11 February 2012

The Golem's Eye


 

Judul Buku: The Golem's Eye
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Tebal: 624 hlm; 20 cm
Cetakan: 1, Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
 





Setelah The Amulet of Samarkand (Mei, 2007), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan bagian kedua dari Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud, The Golem's Eye (Juli 2007). Bagian ketiga,  Ptolemy's Gate, akan terbit September 2007. Mengingat trilogi ini mengisahkan tentang hubungan penyihir dan jin, Nathaniel (Nat) dan Bartimaeus (Bart), maka sekali lagi, Bart, jin sombong dan berlidah tajam akan dipanggil dari Dunia Lain (dunia asal demon). Membaca ocehan-ocehan pedas Bartimaeus di buku pertama, jelaslah pemanggilan dirinya merupakan hal yang sangat tidak ia harapkan. Jika ia dipanggil, mau tak mau ia kembali lagi menjadi budak yang mesti menjalankan semua perintah sang master –penyihir yang memanggilnya.

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama Bart dan Nat. Saat cerita digulirkan sang penulis, Nat, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nat antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan kelompok commoner yang dikenal sebagai Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Trilogi Bartimaeus ini memang berlatar Inggris ketika manusia biasa (commoner) telah kehilangan kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan para penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Rahasia kekuasaan para penyihir terletak pada kemampuan mereka berkomunikasi dengan para demon, memanggil dari Dunia Lain, dan memaksa melaksanakan apa yang mereka inginkan. Kekuasaan para penyihir yang kerap bertindak congkak membuat sebagian commoner menjadi oposan. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Perdana Menteri Sihir, Rupert Devereaux. 
 
Menjelang berlangsungnya Founder's Day (hari lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nat tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nat tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Menjadi tugasnya sebagai pekerja bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nat menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nat menimbulkan kemarahan Bart yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bart akan melayani Nat selama 6 minggu. 
 
Dugaan Nat memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bart yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tantangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhir. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nat dan Bart ke Praha. 
 
Simultan dengan kepergian Nat ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone, sang Pendiri Negara di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir. 
 
Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nat karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nat bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bart tidak bisa menolong karena menolong Nat berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nat? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nat tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bart. Sangat menarik ketika Nat, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Bart tahu benar siapa dia, dan tahu benar juga, commoner ini tidak akan tega membiarkan Nat meregang nyawa percuma. Dalam situasi ini sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance. Apa yang pernah dikatakan Simon Lovelace dalam The Amulet of Samarkand (hlm. 329), bahwa di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang", tetap akan berlaku. Seperti bagian pertama, The Amulet of Samarkand, konflik utama tetap bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Siapa pencetus konflik dalam The Golem's Eye, akan Anda temukan setelah membaca buku setebal 624 halaman ini. Yang jelas, ia (ternyata) memiliki hubungan dengan karakter antagonis dalam The Amulet of Samarkand, Simon Lovelace.

The Golem's Eye terdiri atas 4 bagian besar yang dijabarkan dalam 48 bab. Kisah dibuka dengan sebuah prolog yang menceritakan serangan Gladstone atas Praha pada tahun 1868, saat Bartimaeus bermasterkan seorang penyihir Ceko. Tentu saja prolog ini memiliki pertalian dengan konflik yang akan dijabarkan pada bagian novel selanjutnya. Seandainya The Golem's Eye ini sebuah film (dan memang akan difilmkan), prolognya menjadi semacam teaser yang mengasyikkan.

Jika dalam buku pertama penulis mengalirkan plot melalui dua perspektif, yakni orang pertama dengan Bart sebagai narator dan orang ketiga untuk mengisahkan sepak terjang Nat, kali ini Jonathan Stroud menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik. 
 
Seperti buku pertama, ketika membaca cerita yang dielaborasi Bart, kita tetap akan menemukan eskpresi yang sinis, sok tahu, dan egomaniak yang tidak cukup hanya menggunakan narasi biasa, tapi juga catatan kaki yang menggelikan. Tak dapat dibantah, hal inilah sesungguhnya yang menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Trilogi Bartimaeus. Tapi dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Keberadaannya di alam imajinasi Jonathan Stroud telah menjadi salah satu pendorong dirangkainya kisah Nat dan Bart dalam bentuk trilogi.

Masih menggunakan latar dunia sihir yang berbeda dengan kisah-kisah dunia sihir lainnya (dunia sihir tempat penyihir berkuasa, ritual pemanggilan demon dengan menggambar pentacle dan tujuh tingkat keberadaan (plane)), karakter-karakter yang menarik, plot terjaga yang kian meruncing mencapai bagian akhir, sekali lagi Jonathan Stroud membuktikan dirinya sebagai penulis kisah fantasi yang tangguh. Ia memiliki kemampuan meramu kisah dengan sangat mengasyikkan, yang akan terus menghasut pembaca untuk menuntaskan seluruh buku begitu membaca dan menemukan daya tariknya. Menurut Jonathan Stroud ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun penggarapan dalam bentuk novel yang siap diterbitkan. Ketiga buku dari Trilogi Bartimaeus ini diterbitkan pertama kali berturut-turut tahun 2003, 2004, daan 2005. Pada tahun 2006, Trilogi Bartimaeus memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori fantasi dan fiksi sains (Prancis). 

Edisi Indonesia diterjemahkan dengan asyik sehingga kita dapat menikmati The Golem's Eye dengan nyaman. Membaca buku kedua Trilogi Bartimaeus ini, tak pelak lagi, akan membuat pembaca yang telah menikmati petualangan Bartimaeus dan Nathaniel sejak buku pertama, akan tidak sabar untuk menanti jilid pamungkas kisah berlatar dunia sihir Inggris ini. 

Mengutip School Library Journal (sampul belakang novel), secara keseluruhan, saya mesti bersetuju bahwa inilah, "karya fantasi yang harus dimiliki", terutama oleh penggemar novel fantasi dengan latar dunia sihir.

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan