10 February 2012

The Brother



Judul Buku: The Brother
Penulis : Georgius Han
Penyunting: Windy Ariestanty
Tebal : vi + 324 hlm

Cetakan: 1, Desember 2006
Penerbit: GagasMedia





Selama 6 bulan dari Mei 1917 hingga Oktober 1917 tiap hari ke-13, Maria yang dikenal sebagai Bunda Maria oleh pemeluk Katolik, menampakkan diri kepada Lucia dos Santos, Francisco, dan Jacinta di Cova da Iria, Fatima, Portugal. Saat penampakan di bulan Juli, Bunda Maria memberikan Tiga Rahasia yang tidak boleh disebarluaskan sampai ia memperbolehkannya. Dua dari tiga rahasia tersebut diungkap kemudian oleh pihak Gereja Katolik pada tahun 1942, yaitu sebuah visi tentang neraka dan berakhirnya Perang Dunia I (serta kemungkinan meletusnya Perang Dunia berikutnya). Rahasia ketiga tidak pernah dibuka sampai 26 Juni 2000. Tetapi bagi kalangan tertentu, apa yang akhirnya dilakukan oleh pihak Gereja Katolik itu hanya sebagai usaha untuk mengakhiri spekulasi tentang kapan terjadinya kiamat dunia. Ada anggapan pihak Vatikan tidak mengungkap semua yang ditulis oleh Lucia dos Santos setelah gadis ini menjadi biarawati. 

Peristiwa seputar penampakan Bunda Maria dan tiga rahasia yang ia berikan menjadi latar belakang novel berjudul The Brother karya perdana Georgius Han. Bagi pria kelahiran tahun 1976 dengan sejumlah bakat ini The Brother adalah produk dari dorongan kuat untuk mengekspresikan ide-ide liarnya ke dalam karya tulis sekaligus merupakan akhir dari sebuah perjalanan panjang mencari jati diri. Saat pertama menyadari kehadiran buku ini, secara pribadi, dengan mempertimbangkan judul dan nama penulisnya, saya menduga The Brother adalah karya terjemahan. Tetapi ternyata The Brother benar-benar karya orang Indonesia keturunan Tionghoa dan diterbitkan di Indonesia oleh GagasMedia. Setelah menuntaskan isi novel, tersimpul kesan bahwa penulis memang berhasil mengekspresikan ide liarnya dengan dahsyat. Georgius Han memiliki keprigelan dalam merangkai kisah dengan perwatakan dan alur cerita yang memukau. Tak pelak, The Brother hadir menawan dan sungguh dapat dinikmati dengan lancar. 

Setelah latar belakang cerita, Han membuka The Brother menggunakan Yerusalem Abad 1 sebagai latar. Seorang lelaki muda, anak tukang kayu, membantai sejumlah manusia di Bait Allah Yerusalem, lengan kirinya putus, kemudian ia mati oleh puluhan anak panah pasukan Romawi yang menancap di seluruh tubuhnya.

Cerita beralih ke Indonesia, ke Desa Kapencar, Wonosobo, 1980, ke dalam kehidupan gadis cantik bernama Linda. Ia adalah putri tunggal Antonius Chandra, keturunan Tionghoa pemilik perkebunan tembakau di kaki gunung Sindoro. Percintaan Linda dengan seorang lelaki bernama Alex menggiringnya kepada peristiwa yang akan merusak kehidupannya untuk selamanya. Ia menjadi korban perkosaan 2 lelaki yang dikenal sebagai biarawan (pastor) di desanya dan terusir dari sana setelah kehilangan segalanya. Semarang, 22 Mei 1981, Linda memutuskan bunuh diri dengan melompat ke Banjir Kanal.

Enam belas tahun kemudian, 1997, di Semarang, Valiano Ovadya Christan (Val), mengetahui jika 2 orang yang selama ini ia kenal sebagai orang tua, ternyata hanyalah orang tua angkat. Hal ini diketahui Val setelah ibunya meninggal dan menjelang kematian sang ayah. Ia merasa terpukul oleh kematian mereka, lalu mencoba merusak hidupnya sendiri. 

November 2010, di Padang Gurun Syria Timur, di sebuah lokasi penggalian, Injil Hitam ditemukan. Saat bersamaan, Val, di Semarang, telah meninggalkan usaha merusak kehidupannya dan menjadi seorang biarawan. Ia menyaksikan penampakan seorang perempuan yang kemudian diyakininya sebagai Bunda Maria. Bunda Maria memberikan gulungan surat yang merupakan surat lengkap Lucia dos Santos. Surat Lucia memang tidak pernah dipublikasikan oleh Vatikan secara lengkap. Tujuh cawan maut sebagai bayangan 7 malapetaka yang akan membuka hari kiamat tidak pernah dipublikasikan karena pihak Vatikan memiliki pertimbangan sendiri. Surat ini mengantar Val menuju Roma, terperangkap dalam bentrokan kepentingan 2 kubu. Pertama, kubu Ordo Hakal-Dama yang menjadikan Yudas Iskariot sebagai nabi dan memegang teguh semua perkataannya, seekstrim apapun. Kedua, Casa di Dio, aliran baru dalam gereja yang berdiri untuk menyaingi kedigdayaan Katolik Roma, bahkan mendirikan gereja utama di dekat Vatikan. 

Bagi Ordo Hakal-Dama, penemuan Injil Hitam yang ditulis Yudas Iskariot adalah tindakan pencurian yang bertujuan mempercepat kiamat yang sebenarnya, dan ini harus dicegah. Bagi Casa di Dio, penemuan Injil Hitam memberi jalan pada terbebasnya Lucifer, sembahan mereka, dari kerangkeng neraka. Kedua pihak ini memiliki sasaran yang sama: menemukan seseorang berjuluk Anak Manusia untuk mewujudkan misi masing-masing. Persilangan dua kepentingan ini menjadikan Val sarana yang tepat untuk membawa Anak Manusia ke hadapan mereka. 

Pada akhirnya, berbagai malapetaka yang ditulis Lucia dos Santos mulai terjadi mendahului perhitungan waktu yang ditulis sang biarawati. Di tengah ledakan malapetaka, si Anak Manusia ditemukan, kemudian terjebak di Casa di Dio, di hadapan sang pendeta tertinggi yang tidak sekedar hendak mewujudkan tekad sepasang anak kembar Lucifer, tetapi memendam dendam tak berkesudahan yang belum terlampiaskan bertahun-tahun lamanya. Bersamaan dengan itu, siapa sesungguhnya orang tua kandung Val tersingkap, memberikan pemahaman menakutkan, bukan hanya untuk Val sendiri, tetapi juga bagi pembaca.

Apa sebenarnya maksud judul The Brother? Siapakah sebenarnya Val? Siapa juga Anak Manusia yang dimaksud? Pihak mana yang akhirnya menang dalam konflik hari kiamat ini? Apakah kiamat benar-benar terjadi? Semua pertanyaan ini terjawab secara memuaskan pada bagian-bagian akhir novel enigmatis yang sangat mengejutkan ini.

Kita tidak bisa tidak mengacungkan jempol buat Georgius Han yang secara brilian menghasilkan novel dengan tema yang tidak biasa ditemukan dalam karya-karya penulis Indonesia. Meski tema yang diusungnya akan mengingatkan pada karya penulis-penulis luar yang sangat berani melontarkan hipotesis dan argumen untuk mencetuskan kontroversi, karya Han ini sama sekali tidak terkesan basi. Ide yang digagasnya orisinal, tanpa tendensi menghujat keyakinan tertentu, dan bisa diterima dengan lapang tanpa kecurigaan atau was-was. Dan walau Han menyelipkan unsur nonrealis dalam novelnya, hal itu tidak membuat novelnya menjadi aneh, justru terasa kuat, dan akan membesarkan hati pemeluk keyakinan bersangkutan. 

Memang, dalam The Brother, masih bisa ditemukan unsur provokatif yaitu ihwal Yudas Iskariot yang menulis Injil Hitam.Yudas Iskariot dalam Injil digambarkan mati karena gantung diri. Tetapi dalam buku ini, tepatnya dalam Injil Hitam, Yudas digambarkan tidak mati kendati telah mencoba bunuh diri. Ia malah bertobat, mendapatkan pengampunan Tuhan, dan melakukan perjalanan mengabarkan Injil hingga bertemu dengan Sang Anak Manusia yang ia ceritakan dalam tulisannya. Sebagai penulis, Georgius Han tidak memperdebatkan kebenaran Injil Hitam dalam novelnya karena sudah jelas Injil tulisan Yudas ini memang fiktif belaka. Dan karena fiksional, pembaca –terutama pembaca kristiani- tidak perlu kebat-kebit keyakinannya diobok-obok lagi setelah The Da Vinci Code dan karya lain sejenis. Apalagi, isi Injil Hitam sendiri tenyata sama sekali seharusnya tidak dipercaya (oleh kedua kubu yang bertentangan dalam novel), sehingga terasa konyol dan menggelikan ketika ada pihak-pihak yang menjadi korban karena memercayainya. Seolah bagaikan sindiran Georgius Han terhadap pembaca yang begitu saja percaya pada segala sesuatu yang belum tentu benar tanpa berkeinginan mengkaji lebih dalam.

Dari segi penulisan dan penjabaran alur, Han berhasil membentangkan novelnya dengan rancak. Cerita yang awalnya berisikan kejadian-kejadian yang seolah melompat-lompat menjadi sangat efektif untuk menciptakan minat melahap habis novelnya. Tidak ada cerita yang dihadirkan tanpa memperkuat keseluruhan novel. Tidak ada keinginan mengulur-ulur cerita untuk memperbanyak halaman novel. Semua bermakna dan saling jalin menuju akhir yang menjawab misteri yang sarat pesona. Untuk penulis baru, Georgius Han telah melakukan gebrakan awal yang sangat eksplosif. 

Mungkin yang perlu mendapatkan penjelasan adalah penulisan isi Injil Hitam yang menurut Han aslinya ditulis menggunakan bahasa Ibrani, salah satu bahasa selain Aramaic dan Yunani yang sering dipakai dalam penulisan kitab suci. Sepertinya, untuk menyesuaikan dengan penulisan Injil yang dikenal saat ini, Han menciptakan ayat-ayat dalam Injil Hitam. Padahal dalam naskah asli Injil tidak terdapat ayat-ayat. Pemberian ayat dilakukan oleh penerjemahnya dalam rangka mempermudah pemahaman pembaca yang tidak menggunakan bahasa asli Injil. Sehingga, jika, katakanlah, Injil Hitam ditulis dengan pola yang sama, kita tidak akan menemukan sistem penulisan seperti yang Han gunakan dalam novelnya.

Secara keseluruhan, inilah salah satu novel karya penulis Indonesia yang patut mendapatkan perhatian dan sayang jika dilewatkan begitu saja. Salut buat Georgius Han untuk karya perdananya yang luar biasa!

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan