28 December 2012

Before Us


Judul Buku: Before Us
Pengarang: Robin Wijaya
Editor: Della
Tebal: vi + 298 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan: 1, 2012
Penerbit: GagasMedia


 



Agil sudah bertunangan dengan Ranti dan sedang dalam persiapan pernikahan ketika Radith datang kembali ke dalam hidupnya. Secara tiba-tiba Radith pulang Indonesia setelah tiga tahun bekerja di Korea. Padahal selama kepergian Radith, Agil sudah mencoba melupakannya, bahkan berhasil membawa hubungannya dengan Ranti ke jenjang lebih serius. 

Gema Radith Satya adalah sahabat SMA Agil. Karena keseringan menghabiskan waktu bersama-sama, persahabatan mereka terjalin begitu kuat. Mereka saling bergantung dan menjadi lebih dari sekadar sahabat. Satu sama lain merasa tidak lengkap jika sedang tidak bersama. Ketika mereka mulai mengenal lawan jenis dan berpacaran, mendadak kecemburuan pun muncul. Kecemburuan menjadi penegasan kalau sebenarnya mereka saling mencintai. Tentu saja tidak menjadi masalah seandainya mereka berbeda jenis kelamin. Tapi diam-diam, tanpa diketahui bahkan oleh keluarga mereka, Agil dan Radith menjalin hubungan seperti layaknya perempuan dan laki-laki.

Waktu yang salah, keadaan yang salah. Hanya perasaan yang kami percaya dan kami anggap benar. Kami... saling jatuh cinta (hlm. 87).
 
Hubungan mereka berakhir saat Radith bersikeras bekerja di Seoul. Agil yang memutuskan hubungan mereka karena tidak mau ditinggalkan. Hanya saja, ketika Agil mengabarkan kepulangannya ke Indonesia, Agil menyadari dirinya masih mencintai Radith. Terbukti ia tidak menolak ajakan Radith pergi ke Lombok karena ia punya pekerjaaan di Senggigi. Agil minta cuti dari kantor dan berangkat tanpa sepengetahuan tunangannya. Diam-diam, Agil menerima kembali Radith dalam kehidupannya, tidak peduli dirinya sudah bertunangan. 

Menjauh tak membuat perasaan menjadi nyaman. Aku membawa rindunya ikut serta, ke mana pun. Aku yang memikirkannya, aku yang mengingatnya. Dan aku juga, yang mencintainya. (hlm. 79).

Sekali lagi, hubungan Agil dan Radith tidak bertahan. Radith memergoki Agil sedang berdansa dengan Ranti di apartemennya pada hari ulang tahun Agil. Radith menganggap, Agil lebih memilih Ranti ketimbang dirinya. Mereka berpisah dan tidak bertemu selama berbulan-bulan. Agil mencoba mencari Radith tapi kehilangan jejak. Manakala takdir mempertemukan mereka kembali, Radith telah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, Winnie. Perpisahan terjadi lagi: Radith pergi ke Makasar dengan Winnie untuk memulai hidup barunya sedangkan Agil menikahi Ranti.  


Kisah mereka tidak berhenti di sini. Karena, setelah Agil dan Ranti menikah selama empat tahun dan  memiliki seorang anak perempuan, Radith menyambangi kehidupan Agil lagi. Radith ingin menjalin hubungan seperti dulu dan siap menceraikan Winnie yang sudah dinikahinya. Tapi apakah kali ini Agil akan menerima Radith sebagai seorang kekasih? Akankah ia mempertaruhkan keluarganya demi bersama Radith? Keputusan yang diambil Agil merespons permintaan Radith bermuara pada konsekuensi yang menyakitkan. Tidak hanya bagi Radith tapi juga bagi Agil sendiri.


 Cuma ilustrasi, adegan dari film LGBT Bangkok Love Story

 
Dengan kisah semacam ini, Before Us karya Robin WIjaya masuk dalam kelompok fiksi LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender). Agil yang menjadi narator orang pertama jelas tergolong biseksual karena bisa berhubungan seksual baik dengan laki-laki maupun perempuan. Sedangkan Radith, meskipun menikahi Winnie, tampaknya murni seorang gay. Kendati demikian, Robin tidak menampilkan kedua karakter ini sebagai pribadi yang flamboyan nan gemulai. Karenanya, kita tidak akan menemukan mereka bercakap-cakap menggunakan kosakata genit yang serba ajaib. Saya kira hal inilah yang membuat novel ini tetap enak dibaca walaupun bahasa yang dipakai Robin belum bia dibilang istimewa. 

Bagi saya, karya fiksi bukan semata-mata kisah yang dikandung di dalamnya tapi juga bagaimana cara pengarang menyajikan kisah itu. Maka berbicara mengenai teknik penyajian, juga bukan hanya berarti menyoal kecerdikan memilih POV, melainkan juga pada keanggunan penggunaan bahasa. Menurut saya, meskipun bisa mengalirkan kisahnya dengan lancar, Robin belum cukup berkilau dalam hal ini. 

Membaca Before Us, novel romance dewasa pertama Robin Wijaya, akan mengingatkan pada Lelaki Terindah karya Andrei Aksana (Gramedia Pustaka Utama, 2004)) dan The Sweet Sins karya Rangga Wirianto Putra (Diva Press, 2012). Seperti Before Us, kedua buku ini juga menyodorkan problematika homoseksualitas. Tapi bila dibandingkan, saya masih merasa lebih nyaman membaca Before Us. Selain penggunaan kata-kata yang cenderung tidak boros dan santun, Before Us pun tidak royal mengumbar erotisisme. Maksud saya, kita tidak akan menemukan adegan bercinta eksplisit seperti yang dilakukan Rafky dan Valent (Lelaki Terindah). Kita juga tidak akan menemukan frekuensi aktivitas bercinta seperti yang terjadi pada Reino dan Ardo (The Sweet Sins).  

Sama dengan Lelaki Terindah dan The Sweet Sins, Before Us diakhiri dengan solusi -yang menurut saya- pengecut dan sekadar supaya bisa diterima oleh semua masyarakat pembaca. Tidak ada satu pun dari ketiga penulis buku ini berani memberikan akhir bahagia bagi kedua pecinta ciptaan mereka. Sama sekali tidak bermaksud membela siapa-siapa, tapi cara ketiga pengarang ini menuntaskan novelnya hanya menandaskan bahwa: tidak ada tempat bagi pecinta sesama jenis di Indonesia. 

Saya pun kurang bisa bersimpati dengan karakter Agil ketika ia bersikap seolah-olah cuci tangan dalam hubungannya dengan Radith.

Aku sadar sekarang, semuanya harus diakhiri. Selama ini, aku tidak pernah memilih. Aku membiarkan orang lain memilih untuk diriku. Aku tidak pernah memutuskan untuk hidupku, orang lain yang memutuskannya untukku.

Sejak pertunangan itu, sejak kembalinya Radith dari Korea, sejak ia pergi bersama Winnie, sejak aku menikah dengan Ranti, sampai ia datang lagi kemudian. Tidak ada satu perkara pun yang merupakan hasil keputusanku. Seandainya aku memilih untuk 'ya' atau 'tidak'. Semuanya mungkin tidak perlu begini. (hlm. 277 & 278).

 ***


Edisi pertama Lelaki Terindah dan The Sweet Sins



* Ditulis dalam rangka posting bareng BBI dengan fiksi bertema LGBT 28 Desember 2012

6 comments:

desty said... Reply Comment

Kayaknya cerita dalam novel ini emosinya naik turun ya... ketemu-pisah-ketemu-pisah.

Jody said... Reply Comment

Betul, karena keduanya punya tabiat yang sama: plin-plan.

Asriani Purnama said... Reply Comment

waah, bang Jody pindahan ke rumah baru ternyata.

Kayaknya buku ini juga diskip, soalnya nggak jauh beda ya ma cerita yang diangkat di Lelaki Terindah. Masalah penerimaah pihak luar. Kapan-kapan deh nyarinya
XD

Jody said... Reply Comment

Ally, pada umumnya cerita2 LGBT di Indonesia kan masalahnya ada pada penerimaan... Tapi aku lebih suka Before Us karena walo bahasanya sederhana,bacanya terasa nyaman... gak bikin nausea :)

bugot said... Reply Comment

iya mas, novel yang kubaca juga gitu. Penulisnya lebih milih mengakhiri ceritanya dengan "meluruskan" tokoh utamanya. Jarang banget deh nemu akhir bahagia buat pasangan LGBT di novel-novel indonesia

Jody said... Reply Comment

@Bugot: betul banget dan terasa gak adil bagi mereka ya? hehe

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan