07 February 2012

Burung Kolibri Merah Dadu


Judul Buku: Burung Kolibri Merah Dadu
Penulis: Kurnia Effendi
Cetakan 1, Februari 2007
Penerbit: C Publishing



Kurnia Effendi adalah penulis cerpen yang tumbuh di halaman-halaman majalah remaja seperti Gadis dan Anita Cemerlang. Sekarang ia dikenal sebagai seorang penulis cerpen prolifik. Dari lahan imajinasinya yang subur telah lahir 4 kumpulan cerpen yaitu Senapan Cinta (2004), Bercinta di Bawah Bulan (2004), Kincir Api (2005) dan Aura Negeri Cinta (2005).  

Kurnia adalah seorang cerpenis yang piawai, tangkas dalam seleksi diksi dan indah dalam perangkaian kata. Tuturannya seringkali lembut, bening dan halus. Oleh karena itu, ketika menggunakan nama Nia Effendi, banyak orang yang menyangka dia seorang perempuan. Cerpen-cerpen Kurnia yang umumnya merambah wilayah romantis selalu menarik. Tidak sekadar manis, tetapi gurih dan segar. Membaca rangkaian kata-katanya, meminjam ungkapan Meg Cabot (penulis serial The Princess Diaries) ketika mengomentari To Kill a Mockingbird karya Harper Lee, oleh Kurnia every word has been as carefully strung together as if it were a precious jewel. Saya kira, siapa pun yang telah membaca cerpen-cerpen Kurnia dalam setiap antologi cerpennya akan setuju.

Bertepatan dengan momen hari kasih sayang, 14 Februari 2007, Kurnia meluncurkan kumpulan cerpennya yang kelima bertajuk indah Burung Kolibri Merah Dadu. Burung Kolibri Merah Dadu adalah kumpulan cerpen yang ditulis dalam rentang waktu 2 dekade lebih, sejak tahun 1983 (Langit Makin Ungu) sampai tahun 2006 (Cinta Separuh Malam). Oleh karena itu, antologi ini bagaikan rekaman perjalanan Kurnia dalam belantika sastra Indonesia menuju kematangannya berkarya. Buku ini membuktikan bahwa ia bukan wajah baru dalam dunia sastra Indonesia karena telah meretas perjalanan yang tergolong panjang dan senantiasa bersetia pada jalur yang ia pilih. Meskipun karya-karya cerpennya baru mulai dibukukan pada tahun 2004.

Angsa Putih terpilih sebagai sajian pembuka yang cantik. Ceritanya sebenarnya sangat sederhana. Kisah cinta yang tidak pasti antara Paramita dan Faisal, seorang pria yang hampir tidak percaya cinta dan kesetiaan. Faisal menghilang dari kehidupan Paramita dan sebuah patung porselen miniatur seekor angsa putih pemberiannya menjadi pengganti kehadirannya. Angsa putih disepakati oleh keduanya sebagai lambang kesetiaan, ide yang lahir setelah menonton film Out of Africa karya Sydney Pollack dengan Meryl Streep dan Robert Redford sebagai pemeran utama. Tiba-tiba lambang kesetiaan dari porselen itu hancur berkeping-keping, padahal sudah dijaga sedemikian rupa oleh Paramita. 

Sekalipun sangat sederhana, dengan mulus Kurnia berhasil mengolah cerita ini menggunakan perspektif penceritaan orang kedua yang begitu menawan, sehingga cerpen seakan-akan menjadi curhat seorang Paramita terutama kepada pembaca pria. Cerita yang diawali dengan sendu pada saat pecahnya patung porselen angsa putih, berakhir manis, bertolak belakang dengan kisah cinta dalam Out of Africa. Tak heran cerpen ini diposisikan sebagai sajian pembuka antologi cerpen laki-laki yang menggunakan nama sahabat-sahabatnya pada karakter rekaannya. Secara pribadi, saya berpendapat  cerpen ini sebagai salah satu ekspresi kelembutan yang paling romantis dari Kurnia dalam antologi ini. 

Tema cinta yang memiliki kecenderungan manis juga dapat ditemukan dalam Gerimis Februari dan Hari-hari Merah Jambu. Gerimis Februari diceritakan dengan kalem dan terkendali sebagaimana cinta yang berkembang dari persahabatan yang manis. Kurnia memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memberi akhir pada cerpen ini walau seperti pengakuannya ide ceritanya adalah kisah cinta dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya.  Hari-hari Merah Jambu yang semanis judulnya terkesan bak film-film romantis Hollywood, apalagi dengan adegan kocak yang dilakukan Bram di bandara. 

Walaupun masih seirama dengan cerpen-cerpen sebelumnya, Sekuntum Lily yang berkisah tentang cinta segitiga antara Fatin, Yuda, dan Uka menunjukkan bahwa meski sering rumit cinta tetap bisa memberikan harapan. Kerumitan cinta yang manis juga dapat ditemukan dalam Burung Kolibri Merah Dadu yang menceritakan tentang Fransiska yang kembali ke Indonesia setelah pergi keluar negeri pasca perceraian dengan Jimmy, suaminya. Fransiska akhirnya menemukan harapan cintanya pada Jodik Givara, seorang penyair yang mencintainya. Susan dalam Kemilau Senja menemukan cinta Lukas, lelaki yang pernah 'singgah' dalam hidupnya dan menghilang dari orbit, di Mandalawangi. Sedangkan dalam cerpen yang panjang (Kurnia menyebutnya novela), Selamat Datang Matahari, Hanum menemukan matahari yang hilang karena ulah Joko Hindarto dalam kelembutan hati Dery, saudara kembar Nadia.

Cinta di tangan Kurnia tidak berarti selalu merah jambu. Dalam Langit Makin Ungu, Nana yang tidak sanggup melepaskan cengkeraman masa lalu menolak kehadiran Basunondo tetapi menyesali keputusannya saat pria itu memutuskan meninggalkan tanah air. Arga, seorang anak muda yang populer di antara gadis-gadis, harus menerima penolakan Seruni demi cinta perempuan lain, sebagai bentuk kebeningan hati gadis itu (Di Ujung Senja). Harry Sarjono, setelah menikmati kebersamaan yang indah dengan Keiko yang membuatnya berpikir tentang cinta, ditinggalkan Keiko dalam ketidakpastian (Berjalan di sekitar Ginza). Sepanjang Braga mengisahkan seorang penulis fiksi tanpa nama yang patah hati ditinggal mati gadis yang dicintainya. Tiga Ribu Kaki di Atas Bandung adalah kisah kasih tak sampai antara Katy dan Mahendra karena seorang gadis bernama Svetlana.

Dua cerpen, Merpati Stefani dan Cinta Separuh Malam seperti butir yang lepas dari rangkaian kisah. Kedua cerpen ini tidak bercerita cinta seperti cerpen-cerpen lainnya. Cinta dalam Merpati Stefani adalah cinta seorang gadis bernama Stefani kepada sepasang merpati dan cinta burung-burung itu sendiri. Sedangkan Cinta Separuh Malam bertutur tentang pertemanan seorang penulis yang tidak lain adalah penulis sendiri di masa depan dengan seorang perempuan separuh baya pemilik toko buku. 

Hal lain yang ditangkap pada eksplorasi Kurnia adalah pengimbuhan kejutan pada akhir cerpen-cerpennya. Hari-hari Merah Jambu, Langit Makin Ungu, Di Ujung Senja menjadi contoh cerpen Kurnia dengan akhir yang mengejutkan.

Tetapi, Angsa Putih dan Sepanjang Braga akan menjadi favorit karena keindahan puitis yang mengiris yang ditorehkan dengan elegan.

Seluruh cerpen dalam buku ini walaupun terentang dalam kurun waktu yang cukup panjang memiliki persamaan yaitu disajikan dengan gaya romantis, bahasa apik, indah, dan menyentuh. Sehingga tema seperti Merpati Stefani dan Cinta Separuh Malam yang biasa-biasa saja masih tetap menarik dibaca. Bukan karena konflik yang disodorkan tetapi semata-mata karena gaya bercerita yang memikat. Pada beberapa cerpen lama, rupanya secara sengaja Kurnia mengadakan perubahan. Hal itu tampak pada penggunaan ponsel dan surat elektronik yang pada saat cerpen ditulis penggunaannya belum umum seperti sekarang. Padahal, mengingat kumcer ini seumpama rekaman perjalanan kepenulisan, ia tidak perlu mengubahnya. Pencantuman kapan cerpen itu diterbitkan telah cukup menggambarkan seting waktu yang digunakan pengarang. Dan pembaca yang arif bisa memahaminya. Toh saat ini kita masih tetap membaca karya-karya yang tetap dipertahankan seperti awalnya meskipun zaman telah berubah. Apalagi bagi sebagian pembaca yang telah mengenal Kurnia membaca antologi ini akan menjadi semacam nostalgia.

Secara pribadi saya tidak sepakat jika cerpen-cerpen remaja Kurnia dibandingkan misalnya dengan teenlit dan dirasakan 'kuno' karena cara penyajiannya. Bahasa selalu berkembang, dan kita tahu pasti pada tahun-tahun keaktifan Kurnia menulis cerpen remaja, saat itu remaja juga sudah memiliki bahasa gaul sendiri. Tetapi ketika itu, Kurnia membuktikan dirinya bisa memikat para pembaca seperti yang diungkapkan Reda Gaudiamo (hlm. XV) tanpa memaksakan diri menggunakan bahasa gaul yang sering mengaburkan batas antara bahasa lisan dan tulisan. Pilihan Kurnia dengan bahasa yang apik dan indah justru menjadi semacam positioning bagi karya-karya yang dihasilkannya.

Pada tahun 2005, penerbit Grasindo bekerja sama dengan Radio Nederland Seksi Indonesia melaksanakan sayembara mengarang novel remaja (teenlit). Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati berhasil menjadi pemenang pertama. Grasindo melabeli buku Farah dan pemenang lainnya dengan embel-embel "rasa baru" karena narasi yang disampaikan dengan bahasa yang baik. Jika membaca buku Rumah Tumbuh kita akan menemukan bagaimana Farah memakai bahasa yang baik saat bernarasi dan mengisi dialog-dialognya dengan menggunakan bahasa remaja pada tempat yang tepat. Hal semacam ini juga bisa ditemukan dalam Kana di Negeri Kana karya Rosemary Kesauly yang menjadi juara pertama lomba novel teenlit Gramedia tahun 2005. Jadi, kenapa tidak, memberikan pembaca-pembaca remaja kita fiksi yang ditulis dengan indah, cerdas, dan menggunakan bahasa yang baik tetapi tetap tidak kehilangan gaya remaja? Apakah remaja-remaja Indonesia memang hanya menyukai fiksi yang sarat dengan bahasa gaul seperti yang digunakan kebanyakan penulis teenlit saat ini? Mungkin perlu dipertanyakan kembali. 

Oleh karena itu, mendukung harapan yang dikemukakan Reda Gaudiamo, semoga kumpulan cerpen cinta karya Kurnia Effendi ini akan menjadi media pembelajaran yang baik bagi pembaca muda Indonesia. Bahwa dengan menggunakan bahasa yang baik, apik, dan indah, cerpen remaja juga bisa mencuri perhatian pembaca.

1 comments:

J Purnama said... Reply Comment

Sy mau beli bukunya..bgm caranya?

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan