07 April 2013

Love, Hate & Hocus-Pocus



Judul Buku: Love, Hate & Hocus-Pocus
Penulis: Karla M. Nashar
Tebal: 264 hlm; 20 cm
Cetakan: keenam, Januari 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


 



Mereka terbangun di dalam kamar sebuah griya tawang pada suatu hari Minggu yang cerah dalam keadaan tanpa busana. Ketika potongan-potongan memori berkelebat di benak mereka, sadarlah mereka apa yang telah terjadi. Mereka telah bertunangan, menikah, berbulan madu, dan tentu saja, berulang kali bercinta.

Padahal mereka bermusuhan, bahkan sejak pertemuan pertama. Sedetik bertatapan, saling menghakimi dalam hati, dan terciptalah rasa benci. Benci pada pandangan pertama.  

Rasa tak suka tercipta begitu saja di antara mereka dengan begitu kuatnya, membuat dua orang yang tak pernah berinteraksi sebelumnya itu saling menaruh nama masing-masing pada daftar teratas orang-orang yang tidak mereka sukai (hlm. 36).

Gadis Parasayu dipilih menjadi Manajer Humas yang baru untuk Biocell Pharmacy Indonesia (BPI) saat perusahaan farmasi ini akan mengadakan launching produk terbarunya, Dhemoticyl. Tidak terelakkan lagi, Gadis mesti bertemu dan bekerja sama dengan Troy Mardian, Manajer Marketing Senior BPI. Gadis sudah mengetahui reputasi Troy dan menciptakan persepsi negatif bahkan sebelum bertemu. Tidak heran kalau rasa tidak suka segera muncul begitu bertemu lelaki bergelar The Most Eligible Bachelor in Indonesia itu.

Bagi Gadis, Troy adalah contoh manusia yang tercerabut dari akarnya. Berdarah asli Indonesia tapi berlagak seperti bule. Dalam percakapan, selalu menggunakan bahasa Inggris. Makanannya pun untuk lidah bule, bukan makanan Indonesia. Selain itu, ia mengecat cokelat rambutnya dan gonta-ganti lensa kontak berwarna. Untuk mempertahankan citranya sebagai lelaki mesos, ia hanya menggunakan barang-barang designer label. Dan untuk merawat wajah dan tubuhnya, ia selalu memakai kosmetika seperti yang lazim digunakan perempuan pesolek.

Berkebalikan dengan Troy, Gadis adalah nasionalis sejati -menurut pandangannya. Ia tidak pernah tergiur barang designer label. Ia lebih suka mengonsumsi produk dalam negeri, busana maupun makanan. Lagi pula cermin tidak akan menipu. Ia cantik, eksotis, dan bertubuh molek.

Melihat Troy untuk pertama kalinya, Gadis mendapatkan pemandangan berwujud lelaki gagah, tampan, percaya diri, dan pongah. Melihat Gadis untuk pertama kalinya, Troy mendapatkan pemandangan berwujud perempuan cantik, temperamental, dan berselera lokal. Jujur saja, saya percaya Troy seorang gay saat ia melihat sepatu Gadis dan membatin: Oh, come on! Look at her shoes, it's local I believe (hlm. 36). Lelaki  mana yang peduli pada sepatu yang dipakai seorang perempuan, buatan lokal atau luar negeri?

Dengan perbedaan selera dan permusuhan di antara mereka, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi suami-istri?

Pada malam ulang tahun BPI ke-50, seorang perempuan gipsi tampil untuk membuka pertunjukan Gyspy Sacred Heritage Musical Show. Perempuan itu menyatakan bahwa malam itu adalah malam penuh keajaiban. Malam cinta, dan bukan benci. Siapa pun yang saling membenci akan bertubrukan dengan cinta, dan baru akan menyadari pada hari ketiga belas, mimpi dan kenyataan telah menyatu. Mendengar perkataan perempuan gipsi itu, secara serentak Troy dan Gadis tertawa. Kebencian di antara mereka, diperkuat dengan kemarahan si perempuan gipsi yang melontarkan hocus-pocus, menciptakan kekacauan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Tanpa sadar, mereka bertunangan, menikah, dan berbulan madu. Apa yang mereka lakukan dan alami selama itu telah membuat mereka merasakan cinta yang kuat. Troy yang pesolek bak lelaki gay pun sudah bisa membuktikan kejantanannya. Tapi pada hari ketiga belas, mereka terbangun dalam keadaan bugil saat mimpi dan kenyataan telah menyatu. Mereka telah menjadi suami istri dan melakukan hubungan intim, tapi masih dalam status perang dingin. Maka tidak ada lagi yang mereka harapkan selain menemukan penjelasan logis mengenai apa yang menimpa mereka.

Love, Hate, and Hocus-Pocus karya Karla M. Nashar menggabungkan romansa dengan fantasi. Kedua elemen ini bukan lagi hal baru dalam karya fiksi, dalam maupun luar negeri. Apa yang diusung Karla pun terasa akrab karena kita telah mengenal sebelumnya melalui buku yang pernah kita baca dan film yang pernah kita tonton. Permusuhan di antara sepasang insan muda yang kemudian berkembang menjadi cinta. Pasangan yang bukan suami-istri tiba-tiba, abrakadabra,  menemukan diri mereka telah menjadi suami-istri. Sehingga boleh dikata, dari segi cerita, Karla hanyalah memulung kisah yang sudah pernah ada dan memindahkannya ke dalam seting baru. Bukankah belum ada kisah semacam ini yang memanfaatkan seting perusahaan farmasi?

Banyak hal di dalam novel ini yang terasa mengganggu selama pembacaan. Porsi terbesar berada pada karakterisasi pemeran utamanya. Gadis Parasayu dan Troy Mardian adalah manajer di sebuah perusahaan farmasi. Mereka manusia-manusia dewasa, berpendidikan tinggi, dan seharusnya cerdas. Tapi ketika mereka berinteraksi, saya sulit merasakan kecerdasan dan kedewasaan mereka. Gadis menjadi perempuan bertemperamen panas yang sukar mengendalikan emosinya. Troy pun dengan mudah meladeninya karena perangainya yang pongah dan tidak mau kalah. Akibatnya, pertikaian mulut pun terjadi secara repetitif. Bahkan untuk alasan yang sangat sepele. Kelakuan seperti anak-anak ini mereka lakukan di mana-mana, termasuk di hadapan bos mereka. Hal yang tidak terbayangkan dilakukan para profesional muda yang berpendidikan tinggi. Gadis dan Troy bukanlah orang kampung, tentu saja, tapi mereka sungguh kampungan.

Karakterisasi seperti ini membuat saya bertanya-tanya. Kenapa penulis menciptakan karakter dewasa tapi bertingkah laku seperti anak-anak? Apakah ia bermaksud menulis komedi slapstick? Karena tanpa disengaja pun, Love, Hate & Hocus-Pocus jelas-jelas hadir sebagai komedi slapstick meskipun minus unsur kekerasan. Dan jujur saja, kesimpulan inilah yang membuat saya memutuskan untuk menamatkan novel ini. Karena sebelumnya, saya nyaris tidak tahan melanjutkan pembacaan.

Kendati mampu mengalirkan kisah dengan lancar dan kocak, Karla M. Nashar  tidak cukup mulus menciptakan adegan. Tidak mungkin ada dua orang pada saat bersamaan mengeluarkan kata-kata yang artinya sama dalam dua bahasa berbeda. Karla berulang melakukannya pada Gadis dan Troy yang akhirnya menular pada asisten mereka, Nana dan Lulu. Dan sangat mustahil pula jika dua orang mengucapkan secara serempak beberapa kalimat yang sama seperti yang terjadi pada Nana dan Lulu.

"Ayo dong, Bos!! Jam setengah delapan kan pestanya dimulai. Belum dandan, belum perjalanan ke sana, buruang dong!! Kami kan nggak mau  ketinggalan acara!!" (hlm. 152 dan diulang di hlm. 261). 

Selain itu saya menemukan banyak hal meragukan dalam novel ini.

1. BPI tidak mengenal Pedagang Besar Farmasi sehingga memiliki banyak distributor yang tidak jelas. Pemasaran Dhemoticyl terkesan seperti pemasaran barang konsumsi.
 
2. Dhemoticyl, obat demam berdarah, rupanya digolongkan Karla ke dalam obat bebas (atau bebas terbatas) sehingga bisa digunakan sendiri oleh pasien/keluarga pasien. 
 
3. Ada 25 perusahaan di Berlin International Pharmacy Fair langsung menandatangani kontrak dan memberikan down payment untuk Dhemoticyl. Rupanya ke-25 perusahaan itu beroperasi di negara di mana demam berdarah kerap mewabah. Dan Dhemoticyl yang seharusnya adalah obat paten segera menjadi obat generik. 
 
4. Seorang ibu di Purwakarta memberi anak balitanya sebutir tablet Dhemoticyl. Karla mengatakan, "Hebatnya, tablet itu tidak ditakar ulang ke dosis lebih kecil" (hlm. 61). Jadi menurut Karla, keluarga pasien bisa menakar ulang tablet ke dosis yang lebih kecil. Entah bagaimana caranya tablet ditakar ulang. Dipecah-pecahkan atau dibuat puyer? Haha.
 
5. Penyebab kasus Dhemoticyl adalah mobil boks yang membawa Dhemoticyl dicuri oleh pihak kompetitor. Tablet-tablet itu lalu dibiarkan terkena sinar matahari nonstop selama lima jam sampai mengandung parasit (hlm. 44) kemudian sengaja diedarkan dalam keadaan rusak. Pencurian karena kompetisi dan munculnya parasit pada tablet sungguh hal yang konyol. Lalu, bagaimana keluarga pasien bisa memperoleh tablet-tablet ini?
 
6. Karla sepertinya tidak tahu kalau laporan medis seorang pasien tidak diberikan kepada keluarga pasien untuk ditunjukkan kepada orang lain (hlm. 72). Atau tidak bisa diminta dan dibuat salinannya untuk orang yang tidak berkepentingan (hlm. 73). 

 
Jadi, apakah saya akan membaca sekuelnya, Love, Curse & Hocus-Pocus? Oh, tentu saja, karena saya telah membelinya satu paket dengan novel ini.


4 comments:

joel @ bookworm said... Reply Comment

Ahhh, syukurlah saya ada temennya, hehehehe....apa yang saya rasa, sama persis...tapi yang bikin bingung, kenapa justru buku ini best-seller, saya sampai ngira ada korslet di otak saya karena gak bisa menyukai buku ini...;(

Jody said... Reply Comment

haha.. saya juga sulit menyukai buku ini :)

Oky @ Kumpulan Sinopsis said... Reply Comment

Buku favoritkuuuu!! Menurutku buku ini lucu. Emang banyak yg ga masuk akal but, still funny. IMO :p

Jody said... Reply Comment

Lucu, tapi banyak cacatnya. Hehehehe.
Sekarang lagi baca sekuel-nya, tapi msh jauh dr tamat:)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan