10 February 2012

Out

 

Judul Buku: Out
Penulis : Natsuo Kirino
Penerjemah : Lulu Wijaya
Tebal: 576 hlm; 20 cm
Cetakan 1, April 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Pernikahannya dengan Kenji Yamamoto yang telah dikaruniai 2 orang anak laki-laki tidak membawa kebahagiaan bagi Yayoi. Setelah sekian lama, wanita cantik 34 tahun ini baru menyadari jika Kenji selamanya hanya hidup untuk mengejar ilusi. Ia bukan sekadar penjudi, pemabuk, dan suka main perempuan, ia juga tega memperlakukan istrinya sebagai sansak bagi bogem mentahnya.

Suatu malam dirangsang kebencian yang begitu kuat, Yayoi kalap dan membetot nyawa suaminya; sebuah pembunuhan yang tidak ia rencanakan sebelumnya. Tapi ia tetap tidak merasa bersalah. Baginya kematian adalah harga yang pantas untuk membayar kekejian Kenji. 
 
Waktu seorang wanita melakukan pembunuhan tak terencana, masalahnya yang pertama adalah bagaimana mengenyahkan mayat (hlm. 296). Untuk itu, Yayoi menghubungi Masako Katori yang memunyai mobil guna membantu membuang mayat suaminya. Keduanya saling kenal karena bekerja pada shift malam di tempat yang sama, yaitu Miyoshi Foods, sebuah pabrik makanan kotak. Masako sendiri adalah wanita 43 tahun, tinggal dengan suami dan seorang anak lelaki dalam sebuah rumah tempat komunikasi lisan telah menjadi barang langka. 
 
Setelah mayat Kenji dijebloskan ke dalam bagasi mobil Masako, mereka masuk kerja seolah-olah tidak ada yang terjadi. Di tempat kerja, ketika melihat Masako sedang menangani potongan daging untuk makanan kotak, ide lahir di benak Yayoi (hlm.90). 
 
Pada umumnya, (wanita) dia tidak cukup kuat untuk memindahkannya sendirian, jadi sering kali dia tak ada pilihan selain memotong-motongnya (hlm. 296)

Maka, Masako setuju memotong-motong tubuh Kenji. Yayoi, sebagai pembunuh, tidak mungkin ikut membelek suaminya. Masako mengajak Yoshie Azuma, rekan kerja lain yang baru berutang padanya. Yoshie adalah janda berusia hampir 60 tahun dengan 2 anak perempuan menjengkelkan. Suaminya tidak mewariskan harta kekayaaan kecuali mertua penyakitan yang sungguh rewel (belakangan, mertuanya mesti membayar harga kerewelannya). Meski pada awalnya tidak mau terlibat dalam tindakan mutilasi mayat Kenji, Yoshie mau melakukan demi uang.

Karena sehari-hari menghabiskan banyak waktu di dapur, tidak diragukan lagi kaum wanita lebih terbiasa berurusan dengan daging dan darah. Mereka tahu cara menggunakan pisau, dan cara membuang sampah. Dan mungkin karena mereka pernah melahirkan, mereka tampaknya merasakan kedekatan khusus dengan segenap proses hidup dan mati, dan ini memberi mereka keberanian untuk melakukan tindakan tersebut (hlm. 297).

Di tengah proses pencacahan mayat Kenji, Kuniko Jonouchi –satu-satunya yang belum pernah melahirkan dan paling tidak suka masak di antara wanita ini, datang ke rumah Masako. Ia bermaksud meminjam uang untuk membayar bunga pinjaman yang dipakai membiayai pola hidupnya yang norak dan sengak. Kuniko, mengaku berusia 29 tahun, baru saja ditinggalkan pasangan kumpul kebonya setelah menguras sisa simpanan mereka. Karena butuh uang, Kuniko akhirnya terbelit kumparan tindakan kriminal akut ini.

Akibat kecerobohan dari salah satu di antara mereka, ke-4 wanita ini harus berhadapan dengan pihak kepolisian. Mereka berhasil mengecundangi polisi, tapi perbuatan mereka telah menghancurkan kehidupan dan bisnis yang dibangun seorang lelaki di atas puing-puing masa lalunya yang gelap. Kesumat tersulut, dan para konspirator dadakan ini tidak mungkin melarikan diri dari hawa panas pembalasan dendam. 
 
Mendadak, kebebasan yang sesaat telah teraih, terancam dirampas dari mereka. 
 
Sesungguhnya kehidupan 4 wanita kelas pekerja ini sebelum pembunuhan Kenji adalah kehidupan berkubang keputusasaan. Tidak ada kebahagiaan. Tidak ada kebebasan. Tidak ada kelegaan menarik napas sendiri. Mereka mengira, pembunuhan dan upaya melenyapkan mayat Kenji akan memberikan mereka kebebasan dari situasi yang memasung itu. Yayoi, dari kekerasan domestik rumah tangganya; Masako, dari kehidupannya yang terkucil; Yayoi dan Kuniko dari kerangkeng finansial. Tapi, peristiwa ini justru membawa mereka masuk ke perangkap lain yang berpotensi menghancurkan hidup mereka selamanya. Inilah sebetulnya esensi novel Out (Bebas): pencarian kebebasan semu. Ketika mereka menganggap kebebasan telah tergenggam, justru kebebasan itu terporot dengan sendirinya: ada seseorang yang menuntut harga kebebasan mereka! 
 
Melalui novel yang menjadi karya perdananya yang diterbitkan dalam bahasa Inggris ini, Natsuo Kirino membuktikan dirinya sebagai pengarang yang piawai. Ia memang bisa dikatakan berhasil membangun reputasi sebagai penulis kisah misteri dengan gaya berbeda dari genre kisah kriminal lain. OUT tidak hadir sebagai kisah pencarian wajah pembunuh, tapi pergumulan psikologis pasca pembunuhan yang dialami oleh semua yang terlibat di dalamnya lengkap dengan teror dan horor yang tidak hanya bersumber dari kehidupan internal, tapi juga dari ancaman kehidupan eksternal.

Dalam Out (Bebas), kita bisa mengurai keprigelan yang dimiliki wanita pemilik nama asli Mariko Hashioka ini.

Pertama, ia berhasil menciptakan konflik apik yang bertolak dari persiapan yang baik; satu peristiwa akan melahirkan peristiwa berikut dalam jalinan logis tanpa terkesan dipaksakan atau sekedar tempelan. Konflik tersebut dipaparkan dengan cerdas dan menciptakan daya pikat untuk terus mengikuti aliran kisah yang dibesutnya. Sulit untuk menebak sejak awal bagaimana konflik itu dituntaskan. Hasilnya, novel usai dengan pamungkas yang tidak terduga, mencekam, getir, tetap bersimbah darah, tapi memuaskan. Sejak pembukaan, Kirino telah menyorongkan Masako sebagai karakter paling penting dalam kisah ini. Dialah yang menjadi jantung yang memompa peredaran konflik menuju akhir, tentu dengan tidak mengabaikan peranan Kuniko. Tapi, tetap sukar meraba apa yang akan menimpanya ketika harus berhadapan dengan nemesisnya, Mitsuyoshi Satake, yang memiliki kekuatan yang dingin dan kejam hampir setara dengan dirinya. Adegan pertemuan di antara mereka di penghujung novel menjadi bagian paling menggetarkan dan bertegangan tinggi dalam novel ini. 
 
Kedua, seperti jalinan kisahnya, Kirino menghadirkan karakter novel dengan perencanaan yang matang. Coba simak bagaimana akurasi Kirino membangun perwatakan karakter utama yakni Masako, Yayoi, Yoshie, Kuniko, dan Satake. Mereka digambarkan sangat kuat dan padu sehingga pembaca akan terdorong untuk merogoh ke dalam jiwa mereka, memahami pergumulan jiwa mereka dan pada gilirannya menjadi bingung menentukan siapa sesungguhnya yang harus dipihaki. Kirino juga menyusupkan karakter pendukung dalam plot dan sukses memanfaatkan mereka untuk memperkuat karakterisasi tokoh utama sekaligus mempertajam plot yang telah dirancang. Perhatikan kehadiran Anna atau Kazuo Miyamori. Keberadaan 2 karakter ini membuat pembaca semakin memahami kejiwaan duo karakter penting novel, Masako dan Satake. Sedangkan kehadiran Jumonji, tidak saja meramaikan plot, tapi membuat plotnya bertambah runcing. 
 
Ketiga, Kirino mengikat konflik dan karakter yang ada dalam plot yang lancar, setiap insiden berkelindan padu memberi makna terhadap keseluruhan kisah. Ia memang menggunakan perspektif orang ketiga dengan filter dari satu karakter tertentu, sehingga kerap menceritakan satu kejadian secara berulang dengan berpindah sudut pandang. Hal ini seolah memberi kesan perguliran plot yang lambat, tapi sebenarnya sangat bisa dinikmati dan bahkan memberi deskripsi situasi yang tegas yang menyempurnakan pemahaman pembaca.

Yang paling menghebohkan dari novel ini mungkin ide mutilasi mayat yang digambarkan secara eksplisit (meski dalam novel dikatakan bukan tindakan perdana dalam catatan kepolisian Jepang), dan dilakukan oleh wanita biasa. Bagamanapun, adegan mutilasi sedikit banyak akan memberikan imaji yang mengirikkan bulu roma. Apalagi ketika aktivitas mutilasi ini berkembang menjadi bisnis yang gampang dan menguntungkan; sungguh dingin dan mengerikan (dan menjijikkan). Sekalipun Kirino memberikan alasan yang adekuat untuk mewajarkan tindakan sinting ini.
 
Penulis Jepang ini tak tanggung-tanggung menyodorkan lanskap kelam buat penikmat novelnya, semua merebak di sekujur novel. Sejak awal nuansa muram dan mencekam telah menggayut dan terus berlanjut hingga mencapai akhir. Bahkan penampilan Kuniko yang norak dan menggelikan tidak berdaya mencerahkan ceritanya sedikit pun. Tapi anehnya, begitu mulai dibaca, apalagi dengan cara pengungkapan yang memukau, sulit untuk melepaskan diri dari sihirnya yang mengikat. Dan pembaca akan terus didorong memangkas habis dan tuntas setiap kalimat yang tercetak. Natsuo Kirino memang tak diragukan lagi. Karya-karyanya telah memenangkan berbagai penghargaan di negara asalnya. Ia telah menggondol Edogawa Ranpo Award (Rain Falling on My Face,1993), Naoki Award (Soft Cheeks,1998), Izumi Kyoka Literary Award (Grotesque, 2003), Shibata Renzaburo Award (Zangyakuki, 2004), dan Fujinkoron Literary Award (Tamamoe!, 2005). OUT sendiri telah memberikannya Mystery Writers of Japan Award tahun 1998; diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Stephen Snyder tahun 2003; masuk nominasi Novel Terbaik Edgar Allen Poe Award tahun 2004. Ia adalah penulis Jepang pertama yang menjadi nomine peraih Edgar Allan Poe Award. Out telah difilmkan oleh sutradara Hideyuki Hirayama dengan pemain seperti Mieko Harada, Shigeru Muroi, Naomi Nishida, dan Teruyuki Kagawa; dan beredar tahun 2002.

Out (film)
Dengan novelnya yang sensasional ini, Kirino tidak hanya menabalkan tesis bahwa satu kejahatan akan melahirkan kejahatan lain, tapi juga wanita, yang tampak lemah sekalipun, bisa melakukan tindakan yang tidak terduga; bahkan mungkin lebih sadis daripada yang dibayangkan kaum pria, karena ketika kesempatan ada, kualifikasi memadai ditambah solidaritas karena persamaan nasib, para wanita akan memiliki keberanian untuk mengguratkan pisau (bahkan gergaji) dan menyobek aliran darah; hal biasa yang mereka temui ketika bekerja di dapur. Mungkin itulah sebabnya Kirino menggunakan wanita kelas pekerja yang terbiasa bekerja di dapur untuk merepresentasikan tesisnya dalam novelnya ini. Kecuali, tentu saja, si norak gendut Kuniko yang digambarkan secara berbeda karena hadir hanya untuk menciptakan masalah dan meraut konflik semakin tajam dan mendebarkan. 

0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan