01 April 2013

Pintu Harmonika

 
Judul Buku: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng & Icha Rahmanti
Penyunting: Arief Ash Shiddiq
Perancang sampul: Diani Apsari
Ilustrasi: Herdiyani
Tebal: 284 halaman
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Plotpoint Publishing


 




Mereka tinggal di kompleks ruko Gardenia Crescent. Setiap ruko di sana memiliki pintu harmonika, pintu warna-warni berbentuk seperti harmonika yang siap dimainkan. Pintu itu seharusnya akan memberikan perlindungan bagi penghuninya. Tapi ternyata, di balik pintu itu, mereka tidak merasa aman dan terlindungi. Itulah sebabnya mereka mencari Surga, dan  menemukannya di belakang ruko. Surga itu adalah sepetak lahan kosong yang dikelilingi ilalang dan semak liar dengan reruntuhan tembok dan dinding yang catnya mengelupas, berhias jamur dan grafiti. Di Surga itu mereka bertemu dan menghabiskan waktu dengan kegiatan masing-masing. Rizal Zaigham Harahap menekuni blog dan Twitter-nya. Juni Shahnaz membaca buku-buku detektif. David Christian Hadidjaja (atau Hadijaja?) ikut-ikutan membaca buku detektif Juni, setelah bosan bermain dengan anak-anak sebayanya.

Rizal adalah putra dari Firdaus, pemilik toko kelontong, seorang duda yang bertingkah laku lucu dan selalu tampil ceria. Hubungan Rizal dan bokapnya akrab seperti sahabat. Jadi, tidak mengherankan kalau Firdaus memanggil putranya Bro. Rizal, si pengagum Bruce Lee, mengaku anti pencitraan, tapi melakukan pencitraan di blog dan Twitter-nya. Menyatakan dirinya ganteng, berbodi kekar dengan six packs, anak orang kaya, dan selalu menghabiskan akhir minggu dengan bertualang ke mancanegara. Para pengunjung blog dan follower Twitter-nya percaya, bahkan sampai ada yang membentuk kelompok penggemar, Rizal's Angels. Tidak ada yang tahu kalau di SMA-nya, Rizal sebenarnya kurang pintar dan terpaksa harus membantu menggalang dana bagi kelompok dance di sekolahnya untuk mendongkrak nilai matematikanya.


Juni, putri pemilik toko sablon, terpaksa menjadi tahanan di rumahnya sendiri sebagai hukuman karena melakukan perundungan (bullying) pada adik kelas di SMP-nya. Juni tidak tahu, siswi yang menjadi korban perundungannya adalah putri dari pelanggan toko sablon ayahnya. Selama lima hari, Juni tidak diperkenankan meninggalkan rumah, kecuali mengunjungi Surga di belakang ruko. Juni sebenarnya anak yang pintar, tapi tergoda menggencet adik kelasnya karena ia sendiri korban perundungan kakak kelasnya. Untunglah, Juni tidak terlalu lama digencet. Rizal memberinya pelatihan bela diri sehingga Juni mampu melawan dan membuat takut para penggencetnya. Setelah berdiam di rumah selama beberapa hari, Juni baru bisa melihat dengan jernih permasalahan dalam keluarganya. Ternyata, ayahnya mengalami kesulitan keuangan dan memutuskan untuk menjual toko sablonnya.


David adalah anak semata wayang Imelda, pemilik toko kue, yang ditinggalkan suaminya yang berselingkuh dengan perempuan lain. Untuk menopang kehidupan keluarga dan membesarkan David, Imelda membuka toko kue yang dipromosikannya lewat Facebook. Salah satu kuenya yang terkenal adalah kue berbentuk malaikat yang sedang tersenyum. 


Ketiga anak ini mencintai Surga. Lahan itu memberikan mereka kebebasan, kedamaian, dan perlindungan. Karena di balik pintu harmonika ruko yang mereka tempati, memang tidak ada tempat seperti Surga. Itulah sebabnya, mereka tidak rela tatkala Surga akhirnya hendak dijual. Papan-papan telah dipasang untuk mengiklankan lahan kosong itu. Rizal memutuskan bertindak dengan menggagas operasi Progressive Indirect Attack (PIA). Operasi akan dilaksanakan saat subuh, sehingga hanya Juni yang dilibatkan.. 


Saat kedua sahabatnya melaksanakan operasi PIA, David bukannya tidak tahu. Hanya saja, ia sedang merasa tidak enak badan. Lagi pula pada saat yang sama, ia sendiri sedang sibuk berusaha memecahkan beberapa kasus. Peristiwa dentaman keras di atap ruko pada malam hari, sekelebat bayangan hitam, bulu berwarna hitam yang berpendar cantik yang ia temukan di atap ruko, dan perilaku ibunya yang semakin lama semakin aneh. Di mata David, ibunya terlihat pucat dan kian mengurus. Ibunya masih membuat kue malaikat tapi menghilangkan mulut malaikat sehingga tidak lagi tersenyum. 


Pintu Harmonika yang ditulis Clara Ng dan Icha Rahmanti adalah hasil adaptasi skenario film layar lebar berjudul sama. Cerita aslinya adalah ciptaan Clara Ng dan Ginatri S. Noer. Skenario kisah Rizal (Otot) ditulis oleh Pia Syarif, Ginatri S. Noer, dan Ilya Sigma. Skenario kisah Juni (Skors, atau di dalam novel ini disebut berjudul Bully) dikembangkan oleh Luna Maya dan Rino Sarjono dengan melibatkan Ginatri S. Noer. Sedangkan skenario kisah David (Malaikat) ditulis oleh Bagus Bramanti, Ginatri S. Noer, dan Sigi Wimala. Film yang diproduksi MalkaPictures & 700 Pictures ini disutradarai oleh Ilya Sigma (Otot), Luna Maya (Skors), dan Sigi Wimala (Malaikat). 

Kisah utama dalam novel ini dibagi ke dalam tiga bagian besar yang masing-masing merupakan kisah hidup ketiga tokoh utama. Secara berturut-turut Rizal, Juni, dan David menjadi narator orang pertama menggunakan media berupa jurnal, catatan harian, dan catatan biasa. Untuk membedakan siapa yang sedang bertutur, Rizal menyebut dirinya gue, Juni menyebut dirinya aku, dan David menyebut dirinya saya. Tapi tanpa pembedaan ini, sebenarnya mereka sudah memiliki suara yang khas. Rizal, sangat kocak dan cerewet. Juni, diliputi kecanggungan dan keraguan. David yang bisa bermain piano, sopan dan teratur. Sebenarnya agak aneh juga cara David berkisah tapi bisa diterima karena ia memang pintar, suka membaca, dan senang berlagak detektif.  

Kedua penulis berhasil melukiskan perasaan dan pikiran setiap karakter dengan baik. Problema yang dialami mereka beserta keluarga terekam gamblang dalam cerita mereka. Kita bisa menyelam ke dalam kehidupan mereka dan terperangah menemukan diri mereka yang sejati. Jika Rizal dan Juni memiliki akhir kisah yang tidak terlalu mengejutkan, lain halnya dengan David. Akhir kisahnya akan memberikan kejutan yang membuat kita dicekam keharuan. 


Selama membaca kita akan dibuat terus bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi dengan lahan kosong tempat ketiga anak itu menghabiskan waktu terindah mereka? Apakah Rizal dan Juni akan berhasil dalam perjuangan mempertahankan Surga mereka? Kita akan menemukan jawaban dari kedua pertanyaan ini di bagian epilog yang membuat hati kosong sekaligus plong. 


Seingat saya, tidak banyak novel adaptasi film layar lebar Indonesia yang ditulis dengan baik. Biola Tak Berdawai (Seno Gumira Ajidarma), Brownies (Fira Basuki), dan Sang Pencerah (Akmal Nasery Basral) adalah contoh dari yang tidak banyak itu. Dengan Pintu Harmonika, Clara Ng dan Icha Rahmanti menambahkan satu novel sebagai contoh keberhasilan novelisasi skenario film.


Keberhasilan Clara Ng dan Icha Rahmanti tidak lain disebabkan karena mereka sudah berpengalaman dalam menulis. Keduanya telah berhasil menerbitkan novel bestseller. Sayangnya, buku ini tidak memuat penjelasan mengenai proses penulisan novel sehingga kita tidak mengetahui seperti apa metode kerja mereka. Apakah mereka menulis sendiri-sendiri ataukah secara bergantian?  Yang jelas, mereka telah menghasilkan novel yang mengalir lancar dan enak dibaca. Kekurangannya adalah masih bertaburannya typo yang mengganggu kenikmatan membaca.


Saya suka desain sampul novel ini. Di bagian paling depan ada lembar berilustrasi rumah ketiga tokoh utama. Bila kita membaliknya, kita akan menemukan ilustrasi aktivitas yang mereka lakukan di Surga. Sayangnya, ada yang tidak tepat pada posisi ketiga rumah itu. Rizal mengatakan bahwa: "Ruko pilihan Bokap ada di antara dua ruko lainnya, yang satu toko kue dan satunya lagi toko sablon" (hlm. 5). Dalam ilustrasi, rumah Juni yang terletak di antara rumah Rizal dan David. 


"Life is like a piano. The white keys represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too," kata David kepada ibunya (hlm. 288). Membaca novel ini, kita akan menemukan perpaduan kebahagiaan dan kesedihan yang tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan para tokoh novel. Hal yang sama sesungguhnya tidak juga pernah bisa dilepaskan dari kehidupan kita. 




 Teaser Poster

4 comments:

Stefanie Sugia said... Reply Comment

wah aku tertarik bgt pengen baca buku ini :D
thx buat reviewnya ;) salam kenal ^^

Jody said... Reply Comment

Terima kasih sudah berkunjung, salam kenal :)

Peri Hutan said... Reply Comment

ak jug pengen baca buku ini gara2 covernya yg manis banget dan nama kedua penulisnya :D

Jody said... Reply Comment

Ceritanya lumayan, lumayan enak dibaca :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan