11 February 2012

Merah Itu Cinta


Judul Buku: Merah itu Cinta
Penulis: FX Rudy Gunawan
Berdasarkan skenario karya:Nova Riyanti Yusuf
Tebal: iv + 138 hlm; 11,5 x 19 cm
Cetakan I, 2007
Penerbit: GagasMedia




Merah Semerah Merahnya Merah*)



Menjelang pernikahannya, Raisa kehilangan calon suaminya, Rama. Rama yang baru kembali dari Australia meninggal karena kecelakaan mobil di jalan tol. Peristiwa ini menggoncangkan kehidupan Raisa. Dari apa yang ditinggalkan Rama, Raisa menemukan foto-foto Rama dengan ekspresi bahagia yang diambil seminggu sebelum Rama pulang ke Jakarta.

Di tengah-tengah kesedihan yang dalam, tiba-tiba muncul Aria, sahabat Rama, yang sudah lama berdomisili di Australia. Awalnya mereka tidak bisa berbagi, tapi lama kelamaan, meski cukup rumit, di antara mereka terjalin pengertian satu sama lain. Raisa kehilangan kekasih, sedangkan Aria kehilangan sahabat. Hubungan di antara mereka meningkat sampai suatu malam, mereka akhirnya bercinta.

Namun, setelah bercinta, Aria justru meninggalkan Raisa, dengan sejumlah barang, termasuk hadiah yang pernah diberikan Rama untuk Aria.

Demikianlah isi novel Merah itu Cinta, hasil adaptasi FX Rudy Gunawan (FRG, sesuai nama di sampul novel) dari skenario film racikan Nova Riyanti Yusuf dengan judul yang sama. Novel ini merupakan adaptasi skenario film produksi Indonesia kesekian yang diterbitkan oleh GagasMedia. Sampai saat ini, sepertinya, hanya GagasMedia yang memiliki perhatian yang intens terhadap penerbitan novel jenis ini. Hampir semua skenario film Indonesia yang dijadikan novel diterbitkan GagasMedia. Penerbit lain yang juga sempat menerbitkan hasil novelisasi skenario film adalah penerbit Akoer dengan Biola Tak Berdawai (Seno Gumira Adjidarma) dan Nagabonar Jadi 2 (Akmal Nasery Basral).

Salah satu hal yang menarik dari penerbitan jenis novel ini adalah penerimaan pembaca yang cukup baik yang dibuktikan dengan adanya beberapa novel yang mengalami cetak ulang berkali-kali. 

Sayangnya, dari banyak novel jenis ini, sering ditemukan kelemahan yang umumnya muncul dari segi penggarapan. Banyak yang digarap secara kurang menarik dan terkesan asal jadi. Ada beberapa yang bahkan terkesan menjadi novel hanya dengan penambahan kalimat-kalimat secukupnya.

Penyebab gagalnya novelisasi skenario film mungkin karena pada dasarnya isi skenario memang tidak menarik; baik cerita, plot, dan dialog-dialognya. Tapi juga bisa disebabkan karena adaptatornya tidak memiliki kecakapan melakukan novelisasi.

Sesungguhnya Merah itu Cinta memiliki konflik yang cukup menarik, kendati tidak berbelit-belit. Tapi jika dicermati, skenarionya sendiri sudah lemah. Alur ceritanya irit, kering, dan kurang menarik. Juga masih ditambah dengan dialog-dialog yang kurang cerdas dan kurang enak disimak. 

Sebagai penulis tentu saja kemampuan FRG tidak diragukan lagi. Ia telah menghasilkan sejumlah karya termasuk novel seperti Mata Yang Malas dan 170.8 FM: Radio Negeri Biru. Ia bahkan telah menghasilkan sejumlah novel adaptasi skenario film seperti Tusuk Jelangkung, Bangsal 13, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Mirror, dan Realita Cinta dan Rock n Roll. Tapi, dari novel ini bisa dilihat bahwa FRG tidak bisa membebaskan diri dari kungkungan skenario film. Ia sepertinya bersikukuh untuk benar-benar setia dengan skenario. Alhasil, novel ini menjadi salah satu novelisasi skenario film yang tidak meyakinkan. Sebuah skenario dengan pengembangan seperlunya. Bahkan sejak adegan pembuka, novel ini sudah minus daya tarik.

Jika melihat isi novel, kemungkinan, dalam versi lebih pendek (misalnya cerpen), cerita dalam film ini lebih bisa dialirkan secara padat dan menggigit. Hal ini terkesan dari durasi novel yang memuai dengan adegan-adegan yang pada beberapa tempat dipanjang-panjangkan agar bisa hadir sebagai novel. 

Kisah digulirkan FRG menggunakan dua perspektif. Orang pertama (melalui perspektif Aria) dan orang ketiga. Pemilihan perspektif orang pertama jelas hanya untuk membuat cerita tampak beda karena ternyata novel tidak menjadi berbeda dengan penggunaan teknik ini. Penggunaan perspektif orang pertama baru muncul secara mendadak pada halaman 65 (dari 135 halaman yang ada). Ini memunculkan kesan jika penggunaan teknik dilakukan secara agak 'terpaksa'. Akan berbeda kesannya jika FRG telah memunculkan Aria sejak awal cerita. Bukan hal yang tidak mungkin. Tugas seorang penulislah untuk menyiasati kehadiran karakter yang ada dan tetap memosisikan mereka dalam kondisi terkendali. Artinya, jangan sampai apa yang nanti akan diungkapkan belakangan keburu hadir sebelum tiba saatnya. FRG bahkan sempat terpeleset ketika beralih dari perspektif orang ketiga ke orang pertama. Simak pembukaan cerita dari perspektif orang pertama yang ditulis FRG (hlm. 65):

PERKENALKAN, namaku Aria.
Ya, akulah Aria, sahabat karib Rama sejak kecil yang diceritakan Ibu Rama pada Raisa.

Sebelumnya, menggunakan perspektif orang ketiga, kepada Raisa, Ibu Rama menceritakan hubungan persahabatan Aria dan Rama yang terjalin sejak kecil (hlm. 52 - 53). Meski pembaca tahu karena telah membaca sebelumnya, apa yang diceritakan Ibu Rama pada Raisa jelas-jelas tidak diketahui oleh Aria. Jadi, tidak mungkin Aria membuka kisahnya dengan kalimat seperti di atas. 

FRG bisa dikatakan terlalu cepat membuka misteri yang menjadi "jualan" utama Merah itu Cinta. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ia sendiri bingung mengembangkan cerita yang sudah ada. Mau dikemanakan alurnya sebelum mencapai ending dan cerita ini bisa tetap dihidangkan kepada pembaca sebagai novel? Alhasil, surat Aria untuk Raisa di akhir novel tidak memberi efek yang menggedor. Toh pembaca sudah tahu sebelumnya siapa sebenarnya Aria. 

Mungkin, cerita dalam novel ini, oleh adaptator, bisa dikembangkan lagi. Misalnya, tidak langsung dibuka dengan kematian Rama. Membaca novel ini, saya tidak mendapatkan kesan hubungan yang intens antara Rama dan Raisa yang digambarkan secara hidup. Hubungan cinta mereka diketahui hanya dari kenangan-kenangan yang muncul setelahnya. Jika percintaan mereka digarap lebih dalam termasuk kebimbangan Rama, ceritanya akan tampil lebih menarik. 

Selain itu, ada beberapa hal yang menarik untuk dibicarakan.

Pertama, sewaktu di jalan tol menjelang kematiannya, sebenarnya Rama datang dari mana? Dari rumahnya yang entah di mana atau dari bandara langsung? Diceritakan Rama menyetir mobil sendiri. Dari mana dia dapat mobil seandainya ia langsung dari bandara dan hanya seorang diri?

Kedua, kemunculan pertama Aria. Aria yang sepertinya menyusul Rama dari Australia (3 hari setelah Rama pulang?) kok langsung ke rumah Raisa?

"Aku langsung menuju ke rumah Raisa karena kupikir Rama berada di sana saat itu. Rama-lah yang memberikan alamat rumahnya padaku," tulis FRG (hlm. 65). Mengingat hubungan di antara Rama dan Aria, apakah Aria akan segera ke rumah Raisa begitu tiba di Indonesia? Bukankah lebih tepat jika Aria datang ke rumah orang tua Rama yang mengenal Aria dengan baik?

Ketiga, sebelumnya juga, tidak ada penjelasan untuk apa Rama pergi ke Australia. Mengunjungi Aria untuk mengatakan bahwa dia akan menikah? Lalu, untuk apa Aria menyusulnya ke Indonesia? Juga tidak ada penjelasan. Kemunculan Aria karena kematian sahabatnya, mungkin bisa jadi alasan yang masuk akal. Hanya, dalam novel dikatakan Aria datang tanpa tahu sebelumnya kematian Rama. Dia mendapatkan info kematian Rama dari Fanny, teman serumah Raisa, yang adalah seorang pelacur.

Keempat, pekerjaan Fanny yang dikisahkan sebagai pelacur terkesan terlalu dipaksakan. Kenapa juga dia harus diberi pekerjaan sebagai pelacur? Supaya kisah dalam film (novel) ini lebih provokatif? Apakah dengan menjadi karyawan sebuah perusahaan, misalnya, cerita lantas menjadi tidak menarik? Atau hanya supaya adegan Aria jalan-jalan di red districk lebih dari kebetulan yang mengesankan? Padahal, adegan di red districk tidak lebih dari tempelan belaka.

Kelima, adegan percintaan Aria dan Raisa pada akhir novel perlu mendapatkan penjelasan yang memadai. Anehnya, ketika hal itu terjadi -kebetulan dikisahkan oleh Aria sebagai narator orang pertama, disebutkan Aria sendiri tidak tahu apa yang memicu rangsangan erotis yang berakhir dengan persetubuhan di antara mereka.

          Aku bercinta dengan Raisa tadi malam.
          Ya, bercinta.
         Benar-benar bercinta antara lelaki dan perempuan. Aku tak tahu apa yang merasuki diriku, tetapi jelas ada hasrat yang kurasakan membakarku saat mencumbu Raisa. Aku tak bisa memungkirinya. Ini benar-benar nyata dan memutarbalikkan semua keyakinanku tentang diriku
.
         Absurd.
       Dalam arus putaran yang mengisap diriku ke suatu pusaran aneh, aku merasa diriku lenyap dan musnah
(hlm. 133).

Kemudian selanjutnya, "Namun, kondisi itulah yang kemudian memicu keberanianku untuk meninggalkan sebuah surat untuk Raisa," kata Aria (hlm. 133). 

Dan dalam surat tersebut, tulis Aria, 

"Raisa... Gue gak tau apa yang ada di pikiran lo sekarang. Mungkin lo jatuh cinta sama gue. Atau, mungkin, elo mengira gue jatuh cinta sama elo. Kenyataannya, gue cuma ingin mencari keajaiban. Dan, itu gue dapetin ketika gue bisa ngerasain Rama di sekujur tubuh elo. Gue pengen ngerasain sisa-sisa kehadiran Rama di mana pun juga. Termasuk di tubuh elo." (hlm. 134)

Ini berarti Aria tahu 'apa yang merasuki diri'-nya (atau terlambat tahu?). Selanjutnya ia menulis, "Niat gue baik, gue pengen elo kembali menjadi diri elo setelah kehilangan Rama. Karena gue pun berusaha membangkitkan semangat di dalam diri gue dengan ngehabisin waktu gue dengan elo, " kata Aria (hlm. 134). "Gue berharap kenyataan gila ini tidak membuat lo shock, tapi justru, membuat lo kembali menjadi diri sendiri dan bisa menerima kenyataan yang harus lo hadapi....

Jadi, tindakan Aria (baca: penetrasi) atas tubuh Raisa, adalah (termasuk) sebuah niat baik untuk membuat Raisa kembali menjadi dirinya sendiri? Alangkah edannya!

Terakhir, soal penggunaan kata merah. Dalam novel ini kita akan menemukan ungkapan-ungkapan 'merah' seperti cinta yang merah, duka yang teramat merah, lebih merah dari merah, merah yang paling merah, merah adalah kebahagiaan dan merah semerah merahnya merah. Bukannya terkesan, saya malah merasa geli membaca ungkapan-ungkapan ini. Yang paling terakhir, yang bikin saya geli adalah penggunaan kata 'anu' pada halaman 125. Mungkin karena sampai 4 kali disebutkan. Penggunaan 'alat kelamin', 'kemaluan' atau 'penis' sama sekali bukan berarti tidak sopan. Lagipula, ketiga kata ini tidak akan menggelikan dipakai jika dibandingkan dengan kata 'anu' yang diberi tanda petik.

Setelah usai membaca novel ini, kita akan mengerti, tidak gampang mengalihwahanakan sebuah skenario film menjadi sebuah novel. Tapi, sebagai penulis berpengalaman dengan sejumlah novel adaptasi skenario film, bukankah FX Rudy Gunawan telah sangat mengetahui lubang-lubang dalam sebuah cerita? Sebagai adaptator, tugasnya sebagai pengarang untuk menutup lubang-lubang yang ada, meski harus tampil sedikit berbeda dengan versi filmnya.

Mungkin Anda akan punya pendapat yang berbeda, dan ini sah-sah saja. Tapi, tentu saja Anda harus membaca novel ini sebelum mengangsurkan pendapat Anda.


*) Bagian dari puisi karya Aria. Bisa ditemukan di halaman 67 dan 72.

2 comments:

septyana yohanes andesna said... Reply Comment

hay min...
Punya Novel 'merah itu cinta' gak? Kalau ada boleh aku bayarin?
Kalau setuju tolong respon ke email ini ya...
septyanayohanesandesna@gmail.com

septyana yohanes andesna said... Reply Comment

hay min...
Punya Novel 'merah itu cinta' gak? Kalau ada boleh aku bayarin?
Kalau setuju tolong respon ke email ini ya...
septyanayohanesandesna@gmail.com

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan