10 December 2012

Christmas Candle


Judul Buku: Christmas Candle (Lilin Pengharapan)
Penulis: Max Lucado (2006)
Penerjemah: Andina M. Rorimpandey
Tebal:viii + 142 hlm; 18 cm
Cetakan: 1, Januari 2009
Penerbit: BPK Gunung Mulia


 
Pada Minggu Adven*) yang terakhir Desember 1664, sesosok malaikat muncul di rumah keluarga Haddington, pembuat lilin di Desa Gladstone, Inggris. Malaikat itu menyentuh sebuah lilin di rak gantungan, lalu menghilang. Lilin yang disentuh malaikat itu diberikan kepada seorang janda beranak dua. Sebuah keajaiban terjadi setelah janda itu menyalakan lilin dan berdoa. Hidupnya berubah secara drastis di masa Natal yang singkat.

Semenjak itu, setiap dua puluh lima tahun sekali, malaikat itu akan mengunjungi pembuat lilin dari keluarga Haddington dan melakukan hal yang sama. Ketika orang menerima lilin itu, mereka akan menyalakan lilin dan berdoa, kemudian menyaksikan hidup mereka diubahkan.

Dua ratus tahun kemudian, David Richmond, seorang pendeta muda dan lajang, datang dari Oxford ke Desa Gladstone. Ia menggantikan almarhum Pendeta Pillington yang telah memimpin jemaat Gladstone selama lima puluh tahun sebelumnya. Begitu tiba di Gladstone ia merasa tidak cocok berada di sana. Perasaannya sama dengan perasaan warga Glastone. Mereka mengharapkan seorang pendeta yang lebih tua, sudah menikah, dan berpengalaman. Mereka menginginkan seorang pendeta yang memiliki pikiran terbuka terhadap misteri berbagai mukjizat Natal dan lilin-lilin yang disentuh malaikat.

Tapi, karena tidak ada lowongan lain baginya, David memutuskan untuk memimpin jemaat Gladstone. Ia diharapkan bisa membangkitkan semangat Natal para anggota jemaat ketika berkhotbah pada Minggu Adven pertama dengan memasukkan legenda Lilin Natal ajaib itu dalam khotbahnya. Sayangnya, ia tidak bersepakat. David menolak berkhotbah mengenai lilin itu. Ia berdalih: "Saya percaya pada Alkitab. Saya percaya pada gereja. Saya percaya kepada Allah. Tetapi saya tidak punya alasan untuk membesar-besarkan takhayul atau menggembar-gemborkan pengharapan yang palsu." (hlm. 53). Keputusannya mengejutkan sekaligus mengecewakan semua warga Gladstone.

"Tidakkah Anda berpikir bahwa Allah dapat berkarya dengan cara apa pun yang dipilih-Nya?" tanya Edward Haddington, generasi ketujuh yang membuat lilin ajaib itu.

"Saya percaya Allah berkarya, dan sisanya terserah pada kita," jawab David (hlm. 53). 

Sesungguhnya, ketika David muncul pertama kali di Desa Gladstone, ia telah menunjukkan sebesar apa imannya. David adalah seorang pendeta, tapi tidak percaya pada keajaiban, tidak percaya pada campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Baginya, "Allah menjaga jarak. Dia menolong dengan membelah Laut Merah dan juga pada saat kebangkitan Yesus, tetapi Dia lebih sering membiarkan kita mengurusi hidup kita sendiri." (hlm. 25).

Mengapa sampai David menjadi seperti itu? Diam-diam, ia menyembunyikan kepahitan di dalam jiwanya, menyimpan kekecewaan kepada Allah. Sehingga meskipun tetap menjadi pendeta, ia hampir tidak mempercayai kebaikan Allah.

Sementara itu, tanpa tedeng aling-aling, orang-orang yang mengharapkan keajaiban mengubah hidup mereka menjumpai pasutri Edward dan Bea Haddington. Mereka ingin dipilih untuk mendapatkan Lilin Natal itu. Diam-diam, Bea berpikir, bisakah kali ini lilin itu mereka pakai untuk diri sendiri?

Saat malam Sabtu menjelang Minggu Adven yang terakhir, malaikat itu pun datang dan menyentuh sebuah lilin. Setelah kejadian yang selalu menakjubkan itu, Edward bangkit hendak mengambil Lilin Natal, dan ia tersandung. Ketiga puluh lilin yang dibuatnya bercampur, dan Lilin Natal pun tidak bisa dipastikan. Untuk mengetahui Lilin Natal yang sebenarnya, mereka memutuskan membagi lilin-lilin itu dan menyimpan satu bagi mereka sendiri. Karena, seperti orang lain yang mengharapkan mukjizat Natal, mereka juga menyimpan harapan sendiri. Tahun 1864 akan menjadi tahun terakhir kunjungan malaikat itu. Edward tidak punya anak laki-laki yang akan melanjutkan pekerjaannya sebagai pembuat lilin.

Akhirnya Minggu Adven terakhir berlalu dan tibalah kebaktian malam Natal tahun 1864. Edward dan Bea tidak bisa meredakan kegelisahan manakala David memutuskan untuk memberikan kesempatan si penerima Lilin Natal menyampaikan kesaksiannya. Kita akan bertanya-tanya: Apakah yang akan terjadi? Siapa yang mendapatkan Lilin Natal itu?

Sebuah kejadian dramatis akan meledakkan kejutan di dalam gereja St. Mark. Edward pun merasa berkewajiban untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hingga ia menarik kesimpulan yang mencerahkan bagi semua orang:

"Mungkin kita terlalu percaya pada lilin itu. Mungkin kita tidak terlalu memercayai Allah. Jadi, Allah mengalihkan pandangan kita dari lilin itu dan membuat mata kita memandang-Nya. Dialah Lilin Natal. Dan Gladstone? Gladstone hanyalah salah satu Betlehem-Nya. Karena Dia hadir di dalam diri kita semua." (hlm. 121).

Tapi ternyata, kejadian dramatis di dalam gereja St. Mark bukan satu-satunya keajaiban yang terjadi pada Malam Natal 1864 itu. Sudah tiba saatnya kasih setia Allah dinyatakan, bagi semua warga Gladstone, bagi Pendeta David Richmond, bagi semua orang.

"Sepertinya Allah masih memberi seorang bayi pada hari Natal," kata Edward kepada David.

"Dan juga cahaya," angguk sang pendeta. "Dia masih memberikan cahaya pada saat kita benar-benar membutuhkannya." (hlm. 136).

Masih ada satu keajaiban lagi, yang akan muncul di bagian epilog novel ini.
 
Christmas Candle yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai LIlin Pengharapan adalah novel karya Max Lucado. Ia dikenal sebagai satu-satunya penulis yang telah memenangkan tiga kali Christian Book of the Year yaitu untuk Just Like Jesus (1999), In the Grip of Grace (1997), dan When God Whispers Your Name (1995). Pada tahun 2005, majalah Reader's Digest menyebutnya "Pendeta Terbaik di Amerika", dan pada tahun sebelumnya, majalah Christianity Today menjulukinya "Sang Pendeta Amerika". Max Lucado dikenal sebagai penulis buku laris Kristen dan seorang pendeta di Oak Hills Church, San Antonio, Texas. Ia telah menulis lebih dari 50 judul buku sejumlah 28 juta eksemplar. Setelah melayani sebagai pendeta di atas mimbar selama 20 tahun, pada awal tahun 2007, ia mengumumkan pengunduran dirinya sehubungan dengan keadaan kesehatannya yang menurun. Ia kemudian mewujudkan peran pelayanan dengan menulis dan berkhotbah di Oak Hills. Karyanya tampil sebagai bestseller nasional di Publishers Weekly, USA Today, The New York Times, Evangelical Christian Publishers Association, dan Christian Booksellers Association. Saat ini, ia melayani dengan berkontribusi sebagai editor untuk Leadership Journal Magazine.

Meskipun tipis dan bisa dihabiskan sekali baca, Christmas Candle bukanlah kisah yang mudah dilupakan. Max Lucado -dengan kemampuan menyampaikan ilustrasi dalam berbagai tulisannya yang telah dibukukan- memperagakan kemampuan menguntai kisah yang berpotensi menghidupkan semangat dan menguatkan iman. Ia serius dalam mengungkapkan permasalahan terkait gegar iman, menyentuh hati dalam pemecahan masalah, tapi tidak kehilangan kejenakaan. Bagian paling mendebarkan terjadi pada kebaktian Malam Natal ketika Edward dan Bea dililit kegelisahan, ketika salah satu anggota jemaat siap bersaksi mengenai Lilin Natal. Max Lucado akan menyajikan solusi melegakan di tengah-tengah ledakan kecemasan dan harapan yang memenuhi gereja.

Dalam kisah Natal klasik yang menakjubkan ini, Max Lucado juga berhasil menampilkan berbagai karakter yang unik dan tidak terlupakan. Bagi saya, Edward Haddington dan Pendeta David Richmond adalah dua karakter yang paling meninggalkan kesan. Edward Haddington hadir sebagai pembuat lilin yang tidak mengenyam pendidikan teologi tapi memiliki iman yang matang. David Richmond, pendeta lulusan pendidikan teologi, bertugas menguatkan iman jemaat yang dipimpinnya, tapi imannya sendiri cuma sebesar biji sesawi. Pada akhirnya, persinggungan kedua karakter ini menciptakan jalan bagi sang pendeta, untuk memupuk kembali imannya, mempercayai keajaiban, dan hidup dalam pengharapan yang sama dengan warga Gladstone. 





* Sebelum Natal, umat Kristen melalui empat Minggu Adven.  
** Novel ini dibaca dalam rangka menyambut Natal 2012.

2 comments:

desty said... Reply Comment

Wow.. ceritanya menghangatkan hati.
Satu hal yang membuat saya salut sama orang-orang di luar negeri, mereka sangat percaya sama "miracle". dan itu membuat iman mereka bertambah.

Nice review

Jody said... Reply Comment

@Desty: betul sekali. Ceritanya juga sangat Kristiani, dan cocok sekali dibaca di saat-saat Natal.

Saya suka dengan keajaiban Natal, dan selalu menantikannya setiap tahun :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan