24 April 2013

Love, Curse & Hocus-Pocus




Judul Buku: Love, Curse & Hocus-Pocus
Penulis: Karna M. Nashar
Tebal: 416 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 




Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu lima tahun, akhirnya Karla M. Nashar meluncurkan Love, Curse & Hocus-Pocus untuk menuntaskan problematika yang belum rampung dalam prekuelnya, Love, Hate & Hocus-Pocus (2008). Karla memulai kisah Gadis Parasayu dan Troy Mardian dalam novel ini persis ketika mimpi dan realitas memisah setelah mereka hidup sebagai pasangan suami-istri. Mereka terjaga di dalam ruangan rapat Biocell Pharmacy Indonesia pada malam perayaan lima puluh tahun perusahaan itu.

Sebelumnya, dalam Prolog, Karla memperkenalkan Lyubitshka, perempuan gipsi Romani yang telah merapalkan jampi-jampi dan menciptakan kekacauan dalam hidup Gadis dan Troy. Ternyata, bukan kemarahan yang telah membuat Lyubitshka bertindak, melainkan karena ia sedang menjalankan tugas yang diembannya sejak dilahirkan di dunia. Lyubitshka atau Lyuba, yang dalam bahasa Romani berarti cinta, telah menyusun rencananya berbulan-bulan sebelum ia pergi ke Jakarta, bergabung dengan Gypsy Sacred Heritage Musical Show. Setahun sebelumnya, ia telah mengenal Troy yang berjalan menabraknya, saat ia berada di London menghadiri Gypsy Fair. Ia memutuskan melakukan sesuatu, apalagi ketika 'menyaksikan' apa yang akan terjadi dalam hidup laki-laki itu, dengan kehadiran Gadis.

"Ini akan menjadi karya terbaikku... Ooh, lihatlah betapa keras hati kalian... tapi aku akan membuat kalian melihat hidup ini melalui hati kalian, dan membuang semua kepongahan itu...Hehehe, kalian benar-benar pasangan yang berisik sekali, ya? Aku harus bekerja keras merangkai mantra dan menumbuk ramuan khusus untuk kalian, tapi aku tidak keberatan. Kalian sepasang jiwa malang yang patut mendapat pertolongan dariku... Nah, semuanya sudah siap. Aku hanya perlu melakukannya pada saat yang tepat.... Baiklah, selamat menikmati mimpi kalian... Aku tahu kalian akan sangat bingung pada saat mengalaminya nanti...."(hlm. 17-18).

Setelah meninggalkan mimpi yang terasa nyata sebagai suami-istri, ada perasaan kehilangan dalam diri Troy tatkala terjaga di pagi hari dan tidak menemukan Gadis di sisinya. Ia berharap kejadian aneh itu terulang kembali. Dan memang, dalam perjalanan bersama Gadis menuju London untuk menghadiri seminar, mimpi pun menabrak realitas mereka. Saat pesawat yang mereka tumpangi mengalami turbulensi, keduanya berpindah ke rumah sakit di mana Gadis melahirkan sepasang bayi kembar. Kehidupan mereka begitu berbahagia sampai mereka mendapati bayi kembar itu berhenti bernapas secara mendadak. Gadis yang merasa bersalah terserang depresi dan berniat meninggalkan Troy. Tapi sebelum perpisahan itu terjadi, mereka telah berpindah ke realitas.

Sewaktu mengikuti seminar, Gadis bertemu dengan mantan kekasih. Putra Surya Wibawa, ternyata menggeluti bisnis farmasi juga. Dalam waktu yang singkat, cuma empat hari, Putra sudah menyampaikan hasrat untuk menikahi Gadis. Gadis menunda menjawab lamaran Putra karena belum merasa tenang dengan mimpi-mimpi yang dialaminya. Ia ingin memastikan apa yang sedang terjadi padanya. Kebetulan sedang berada di Inggris, ia dan Troy bisa bertemu Lyuba yang menetap di Askrigg, North Yorkshire.

Setelah Putra pergi ke Prancis untuk urusan pekerjaan, Gadis dan Troy meninggalkan London untuk mencari Lyuba. Maka, dimulailah perjalanan menuju perdesaan Inggris, dihadang cuaca yang tidak menguntungkan dan keanehan yang tidak terjelaskan. Alam seakan-akan tengah berkonspirasi menghalangi perjumpaan mereka dengan Lyuba.

Apakah mereka akan berjumpa Lyuba? Kita sudah bisa mengetahui jawabannya sejak rencana mencarinya muncul. Lyuba harus ditemukan karena kisah Gadis Parasayu dan Troy Mardian akan berakhir dalam novel ini. Tapi ternyata, perjumpaan dengan Lyuba bukanlah hal paling signifikan dalam novel ini. Perjalanan mencari Lyuba-lah yang terpenting. Karena di dalam perjalanan yang tidak terlalu mudah itu, Gadis dan Troy akan semakin saling mengenal, merasa saling memiliki, dan saling bergantung. Itulah sebabnya, kisah perjalanan mereka diberikan durasi yang cukup panjang.

Lyuba memang berarti cinta tapi ia tidak bisa serta-merta memberikan solusi terkait permasalahan cinta. Gadis dan Troy harus mendapatkan sendiri dari pengalaman. Pernyataan Lyuba mengenai cinta, hati, dan pikiran semakin mempertajam pemahaman mereka.

"Hanya orang bodoh yang membiarkan otak mereka memutuskan apakah mereka sedang jatuh cinta atau tidak. Love is a celebration of feeling. You have to use your heart to feel it, not your brain. Kalau kamu benar-benar jatuh cinta pada seseorang, hatimu akan tahu. Tapi hati-hati dengan pikiranmu, karena ia bisa menipu dengan berbagai dalih yang akan membuatmu tak mengacuhkan kata hati. Begitu pun sebaliknya. Hatimu akan memperingatkan kalau kamu tidak mencintai orang itu, tapi pikiranmu memberi berbagai alasan yang bisa membuatmu mengira kalau kamu sedang jatuh cinta... Itulah masalah yang dihadapi kebanyakan orang. Love is simple, but most people tend to overanalyze it."  (hlm. 337-338).

Dibandingkan dengan prekuelnya, saya lebih suka membaca novel ini. Setelah bermimpi hidup sebagai suami-istri, Gadis dan Troy menjadi sedikit lebih tenang dan dewasa. Meskipun hubungan mereka eksplosif, karena masing-masing memang bersumbu pendek sehingga gampang bertikai, frekuensinya tidak sekerap di dalam novel pertama. Selain itu, tentu saja, karena novel ini telah memberikan konklusi. Saya suka cara Karla memungkas novel ini dengan mengembalikan cerita kepada Lyubitshka. Seperti Lyubitshka, kita akan merasa bahagia dengan apa yang terjadi di penghujung kehidupan asmara Gadis dan Troy.

Untuk memeriahkan novel ini, Karla menghadirkan Putra dan Lucinda, mantan kekasih Troy. Putra adalah karakter anyar, sedangkan Lucinda sudah pernah dimunculkan dalam Love, Hate & Hocus-Pocus. Kehadiran mereka sebenarnya tidak terlalu penting,  karena bumbu konflik yang dibubuhkan mereka tidak membuat cerita terasa lebih lezat.

Cara Karla berkisah dalam novel ini masih identik dengan 
Love, Hate & Hocus-Pocus. Tapi memang tidak seramai dan sekocak yang ditampilkannya di dalam novel itu. Kemungkinan besar sedikit perubahan ini disebabkan oleh berkembangnya karakter Gadis dan Troy. Mereka tidak lagi segaduh seperti pada momen-momen awal pertemuan mereka.

Yang menarik dalam novel ini adalah informasi mengenai perdesaan Inggris dan kehidupan orang gipsi. Karla mampu mendedahkan dengan detail-detail mempesona yang amat meyakinkan. Lyubitshka yang mewakili orang gipsi untuk berperan sebagai karakter penting novel pun berhasil ditampilkan dengan cara mengesankan. 

Berbaurnya mimpi dan realitas yang dialami Gadis dan Troy memang menciptakan turbulensi dalam kehidupan pribadi mereka. Tapi tetap ada hikmah yang bisa dipetik. Troy yang paling menyadari hal itu:

"Kita berdua orang paling beruntung di dunia ini karena kita sudah diberi kesempatan untuk merasakan seperti apa kehidupan kita nanti. Kita memang bukan pasangan sempurna, tapi kita saling menyempurnakan." (hlm. 397). 

4 comments:

nandang septian said... Reply Comment

gan boleh minta file pdf novel ini gak? soalnya ane mau beli tp ga tau harus kemana... tolong bantuan dan toleransinya

Jody said... Reply Comment

@nandang septian:
maaf, aku ga punya file pdf-nya.

Unknown said... Reply Comment

Apakah buku ini masih y???

Lia Andriani said... Reply Comment

Apakah buku ini masih y???

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan