11 February 2012

The Boy in the Striped Pyjamas


 

Judul Buku: The Boy in the Striped Pyjamas
Penulis: John Boyne
Penerjemah: Rosemary Kesauli
Tebal: 240 hlm; 20 cm
Cetakan: 1,  Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Auschwitz adalah kamp konsentrasi Nazi, tempat 1,4 sampai 4 juta orang Yahudi atau keturunan Yahudi dari berbagai negara di Eropa tewas antara tahun 1941 – 1945. Kamp ini terletak di selatan Polandia, 286 km dari Warsawa. Para tahanan tewas dengan berbagai cara, seperti dibunuh dalam kamar gas menggunakan Zyklon-B, dieksekusi secara individual oleh tentara Nazi, kelaparan, kerja paksa, sakit, dan juga menjadi korban eksperimen medis.

Oleh John Boyne, penulis Irlandia kelahiran Dublin 30 April 1971, Auschwitz dijadikan latar utama novelnya yang berjudul The Boy in the Striped Pyjamas (2006). Sebelumnya Boyne telah menerbitkan novel The Thief of Time (2000), The Congress of Rough Riders (2001), dan Crippen (2004). Setelah The Boy in the Striped Pyjamas, Boyne telah menerbitkan novel kelima berjudul Next of Kin (Oktober, 2006). The Boy in the Striped Pyjamas merupakan novel pertama John Boyne yang ditujukan untuk pembaca anak-anak. Novel ini telah memberikannya penghargaan seperti Irish Book Award: People's Choice Award Book of the Year, Irish Book Award: Children's Book of the Year, dan CBI Bisto Children's Book of the Year.

The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis) berkisah tentang Bruno, seorang anak 9 tahun tapi bertubuh lebih kecil dari anak lain seusianya, yang tinggal di Berlin pada waktu Perang Dunia II. Ia tinggal di sebuah rumah lima lantai yang sangat indah dengan kedua orang tuanya dan seorang kakak perempuan bernama Gretel yang dijulukinya si Benar-benar Payah (the Hopeless Case). Suatu hari seorang lelaki berkumis aneh dan seorang perempuan cantik datang makan malam di rumah Bruno. Mereka adalah Adolf Hitler –dalam buku ini disebut the Fury, plesetan dari Der Führer, dan kekasihnya, Eva Braun. Kedatangan mereka membuat Ralf, ayah Bruno, seorang anggota Nazi, mendapat tugas sebagai komandan di Auschwitz, kamp konsentrasi Nazi yang paling besar.

Meski berat hati, Bruno mesti meninggalkan Berlin, rumah tempat ia melakukan penjelajahan, teman-teman terbaiknya, juga kakek yang bangga dengan prestasi sang anak, dan nenek yang justru merasa telah salah mendidik anak. Ia harus tinggal di sebuah rumah tiga lantai dan tidak memiliki wilayah untuk dijelajahi di sebuah tempat yang oleh Gretel disebut Out-With (Auschwitz).


 Salah satu bagian dari Auscwitz


Lewat jendela kamarnya, mata Bruno menyeberang melampaui pagar tinggi terbuat dari kawat dan menemukan kehidupan orang-orang yang tidak ia kenal di sebelah pagar, orang-orang dengan pakaian yang sama: sepasang piama kelabu bergaris-garis dengan topi garis-garis di kepala. Menurut ayah Bruno, orang-orang itu sama sekali bukan 'orang'. 
 
Suatu hari timbul keinginan dalam hati Bruno untuk melakukan penjelajahan sekitar tempat tinggalnya, menyusuri pagar kawat yang ia lihat dari jendela kamarnya. Ia bertemu dengan seorang bocah kurus yang sedih dari balik pagar kawat bernama Shmuel, anak Yahudi dari Polandia. Shmuel yang bisa berbahasa Jerman lahir pada tanggal yang sama dengan Bruno, 15 April 1934. Mereka menjalin pertemanan, bertemu setiap hari di tempat yang sama, dan berkomunikasi di antara pagar kawat. 
 
Setelah masalah Letnan Kotler -seorang serdadu bawahan ayah Bruno yang rupanya menjalin hubungan dengan ibu Bruno, kemudian kepala Bruno harus dibotaki karena kutu, ibu Bruno bertekad kembali ke Berlin. Ini berarti Bruno mesti berpisah dengan Shmuel. Sebelum kembali ke Berlin, Bruno dan Shmuel merencanakan acara penjelajahan bersama di sebelah pagar tempat Shmuel tinggal sekalian mencari ayah Shmuel yang hilang. Untuk menyempurnakan penampilan Bruno, Shmuel akan mengambilkan sepasang piama garis-garis dan topi kain dari pondok penyimpanan piama untuk Bruno. Sebuah rencana yang sangat cemerlang di mata Bruno, sebuah rencana yang kemudian menghancurkan hati dan kehidupan keluarganya, termasuk ayahnya, sang komandan Nazi.

John Boyne menulis novel ini untuk anak-anak. Tapi ia juga berharap mendapatkan pembaca dewasa. Oleh Gramedia Pustaka Utama, ternyata The Boy in the Striped Pyjamas diberi label Novel Dewasa. Melihat keseluruhan cerita, juga cara pengungkapan John Boyne, sesungguhnya novel ini memang bacaan untuk anak-anak. Apalagi karakter utamanya adalah anak-anak dengan cara berpikir yang lugu tapi cerdas; seorang anak yang tidak mengenal diskriminasi dan menempatkan penghargaan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya yang belia. Hanya, dalam buku ini, tidak ada penjelasan yang memadai untuk latar belakang cerita. Kemungkinan, pembaca anak-anak akan bingung dengan latar belakang historis yang digunakan John Boyne. Bisa saja ada pemikiran bahwa latar belakang itu tidak penting. Tapi, untuk bisa menikmati secara total, anak-anak yang belum mengenal sejarah dunia  perlu mengetahui situasi dan tokoh yang membuat kisah dalam novel ini bisa terjadi. Hal ini penting, mengingat sejarah dan tokoh sejarah yang digunakan John Boyne yang menyebabkan keluarga Bruno mencapai Auschwitz, dan memberikan efek pada terjadinya peristiwa menggiriskan hati pada bagian akhir novel yang terasa sangat ironis. Sehingga, menurut saya, novel ini tetap bisa dinikmati anak-anak dengan bimbingan orang tua.

Sesungguhnya cerita dalam novel ini tergolong sederhana. Setelah memahami latar belakang cerita, tidak ada eksplorasi penulis yang sulit untuk diikuti. Meskipun demikian, pembaca tetap tidak akan mudah menebak bagaimana novel dituntaskan. 
 
Selain itu, kendati awalnya novel mengalir tanpa sengatan berarti dari sisi plot, cara John Boyne memberi jiwa pada karakter Bruno bisa dikatakan sangat berhasil sehingga novel ini tidak terpuruk menjadi bacaan yang menjenuhkan. Jalan pikiran Bruno ketika berinteraksi dengan siapa pun yang ia temui dalam hidupnya niscaya akan menyentuh hati kita. Keluguannya tidak hanya menggemaskan sehingga berpotensi merekahkan senyuman di wajah kita, tapi juga akan membuat hati basah dan mata berkaca-kaca. Selanjutnya, di penghujung novel, John Boyne berhasil meraut plotnya menjadi tajam, menyodorkan adegan-adegan penting yang menjadi bagian paling menggetarkan dari keseluruhan novel. Pembaca dewasa yang segera memahami peristiwa yang disampaikan penulis akan segera merasakan hatinya tercekat. Namun, seperti Bruno yang tidak memahami dengan benar apa yang terjadi, mungkin akan ada pembaca yang juga tidak memahami apa sesungguhnya yang terjadi saat itu. Pengetahuan tentang Auschwitz mungkin akan memberikan sedikit petunjuk mengenai peristiwa itu.

Satu harapan yang ditoreh sang penulis dalam novel ini adalah peristiwa serupa dalam novel tidak akan terulang lagi pada zaman sekarang. Apa yang telah terjadi sudah menjadi sejarah, dan yang perlu dilakukan saat ini adalah memetik pelajaran dari sejarah. Jangan sampai ada kelompok manusia yang terpaksa harus mengenakan 'piama garis-garis' untuk melewati 'pagar kawat berduri' yang ditegakkan sebagai wujud kecongkakan rasial segolongan manusia.

Novel ini telah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Mark Herman dengan pemain seperti David Thewlis, Vera Farmiga, dan Asa Butterfield. Jadi, sebelum menikmati versi filmnya, tidak ada salahnya untuk membaca dulu versi novelnya.

Tapi sebelumnya, Anda harus mengenakan 'piama garis-garis' dulu untuk ikut bertualang dan memahami kehidupan, pikiran, dan perasaan si kecil Bruno.


0 comments:

Post a Comment

Recommended Post Slide Out For Blogger
 

Blog Template by Blogger.com

Author: Jody Setiawan