11 April 2013

Surat Dahlan



Judul Buku: Surat Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penyunting: Suhindrati Shinta & Rina Wulandari
Tebal: 396 hlm; 14 x 21 cm
Cetakan: 1, Januari 2013
Penerbit: Noura Books

 




Belakangan ini, kita bisa menemukan banyak buku mengenai Dahlan Iskan beredar di dunia perbukuan Indonesia. Surat Dahlan yang ikut menambah keramaian buku Dahlan Iskan adalah buku kedua dari Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan. Sebelumnya, Noura Books, selaku penerbit telah meluncurkan Sepatu Dahlan (2012) yang dikukuhkan sebagai Novel Mega Bestseller dan sedang dalam proses adaptasi ke dalam film layar lebar.

Khrisna Pabichara melanjutkan novelisasi kehidupan Dahlan Iskan dengan menjadikan Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri serta beberapa orang yang pernah berinteraksi dengan mereka sebagai sumber inspirasi. Kalau novel sebelumnya dimulai saat Dahlan melakukan operasi transplantasi hati, maka kali ini dimulai setelah operasi tersebut selesai. Dahlan yang sedang mencemaskan hati yang dicangkokkan ke dalam tubuhnya, berkunjung ke masa lalu, menjenguk kenangan yang bermula di Samarinda.

Buku pertama, Sepatu Dahlan, diakhiri dengan keputusan Dahlan untuk meninggalkan kampung halamannya, Kebon Dalem -Magetan, dan  pergi ke Samarinda, menyusul Atun, kakaknya yang lebih dulu menetap di tepi Sungai Mahakam. Tidak hanya mencari pekerjaan, Dahlan juga melanjutkan kuliahnya di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur itu

Tapi kuliahnya tidak berjalan dengan baik. Dahlan tidak bisa beradaptasi dengan cara mengajar dosen-dosennya yang otoriter. Untuk mengatasi kejenuhannya, ia bergabung dengan organisasi mahasiswa dan pelajar, Pelajar Islam indonesia (PII). Menghabiskan waktu dengan sesama anggota PII membuat ia merasa lebih bersemangat dan lebih hidup. Di sanalah ia mengenal Syarifuddin, anak pengusaha kayu; Latif Siregar, persilangan Batak-Jawa Timur; Nafsiah, putri Danramil, gadis tomboi dan mahir silat. Mereka akan menjadi teman-teman setia manakala para pelajar dan mahasiswa melakukan aksi demo, setelah meletusnya Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari).

Dahlan diangkat sebagai pemimpin aksi yang berujung pertikaian dengan tentara itu. Akibatnya, Dahlan yang dianggap pemberontak menjadi buronan yang diburu-buru tentara. Tatkala melarikan diri dari sergapan tentara, Dahlan mendapatkan pertolongan Saripa, perempuan tua dari Masamba. Nenek Saripa-lah yang memperkenalkan Dahlan kepada Sayid Alwy, pemimpin harian Mimbar Masyarakat. Perkenalan inilah yang membuka karier Dahlan Iskan dalam dunia persuratkabaran. Dahlan yang tadinya bernama Muhammad Dahlan, memakai nama bapaknya, sehingga dikenal sebagai Dahlan Iskan.

Kisah selanjutnya adalah perjalanan karier Dahlan Iskan di Bumi Etam sampai ia menetap di Surabaya dan diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas Pelaksana untuk membenahi Jawa Post. Sebelumnya, ia menjadi Kepala Biro Tempo Surabaya.

Selain kisah perjalanan kariernya -yang belum lengkap karena masih ada buku ketiga, dalam buku ini kita akan mengikuti kisah cinta Dahlan dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Perempuan itu tidak lain Nafsiah, putri Danramil dan pelajar SPG Samarinda.

Di buku pertama, pada masa remajanya, Dahlan sempat berhubungan dekat dengan Aisha, putri mandor perkebunan tebu yang ditakutinya. Di buku kedua ini, Krishna membuat kisahnya sedikit rumit. Sahabat Dahlan, Maryati, menyusul Dahlan ke Samarinda. Tanpa tedeng aling-aling, Maryati menyatakan cintanya, bahkan meminta ketegasan Dahlan, sebelum akhirnya memilih menikahi Paijo. Setelah kedua perempuan Jawa itu, Dahlan kemudian menyerahkan hatinya kepada Nafsiah, perempuan kelahiran Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Tapi, kisah cintanya tidak berjalan semudah membalik telapak tangan. Dahlan sempat merasa kecewa ketika mengunjungi Nafsiah di Tanjung Isuy, tempat gadis itu melaksanakan tugas sekolah selama tiga bulan. Karena, tidak ada kata cinta terucap kendati ia telah meretas perjalanan panjang untuk menjumpai gadis idamannya. Untunglah, Nafsiah memang mencintainya juga.

Sebagai novel kisah nyata, -memadukan fakta dan fiksi- apalagi ada kalimat (Trilogi) Novel Inspirasi Dahlan Iskan di sampul depan novel, semestinya, Surat Dahlan memberikan inspirasi. Sayangnya, dibandingkan novel pertama, Sepatu Dahlan, kehidupan Dahlan di sini justru kurang inspiratif. Tidak ada gugahan serupa kisah Dahlan kecil dan remaja yang menjalani hidup untuk mengatasi kemiskinan dan mewujudkan cita-cita masa itu -memiliki sepeda dan terutama, sepatu. Kisah cinta dan perjuangannya menjadi bagian dari armada Tempo tidak memberikan keharuan setaraf kisah masa kecilnya.

Jujur, saya merasa agak keteteran menamatkan novel ini. Karena setiap melembari halaman novel, saya berharap akan menemukan momen menggugah yang membuat saya terharu. Tapi ternyata, hingga novel berakhir, momen yang saya harapkan tidak pernah muncul.

Untunglah Khrisna masih menulis dengan luwes. Meski cenderung puitis dengan seleksi diksi yang terasa sedikit kenes, rangkaian kalimat-kalimatnya membuat novel ini masih enak dibaca. Inilah yang akhirnya membuat saya bisa menamatkan Surat Dahlan.

Ada beberapa surat bisa kita baca dalam novel ini. Surat Aisha, Maryati, Bapak Iskan, dan tentu saja, surat yang ditulis Dahlan sendiri. Mungkin, surat-surat inilah yang membuat novel ini diberi judul Surat Dahlan. Walaupun harus diakui, kehadiran surat dalam novel ini tidak seampuh pengaruhnya dengan kehadiran sepatu dalam novel pendahulunya terhadap keseluruhan jalinan kisah yang ada. 
 
Masih ada satu novel lagi yang akan melengkapi Trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan ini. Di dalam buku Sepatu Dahlan, Noura Books menginformasikan bahwa buku ketiga akan berjudul Kursi Dahlan. Akan tetapi, di dalam Surat Dahlan ini, berubah menjadi Senyum Dahlan. Memang, senyum Dahlan dan bukan kursi Dahlan yang kerap kita lihat di sampul-sampul buku mengenai dirinya yang banyak beredar. 





Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri

 

1 comments:

Mad Solihin said... Reply Comment

Keren gan ... :)

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan