (2009). Anda akan menemukan resep Kue Gula Natal, Ayam Goreng, dan Salad Baby Arugula dengan Keju Kambing, Pecan dan Biji Pomegranate. Pada gilirannya, Call Me Mrs. Miracle menjadi sebuah kisah Natal yang indah sekaligus lezat yang layak dinikmati di musim Natal yang penuh sukacita.

Dalam versi film Hallmark yang ditayangkan perdana pada 27 November 2010, Doris Roberts untuk kedua kalinya berperan sebagai Mrs. Miracle. Ia didampingi Eric Johnson sebagai Jake, Jewel Staite sebagai Holly, dan Quinn Lord sebagai Gabe. 

*** 


*Novel ini dibaca dalam rangka Natal 2012.



 Debbie Macomber & Doris Roberts







2 comments:

desty said... Reply Comment

Saya juga suka membaca cerita ini. Keajaiban Natal :D

Jody said... Reply Comment

Desty, selamat Natal, pengharapan setiap Natal adalah keajaiban Natal :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan