11 February 2012

Hubbu


Judul Buku: Hubbu
Penulis : Mashuri
Tebal : 246 hlm; 13,5 X 20 cm

Cetakan: 1, Agustus 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Dari 249 naskah yang diikutkan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2006, oleh 3 juri (Apsanti Djoko Sujatno, Ahmad Tohari, dan Bambang Sugiharto), diputuskan Hubbu karya Mashuri yang juga dikenal sebagai penulis puisi -antara lain telah menerbitkan antologi puisi bertajuk Ngaceng (2007)), sebagai pemenang pertama. Hubbu mengalahkan 248 naskah lainnya dan berhak atas hadiah utama, 20 juta rupiah. 

Hubbu berangkat dari kehidupan seorang santri bernama asli Abdullah Sattar dan dikenal dengan nama Jarot. Dari namanya, telah bisa tercium bagaimana penulis ingin menampilkan kehidupan tokoh ini yang selalu dalam keadaan terbelah. Oleh Mbah Adnan, ia diberi nama Abdullah Sattar dengan harapan bisa seperti sufi pendiri Tarekat Sattariyah itu, tapi juga dipanggil Jarot, pecundang dan suka bermain api. Setelah masuk sekolah, selain belajar di Sekolah Arab, ia juga belajar di Sekolah Jawa (sekolah negeri). Minat Jarot pun berkembang, tidak hanya pada ilmu-ilmu agama, tapi juga ilmu-ilmu Jawa, sehingga selain belajar dari Mas Amin, ia juga belajar dari Wak Tomo. 

Keterbelahan Jarot tentu saja tidak lalu diterima keluarganya yang religius. Tapi, kendati ditentang karena ilmu-ilmu Jawa dipandang berseberangan dengan Islam, Jarot tetap terbelah sebagai manusia religius tapi juga penggemar klenik. Bukan hanya itu, Jarot juga terbelah sebagai manusia yang mencoba hidup secara islami tapi juga mencicipi hidup yang tidak islami, seperti pacaran dan bergaul intim dengan lawan jenisnya. 

Pola hidup terbelah ini terbawa terus sampai Jarot memutuskan meninggalkan kampungnya dan kuliah di Surabaya. Kehidupan semacam ini akhirnya menjerat Jarot dalam dosa perzinahan yang benar-benar memutuskan hubungannya dengan Desa Alas Abang dan melantakkan harapan yang diletakkan padanya. Dosa perzinahan yang terjadi berbarengan dengan keputusan Jarot untuk mengajarkan tentang Tuhan pada seorang perempuan yang berbeda keyakinan dengannya.

Jarot adalah harapan Alas Abang untuk menjadi pemimpin pesantren warisan Mbah Kiai Adnan. Setelah Mbah Adnan mangkat, untuk sementara sambil menunggu Jarot dewasa, Mas Amin terpilih sebagai pemimpin. Tapi dengan berangkat ke Surabaya, Jarot melarikan diri dari tanggung jawab yang diharapkan bisa diembannya sebagai orang terpilih. Bahkan setelah mengetahui ada masalah di pesantren, Jarot tidak juga memutuskan mengambil alih kepemimpinan pesantren. Sempat terlintas dalam benaknya untuk pulang ketika terbeban dengan sebuah kejadian yang menimpa sepasang sahabatnya. Tapi setelah solusi muncul, ia tetap di Surabaya melanjutkan kuliah. Dan setelah kuliahnya usai, ia justru benar-benar tidak bisa kembali lagi ke Desa Alas Abang.

Novel ini dibuka dengan sebuah prolog yang oleh Mashuri dilabeli sebagai Prawayang, merupakan isi lontar dari Wisrawana kepada ayahnya, Begawan Wisrawa, yang bermuatan Sastra Gendra. Setelah prawayang, kisah digulirkan dalam tiga bagian yang diberi judul Sihir Masa Lalu, Persimpangan, dan Lompatan Waktu.Dua bagian pertama berisi kisah Jarot pada masa ia masih hidup, sedangkan bagian ketiga pasca meninggalnya Jarot. Tapi, seluruh kisah tetap merupakan kisah Jarot. Kalau bagian pertama sebagian besar berisi kisah masa lalu dan bagian kedua berisi kisah masa sekarang dalam kehidupan Jarot, bagian ketiga, seperti judulnya, mengisahkan cerita berlatar tahun 2040, bertahun-tahun kemudian setelah kisah pada bagian kedua. 

Latar masa depan dalam bagian ketiga tidak dimaksudkan untuk menceritakan kisah futuristik seperti yang kita bisa baca di novel-novel sci-fi. Karenanya, Mashuri melewatkan deskripsi latar yang lebih mungkin pada saat itu. Pemilihan tahun 2040 ini jelas dimaksudkan untuk mempertahankan kelogisan cerita dari segi usia karakter dalam bagian ketiga ini (Aida). Hal ini akan mempertanyakan pemakaian latar waktu masa kini dalam kehidupan Jarot (akhir tahun 1995 dan seterusnya). Rupanya hal ini berhubungan dengan gurit Sastra Gendra karya Budi Palopo yang (benar-benar) dimuat di Jaya Baya pada 18 Oktober 1994 dan bisa ditemukan dalam Gurit Rong Puluh: kumpulan dua puluh geguritan (Dewan Kesenian Surabaya, 1995). Dalam bagian ini, selain akan mengikuti kisah hidup putri Jarot, kita juga akan menemukan apa yang terjadi pada sisa hidup Jarot setelah bab kedua berakhir. 

Membaca Hubbu, kita akan menikmati berbagai sudut pandang dan gaya bertutur. Tapi, walau terkesan acak, teknik variatif ini sama sekali tidak membuat alur ceritanya menjadi kacau. Alur tetap dapat diikuti dan dirangkai pembaca dengan padu. Ini membuat Hubbu tampak berbeda, meskipun teknik penceritaan yang digunakan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Beberapa teknik dalam Hubbu antara lain bisa ditelusuri dalam Dadaisme (Dewi Sartika, pemenang 1 Sayembara Novel DKJ 2003). Khusus untuk sudut pandang penceritaan yang variatif, sah-sah saja selama penulis tetap konsisten pada 1 perspektif penceritaan selama menyampaikan satu bagian cerita. Terasa janggal ketika narator orang pertama bertutur secara maha tahu seperti pada halaman 75 - 78.

Konflik berlatar dunia pesantren terbilang menarik karena langka digarap dalam novel Indonesia kontemporer.  Dan menjadi lebih menarik ketika penulis memunculkan Aida, putri Jarot yang diharapkan bisa menjadi 'Gunawan Wibisana' bagi Abdullah "Wisrawa" Sattar. Saya kira tidak asal saja Mashuri menampilkan anak Jarot sebagai seorang perempuan, dan bukan laki-laki. Pesantren membutuhkan seorang pemimpin. Kendati digadang menjadi pemimpin pesantren, Jarot tidak pernah melunaskan harapan. Dan seperti pada pohon silsilah yang dilihat Aida pada akhir novel, nama Aida tertera sebagai orang terpilih. Bukankah itu berarti Aida merupakan calon pemimpin pesantren? Hal ini tampak dari ungkapan Aida ikhwal rahasia yang ia temukan pada puncak muhibahnya di Jawa:

"Aku tahu, kenapa beban ayah terasa demikian berat, bahkan untuk kesalahan yang tidak dilakukannya. Beban itu kini beralih ke pundakku, sebuah beban yang tak bisa dipindah ke pundak orang lain. Sebuah lingkaran 'takdir' yang begitu sulit untuk dihindari, tetapi harus diterima dengan sepenuh hati. Lingkaran takdir yang sudah menyatu dengan darah." (hlm. 234). 

Hal menarik lainnya dalam novel ini adalah pemberian judul menggunakan bahasa Arab yang berarti cinta. Meski kita bisa menemukan taburan cinta di bagian-bagian novel, pemberian judul yang manis ini menimbulkan pertanyaan. Hal ini tentu saja wajar mengingat tidak ada keterangan apa-apa soal Hubbu dalam novel ini (saya sendiri menemukan arti hubbu di situs Gramedia saat buku ini baru terbit). Cinta yang manakah yang dimaksud Mashuri? Dan seberapa signifikan cinta yang dimaksud mempengaruhi keseluruhan isi novel sehingga layak dijadikan judul?  

Akhirnya, saya melihat Hubbu berbicara tentang pilihan dalam hidup. Hidup Jarot menjadi kontradiktif karena ia tidak bisa menentukan pilihan. Sebagai manusia, yang dianugerahi kekuatan memilih, ia tidak bisa menentukan dengan tegas, menjadi Abdullah Sattar atau Jarot. Ia tidak bisa memilih, ilmu-ilmu agama atau ilmu-ilmu nalar. Dan yang terutama, ia tidak bisa memilih untuk benar-benar hidup secara islami atau tidak. Inilah yang menyebabkan ia meninggalkan Desa Alas Abang dan tidak pernah tergerak untuk menjadi pemimpin pesantren warisan. 

Dan dengan ketidakmampuannya memilih, Jarot akhirnya terjebak. Coba simak pola hidup Jarot yang digambarkan Mashuri. Ia dikenal memahami agama dengan dalam, bahkan diyakini dikaruniai laduni, tanpa belajar sudah bisa menguasai ilmu-ilmu agama. Jarot –dengan kesombongannya- meyakini kemampuannya, seperti yang terlihat dalam usahanya mengajarkan tentang sisi universalitas ketuhanan demi mengembalikan rasa ketuhanan Agnes yang terguncang (hlm. 168). Tapi cara hidupnya tidak selaras dengan agama yang ia anut. Memeluk Istiqomah, tidur sekamar dengan Puteri, berdua-duaan dalam kamar dengan Agnes yang bukan hanya berbeda jenis kelamin tapi juga keyakinan. Dan lihat akhirnya, Jarot terlibat persetubuhan dengan Agnes. Setelah meniduri Agnes, baru ia sadar akan pola kehidupannya. "Aku baru merasa bisa, belum bisa merasa," akunya. Ia tidak berbeda dengan Begawan Wisrawa yang diceritakan dalam lontar Lokapala. Pada titik ini, akhirnya Jarot mesti memilih. Sebuah pilihan yang mempengaruhi nasib pesantren warisan Mbah Kiai Adnan, memberi jawaban atas pertanyaan Aida: Benarkah sebuah pilihan kadang mengandung risiko untuk orang lain, bahkan untuk satu warisan yang demikian berharga dan telah mengantar si empunya dalam penghargaan tak terkira? (hlm. 205). 

Tapi di ujung keterpurukan hidupnya, Jarot menemukan titik persinggungan antara Jawa dan Islam yang ada dalam wayang kulit, keseimbangan hijaiyah dan hanacaraka, dalam kehidupan Begawan Wisrawa, melalui pengalaman hidup yang dikatakannya sebagai "kekonyolan yang patut aku sesali seumur hidup, bahkan sampai mati nanti" (hlm. 168). Itulah Sastra Gendra. 

Pada pembacaan pertama, saya tersendat menikmati Hubbu. Sejatinya Hubbu dibuka secara menarik. Prawayang yang disajikan Mashuri sungguh menerbitkan rasa ingin tahu karena cukup unik. Tidak menjabarkan kisah wayang secara biasa, tapi melalui penuturan salah satu tokoh wayang kepada tokoh wayang yang lain, dalam bentuk surat. Tapi memasuki bagian satu, dengan arah cerita yang masih kurang jelas dan terutama gaya bertutur yang kurang menarik –agak cerewet kendati tidak dibutuhkan, termasuk penggunaan kata yang tidak efektif yang berdampak tidak enak dibaca- saya tersendat menikmatinya. Kisah Hubbu kembali terasa menarik ketika tiba di bagian ketiga, Lompatan Waktu. Mungkin karena bagian ini menjadi juru kunci novel. Penulis tidak hanya melakukan lompatan waktu yang cukup mengagetkan, tapi juga melakukan lompatan dalam plot. Ia tidak hanya berhasil menyimpul plot, tapi juga memberikan perenungan tentang eksistensi kepemimpinan perempuan dalam dunia pesantren.

Sebuah novel yang cukup menarik, tidak luar biasa, tapi akhirnya masih bisa dinikmati. Setidaknya, menurut saya.

1 comments:

Unknown said... Reply Comment

Pengakuan tulus dari pak wawang dari bali
kemarin saya hampir pinsang
atas angka yang diberikan AKI DARMO
kemarin saya menang 200.juta
atas kemenangan TOGEL putaran
TOTO 4D ini semua bantuan
AKI DARMO baru kali ini
saya merasakan yang namanya
kemenangan hutang2
saya semua pada lunas dan
saya ada rencana membuka
usaha
sekali lagi terima kasih
banyak AKI DARMO bagi saudarah2
ingin merubah nasib seperti saya
terutama yang punya hutang
sudah lama belum terlunasi
ini solusi yang sangat tepat
jangn buan kesempatan karna
kesempatan tidak akan datang kedua kali
lansung hubungi AKI DARMO
di nomor hp: (-082-310-142-255)
ini kisah nyata dari saya
tampah rekayasa atau silahkan
anda buktikan sendiri..

BUTUH ANGKA GHOIB HASIL RITUAL
AKI DARMO DI JAMIN 100% TEMBUS

angka:GHOIB: singapura
angka:GHOIB: hongkong
angka:GHOIB; malaysia
angka:GHOIB; toto magnum
angka:GHOIB; laos?
angka:GHOIB; macau
angka:GHOIB; sidney
angka:GHOIB: vietnam
angka:GHOIB: korea
angka:GHOIB: brunei
angka:GHOIB: china
angka:GHOIB: thailand
DAN LAIN-LAINNYA ATAU KETIK http//suhuacay.blogspot.com

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan